"Bukan aku pelakunya!"
Demi biaya berobat ibunya, Aeris Calythea mengantar ratusan kue ke sebuah rumah mewah. Namun, bukannya uang, ia justru menemukan istri pria kaya tergeletak berlumuran darah. Niat tulus Aeris menolong justru menjebaknya. Sidik jarinya tertinggal, menjadikannya tersangka utama.
Dunia Aeris runtuh saat ibunya meninggal akibat terlambat ditangani. Hilang arah, Aeris bersimpuh pasrah.
"Bunuh aku sekarang! Tujuanku tetap hidup sudah tiada!"
Namun Kaizel Vardan, suami korban yang dibakar dendam, menolak. "Mati terlalu mudah untukmu. Kau harus menggantikan posisi istriku dan menjadi ibu untuk anak kembarku! Tebus dosamu, Aeris!"
Bagaimana nasib Aeris? Di tuduh dan terpaksa menjadi istri serta ibu tiri dari 2 anak kembar? Terlebih dia baru tahu, jika 2 anak kembar Vardan bahkan disiksa di rumah ayahnya sendiri.
"Jangan pukul, kami nda nakal hiks ...,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Aeris
Usai memborong puluhan stel pakaian mewah untuk kedua anak sambungnya, Aeris tidak lupa membeli beberapa gaun elegan dan kebutuhan untuk dirinya sendiri. Bukan karena ia bersikap impulsif atau memanfaatkan kekayaan Kaizel secara membabi buta, melainkan sebuah kesadaran realistis, di mansion bertabur iblis itu, penampilan adalah tameng pertama. Ia tidak boleh terlihat lemah, lusuh, atau gampang diinjak-injak lagi.
Aeris melangkah ke area butik kecantikan premium, membeli make-up, serta membawa Zara dan Ezmira ke salon eksklusif di dalam mal. Rambut kedua anak yang semula kusam dan kusut kini dipotong rapi, dirawat hingga kembali halus berkilau, serta dihiasi jepit rambut mungil yang manis. Begitu pula dengan Aeris, rambutnya ditata anggun, dan sentuhan riasan tipis di wajahnya makin memancarkan kecantikan alaminya yang memikat.
"Pria itu bahkan tidak memberiku uang belanja sedikitpun," gumam Aeris pelan sembari menatap tas-tas belanjaan berstempel merek ternama di tangannya.
"Bunda cantik kali!" puji Ezmira dengan mata berbinar-binar, menatap kagum pada perubahan penampilan Aeris.
Aeris merapikan tataan rambutnya di depan cermin, lalu berlutut di hadapan kedua balita itu. "Cantik, kan? Kalian berdua pun sama cantiknya," tutur Aeris penuh kehangatan.
"Nanti di rumah kalian harus makan yang banyak, ya. Kalian itu paling cantik kalau pipinya gembul. Astaga, gemasnya gembul-gembul Bunda ini!" seru Aeris riang, mencubit lembut pipi kedua anak itu hingga tawa renyah mereka pecah.
Aeris beranjak berdiri sembari merapikan tas belanjaannya. "Ayo, semua belanjaan kita sudah selesai. Sekarang kita harus—"
"Aeris?"
Sebuah panggilan suara pria beraksen familier mendadak menghentikan kalimat Aeris.
Aeris mematung sejenak, lalu perlahan menoleh. Di belakangnya, berdiri seorang pria bertubuh jangkung dengan pakaian rapi. Pria itu menatap Aeris dengan pasang mata yang membelalak penuh ketidakpercayaan.
"Ternyata beneran kamu! Aku sampai hampir salah mengenali tadi," ucap pria tersebut dengan senyum merekah.
Namun, alih-alih merasa senang, kehadiran pria itu justru membuat binar di mata Aeris redup seketika. Raut wajahnya berubah sayu, disusul keheningan yang dingin.
"Kak Erick?" lirih Aeris.
"Ya, ini aku! Tadi aku melihatmu dari jauh dan berpikir aku salah orang," ujar pria itu bersemangat. Pria itu adalah Erick Adiputra.
"Aeris, aku ... aku turut berduka cita atas meninggalnya ibumu. Aku baru tahu saat kemarin datang ke rumahmu, tapi kamu tiba-tiba menghilang setelah malam acara ulang tahunku. Aku mencarimu ke mana-mana."
Erick Adiputra, pria dari masa lalu yang pernah memegang tahta istimewa di hati Aeris. Seorang putra dari keluarga konglomerat terpandang yang dengan berani mendekati Aeris, seorang gadis miskin yang bertarung dengan takdir pengetatan ekonomi. Erick adalah sosok yang hangat dan baik hati. Sayangnya, kebaikan Erick sangat berbanding terbalik dengan keluarganya yang mengagungkan kasta dan status sosial.
Kenangan pahit malam ulang tahun Erick mendadak berputar liar di kepala Aeris bagaikan mimpi buruk.
Malam itu, Aeris hadir mengenakan gaun terbaik yang ia punya, meski tampak murah dibandingkan gaun para tamu lain. Ia membawa kado sederhana yang ia bungkus dengan jemarinya sendiri dari sisa uang makannya.
Namun, saat kakinya menapak di ruang pesta, sepasang demi sepasang mata menatapnya dengan tatapan jijik dan merendahkan. Hanya Erick yang dengan bangga menggandeng tangannya, membawanya ke hadapan orang tuanya.
"Mama, Papa, kenalkan ... ini wanita spesial Erick, Aeris," pamer Erick bahagia.
Ibu Erick menatap Aeris dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan amat sinis. "Aku tinggal sebentar ya," pamit Erick polos, meninggalkan Aeris seorang diri berdiri di hadapan wanita paruh baya bertatahkan perhiasan mahal itu.
"Dari keluarga mana kamu?" tanya ibu Erick dingin.
"Saya ... dari ...,"
"Kamu tahu Erick berasal dari keluarga terpandang?" potong wanita itu tanpa ampun. "Kalian tidak setara. Saya tidak bermaksud menghinamu, tapi kenyataannya kalian berada di dunia yang berbeda."
Aeris menggenggam erat kantong kertas berisi kadonya. Kepalanya tertunduk dalam, bahunya gemetaran menahan malu.
"Anak saya tidak akan bisa dihormati lagi jika menikah dengan wanita berkasta rendah sepertimu. Ditambah lagi, saya dengar ibumu sakit-sakitan, bukan? Apa kamu mendekati anak saya hanya demi mendapatkan biaya gratis untuk perawatan ibumu yang merepotkan itu?"
"Tinggalkan putra saya, dan sadar posisimu."
"Hei, kenapa malah melamun?"
Suara Erick membuyarkan ingatan kelam itu. Aeris tersentak kecil, mendongak menatap Erick yang masih memandangnya dengan raut wajah penuh binar merindu seperti dahulu. Namun, tembok pertahanan Aeris sudah kembali mengeras. Wajah cantiknya berubah datar dan dingin.
"Ayo Zara, Mira ... taksi kita sudah menunggu di luar," potong Aeris tegas. Ia berbalik, enggan menatap Erick lebih lama sembari memegang erat tas-tas belanjaannya.
Melihat Aeris kerepotan membawa banyak barang, Erick bergegas mendekat. "Belanjaanmu banyak sekali, biar aku bantu bawa—"
"Berhentilah, Kak!" seru Aeris nyaring sembari menepis kasar tangan Erick sebelum menyentuh kantong belanjaannya. Matanya yang menyipit menatap Erick dengan sorot penuh luka dan kekecewaan yang menggenang. "Aku bisa sendiri. Pergilah!"
Langkah Erick terhenti. Wajahnya dipenuhi kebingungan dan rasa bersalah. "Kamu kenapa, Aeris? Apa aku ada salah? Katakan padaku, apa salahku?" tanya Erick dengan nada terikat, merasa tercekat oleh penolakan dingin dari gadis yang dicari-carinya.
"Bunda ...,"
Cicitan suara mungil dari balik gaun Aeris memecah ketegangan itu. Ezmira meremas lembut kain gaun baru Aeris dengan mata polosnya.
Pandangan Erick seketika teralih. Matanya membelalak menatap dua anak perempuan kembar berwajah cantik yang berdiri memeluk kaki Aeris. Tatapannya berganti-ganti, menatap kedua balita itu lalu beralih menatap Aeris dengan napas tertahan.
"Bunda? Aeris, mereka ...," Erick tergagap, lidahnya mendadak kelu.
Aeris menarik napas panjang, mendongakkan dagunya dengan tatapan mantap dan tanpa ragu sedikit pun.
"Putriku."
bimbang dan ragu...
kan gentle namanya...
pasti otaknya lagi normal itu...
nanti kumat ga' normalnya,sedeng lagi dia...