**Surat Terakhir Bapak**
*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*
Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.
Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.
Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.
*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Mobil di Depan Pagar
Laras mencapai pintu depan lebih dulu daripada Dewi, dan itu keputusan yang akan ia sesali setengah detik kemudian.
Ia membukanya lebar-lebar dan berdiri di teras tanpa alas kaki. Di jalan sempit di depan pagar, dua sedan abu-abu gelap berhenti bersisian di belakang Avanza perak milik Rahayu. Mesinnya masih menyala. Lampu depannya menyorot lurus ke wajah Laras sampai ia harus menyipitkan mata.
Pintu pengemudi mobil pertama terbuka.
Seorang perempuan turun dengan jaket kulit hitam, celana jins, dan rambut disanggul seadanya. Tanpa seragam, tanpa topi, tanpa tongkat di pinggang. Ia mengangkat kedua tangan setinggi bahu, telapak terbuka menghadap rumah, dan berjalan pelan ke arah pagar seperti orang yang tahu betul apa yang sedang dilihat dari jendela.
"Mbak Laras," kata Inspektur Ratih Wulandari. "Saya tidak bersenjata. Tolong jangan biarkan siapa pun di belakang Mbak menarik sesuatu."
Laras tidak menjawab. Di belakangnya, ia mendengar langkah pelan Dewi mendekat, lalu bunyi logam digeser dari balik jaket. Ia tidak menoleh.
"Ipda Dewi," ucap Ratih, tanpa memindahkan pandangannya dari wajah Laras. "Lama tidak bertemu."
"Ibu Inspektur."
"Saya senang kamu masih hidup."
"Pertanyaan saya sama."
---
Mereka berdiri berhadapan di pagar, dibatasi dua meter udara dingin dan besi berkarat. Dewi akhirnya keluar dari balik bahu Laras, satu tangannya menurun ke sisi tubuh dengan sebuah pistol kecil menghadap tanah. Dua penyidik yang kemarin ikut menangkap Darmawan turun dari mobil kedua, berdiri kaku di dekat bumper tanpa mengangkat apa pun.
"Kamu menerima transfer dua hari sebelum Hartono dimakamkan," kata Dewi datar. "Dari rekening bayangan Sentosa Karya."
"Saya tahu."
"Itu bukan jawaban."
"Itu pengakuan." Ratih mengangguk pelan. "Dan sebelum kamu bertanya kenapa saya masih memakai seragam ini: saya melaporkannya ke Propam pada pagi yang sama, pukul tujuh lewat dua puluh. Emailnya ada di ponsel saya. Boleh saya keluarkan?"
Dewi diam sebentar, lalu mengangguk sekali.
Ratih mengeluarkan ponselnya dengan dua jari dan menyodorkannya lewat celah pagar. Dewi tidak mengambilnya, hanya membungkuk membaca layarnya dari jarak satu langkah. Laras mengintip dari sampingnya: surel berlogo kepolisian, tanggal yang benar, jam yang benar, dengan satu paragraf pendek yang melaporkan penerimaan dana tanpa dasar dan meminta penyelidikan internal.
"Saya dijadikan umpan," lanjut Ratih. "Mereka ingin melihat apakah saya akan diam atau melapor. Saya melapor. Itu sebabnya saya masih berdiri di sini dan bukan di sel."
"Atau itu alibi."
"Atau itu alibi." Ratih tidak tersinggung. "Silakan periksa, Dewi. Tapi nanti. Sekarang ada hal yang lebih mendesak."
Ia menunjuk Avanza di belakangnya dengan dagu.
"Orang di kursi belakang itu butuh rumah sakit. Bukan rumah sakit yayasan Darmawan. Saya sudah memanggil ambulans dari RSUP, dan mereka tiba lima menit lagi."
Rahayu baru muncul di ambang pintu, wajah pucat, kerudung terlepas sebelah. Ia terengah ketika melihat Ratih, lalu berlari melewati Laras ke mobil perak itu tanpa berkata apa pun. Pintu belakang ditarik terbuka. Laras mengikuti dan melihatnya: Pak Surya terkulai di jok, kepala bersandar miring pada jendela, napasnya dangkal dan berbunyi seperti kertas digesek. Bibirnya membiru di sudut.
"Pak," bisik Rahayu, menyentuh pipinya. "Pak, bangun. Sudah ada polisi."
Pak Surya tidak bergerak.
---
Mereka duduk di teras menunggu ambulans, dengan Pak Surya sudah dibaringkan di bangku panjang dan Ibu memegangi kakinya yang dingin. Dewi berdiri di dekat tiang. Ratih duduk di anak tangga paling bawah dengan siku di lutut, wajahnya letih seperti perempuan yang sudah dua hari tidak tidur.
"Saya datang karena dua hal," katanya. "Pertama, Pak Surya. Kami melacak ponselnya ke rumah ini sejak dini hari. Saya khawatir dia akan terluka."
"Dan yang kedua?" tanya Bima.
Ratih menarik napas.
"Darmawan dibebaskan pukul enam pagi tadi."
Semua gerakan di teras berhenti. Bahkan Rahayu, yang tadi terisak di sisi suaminya, mengangkat wajah.
"Dibebaskan?" Dimas berdiri. "Dia baru ditahan empat hari!"
"Penangguhan penahanan, atas permohonan pengacaranya dengan alasan kesehatan. Hakimnya menandatangani dini hari, tanpa sidang, tanpa pemberitahuan ke penyidik." Rahang Ratih mengeras. "Saya baru tahu jam tujuh, ketika sel itu sudah kosong."
"Nama hakimnya?" tanya Dewi.
Ratih menyebutkannya. Dewi menoleh pada Ibu. Tanpa bicara, Ibu merogoh tasnya dan mengeluarkan buku besar hitam milik Pak Surya, lalu membuka halaman yang sudah ia tandai dengan kuku. Dewi menelusuri satu kolom dengan jari, dan berhenti.
"Ada," katanya pelan. "Bulanan. Sejak dua ribu lima."
Ratih menutup mata sebentar. "Saya sudah menduganya."
"Kamu tidak menahan dia?" Bima menatapnya dengan sorot yang hampir seperti tuduhan.
"Saya tidak punya wewenang menahan orang yang sudah dibebaskan hakim. Satu-satunya yang saya punya adalah informasi." Ratih membuka ponselnya lagi dan memutar layar ke arah mereka. Sebuah peta kecil, satu titik merah yang bergerak pelan di atasnya. "Mobil Darmawan, dilacak lewat transponder yang saya pasang diam-diam sebelum dia ditahan. Sejak pukul tujuh dia bergerak ke arah barat. Sekarang di jalan nasional menuju Wonosobo."
Laras merasa darahnya turun ke kaki.
"Wonosobo," ulangnya.
"Ke arah kebun teh." Ratih mengangkat wajah. "Dia tidak membawa pengawal resmi. Hanya dua orang, dan satu mobil."
"Kenapa ke sana?" tanya Sekar. Suaranya kecil. "Peti itu sudah kita ambil. Tanahnya sudah ..."
"Bukan tanahnya." Ibu berbicara tanpa mengangkat pandangan dari kaki Pak Surya. Suaranya hampir tak terdengar. "Dia mau Haryo."
---
Dimas yang pertama menyadarinya.
Ponselnya bergetar di saku jaket, dan ia sudah menariknya keluar sebelum yang lain bereaksi. Ia membaca layarnya, dan wajahnya yang sudah pucat jadi lebih pucat lagi.
"Pesan dari Kak Haryo," katanya. "Dikirim dua puluh menit lalu. Aku baru lihat karena ponselku ketinggalan di mobil."
"Bacakan," kata Laras.
Dimas menelan ludah, dan membaca dengan suara yang tidak ia kenali sendiri.
"*Mas, ada mobil hitam naik ke kebun. Bapak tidak mau meninggalkan rumah lama. Saya sudah coba bujuk, tapi dia bilang dia sudah lari cukup lama. Saya tidak akan tinggalkan dia. Tolong bilang ke Ibu saya baik-baik saja.*"
Ibu menegakkan badan perlahan. Tangannya, yang tadi menggenggam kaki Pak Surya, jatuh ke pangkuannya.
"Ada pesan kedua," lanjut Dimas, jari gemetar di layar. "Dikirim lima menit setelah itu. Cuma satu baris."
"Apa?"
Dimas memutar ponselnya agar semua orang bisa melihat. Satu kalimat pendek, tanpa tanda baca, diketik buru-buru oleh jari yang tidak terbiasa dengan layar sentuh.
*Dia sudah di pintu. Dia bilang dia cuma mau bicara. Saya percaya.*
Di kejauhan, sirene ambulans mulai terdengar, merambat pelan dari ujung Jalan Kenanga. Tetapi tak seorang pun menoleh ke sana. Semua mata tertuju pada Ibu, yang sudah berdiri dengan wajah seperti orang yang baru sadar bahwa mimpi buruk terburuknya baru saja dimulai dari awal.