NovelToon NovelToon
JERAT CINTA SANG MAFIA

JERAT CINTA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

​Ketegangan di lantai dua Kasino Royale Vane merambat secepat kilat. Meski pesta topeng di ballroom utama masih tampak berlangsung meriah dari luar, suara sirine darurat bernada rendah—yang hanya terdengar di koridor-koridor privat VIP—mulai berkedip-kedip merah di atas celah lampu dinding marmer.

​Seseorang di pusat kendali klan Vane baru saja menyadari bahwa sinyal master keycard milik Victor aktif di area yang tidak seharusnya.

​Aria melangkah cepat menyusuri koridor karpet merah berornamen emas di lantai VIP utara. Gaun satin sutra champagne gold miliknya menyapu lantai dengan kibasan yang menawan, sementara mantel hitam penutupnya telah dilepas untuk mempertahankan tampilan anggun Gisele Vance. Namun, di balik topeng kupu-kupu emas yang membalut separuh wajah cantiknya, sepasang mata gelap Aria memancarkan kalkulasi taktis yang intens.

​“Nona Aria, batalkan jalur keluar lewat tangga barat!” suara Erick bergetar cepat di earpiece mikro miliknya. “Dua tim pelindung elit Hector sedang naik dari lantai satu. Mereka memblokir seluruh lorong utama VIP!”

​Aria menghentikan langkahnya di persimpangan koridor. Di depannya, pintu kaca patri menuju balkon utama terkunci otomatis. Suara derap langkah sepatu lars berlarat banyak bergema kencang dari dua arah berlawanan—arah tangga barat dan koridor timur.

​Ia terjebak.

​Tidak ada celah untuk bersembunyi. Dinding koridor VIP itu rata, didominasi oleh deretan pintu jati tebal kamar-kamar privat yang membutuhkan kode sandi individual. Jika para pengawal elit klan Vane belok di sudut lorong dalam hitungan lima detik ke depan, mereka akan menemukan seorang wanita berdiri sendirian di dekat area terisolasi—sebuah posisi yang akan menghancurkan identitas Gisele Vance secara seketika.

​DUB! DUB! DUB!

​Derap langkah kaki para algojo Hector makin memburu, hanya tersisa beberapa meter dari belokan dinding. Jemari Aria mengepal kaku di balik gaunnya, siap mengunci posisi bertarung jarak dekat jika situasi terburuk memaksa.

​Tiba-tiba, sebuah lengan tegap dan kuat berbalut kain tuksedo hitam menyambar pinggang Aria dari balik bayangan pintu kamar VIP yang sedikit terbuka!

​"Ugh—"

​Sebelum Aria sempat melayangkan pukulan refleks, tubuhnya ditarik masuk secara mendadak ke dalam ceruk tirai beludru marun yang melapisi pintu kamar privat tersebut. Pintu jati tebal terdorong rapat kembali dengan bunyi klak yang halus.

​Aromanya yang familiar seketika menyelimuti indra penciuman Aria—campuran hangat woody, citrus, dan aura dominasi yang tak tertandingi.

​Devan Argantara.

​Sebelum Aria sempat melontarkan kata atau pertanyaan apa pun, Devan sudah mengunci tubuhnya. Pria itu menekan punggung Aria rapat-rapt ke dinding kayu bercermin di balik tirai, mengurung seluruh ruang gerak wanita itu dengan bentuk tubuhnya yang tinggi besar. Topeng serigala hitam milik Devan masih terpasang tegak, menutupi separuh atas wajah tegasnya, menyisakan rahang tajam yang menegang rapat.

​KLAK-KLAK-KLAK!

​Suara langkah kaki delapan pengawal elit klan Vane berhenti persis di luar pintu kamar privat tempat mereka bersembunyi. Cahaya senter taktis mereka menyapu celah bawah pintu.

​"Periksa seluruh kamar di lorong ini! Pencuri itu pasti belum jauh!" teriakan keras komandan tim pengawal bergema jelas menembus kayu tebal.

​Gagang pintu kamar privat tempat Devan dan Aria berada mendadak bergoyang! Seseorang di luar sedang mencoba memutar kunci master elektronik untuk menerobos masuk!

​Ukiran waktu seakan berhenti. Kehadiran tim keamanan di balik pintu tinggal menghitung pecahan detik sebelum lampu ruangan menyala dan keberadaan mereka terbongkar total.

​Devan menatap lurus ke dalam mata Aria di balik topeng emasnya. Iris mata kelam sang bos mafia berkilat tajam—sebuah keputusan taktis dan impulsif terambil seketika di dalam otaknya.

​Tanpa memberi aba-aba, Devan mengulurkan tangan kanannya, menyusupkan jari-jarinya ke tengkuk leher Aria, menarik kepala wanita itu ke depan secara mendadak.

​Dan Devan membungkam bibir Aria.

​SZZZT.

​Kunci pintu elektronik berbunyi click, dan pintu jati terdorong terbuka sedikit dari luar oleh moncong senapan pengawal klan Vane.

​Namun pemandangan yang disambut oleh lampu sorot pengawal di dalam bayangan tirai bukanlah seorang peretas yang sedang memegang peranti canggih—melainkan sepasang kekasih bangsawan yang sedang tenggelam dalam ciuman yang teramat intens, panas, dan tidak bisa diganggu gugur.

​Aria terkesiap hebat di dalam kukungan Devan. Bibir hangat Devan menekan bibirnya dengan kelembutan yang dalam namun sarat akan tuntutan dominasi yang mutlak. Lidah Devan menyesap dan mengunci pergerakan bibir Aria, mematikan seluruh argumen atau kepanikan yang sempat bersarang di kepala wanita itu.

​Tangan kiri Devan di pinggang belakang Aria makin mengetat, menarik pinggul Aria hingga menempel rapat tanpa celah pada tubuh tegap sang bos mafia. Dekapan itu begitu bertenaga, seolah Devan sedang menyerap seluruh keberadaan Aria ke dalam dirinya sendiri demi melindunginya dari pandangan dunia luar.

​Di luar pintu, dua pengawal Vane menyinarkan lampu senter ke arah sudut tirai.

​Devan sama sekali tidak menghentikan ciumannya. Pria itu justru memiringkan kepalanya lebih dalam, memperdalam lumatan bibirnya sembari melepaskan satu tangan dari dinding untuk membelai punggung terbuka Aria di balik gaun satin emasnya—sebuah gerakan penuh kepemilikan yang terlihat sangat alami bagi siapa pun yang menyaksikan.

​Dengan sebelah mata di balik topeng serigalanya, Devan melirik dingin ke arah para pengawal dari sudut pandangnya yang remang-remang, memberikan tatapan mata predator yang terganggu dari aktivitas pribadinya.

​Pengawal klan Vane yang memegang senjata terpaku kaku di ambang pintu. Melihat sepasang tamu VIP berkaliber tinggi—sang penguasa klan Argantara dan pasangannya yang cantik—sedang dalam momen intim yang panas di kamar privat, pengawal itu langsung berdeham canggung.

​"Maafkan kami, Tuan Argantara! Kami sedang mencari penyusup!" ujar pengawal itu terburu-buru, refleks menurunkan senjatanya dan menarik mundur langkahnya dari kamar.

​BAM.

​Pintu jati dikunci kembali dari luar oleh para pengawal yang ketakutan akan amukan Devan. Suara langkah kaki mereka bergegas menjauh, meninggalkan koridor VIP yang kembali lengang.

​Bahaya telah berlalu. Namun di dalam bayangan tirai kamar privat, ciuman itu tidak langsung berhenti.

​Aria, yang tadinya membeku akibat kejutan taktis tersebut, merasakan detak jantungnya berdegup begitu liar di dalam dada. Sengatan panas yang membakar menjalar dari titik bibir mereka yang bertaut hingga ke seluruh persendian tubuhnya. Aroma maskulin Devan dan kehangatan napas pria itu yang memburu di atas kulit wajahnya membuat pertahanan emosional Aria runtuh tanpa sisa.

​Alih-alih mendorong Devan menjauh, jemari halus Aria di dada Devan justru meremas kain tuksedo mahal pria itu kencang, membalas lumatan bibir Devan dengan getaran kepasrahan yang tak dapat dipungkiri.

​Devan merintih rendah di tenggorokannya—sebuah suara serak yang sarat akan dahaga mendalam yang selama ini dipendamnya erat-erat. Jemari Devan di tengkuk Aria makin mengerat, mengusap halus garis leher wanitanya sembari perlahan menyudahi ciuman panas tersebut.

​Bibir mereka terpisah secara perlahan, menyisakan benang tak kasat mata dari napas mereka yang saling beradu kencang di udara yang pengap.

​Aria menengadah, matanya sayu dan sedikit basah saat menatap lurus ke dalam mata kelam Devan di balik topeng serigala. Bibir kemerahannya agak sedikit bengkak dan terbuka tipis, menata ritme napasnya yang naik turun secara intens.

​"Devan..." bisik Aria pelan, suaranya terdengar begitu serak dan bergetar, sangat bertolak belakang dengan nada tegas yang biasa ia tampilkan. "Para pengawal... sudah pergi."

​Devan tidak langsung melepaskan dekapannya. Ibu jari tangannya yang besar terangkat, mengusap pelan sudut bibir Aria yang memerah dengan kelembutan yang teramat protektif. Pandangan mata Devan begitu pekat, sarat akan gairah, rasa lega, dan kepemilikan mutlak yang kini tak lagi ditutupi oleh alasan penyamaran taktis apa pun.

​"Aku tahu," suara Devan terdengar sangat berat dan rendah, menggetarkan ruang dada Aria yang menempel di dadanya.

​Aria menelan ludahnya kaku, berusaha menguasai kembali akal sehatnya yang sempat menguap total di bawah pesona Devan. "Itu... cuma taktik penyamaran, kan?"

​Ukiran senyum tipis—senyuman berbahaya yang teramat tampan dan memikat—terbentuk di bibir Devan. Pria itu mencondongkan wajahnya sedikit, mendaratkan satu kecupan singkat namun tegas di sudut bibir Aria sekali lagi sebelum menjawab:

​"Pikirkan saja begitu kalau itu bisa membuatmu tidur nyenyak malam ini, Little Bird."

​Devan menegakkan tubuhnya kembali, melepaskan cengkeramannya di pinggang Aria secara perlahan, meski jemarinya sempat menahan gaun satin emas wanita itu sejenak sebelum terlepas sepenuhnya.

​Pria itu merapikan kerah tuksedonya dengan ketenangan mutlak yang kembali membungkus dirinya, seolah baru saja menyelesaikan tugas rutin biasa. Devan lalu menatap Aria yang masih berdiri bersandar di dinding dengan raut wajah merona dan napas yang belum sepenuhnya stabil.

​"Jalur keluar selatan sudah bersih," kata Devan datar, memperlihatkan indikator hijau pada alat komunikasinya. "Mobil kita menunggu di pintu belakang. Mari kita selesaikan malam ini."

​Aria merapikan gaun satin emasnya dengan jemari yang masih sedikit gemetar, menatap punggung tegap Devan yang melangkah menuju pintu keluar. Di balik sisa desiran panas yang membakar bibir dan dadanya, Aria menyadari satu kenyataan membahayakan: taktik penyamaran di koridor VIP malam ini telah meruntuhkan batas terakhir di antara mereka—menyisakan kebenaran murni bahwa dirinya telah sepenuhnya jatuh ke dalam jerat sang bos mafia.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Aria dan Devan bisa jadi pasangan mafia tangguh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!