DENDAM BERSELIMUT TAWA
Bagaimana jika pemuda paling santai di desa ternyata adalah pewaris takhta yang seharusnya sudah mati?
Namanya Raka. Hidupnya sederhana, hobinya bercanda, dan ia paling tidak suka berurusan dengan masalah orang lain. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memikirkan hal-hal yang merepotkan.
Namun, kematian seseorang yang telah membesarkannya mengubah segalanya.
Perjalanan untuk mengungkap kebenaran justru menyeret Raka ke dalam rahasia kelam kerajaan Sangkara—sebuah kerajaan yang kini dipimpin oleh raja yang dicintai rakyatnya, tetapi menyimpan dosa berdarah di balik mahkotanya.
Raka tidak tahu bahwa masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan sedang mengejarnya.
Terlebih lagi, di balik senyumnya yang jahil, tersimpan kekuatan misterius dalam kedua matanya: merah seperti kegelapan yang menuntut balas, dan biru seperti cahaya yang melindungi.
Bersama Kirana, sahabat masa kecilnya yang memiliki sihir bayangan langka, Raka harus menghadapi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1-MBAH SARWO
Wus!
Jleb!
Sebilah pisau kecil melesat dan menancap di batang pohon.
Kirana melirik tajam. Beberapa helai rambutnya terputus dan melayang tertiup angin.
"Raka....!"
Raka menoleh ke sembarang arah, seakan tak ada yang terjadi.
Namun hawa dingin menjalar ke tengkuknya.
Perlahan tapi pasti kakinya mulai bergerak hendak lari, namun seketika bayangan halus menjalar di tanah. Menyatu langsung dengan bayangan miliknya.
seketika tubuh Raka tak dapat di gerakkan, pergerakannya terkunci.
Saat menoleh tatapan tajam langsung menusuk jiwanya.
"maaf, aku gak sengaja.." ungkapnya sambil tersenyum.
Namun senyuman itu tak bersambut, wajah Kirana tetap datar dengan mata terus tertuju ke arahnya.
setiap langkah yang di ambil Kirana, di sertai dengan buliran keringat Raka yang ikut menetes.
"sudah, jangan berkelahi. Lanjutkan latihan saja."
keduanya menoleh.
"Mbah Sarwo.." Kirana sedikit menunduk.
"sudahlah, kamu tau sendiri bagaimana sifat Raka. Tak usah di ambil hati."
"tapi Mbah, kalo saja tadi meleset sedikit saja. pisau itu tak akan berhenti di pohon, tapi berhenti di kepalaku."
"semua sudah terjadi, mau bagaimana mana lagi. Tak mungkin kan kalian akan saling membunuh karena hal ini"
Kirana tak menjawab lagi, ia melirik sekilas ke arah Raka.
"awas kalok ada lagi..." ungkapnya pelan sebelum pergi berlatih lagi.
"heh... Hampir saja, untung macan betina itu tak jadi menerkamku" gumamnya.
Baru selesai mengatakan ini, Kirana kembali menoleh.
Seketika tubuh Raka menegang sesaat.
"apa katamu..."
Raka menelan ludahnya, ia buru buru menggeleng...
"tidak, aku bilang. terimakasih karena sudah mau memaafkan ku."
setelah Kirana kembali melangkah, Raka mengelus dadanya.
"hampir saja" gumamnya namun kali ini sangat pelan.
"sudah, kembali berlatih. Lain kali jangan kelewat, kamu tau sendiri sifat gadis itu cukup serius."
"baik Mbah."
Raka berbalik, tangannya merogoh ke tas persenjataan yang ada di celananya.
sebilah belati di keluarkan, perlahan tangannya melepaskan belati itu.
Satu tangannya mulai bergerak, belati itu pun mengikuti pergerakan tangannya.
Sedangkan mata Raka menoleh ke sekitar. Lalu tertuju ke sebuah ranting kayu kecil.
"dapat..."
kini tangan yang sedari tadi diam mulai bergerak, ranting yang ada di tanah mulai bergetar.
Namun ranting yang sebagiannya tertutup daun itu hanya terus bergetar, tanpa ada tanda tanda akan terbang.
"kenapa sulit sekali..."
Raka mengerahkan lebih besar energinya, tapi tetap hanya getaran.
Bahkan beberapa daun rimbun kini ikut bergetar.
plak....
"aduh...."
Raka memegang kepalanya.
"kenapa memukulku Mbah."
"makanya jangan bodoh, lihat dulu apa apa yang kau coba kendalikan.."
Raka menoleh sambil tangan masih memegang k palanya.
"ranting.." ungkapnya.
Mbah Sarwo menggeleng, kini tangannya yang menjulur.
Seketika daun yang awalnya menutupi sebagian ranting yang ingin Raka kendalikan mendadak tebang, bahkan beberapa pohon kecil pun ikut tercabut.
Seketika mata Raka membelalak.
"pohon mati... !"
"sudah, ulangi lagi. kali ini perhatikan dengan benar benda yang akan kau kendalikan"
"baik Mbah."
Raka mengulangi hal yang sama, matanya kembali mengedar.
Namun tatapnya malah melihat Kirana yang tengah menyerang pohon dengan beberapa belati hitam yang keluar dari bayangan pohon itu sendiri.
Melihat ini Raka bergidik, apa lagi saat melihat ke bawah.
"wanita ini benar benar mengerikan, jika salah salah aku bisa mati karena bayanganku sendiri" batin Raka.
setelah matahari yang bersinar di atas kepala, perlahan mulai membenamkan diri.
kedua orang yang sedari tadi sibuk berlatih. Kini mereka terbaring dengan keringat mengucur.
"akhirnya selesai." ungkap Raka.
"sudah, kita kembali ke desa. Sebentar lagi gelap."
"siap Mbah..." semangat Raka.
Sedangkan Kirana hanya mengangguk.
"Mbah, apa besok jadi pergi berburu" tanya Kirana di perjalanan.
"tentu, tapi hanya kalian berdua."
"berdua, dengan Raka...?"
"kenapa ekspresi mu begitu, memang kenapa kalau denganku..." tak terima Raka.
"terlalu berisik." jawab Kirana.
"sudahlah, kalian jangan berkelahi lagi. Lagi pula di desa hanya kalian berdua yang bisa memakai kekuatan energi. jadi Kirana.... Raka adalah yang paling cocok menjadi partner berburu mu, kekuatannya juga tak lemah."
"bukan kekuatan Mbah, tapi tingkahnya. lagi pula aku bisa sama pemburu yang lain, ku rasa kekuatanku sudah cukup untuk berburu binatang iblis tingkat satu"
"cih... sok sekali, kalok bukan karena Mbah Sarwo aku juga males berburu bareng cewek tempramental kayak situ. Lagian emang ada yang mau berburu sama situ"
"apa katamu, ngomong yang kenceng. Jangan kayak bencong" tak terima Kirana.
"kenapa memangnya, memang gak ada yang mau berburu sama kamu kan..".
"ngomong sekali lagi, ku bunuh kamu"
"bunuh aja, weeek...." Raka langsung lari ke perumahan desa sambil menjulurkan lidah
"tunggu..." Kirana ikut mengejar.
"Mbah handuk anda" ungkap seorang pelayan.
mah Sarwo sedikit mengangguk, ia masuk ke dalam rumah di ikuti pelayan itu.
"apa gak papa Mbah biarin Raka dan Kirana berburu berdua..?"
Mbah Sarwo mengembalikan anduk ke pelayan.
"tenang, kekuatan mereka tak lemah. Seharusnya jika hanya berburu di sekitar desa tak akan ada masalah"
"bukan itu Mbah, anda tau sendiri setiap hari mereka berkelahi. Saya takut jika di lepas berdua mereka malah akan menyalakai satu sama lain."
Mbah Sarwo tiba tiba terdiam.
Pikirannya berputar ke beberapa tahun yang lalu, di mana dia menemukan seorang gadis kecil berusia 7 tahun di pinggir kota. Saat itu, tak ada satu orang-pun yang memperdulikan gadis itu.
Tubuhnya kurus kering, karena tak tega. Akhirnya mbah Sarwo mendekat.
saat jarak di antara keduanya hanya tersisa 1 atau 2 meter. Gadis itu mundur sambil memeluk sepotong roti yang sudah berjamur.
Mbah Sarwo menggeleng, ia berjongkok mensejajarkan duduknya dengan gadis itu.
Ia mengambil tas yang di bawakan pelayan, merogoh salah satu kantong dan mengeluarkan sebuah roti baru.
"makan ini saja, itu sudah basi"
gadis itu awalnya hanya diam, ia menatap Mbah Sarwo takut takut.
Namun saat melihat roti dengan lumuran coklat, membuat anak itu tak sanggup menolak.
Mbah Sarwo tentu tau hal ini, ia bahkan memberikannya dengan sedikit memaksa.
Setelah gadis itu memakan roti, baru ketakutan gadis itu perlahan terlihat memudar.
Mbah Sarwo mengajak gadis kecil itu duduk di salah satu bangku, namun saat hendak duduk gadis itu menggeleng.
"kenapa...?"
"kata kakak kakak kemarin, rana gak boleh duduk di sini. Buat bau" ungkapnya polos.
Mendengar ini, hati Mbah Sarwo terasa teriris.
Ia tak menyangka ada orang Setega itu kepada anak kecil, namun walaupun begitu ia tak bisa menampilkan rasa sedih di hadapan anak ini.
"gak papa, kemarin biarlah kemarin, hari ini kamu boleh duduk di sini."
"beneran..." semangat anak itu.
"tentu, duduklah. Tak akan ada yang melarang mu lagi."
"hore..." soraknya.