Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Ketika Damar sedang membawa ibunya kembali beristirahat di dalam kamar nenek Ningsih. Viona meraih ponselnya, niatnya memang ingin membuat berita Bima itu jadi viral.
Tapi, baru saja mau membuka akun media sosialnya. Galih yang duduk di sebelahnya segera bertanya apa yang ibunya akan lakukan, kenapa tiba-tiba membuka akun media sosialnya.
"Ibu sedang apa?" tanya Galih yang terus melihat ke arah layar ponsel ibunya.
Viona melihat ke sekeliling. Dia memang sudah jadi Nyonya besar Dirgantara. Tapi, tetap saja itu hanya nama kosong. Semua orang masih tetap mengingat Yunita sebagai nyonya utama. Kalau bukan karena dia sudah lebih dulu hamil Galih. Mana mungkin keluarga Dirgantara akhirnya menerimanya. Nama dan status nya tidak bisa dibandingkan dengan Yunita, ibunya Bima.
"Eh, jangan keras-keras bicaranya. Galih, ibu mau viralkan berita kalau Bima sudah menipu istrinya, dan membebaskan seorang pembunuhh bahkan membawanya ke luar negeri selama tiga tahun. Bayangkan, coba bayangkan kalau berita itu tersebar! nanti Bima akan banyak mendapatkan hujatan. Bayangkan kalau para pemegang saham dan dewan direksi mendengar kabar ini. Bima akan dicopot dari jabatan Presdir, selanjutnya kamu yang akan jadi pewaris utama Dirgantara grup!"
Viona bicara dnegan senyum merekah di wajahnya. Dia tidak sabar, menunggu semua yang dia katakan itu terjadi. Membayangkannya saja dia sudah sangat senang. Anaknya akan jadi orang paling penting di keluarga ini. Dengan demikian, dia juga akan menjadi penting.
Sayangnya rencana Viona itu langsung di tentang oleh Galih.
"Ibu, jangan sampai ibu melakukan itu!"
Wajah Viona lantas menjadi bingung.
"Kenapa? ini kesempatan bagus untuk menjatuhkan Bima, Galih!"
"Bu, kabar ini yang tahu hanya kita. Kalau berita itu tersebar, ayah dan nenek akan langsung tahu kalau yang menyebabkannya adalah ibu, itu yang pertama. Lalu, yang kedua. Apa ibu ingin perusahaan merugi? bangkrut mungkin tidak, tapi kalau sampai berita ini tersebar, para klien mengetahuinya. Mereka pasti akan berpikir dua kali bekerja sama dengan Dirgantara grup. Bahkan meski kita adalah perusahaan multinasional besar, saham juga bisa anjlok. Bukan itu saja, konflik seperti ini, sampai ke jalur hukum. Nama keluarga Dirgantara juga akan tercoreng!"
Galih mencoba menjelaskan pada ibunya, panjang lebar dia menerangkan pada ibunya. Kalau niat ibunya itu tidak baik. Dan jangan sampai di lakukan.
Viona pun berdecak kesal. Padahal itu kesempatan langka, dia bisa menjatuhkan Bima.
"Kenapa tidak boleh sih? kan dia yang buat salah, harusnya dia kena imbasnya dong. Kenapa mau publish masalah ini saja tidak boleh?"
"Ibu, bagaimana pun Bima adalah Presdir utama Dirgantara grup. 4 perusahaan ada di bawah kepemimpinannya. Kalau namanya buruk, perusahaan akan terkena imbasnya!"
"Ya sudah, ya sudah! ibu pusing. Ibu mau ke kamar saja. Kamu ini, kenapa sih selalu berpihak pada Bima. Kayak dia bakal bela kamu saja kalau ada masalah!" omel Viona sebelum pergi.
Galih menghela nafas panjang. Dia bukan membela Bima. Dia bahkan merasa kalau apa yang Bima lakukan itu memang sangat salah. Tapi, terlepas dari semua itu. Semua yang dia katakan memang benar. Masalah Bima yang melindungi seorang pembunuhh, itu benar-benar akan memberi imbas yang sangat besar bagi perusahaan kalau tersebar luas. Galih hanya tidak mau, perusahaan yang sudah susah payah ayah dan kakeknya bangun dari nol. Harus mengalami kejatuhan, karena masalah ini. Galih pikir, pasti ada cara lain.
"Ibu sangat marah!"
Pandangan Galih tertuju pada ayahnya yang baru masuk ke ruangan itu setelah mengantar neneknya istirahat.
"Wajar saja ayah, apa yang dilakukan Bima memang salah. Apalagi nenek sangat menyayangi Kinan!"
Damar mengangguk.
"Ayah juga tidak akan biarkan masalah ini. Biang keladinya itu wanita bernama Agnes itu. Kita harus menjauhkannya dari Bima"
Galih menghela nafas panjang. Bukan mereka tidak pernah melakukan itu. Mereka sudah berulang kali berusaha menjauhkan Agnes dari Bima. Tapi tetap saja, Bima terus saja percaya pada Agnes dan selalu membantunya setiap Agnes meminta bantuan Bima.
"Menurutmu, selain menggugat cerai. Apa Kinan akan membuka kasus ibunya kembali?" tanya Damar pada Galih.
Galih mengangguk dengan cepat.
"Aku rasa, Kinan pasti melakukan itu ayah. Bagaimana pun ibunya meninggal dengan cara yang sangat mengenaskan. Kinan begitu marah, dan emosi saat itu. Mengetahui wanita itu tidak dipenjara, dia pasti membuka kasusnya lagi!"
Damar mendesah kasar,
"Hah... masalahnya jadi begini. Nenekmu bahkan mengatakan, akan mendukung apapun keputusan Kinan. Ayah rasa, Bima benar-benar akan menyesal nanti!"
Galih mengangguk setuju. Selama ini rumah tangga Bima dan Kinan sangat harmonis. Siapa sangka, Bima sampai salah langkah seperti itu. Wanita sebaik Kinan, mungkin Bima tidak akan pernah menemukannya lagi kalau sampai Kinan benar-benar memutuskan untuk pergi dari Bima.
**
Sementara itu di rumah sakit, Leo masih berbicara dengan dokter Fandy. Dokter Fandy sudah mendengar, kalau Galih mencari Bima. Tapi, Bima tidak mau keluarganya tahu dia sakit. Dokter Fandy sampai memijat kepalanya karena pusing. Masalahnya, Leo meminta kepastian dari dokter Fandy, kapan bosnya akan sadarkan diri.
"Masalah seperti itu aku benar-benar tidak bisa memastikan!"
"Dokter Fandy, kan dokter yang hebat. Masa tidak bisa memastikan kapan tuan akan sadar. Tuan Galih minta dia pulang ke rumah tua. Nyonya tua yang memberi perintah itu pada tuan Galih. Kalau sampai besok belum sadar, tuan Galih pasti akan menjemput tuan..."
"Ya sudah biar saja datang!" kata Fandy menyela.
"Tapi tuan bilang kan, jangan sampai ada yang tahu kalau tuan berada di rumah sakit?" tanya Leo bingung.
Fandy garuk-garuk kepala lagi.
"Ya ampun, Leo. Kamu buat aku pusing!" keluh Fandy.
"Ada apa dengan kalian? sudah, jangan dipikirkan. Makan dulu, ini aku belikan makanan enak!"
Zayn datang dengan dua bungkus besar paper bag makanan dari restoran, dan meletakkan nya di atas meja.
"Asisten Bima ini bingung, Galih terus bertanya tentang Bima padanya!" jelas dokter Fandy.
"Jangan bingung Leo, anggap saja semua ini adalah takdir. Kalau bosmu itu sampai besok tidak sadar, anggap saja dia sedang sial. Semua yang dia rencanakan berantakan!"
Leo dan Fandy saling pandang, Zayn kalau bicara memang suka asal bunyi saja. Tapi benar juga, sepertinya akhir-akhir ini semua rencana Bima tidak berjalan dengan baik. Semuanya berantakan.
***
Bersambung...
mati dalam penyesalan yang sangat terlambat 😡
sekarang setelah lu udah ngeboongin sedemikian rupa ,masih kyk dulu gitu?
wah...rada sakit jiwa si elu ini
ingat bagaimana kamu terus membela Agnes lagi lagi dan lagi di depan Kinan? Itu bukan cinta