NovelToon NovelToon
BUTTERFLY

BUTTERFLY

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.

Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.

Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#14

Langkah kaki Hazel bergema halus di sepanjang lorong berkarpet tebal gedung apartemen.

Udara malam Los Angeles yang merayap masuk melalui celah ventilasi terasa menusuk kulit, namun hawa dingin itu tidak ada apa-apanya dibandingkan pikiran yang bergejolak di dalam kepala Hazel.

Setibanya di depan pintu unit nomor 210, Hazel menempelkan kartu aksesnya hingga terdengar bunyi bip nyaring dan kait pintu terbuka.

Ia mendorong pintu kayu oak itu perlahan, berusaha melangkah semengetuk mungkin untuk menyembunyikan keletihan serta ketegangan yang masih tersisa di tiap helai urat sarafnya.

Namun, begitu melintasi area pembatas sepatu, lampu ruang tamu yang benderang menyambutnya.

Seraphina sudah berdiri di sana, menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan mug keramik berisi cokelat hangat di jemarinya.

Wajah sahabatnya itu dipenuhi oleh raut penuh selidik, matanya memicing menatap Hazel dari atas hingga bawah.

"Akhirnya kau pulang juga, Hazel," sapa Seraphina, suaranya mengandung nada menuntut yang sangat jelas.

Hazel menyunggingkan senyum tipis—topeng ketenangan yang secara otomatis kembali terpasang rapi di wajah mewahnya. Ia melepaskan sepatu hak tingginya dan menggantinya dengan sandal rumah yang empuk.

"Maaf membuatmu menunggu, Sera. Urusan berkas asisten di ruang administrasi ternyata memakan waktu lebih lama dari yang kubayangkan," ujar Hazel santai, melangkah menuju area dapur bersih untuk mengambil segelas air putih.

"Berkas asisten?" Seraphina terkekeh hampa, melangkah cepat menyusul Hazel dan bersandar pada meja bar.

"Hazel, jangan coba-coba berbohong padaku. Sebelum aku meninggalkan area kampus tadi, aku sempat mengambil barangku yang tertinggal di dekat koridor Gedung Bisnis. Dan kau tahu apa yang kulihat?"

Gerakan tangan Hazel yang baru saja menuangkan air dingin dari teko terhenti sejenak, namun wajahnya tetap menatap ke depan tanpa cela.

"Apa yang kau lihat?"

"Aku melihatmu ditarik masuk ke dalam ruangan oleh Profesor Jameson!" cetus Seraphina heboh, memajukan tubuhnya ke arah Hazel.

"Pria itu memegang lenganmu dan menarikmu dengan raut wajah yang sangat tegang! Ada apa sebenarnya di antara kalian berdua? Kenapa kau bisa berada di ruang pribadinya sesore ini?"

Pertanyaan yang datang bertubi-tubi itu memantul di dinding dapur yang sunyi.

Seraphina menatap sahabatnya dengan kombinasi antara rasa khawatir dan suara yang meledak-ledak.

Hazel meminum air putihnya perlahan, membiarkan rasa dingin membasahi tenggorokannya sebelum ia meletakkan gelas kaca itu di atas meja bar.

Sepasang matanya menatap Seraphina dengan pancaran kejujuran yang begitu meyakinkan—sebuah seni manipulasi yang telah ia latih selama bertahun-tahun.

"Kau salah paham, Sera," sahut Hazel mengalir lembut, menggelengkan kepalanya pelan seolah tuduhan itu adalah hal paling absurd di dunia.

"Dia tidak menarikku secara kasar seperti yang ada di pikiranmu."

"Lalu apa?" cecar Seraphina tak sabar.

"Dia memegang tanganmu, Hazel! Pria dingin seperti Profesor Ashford tidak pernah menyentuh mahasiswi mana pun!"

"Tanganku tadi tiba-tiba kesemutan dan kram hebat," potong Hazel dengan alibi yang meluncur sangat mulus dari bibirnya.

"Otot jariku mendadak kaku saat berjalan di koridor dekat ruangannya karena hawa dingin. Profesor Jameson kebetulan melintas, melihatku hampir menjatuhkan map, lalu dia membantuku menahan lengan dan membimbingku masuk ke ruangannya agar aku bisa duduk sejenak. Hanya itu."

Seraphina mengerutkan dahi, menatap Hazel dengan pandangan antara percaya dan ragu.

"Kesemutan? Hanya karena kram?"

"Tentu saja," Hazel tersenyum manis, mengusap pergelangan tangannya sendiri seolah membenarkan cerita tersebut.

"Dia hanya bersikap responsif sebagai dosen yang melihat asistennya kesusahan di depan matanya. Bukankah wajar jika seorang pria membantu wanita yang mendadak kesakitan?"

Seraphina menghela napas panjang, meresapi penjelasan itu.

Namun, detik berikutnya, ekspresi di wajahnya berubah dari curiga menjadi sebuah cengiran menggoda. Ia menyenggol bahu Hazel pelan, pandangan matanya berbinar-binar penuh spekulasi.

"Tapi tetap saja, Hazel... tidak pernah ada cerita Profesor Jameson berbuat sepeduli itu pada orang lain," ujar Seraphina dengan suara meliuk-liuk.

"Apa mungkin... dosen kita yang terkenal kejam dan tak tersentuh itu sebenarnya menyukaimu?"

Hazel menaikkan sebelah alisnya, memutar bola matanya pelan.

"Jangan ngelantur, Sera. Dia hanya dosenku."

"Aku serius!" bela Seraphina, berputar dan duduk di salah satu kursi bar dengan antusias.

"Aku sudah tinggal dan berkuliah di sini lebih dulu darimu. Aku tahu betul reputasi seorang Jameson Baxter Ashford. Dia itu bagai patung es yang dibungkus jas mahal. Pria itu tidak pernah menatap mahasiswi lebih dari dua detik, tidak pernah tersenyum, dan sangat menjaga jarak! Tapi padamu? Sejak hari pertama, tatapan matanya, sikap tertekannya soal nomor telepon, sampai bantuan 'kram tangan' tadi... Aku tidak pernah melihatnya seperti itu pada siapa pun!"

Seraphina mengetukkan jemarinya di atas meja bar, menatap Hazel dengan pendar kekaguman.

"Jika benar dia menaruh perhatian padamu, Hazel... kau adalah wanita pertama di kampus ini yang berhasil membuat seorang penguasa keluarga Ashford kehilangan kendali dirinya."

"Kau terlalu banyak membaca novel percintaan, Seraphina," cibir Hazel halus, merapikan rambutnya ke belakang telinga.

"Pria seperti Profesor Ashford hanya terbiasa memegang kendali mutlak atas segalanya. Begitu ada hal kecil yang tidak berjalan sesuai kemauannya—seperti keputusan asistennya yang enggan memberikan nomor ponsel—dia akan merasa tertantang. Itu bukan rasa suka, melainkan keangkuhan."

Seraphina tertawa kecil, mengibaskan tangannya pasrah.

"Terserah apa analisismu, tapi firasat seorang wanita jarang meleset. Hati-hati saja, Hazel. Pria yang terbiasa mendapatkan apa pun biasanya tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan."

"Aku akan ingat nasihatmu," angguk Hazel tenang.

"Sekarang, aku mau mandi dan beristirahat. Hari ini sangat melelahkan."

"Baiklah, selamat beristirahat, Calon Nyonya Ashford!" goda Seraphina nakal sebelum tertawa melangkah menuju kamarnya sendiri.

Hazel hanya memberikan gelengan kepala pelan hingga pintu kamar Seraphina tertutup rapat.

Begitu suasana ruang tamu kembali dihampiri keheningan total, senyuman di wajah Hazel memudar sepenuhnya.

Tatapan matanya berganti menjadi kilatan tajam yang kelam dan sarat akan kalkulasi mematikan.

Ia melangkah masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu kayu itu rapat-rapat, lalu menyandarkan punggungnya pada pintu yang dingin.

Di dalam kegelapan kamar yang hanya disinari oleh pendar lampu jalanan dari balik jendela kaca, Hazel menarik napas dalam-dalam.

Kata-kata gurauan Seraphina tadi mungkin terdengar seperti candaan anak muda biasa, namun bagi Hazel, kenyataannya jauh lebih berbahaya dan berdarah.

Jameson Baxter Ashford tidak sekadar memilik rasa suka biasa... pria itu tampak benar-benar terobsesi dengan kematian para korban tersebut, batin Hazel mencerna setiap detail peristiwa hari ini.

Hazel melangkah perlahan menuju meja riasnya.

Di sana, di bawah cermin besar, tergeletak sebuah buku sketsa bersampul kulit hitam.

Hazel membukanya, menatap goresan-goresan pensil yang menggambarkan anatomi manusia, pigmen cat, dan bentuk-bentuk kupu-kupu yang ia ciptakan dari kegelapan jiwanya.

Pria Ashford itu telah melangkah terlalu jauh.

Pria itu bukan sekadar dosen arogan yang ingin memuaskan gairah biologisnya atau menundukkan mahasiswi pembangkang.

Jameson telah membongkar rekam jejak paling rahasia yang ia tinggalkan di New York.

Pria itu memegang bukti uji laboratorium forensik—bukti bahwa darah pada cat minyak di lukisannya cocok dengan darah korban yang tewas mengenaskan.

Bahkan yang paling mengerikan, Jameson tampaknya menikmati perburuan ini.

Cara mata hazel pria itu meledak oleh kepuasan saat mengintimidasi Hazel di ruang kerja tadi memperlihatkan bahwa Jameson tidak berniat menyerahkan bukti itu ke polisi.

Pria itu ingin menjadi hakim tunggal, menggunakan bukti berdarah itu untuk mengurung dan memiliki Hazel sepenuhnya.

"Obsesi yang menjijikkan..." bisik Hazel lirih pada pantulan dirinya di cermin.

Bagaimana cara mengatasi seorang pria dari keluarga penguasa kota yang memiliki jaringan intelijen tanpa batas?

Hazel mengepalkan jemarinya di atas meja rias.

Membunuh Jameson Baxter Ashford bukanlah perkara mudah seperti membantai pria-pria lemah di lorong gelap.

Jameson adalah seorang Ashford.

Jika pria itu tewas atau hilang secara misterius, seluruh kekuatan militer privat dan kepolisian Los Angeles akan membalikkan setiap jengkal kota ini untuk mencari pelakunya—dan nama Hazel akan langsung menjadi tersangka nomor satu.

Namun, membiarkan Jameson terus memegang kendali dan menekan dirinya dengan ancaman kasus berdarah itu juga bukan pilihan yang akan diambil oleh seorang Hazel Rosemary Brooks.

Hazel menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin dan mematikan.

Pendar matanya berkilat di dalam kegelapan kamar.

Jika Jameson ingin bertaruh menggunakan obsesinya pada kematian dan mahakarya berdarah ini... maka Hazel akan melayani permainan itu.

Ia akan menjebak sang pemburu di dalam perangkap yang diciptakan oleh mangsanya sendiri.

...----------------...

Happy reading 🦋

1
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗🤗
Yusry Ajay
lagi up nya Thor 🤗🤗💪
safaana
pengen tampar tu muka Cristine,,udah selingkuh tak tau malu lagi,slalu ada ular berbisa
Rosdianah 🌷: kwkw🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
hazel keren 😁😁😁
Rosdianah 🌷: iya dong 🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
hu... cantik dan ganteng 😁😁🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Lilla Ummaya
Lanjuut
Lilla Ummaya: Yaaa skrng thore
total 2 replies
safaana
nikahi saja jame,dan suruh mommy bilang pada hazel yang baik2
Lilla Ummaya
Lanjuut
safaana
deddy lean dulu kan nikah dulu
Rosdianah 🌷: author lupa 🙏🏻🤣
total 1 replies
safaana
berasa aku yang berada di sana tegang bnget
Rosdianah 🌷: hhah🤣
total 1 replies
Debu Nakal
langsung nikahkan aja mom glow 🤣
Rosdianah 🌷: iya benar2 bahaya dia orang ini🤣
total 1 replies
safaana
hahaha ceroboh sekali si jame,jdi tontonan gratis
Rosdianah 🌷: agak lain 😭🤣
total 1 replies
Nita Nita
malah tebar pesona🤣😄🤭
Rosdianah 🌷: Sipaling sempurna 😭
total 1 replies
safaana
maka kejarlah sejauh mungkin jame
safaana
jangan menjebaknya hazel ntar kau sendiri yang masuk jebakan sendiri
Rosdianah 🌷: nah benar 🤭
total 1 replies
Nita Nita
aduh aduh aduh 😄😄🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: hahaha🤣
total 1 replies
Lilla Ummaya
Seru seru lg terus thor,,malming baca karyamu..kerenn
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Debu Nakal
siap dikejar tayang ma reader ngak thor
up up up 🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
Lilla Ummaya
Lanjuut thoor yg bnyak donk
Lilla Ummaya: Ini dlu thoor
total 2 replies
Yusry Ajay
ternyata hazel pembunuh Thor 😶😶
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!