NovelToon NovelToon
Kembali Menemukan Cinta

Kembali Menemukan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:317
Nilai: 5
Nama Author: bammoon

**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**

Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.

Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.

Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.

"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seseorang yang mirip

Di gerbang utama neta berpamitan terlebih dahulu "gue duluan ya naek gojek" neta juga sempat bertanya pada hikari dengan siapa hikari akan pulang "lo pulang jalan kaki?"

hikari menjawab dengan singkat sembari berjalan "itu, aku di jemput" hikari menunjuk ke luar gerbang. Disana sudah terlihat sebuah mobil berwarna silver yang sudah menunggu hikari.

neta agak tercengan, karna jarang-jarang ada murid disini di jemput mobil pribadi kecuali rian, meskipun rian juga jarang di jemput karna dia sering membawa motor sendiri "oh mobil pribadi"

Hikari tersenyum dan berkata "iya, kamu mau ikut"

Neta menggelengkan kepala sembari tersenyum "gak dulu kita beda arah gak sih"

hikari mengangguk "oke kalo gitu, sampai ketemu besok" hikari segera masuk kedalam mobil begitu pun dengan neta yang segera meninggalkan sekolah.

Didalam mobil

susana hening, tidak ada percakapan di dalam mobil itu dan hikari hanya menatap ponselnya. Lalu pria yang sedang menyetir memulai pembicaraan "gimana sekolahan barunya,non"

Hikari mengangkat kepalanya, diam sejenak untuk memikirkan jawaban yang tepat.

"Ya, begitulah. Saya masih baru, jadi masih mencoba untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah di sana," jawab Hikari pelan sembari kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Pria paruh baya yang sedang mengemudi itu mengangguk kecil. Sesekali ia memperhatikan Hikari melalui kaca spion.

"Non Hikari sudah punya teman di sekolah baru?"

Hikari terdiam sejenak sebelum menjawab. "Sudah, Pak. Namanya Neta."

"Wah, syukurlah kalau begitu. Bapak kira Non bakal kesulitan mencari teman."

Hikari tersenyum tipis.

"Saya juga awalnya mikir begitu, Pak. Tapi ternyata ada yang ngajak saya ngobrol duluan."

Pria itu ikut tersenyum mendengar jawaban Hikari.

"Baguslah, Non. Bapak harap Non bisa betah di sekolah yang sekarang."

"Iya, Pak."

Setelah itu, suasana mobil kembali hening. Hikari memang bukan seseorang yang pandai memulai percakapan. Ia lebih suka mendengarkan daripada banyak berbicara, apalagi dengan orang yang baru dikenalnya.

Namun, bukan berarti Hikari tidak ingin berteman dengan siapa pun.

Ia hanya membutuhkan waktu untuk merasa nyaman dengan seseorang. Terkadang, rasa penasarannya terhadap sesuatu justru membuatnya berani memulai percakapan lebih dulu, meskipun itu selalu membuatnya agak memalukan menurut dirinya.

Seperti yang terjadi hari ini. Hikari menyandarkan kepalanya pada kursi mobil. Matanya memperhatikan deretan bangunan yang perlahan terlewati. Tanpa sengaja, pikirannya kembali mengingat seorang laki-laki yang dilihatnya di sekolah tadi.

"Keiran" Guman hikari, hikari begitu memikirkan tentang dia meskipun hikari belum banyak mengetahui tentang laki-laki itu. Bahkan, mereka belum sempat berbicara cukup lama.

Namun, ada sesuatu dari Keiran yang membuatnya mengingat seseorang yang sama persis. Tapi bukan karena penampilannya, melainkan tatapan mata dan sikapnya.

Tatapan yang terlihat tenang, tetapi seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin diperlihatkan kepada orang lain. Begitu pula dengan sikapnya yang cenderung tidak banyak bicara.

Entah mengapa, semua itu terasa tidak asing bagi Hikari. "Agak mirip" Gumam hikari

Hikari menundukkan kepala, memperhatikan kedua tangannya yang berada di atas pangkuan. Hikari agak memikirkannya, tidak biasanya juga dia begitu penasaran pada sesuatu.

Tapi karena ia teringat seseorang yang pernah dikenalnya itu jadi ia terus memikirkan keiran, oranga yang dikenalnya cerita nya penuh teka-teki dan itu membuat hikari selalu kesal dengan cerita yang di katakan.

Batin hikari terus berbicara seolah mereka punya cerita yang sama persis hanya karena tatapan dan sikapnya sama "Tapi tidak mungkin mereka punya cerita yang sama"

Namun, Hikari segera menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran tersebut.

"Non?" Suara pria yang sedang menyetir itu membuyarkan lamunannya.

Hikari segera mengangkat kepala. "Kenapa?"

"Non mau mampir beli sesuatu dulu? Atau langsung pulang?"

"Langsung pulang aja, Pak."

"Baik, Non."

Hikari kembali menatap ke luar jendela. Sebenarnya, ia sendiri tidak mengerti mengapa begitu penasaran dengan Keiran. Mereka bahkan baru bertemu hari ini. Apa kata orang yang ia kenal mirip dengannya. Mungkin hikari akan mencoba untuk berteman dengan keiran dan mendengarkan ceritanya, meskipun itu tidak akan mudah.

Hikari tertawa kecil ketika membayangkan bagaimana jika

dia benar-benar mengajak keiran berbicara. Mengingat sikap laki-laki itu yang terkesan cuek, rasanya cukup sulit untuk memulai percakapan denganya.

sesampainya di rumah

Mobil berwarna silver itu akhirnya memasuki sebuah kawasan perumahan yang terlihat tenang. Sepanjang jalan, deretan rumah mewah berdiri dengan halaman yang tertata rapi. Pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan membuat suasana kawasan tersebut terasa sejuk, meskipun matahari masih bersinar cukup terik.

Hikari yang sejak tadi menyandarkan kepalanya pada kursi mulai memperbaiki posisi duduknya ketika menyadari bahwa mereka hampir sampai di rumah.

Tidak lama kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah gerbang besar berwarna hitam. Pak Damar, pria paruh baya yang sejak tadi mengantarnya, menurunkan kaca mobil untuk menyapa petugas keamanan yang berjaga.

Gerbang perlahan terbuka, memperlihatkan sebuah rumah besar bergaya modern dengan halaman luas yang dipenuhi tanaman hias. Di bagian depan rumah terdapat beberapa pohon kecil yang sengaja ditanam untuk memperindah halaman.

Mobil melaju perlahan melewati halaman sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pintu utama.

"Sudah sampai, Non," ujar Pak Damar sambil mematikan mesin mobil.

Hikari yang sedang memperhatikan halaman rumah segera menoleh.

"Iya, Pak. Terima kasih sudah jemput saya."

"Sama-sama, Non. Kalo begitu non langsung istirahat ya

Hikari mengangguk kecil sambil mengambil tas yang berada di sampingnya. "Iya pak"

Hikari membuka pintu mobil dan turun dengan hati-hati. Setelah menutup pintu, ia berjalan menuju pintu utama rumah sambil membawa tas sekolahnya.

Begitu memasuki rumah, udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyambutnya. Ruang tamu yang luas terlihat begitu rapi. Beberapa lukisan menghiasi dinding, sementara sebuah lampu gantung besar tergantung di tengah ruangan.

"Non Hikari sudah pulang?"

Suara seorang wanita membuat Hikari menghentikan langkahnya.

Seorang wanita paruh baya yang mengenakan pakaian sederhana terlihat berjalan keluar dari arah dapur. Wanita itu adalah Bi Sumi, salah satu asisten rumah tangga yang sudah cukup lama bekerja di rumah keluarga Hikari.

"Sudah, Bi," jawab Hikari sambil tersenyum kecil.

"Bagaimana sekolahnya, Non? Menyenangkan?"

Hikari berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan tersebut.

"Lumayan seru, Bi. Tapi masih agak canggung" Ucap hikari sembari tertawa kecl

"Namanya juga hari pertama, Non. Nanti kalau sudah beberapa hari pasti mulai terbiasa."

"Iya, Bi. Makasih"

Bi Sumi tersenyum mendengar jawaban Hikari. Ia kemudian memperhatikan tas sekolah yang masih dibawa gadis itu.

"Non sudah makan siang?"

"Belum, Bi. Tadi cuma makan sedikit waktu istirahat."

"Kalau begitu, mau bibi siapin makan siang sekarang"

"Gak usah, nanti aja"

"Baik, non"

Hikari kemudian berjalan menuju tangga yang menghubungkan lantai pertama dengan lantai kedua. Langkahnya terdengar pelan di sepanjang anak tangga.

Sesampainya di lantai atas, ia berjalan melewati lorong yang cukup panjang sebelum berhenti di depan pintu kamarnya.

Hikari membuka pintu tersebut, lalu masuk dan menutupnya kembali. Kamarnya terlihat cukup luas dengan nuansa putih dan krem yang mendominasi hampir seluruh ruangan. Sebuah tempat tidur berukuran besar berada di sisi kanan, sementara meja belajar terletak tidak jauh dari jendela.

Di salah satu sudut kamar terdapat rak buku yang dipenuhi berbagai macam novel dan beberapa benda kecil yang sengaja dikoleksinya.

Hikari meletakkan tas sekolah di atas kursi belajar sebelum menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur.

"Hah... akhirnya sampai juga," gumamnya sambil menatap langit-langit kamar.

Ia merentangkan kedua tangannya, mencoba menghilangkan rasa lelah setelah menjalani hari pertamanya di sekolah baru.

Sebenarnya, hari ini tidak seburuk yang ia bayangkan.

Awalnya Hikari mengira dirinya akan menghabiskan waktu sendirian karena tidak mengenal siapa pun. Namun, kehadiran Neta membuat suasana sekolah terasa sedikit lebih nyaman.

Ia teringat bagaimana Neta dengan santainya mengajaknya berbicara, seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama. "Ya setidaknya dia teman ya cukup baik" Gumam hikari

Sikap Neta yang terbuka cukup berbeda dengan dirinya yang cenderung pendiam. Meskipun begitu, Hikari merasa tidak terlalu kesulitan berbicara dengannya. Meskipun hikari sendiri yang mencoba berteman dengannya, karena dia teman sebangku.

"Semoga besok nggak terlalu canggung lagi."

Hikari memejamkan matanya sebentar.

Namun, baru beberapa saat menikmati ketenangan, pikirannya kembali mengingat sesuatu. Atau lebih tepatnya, seseorang.

"Keiran..."

Nama itu kembali terucap dari bibirnya.

Hikari membuka mata dan menatap langit-langit kamar dengan ekspresi berpikir.

Ia masih mengingat bagaimana laki-laki itu bersikap ketika mereka bertemu di sekolah. Keiran terlihat begitu tenang, bahkan terkesan tidak terlalu peduli dengan keadaan di sekitarnya. Hal yang paling membuat Hikari penasaran adalah tatapan matanya.

"Aduh!! Kenapa tatapan dia kayak temen aku, bikin penasaran aja" Hikari mengacak-acak rambut nya sendiri.

Entah kenapa, hikari berpikir kalo mereka punya cerita yanh sama dari tatapan mata nya dengan pembicaraannya yang seolah menunggu orang dimasa lalu tapi meskipun dia hanya mendengar sedikit tentang keiran.

Lalu hikari teringat orang yang dahulu sering menceritakan banyak hal kepadanya, tetapi hampir tidak pernah memberikan penjelasan yang benar-benar mudah dimengerti.

Hikari bahkan sering merasa kesal setiap kali mendengar cerita orang tersebut.

Bukan karena ceritanya membosankan, melainkan karena terlalu banyak hal yang sengaja disembunyikan.

"Kenapa sih orang-orang kayak gitu susah banget ditebak?" gumam Hikari.

Ia membalikkan tubuhnya ke samping, lalu menarik sebuah bantal untuk dipeluk.

"Baru juga ketemu, udah bikin penasaran aja."

Hikari menghela napas panjang.

1
Paw_chan🐾
wah
Im Human
lanjut penasaran banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!