Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Maya menatap Lexa lurus-lurus. Untuk pertama kalinya, ia enggan menundukkan kepala. Sambil menahan rasa sakit di sikunya yang memar, Maya perlahan bangkit berdiri. Tangannya mengepal rapat di samping seragamnya yang kusam."Aku nggak pernah merebut apa pun dari kamu, Lexa!" suara Maya terdengar lantang dan bergetar, memecah keheningan koridor yang tegang. "Kemenangan ini hasil dari belajar jujur, Kalau kamu kehilangan semuanya hari ini, itu bukan karena aku... tapi karena perbuatan kamu sendiri!"Perlawanan sengit dari gadis yang biasanya hanya bisa pasrah dan menunduk itu bagaikan bensin yang disiramkan tepat ke dalam kobaran api amarah Lexa. Keangkuhan Lexa merasa dihantam telak. Matanya menyalang merah, napasnya memburu kasar bagaikan kesetanan.
"Kurang ajar lu, ya! Berani-beraninya lu ngejawab gue?!" teriak Lexa histeris, suaranya melengking memenuhi koridor.Lexa menerjang maju dan kembali mendorong Maya hingga punggung gadis itu menabrak dinding kelas. Usaha Maya untuk meronta dan membalas dorongan itu sia-sia belaka. Amarah murni yang merasuki Lexa memberinya tenaga yang liar dan tidak terkontrol. Di sudut koridor, Hani, Lana, dan Aurel mematung dengan wajah pucat pasi. Mereka menyadari betul bahwa aksi Lexa kali ini sudah melewati batas sewajarnya perundungan sekolah, namun rasa takut terpancar dari mata mereka hingga tak ada satu pun yang berani melangkah maju.
Mata Lexa yang kalap beredar liar ke sekeliling lorong. Pandangannya terhenti pada sebuah balok kayu bekas sisa renovasi atap yang tergeletak di dekat sudut ruangan. Tanpa berpikir panjang dan tanpa memedulikan akal sehat yang tersisa, Lexa menyambar balok kayu berukuran cukup tebal itu.
"Lexa, stop! Lu gila, ya?! Jangan pakai itu!" Hani akhirnya berteriak panik, memberanikan diri berlari kecil hendak menahan lengan Lexa. Rasa takut bahwa ketua geng mereka akan melakukan tindakan pembunuhan mulai merayapi benaknya."Diem lu! Nggak usah ikut campur!" bentak Lexa kasar, mengibaskan tangannya hingga Hani terdorong mundur.Dengan mata yang dibutakan oleh dendam dan kegilaan, Lexa mengayunkan balok kayu itu dan memukulkannya tepat ke tubuh Maya!
*BUK!*
"Ahkh!" jerit Maya kesakitan saat balok kayu itu menghantam bahunya. Maya jatuh terduduk, berlindung di bawah lipatan tangannya saat Lexa kembali mengayunkan balok tersebut secara kalap, memukuli tubuh dan kaki Maya tanpa rasa iba sedikit pun. Hani, Lana dan Aurel yang menyaksikan dari kejauhan berteriak histeris, ketakutan melihat kebrutalan Lexa yang sudah tak terendam.
"Gue benci sama lu! Gue benci lu, Maya! Hancur lu sekalian!" teriak Lexa bertubi-tubi seraya terus mengangkat kayu tersebut.Namun, tepat saat Lexa hendak melayangkan pukulan terkerasnya ke arah kepala Maya, sebuah suara gemuruh yang teramat dahsyat berdentum dari dalam perut bumi.
*DUMMMMM!*
Lantai keramik yang mereka pijak mendadak bergetar hebat. Dinding-dinding beton SMA Nusa Bangsa bergoyang keras bagaikan diayun oleh tangan raksasa. Lampu-lampu gantung di langit-langit terlepas dan jatuh berhamburan menghantam lantai, menimbulkan suara pecahan kaca yang memekakkan telinga.
"GEMPA! GEMPA BUMI!"Teriakan histeris seketika memecah kepanikan di seluruh koridor sekolah. Ratusan siswa dan guru berlarian tanpa arah, saling dorong dan berdesakan menuju tangga dan pintu keluar bangunan untuk menyelamatkan diri. Hani, Lana, dan Aurel yang terkejut setengah mati ikut tersapu oleh gelombang siswa yang panik, terpisah jauh dari posisi Lexa.
Guncangan gempa bertambah dahsyat dalam hitungan detik. Dinding-dinding koridor mulai retak menjalar, memuntahkan debu semen yang tebal hingga menyumbat pandangan.
Ayun balik balok kayu di tangan Lexa terhenti seketika. Tubuhnya oleng, membuatnya jatuh tertelungkup di atas lantai yang terus bergoyang hebat. Ketakutan akan maut seketika melunturkan seluruh amarah gila di dalam dadanya. Di sebelahnya, Maya terbaring lemah, mengaduh kesakitan akibat pukulan balok kayu tadi, tak sanggup berdiri menyangga tubuhnya sendiri.
"Tol... tolong..." cicit Maya lirih di tengah debu yang membumbung pekat.
Lexa yang ketakutan berusaha merangkak bangun untuk berlari menyusul siswa lain. Namun, sebelum ia sempat menegakkan tubuhnya, langit-langit di atas koridor retak parah. Sebuah lemari kayu tua penyimpan arsip yang berukuran sangat besar dan berbobot ratusan kilogram di dekat mereka bergeser, miring, dan akhirnya roboh diterjang guncangan gempa yang kian hebat.
*BRUKKKKK!*
"AAAGHH!"Jeritan histeris dari Lexa dan Maya membumbung bersamaan sebelum akhirnya terbungkam oleh dentuman keras. Lemari tua nan berat itu tumbang tepat menimpa mereka berdua, menjebak dan meremukkan tubuh mereka di balik tumpukan kayu jati tebal dan reruntuhan semen yang ambrol.
Kegelapan seketika melahap pandangan mereka. Suara gemuruh gempa di luar lambat laun terdengar menjauh, berganti menjadi keheningan yang mencekam di bawah himpitan bayang-bayang kematian. Di dalam kesempitan dan rasa sakit yang luar biasa akibat terhimpit lemari tua itu, takdir misterius perlahan mulai bekerja, menjalin dua jiwa yang saling membenci ini ke dalam sebuah kejadian mistis yang tak pernah terpikirkan oleh siapa pun sebelumnya.