Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Bekal Untuk Edgar
Setelah makan malam selesai, Edgar bersikeras mengantar Ivy pulang, awalnya Ivy menolak.
“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri,” kata Ivy sambil mengambil tasnya, Edgar menggeleng, dia tetap ingin mengantar Ivy pulang.
“Aku akan mengantarmu.” Kata Edgar lalu menggandeng tangan Ivy, senyum tipis sersungging di bibir tipisnya.
“Edgar, aku benar-benar bisa pulang sendiri.” Kata Ivy berusaha meyakinkan Edgar kalau dia benar-benar bisa pulang sendiri, lagipula apartemen miliknya tidak jauh dari sana.
“Aku tahu.”
Edgar mengambil mantel miliknya dan berjalan lebih dulu menuju pintu lalu membuka pintu itu untuk Ivy.
“Tapi aku tetap akan mengantarmu.” Ucap Edgar final.
Ivy terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas pasrah.
"Oke.”
Malam itu Edgar benar-benar mengantar Ivy sampai ke depan apartemennya. Sebelum Ivy masuk, Edgar tiba-tiba berkata,
“Besok pagi, ayo kita sarapan bersama.”
Ivy menoleh.
“Besok?”
Edgar mengangguk.
“Ya, kita bisa sarapan bersama sebelum aku pergi bekerja.”
Ivy berpikir sebentar, lalu menggeleng.
“Sepertinya aku akan sarapan di apartemen saja.”
Edgar sedikit kecewa dengan penolakan Ivy.
“Oke.”
“Aku mau memasak.”
Mata Edgar langsung kembali berbinar.
“Kalau begitu, aku bisa datang ke apartemenmu.”
Ivy tertawa kecil.
“Bukannya tadi kau mengajakku sarapan?” Tanya Ivy.
“Benar.” Edgar mengangguk membenarkan.
“Kenapa sekarang malah ingin datang ke apartemenku?” Tanya Ivy memicing.
“Karena aku ingin mencoba masakanmu.” Kata Edgar dengan senyum sumringah.
Ivy menggeleng sambil tersenyum tipis.
“Baiklah, datang saja besok pagi.”
Senyum Edgar semakin lebar saat mendengar itu.
“Apa yang akan kau masak?” Tanya Edgar dengan mata berbinar.
“Nasi goreng dan ayam suwir pedas.” Kata Ivy.
Edgar terdiam sesaat, dia ingat itu adalah makanan favoritnya saat masih kecil. Dulu ibunya selalu membuatkannya bekal itu.
“Itu makanan kesukaanku.” Kata Edgar.
“Aku tahu.” Ujar Ivy.
“Kau tahu?” Tanya Edgar shock.
Ivy mengangguk.
“Dulu kau selalu membawa bekal itu, kau bilang itu makanan favorit mu.” Kata Ivy, dia masih mengingat jelas kenangan mereka dulu.
Edgar tersenyum.
“Kalau begitu, aku pasti datang.”
Keesokan paginya, bel apartemen Ivy berbunyi,
Ivy yang baru saja selesai menyiapkan beberapa bahan makanan langsung berjalan menuju pintu.
Begitu pintu terbuka Ivy langsung terdiam, Edgar berdiri di depan pintu. Namun, kali ini penampilannya berbeda. Ia mengenakan kemeja putih yang rapi, celana panjang hitam, jas berwarna gelap, dan jam tangan yang membuat penampilannya terlihat sangat elegan, Ivy mengerjapkan mata.
“Kau mau pergi bekerja?” Tanya Ivy saat melihat Edgar dengan setelan rapi datang ke apartemennya.
Edgar mengangguk.
“Ya.”
“Lalu kenapa kau tidak langsung ke kantor saja?”
“Karena kau mengundangku sarapan.”
Jawaban itu membuat Ivy tersenyum.
“Masuklah.”
Edgar masuk ke dalam apartemen, aroma masakan yang memenuhi ruangan langsung membuat perutnya terasa lapar.
“Nasi goreng?” tanyanya.
“Belum jadi.”
“Baunya sudah sangat enak.”
Ivy terkekeh.
“Duduklah, sebentar lagi selesai.”
Edgar menurut, namun baru beberapa menit duduk, Ivy tiba-tiba menoleh padanya.
“Tunggu.”
“Ada apa?”
“Kau akan langsung pergi bekerja setelah sarapan, kan?”
“Ya.”
Ivy melihat jam, kemudian matanya jatuh pada jas yang dikenakan Edgar.
“Kalau begitu, tunggu sebentar.”
Edgar mengerutkan keningnya, bingung.
“Kenapa?”
“Aku akan membuatkanmu bekal.”
Edgar tampak terkejut, tapi sedetik kemudian dia mulai tersenyum.
“Bekal?”
“Iya.”
“Untukku?”
Ivy mengangguk.
“Kau tidak mungkin makan makanan kantor setiap hari.”
Edgar tersenyum kecil.
“Aku tidak keberatan.”
“Tapi aku keberatan.”
Edgar terdiam, Ivy kemudian membuka salah satu lemari dapurnya. Untung saja kemarin ia sudah berbelanja cukup banyak, ada beras, telur, ayam, sayuran, cabai, dan berbagai bumbu yang masih segar. Namun saat Ivy melihat ke sudut lemari, ia baru menyadari sesuatu. Sebuah kotak bekal baru masih terbungkus, Ivy memegangnya dan mengerutkan kening.
“Ah…”
Edgar menatapnya.
“Apa?”
Ivy menunjukkan kotak bekal itu.
“Entah kenapa kemarin aku malah membeli ini.”
Edgar tersenyum.
“Sepertinya kau sudah tahu kalau hari ini kau akan membuatkan aku bekal.”
Ivy langsung menatapnya.
“Jangan mengarang.”
Edgar tertawa kecil.
“Siap.”
Ivy membawa kotak bekal itu ke meja dapur.
“Duduk saja, aku akan memasak lebih banyak.”
“Aku bisa membantumu.”
“Tidak perlu.”
“Tapi—”
“Edgar.”
Ivy menatapnya serius.
“Duduk.”
Edgar akhirnya menyerah.
“Baik, Nyonya.”
Ivy memutar matanya, ak lama kemudian suara minyak panas terdengar dari dapur. Ivy mulai memasak nasi goreng, sementara ayam yang sudah dibumbui dimasak hingga matang dan kemudian disuwir kecil-kecil. Edgar memperhatikan Ivy dari tempat duduknya.
Beberapa menit kemudian, Ivy membawa dua piring ke meja.
“Nah, sudah selesai.”
Edgar melihat nasi goreng di depannya, lalu ayam suwir pedas yang diletakkan di sampingnya.
Senyumnya semakin lebar.
“Terima kasih.”
Ivy duduk di hadapannya.
“Makanlah sebelum dingin.”
Edgar mengambil satu suapan, Matanya langsung berbinar.
“Enak.”
Ivy tersenyum.
“Serius enak?”
“Serius, ini makanan terenak yang pernah aku makan.” Puji Edgar.
Edgar lalu mengambil suapan kedua.
“ummm, benar-benar enak.”
Ivy tertawa kecil.
“Jangan terlalu memuji, nanti aku jadi besar kepala.”
“Aku tidak keberatan.”
Setelah sarapan selesai, Ivy memasukkan nasi goreng dan ayam suwir yang tersisa ke dalam kotak bekal. Ia menutupnya dengan hati-hati lalu menyerahkannya kepada Edgar.
“Ini untuk makan siangmu.”
Edgar lalu menerima kotak itu dan menggenggamnya erat-erat.
“Terima kasih, Ivy.” Kata Edgar, kali ini suaranya terdengar lebih lembut.
“Sama-sama.” Jawab Ivy sambil tersenyum.
Edgar menatap kotak bekal di tangannya beberapa detik. Entah kenapa, benda sederhana itu terasa jauh lebih berharga daripada apa pun yang pernah ia bawa ke tempat kerja. Edgar jadi tidak sabar menunggu jam makan siang tiba.
Bersambung