Amira Anastasya, yang setia menunggu janji dari Glen Anggara yang akan segera pulang dalam dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya di Eropa dan menikahi nya. Namun tidak sesuai dengan ala yang Amira harapkan.
Bertahun-tahun Amira menunggu akan tetapi Glen tidak kunjung datang, bahkan tidak pernah menghubungi Amira setelah satu bulan di Eropa tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar, dan Amira pun tidak dapat menghubunginya.
Hingga lima tahun kemudian, ketika Amira dibandara dan hendak pergi keluar negeri tanpa sengaja mereka bertemu. Saat itu juga Glen pulang dari luar negeri.
Melihat kepergian Amira, Glen merasa sedih ketika dia hendak menemui Amira tetapi kenapa malah amira pergi keluar negeri dan tidak mau mendengarkan Glen saat itu.
Selama di Indonesia Glen berusaha mencari tahu kehidupan Amira selama ini, apakah dia baik-baik saja selama dia tidak ada atau malah sebaliknya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penpena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Datang
Tiga hari berlalu, seperti biasa Glen sudah berada di kantor dan sedang sibuk. Beberapa menit kemudia seseorang mengetuk pintu ruangannya.
"Masuk lah." Ucap Glen dan masih fokus ke laptopnya.
"Sibuk banget?."
Seketika pandangan Glen tertuju kearah pintu, dan melihat Amira berdiri disana dengan senyumannya. Lalu Amira mendekat dengan menenteng tas berisi kotak makan siang untuk Glen.
"Sayang, tumben datang?." Ucap Glen terseyum.
"Emang aku tidak bisa mengecek keadaan suamiku dikantornya?." Ucap Amira menggoda.
"Hehehe, ya bisa dong."
"Nih, aku bawa makan siang untuk mu. Aku tahu kamu belum makan kan?." Ucap Amira mengeluarkan kotak makan itu dari tas dan meletakannya diatas meja.
"Istriku memang peka, kamu benar sekali sayang aku belum makan." Ucapnya.
"Yasudah, makan lah sekarang. Mumpung masih hangat." Suruh Amira.
Dengan senang hati Glen mengambil makanan itu lalu memakannya dengan lahap.
"Sayang, makannya berlahan." Ketus Amira melihat Glen makan lahap seperti tidak penah makan.
"Hahaha, habisnya masakan mu seenak ini."
Amira hanya menghela napasnya saja, Glen selalu saja memuji keahlian memasaknya.
Tok...tok...tok....
Amira dan Glen melihat kearah pintu, penasaran siapa yang datang-datang menganggu aktivitas mereka saja.
"Suruh dia masuk, sayang. Sepertinya staf mu."
Glen mengangguk. "Masuk lah."
Dan setelah orang itu membukakan pintu, berlahan Amira dan Glen melihat dan sontak membuat merek kaget tidak percaya.
"Melly?." Ucap Amira masih belum yakin yang dilihatnya adalah Melly. Begitu pun dengan Glen yang menelan ludahnya kaku.
Disisi lain Melly juga sama kagetnya melihat keberadaan Amira bersama dengan Glen.
"Melly, kamu?." Amira berlahan tersenyum setelah memproses diotaknya bahwa yang dia lihat adalah Melly.
"Eh, hai. Amira." Melly pun berusaha tersenyum dan berjalan menghampiri mereka. Dan dengan cepat Amira berlari kearah Melly dan memeluknya dengan senang.
"Astaga, kok kamu bisa tiba-tiba berada disini?, bukannya kamu bilang bahwa kamu akan datang di minggu depan?." Tanya Amira masih memeluk Melly yang masih canggung.
"E-em, e, iya. Biar jadi kejutan." Ucap Melly, lalu menatap Glen yang masih duduk di kursinya, lalu Melly tersenyum miring.
Glen mengepal kedua tangannya dan memalingkan wajahnya dari Melly. Dia merasa sangat kacau sekarang. Dia tidak tahu harus melakukan apa agar Melly tidak pernah mengatakan hubungan mereka sebelumnya kepada Amira.
Amira melepaskan pelukannya dan tersenyum bahagia kepada Melly, "Kapan kamu sampai?" tanya nya.
"E-em, baru saja aku sampai." Jawab Melly.
"Oh, begitu." Amira memperhatikan Melly dan membuat Melly bingung. "Kamu sesampai dibandara langsung kesini?."
"Iya," Jawabnya cepat.
Amira mengangguk, "Tapi kok kamu bisa tahu alamat kantor Glen?." Tanya nya sambil tersenyum.
Seketika Glen merasakan darahnya mengalis sangat cepat di sekujur tubuhnya. Dia menatap Melly dengan diam, dan Melly mencuri-curi pandang padanya.
"Oh, iya. Sebenarnya aku tidak tahu kalau ini adalah kantor Glen." Jawabnya
Amira menaikkan alis matanya kebingungan, "E-em, terus bagaimana bisa kamu ada disini?."
"Amira, aku berencana untuk bekerja sama dengan perusahaan di Indonesia juga. Kamu tahu kan sekarang aku ingin memperluas relasi dibidang industri. Karena itu sebelum datang ke sini, aku mencari tahu industri yang cocok untuk berkolaborasi dengan ku. Dan sekarang aku ingin menemui direktur perusahaan ini untuk mengajak kerja sama." Jelasnya
Amira mengangguk paham.
"Ternyata, Glen yang punya. Wah, tidak pernah kuduga."
"Mungkin sudah takdir untuk kita dipertemukan bertiga disini, Mell." Jawab Amira. "Aku senang sekali kamu sudah datang."
Melly tersenyum.
"Oh iya, astaga. kamu pasti kelelahan ya?, sebaiknya kamu duduk dulu Mell."
"Iya nih, aku kelelahan tapi kamu malah menanyai ku banyak hal."
"Hahaha, maaf maaf." Ucap Amira merasa bersalah. Lalu Melly berjalan ke sofa yang ada diruangan itu dan sesekali menatap kearah Glen dan tersenyum miring.
"Oh iya, Glen." Melly menghampiri Glen dengan percaya diri. "Senang bertemu dengan mu lagi, setelah sekian lama." Ucap nya sambil tersenyum.
Glen berusaha tersenyum kepadanya supaya Amira tidak merasa aneh kepadanya. "Ah, iya. senang bisa melhat mu." Jawabnya.
"Apa kamu tidak merindukan ku?." Tanya Melly lagi
Glen menahan rasa kesalnya dan berusaha tersenyum. "Tentu saja," Melly menaikkan alis matanya sebelah menatap Glen. "Tentu saja aku rindu." Tambahnya.
"Aku juga berpikir seperti itu. Oh iya selamat ya pernikahan kalian."
"Terimakasih." Jawab Glen.
Lalu Melly berjalan menuju sofa dan duduk disana.
"Ini kamu minum dulu, Mell." Tawar Amira menuangkan air putih ke gelas dan memberikan padanya.
"Makasih, Mir." Ucapnya dan meminumnya. "Amira, aku masih kesal padamu." Ucap Melly setelah selesai minum.
Amira terdiam dan mengingat kesalahannya tidak mengabari tentang pernikahannya kepada Melly, tentu saja Melly akan kesal padanya.
"Astaga, aku benar-benar minta maaf."
"Sangat sulit dimaafkan." Ucap nya cemberut.
"Ibi semua gara-gara dia," Ucap Amira menunjuk Glen. "Glen sini lah, gabung. Kenapa kamu tidak mau bergabung bersama kita, apa kamu benar-benar merelakan ku bersama Melly sepanjang dia disini?." Tanya Amira mengingat waktu itu dia minta izin untuk menghabiskan waktu menemani Melly selama di Indonesia.
"Iya, aku akan kesitu." Ucap Glen menghentikan aktivitasnya.
"Gara-gara Glen?, emang kenapa gara-gara dia sampai kamu tidak memberitahukan kalau kamu menikah?. Apa dia melarang mu memberitahukan nya kepadaku?" Tanya Melly bingung.
Glen yang sudah dekat Amira dan mau duduk pun menatap Amira bingung. Karena dia memang tidak pernah melarang Amira untuk memberitahukan pernikahan mereka kepada siapa pun.
"Bukan, Glen tidak melarang ku sama sekali." Jawab Amira
"Lalu, kenapa coba?."
"Dia tiba-tiba melamarku malam nya, dan besoknya dia malah mengajaku menikah tiba-tiba. sampai aku pun tidak bisa berpikir saat itu. Semuanya terjadi begitu cepat." Jelas Amira mengingat saat itu.
"Oh," Melly menatap Glen sekilah. "Apa kamu menyesal menikahinya?." Tanya Melly.
Glen hanya menyimak saja perkataan mereka. Dia tahu kalau Melly sedang memanfaatkan suasana untuk Memprovokasi nya.
"Iya sedikit." Jawab Amira bercanda. Lalu Glen menatapnya.
"Maaf sayang, setelah aku tahu kebiasaan tidurnya suka ngorok dan itu kuat banget, membuat aku tersadar alangkah lebih baiknya aku mewawancarainya dulu sebelum menikah, supaya aku bisa mempersiapkan diri dan belajar terlebih dahulu." Jawabnya.
"Oh, dia memang seperti itu kalau tidur." Ucap Melly
Seketika Amira menatap Melly bingung, begitu pun dengan Glen menatapnya serius.
"Astaga," Melly memukul jidatnya merasa bersalah. "Maksud ku, semua lelaki pasti seperti itu kalau tidur."
Glen memalingkan wajahnya kesal. Dia menjadi muak dengan tingkah sengaja Melly.
Amira pun tersenyum, "Iya kamu benar. Bahkan ayah ku juga seperti itu dulu. Mungkin memang semua lelaki sama saja, suka ngorok kuat." Ucapnya.
"Oh iya, Glen. Kenapa kamu menikah buru-buru?." Tanya Melly menatap Glen serius dengan senyumannya.
"Maksud ku, kenapa kamu menikahi sahabatku buru-buru seperti itu, ha?." Tambahnya setelah melihat situasi yang senyap.