Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.
Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.
Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Pertanyaan itu membuat senyum Mikha nyaris runtuh.
“Hadiah?” Ia berpura-pura tidak mengerti.
Pras mengangguk. “Iya. Tadi pagi kamu bilang sudah menyiapkan sesuatu yang spesial buat ulang tahunku. Katanya, aku bakal suka banget.”
Mikha terdiam sesaat.
Tentu saja Pras masih mengingatnya. Sejak pagi, lelaki itu beberapa kali menggodanya, berusaha mencari tahu kejutan apa yang sedang disiapkan istrinya. Bahkan sebelum berangkat kerja, Pras sempat mengecup pipinya sambil berpesan agar ia tidak lupa memberikan hadiah itu malam nanti.
Saat itu, Mikha masih bisa tertawa bahagia.
Ia bahkan sempat membayangkan wajah Pras ketika mengetahui bahwa sebentar lagi mereka akan menjadi orang tua.
Namun, sekarang semuanya telah berubah.
“Memangnya kamu pikir aku lupa?” Pras kembali bertanya ketika Mikhaila tidak kunjung menjawab.
Mikhaila menunduk, berpura-pura merapikan piring di tangannya.
“Nggak, Mas. Aku cuma belum sempat menyiapkannya.”
“Belum sempat?” Pras mengerutkan kening. “Katanya sudah siap dari pagi.”
Mikhaila menggigit bibir bagian dalam.
Ia tidak mungkin mengatakan bahwa hadiah itu telah dibuangnya. Ia juga tidak sanggup menceritakan bahwa benda kecil yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan mereka kini teronggok di antara sampah lainnya.
“Aku berubah pikiran,” jawabnya akhirnya. “Nanti saja, ya, Mas.”
Pras menyipitkan mata, seolah mencoba membaca sesuatu dari wajah istrinya.
“Jangan-jangan kamu sengaja menyembunyikannya supaya aku penasaran?”
Mikhaila memaksakan tawa kecil.
“Iya, mungkin.”
Jawaban itu justru membuat Pras tersenyum puas.
“Nah, kan. Aku tahu kamu pasti punya kejutan lain. Mana mungkin istriku yang paling tahu apa yang kusukai cuma memberiku kue kecil begini?”
Kalimat itu menusuk hati Mikhaila tanpa ampun.
Dahulu, ia pasti akan mencubit lengan Pras karena merasa suaminya terlalu percaya diri. Ia akan tertawa, kemudian berlari ke kamar untuk mengambil hadiah yang sudah disiapkan.
Namun, malam ini, ia hanya bisa berdiri sambil menahan perih.
Ternyata, bagi Pras, kue kecil di hadapannya tidak cukup istimewa.
Sama seperti dirinya yang mungkin juga sudah tidak cukup berharga di mata lelaki itu.
“Mas, ayo dimakan kuenya,” ajak Mikhaila, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Pras mengembuskan napas, kemudian menatap lilin di atas kue.
“Ya sudah. Aku tiup dulu.”
Ia memejamkan mata sebentar, entah mengucapkan harapan apa di dalam hati. Setelah itu, ia meniup lilin hingga padam.
Mikhaila bertepuk tangan pelan.
“Selamat ulang tahun, Mas.”
Pras tersenyum kepadanya.
“Makasih, Sayang.”
Panggilan itu kembali membuat dada Mikhaila terasa sesak.
Ia ingin bertanya apakah Pras juga memanggil perempuan lain dengan sebutan yang sama. Apakah lelaki itu juga memberikan senyum yang sama, perhatian yang sama, dan janji-janji manis yang selama ini membuatnya merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia.
Namun, Mikhaila hanya mengangguk.
“Semoga panjang umur, sehat selalu, dan semua keinginan Mas terkabul.”
Pras mengusap kepalanya dengan lembut.
“Aamiin. Doamu yang paling penting buatku.”
Mikhaila nyaris tertawa mendengarnya.
Kalau memang doanya begitu penting, mengapa Pras tega menghancurkan masa depan yang sedang ia siapkan untuk mereka?
Mengapa lelaki itu merencanakan perceraian sementara dirinya masih sibuk berdoa agar pernikahan mereka selalu bahagia?
“Sayang, potongkan kuenya, dong.”
Suara Pras membuyarkan lamunannya.
Mikhaila segera mengambil pisau kecil dan memotong kue tersebut. Ia meletakkan sepotong kue di piring, lalu menyerahkannya kepada sang suami.
Pras mencicipinya.
“Enak.”
Mikhaila tersenyum tipis. “Syukurlah.”
“Kamu nggak mau?”
“Nanti saja, Mas. Aku masih kenyang.”
Pras tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan wajah istrinya lebih lama.
Senyum Mikhaila mulai terasa kaku di bawah tatapan itu.
“Ada apa, Mas?”
Mikha berdiri di hadapan Pras sambil memegangi piring kecil berisi kue tart. Senyum masih terpasang di bibirnya, meskipun hatinya terasa seperti diremas berkali-kali.
“Tiup lilinnya dulu, Mas,” ucapnya pelan.
Pras menatap lilin yang menyala di atas kue. Kemudian, pandangannya beralih kepada sang istri.
“Terus hadiahnya mana?”
Pras meletakkan garpunya.
“Sayang, kok mata kamu sembab?”
Jantung Mikha seakan terhenti.
Ia tahu matanya pasti masih terlihat merah meskipun sudah berkali-kali membasuh wajah. Ia juga tahu, menyembunyikan kesedihan dari seseorang yang mengenalnya selama bertahun-tahun bukan perkara mudah.
Namun, ia tetap harus melakukannya.
“Kelilipan aja, Mas.”
“Kelilipan sampai bengkak begitu?”
“Iya. Tadi kena semut, terus semutnya gigit.” Mikha buru-buru mengalihkan pandangan. “Nanti juga sembuh sendiri.”
Pras mengulurkan tangan, hendak menyentuh pipinya.
Mikha refleks memundurkan wajah.
Gerakan kecil itu membuat Pras terdiam.
Mikha sendiri terkejut dengan apa yang baru saja dilakukannya. Selama ini, sentuhan Pras selalu menjadi sesuatu yang ia cari. Namun, setelah mendengar percakapan sore tadi, sentuhan yang sama terasa begitu asing.
Ia tidak sanggup membiarkan lelaki itu menyentuhnya seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kenapa?” tanya Pras.
“Nggak kenapa-kenapa, Mas.” Mikha buru-buru tersenyum. “Aku cuma ngantuk banget.”
Pras mengamati wajahnya sekali lagi.
“Kamu yakin nggak apa-apa?”
“Iya.”
Mikha menarik napas perlahan, lalu memberanikan diri menatap suaminya.
“Mas, aku ngantuk banget. Aku mau istirahat. Maaf, ya, Mas, aku nggak kasih sesuatu yang spesial di hari ulang tahun kamu.”
Kali ini, senyumnya terasa begitu menyakitkan.
Ia meminta maaf karena tidak mampu memberikan hadiah istimewa kepada lelaki yang bahkan tidak tahu bahwa dirinya hampir memberikan kebahagiaan terbesar dalam hidup mereka.
Pras menggeleng.
“Nggak apa-apa.”
Lelaki itu kembali mengambil garpunya, kemudian menyuapkan sepotong kecil kue ke mulutnya.
“Kamu sakit, kamu pucat lho?”
Pertanyaan itu membuat Mikha terdiam.
Ada bagian kecil dalam hatinya yang ingin menangis mendengarnya. Pras masih menanyakan keadaannya. Masih menunjukkan perhatian yang selama ini ia kenal.
Namun, bagaimana ia bisa mempercayai perhatian itu setelah mengetahui apa yang sedang disembunyikan suaminya?
“Enggak, Mas. Cuma masuk angin, jadi mual.”
“Mual?”
Pras segera meletakkan garpunya.
“Kamu sudah minum obat?”
“Belum.”
“Ya ampun, Sayang. Makanya, kalau badan nggak enak, bilang. Jangan didiamkan begitu saja.”
"Masuk angin saja."
Pras bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air hangat.
Mikha hanya memandangi punggungnya.
Bahkan sekarang, lelaki itu masih mengkhawatirkannya. Masih mengambilkan air untuknya, seperti yang selalu dilakukan ketika ia merasa tidak enak badan.
Andai saja ia tidak mendengar percakapan sore tadi, mungkin ia akan kembali merasa menjadi istri paling beruntung.
Pras kembali dan menyerahkan gelas itu kepadanya.
“Minum dulu. Kalau besok masih mual, kita periksa ke dokter.”
Mikha menerima gelas tersebut dengan kedua tangan.
“Iya, Mas. Makasih.”
Pras mengusap bahunya.
“Kalau begitu, kamu istirahat saja. Biar aku bereskan ini.”
Mikha mengangguk. Ia meletakkan gelas di meja, lalu berbalik menuju kamar.
Namun, baru beberapa langkah, suara Pras kembali menghentikannya.
“Sayang.”
Mikha memejamkan mata sejenak sebelum menoleh.
“Iya, Mas?”
Pras tersenyum kecil.
“Jangan lupa, aku masih menunggu hadiahku, ya. Kamu nggak bisa mengelabui aku semudah itu.”
Mikha memaksakan senyum.
“Iya, Mas.”
Ia kemudian melanjutkan langkahnya sebelum air mata yang sejak tadi ditahannya kembali jatuh.
Begitu sampai di kamar, Mikha menutup pintu perlahan. Ia bersandar pada permukaannya, menutupi mulut dengan tangan agar isakannya tidak terdengar sampai ke luar.
Hadiah itu masih ada dalam ingatan.
Dua garis merah yang tadi pagi membuatnya menangis bahagia. Sebuah kabar yang ingin ia sampaikan sambil memeluk Pras, berharap lelaki itu akan mengangkat tubuhnya karena terlalu bahagia.
Namun, kini ia bahkan tidak tahu apakah Pras masih menginginkan keluarga bersamanya.
Mikha mengusap perutnya yang masih rata.
“Maaf, ya, Nak,” bisiknya lirih. “Mama belum bisa kasih tahu Papa tentang kamu.”
Air matanya kembali mengalir.
Di luar kamar, Pras masih menikmati kue ulang tahunnya, sesekali tersenyum sendiri karena yakin istrinya sedang menyiapkan kejutan lain.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa perempuan yang baru saja berpamitan itu sedang berusaha mengumpulkan sisa-sisa hatinya.
Dan ia tidak pernah menyangka bahwa malam ulang tahunnya akan menjadi malam terakhir Mikha berpura-pura bahwa pernikahan mereka baik-baik saja.
Sebab mulai malam itu, sesuatu dalam diri Mikha telah berubah.
Ia masih mencintai Pras.
Namun, untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya-tanya apakah cinta itu masih pantas dipertahankan.
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭