Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.
Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.
Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.
Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Lamaran Serius
Bab 24 — Jangan Memintaku Menikah Lagi
Sejak malam makan malam itu, hubungan Retna dan Nathan terasa sedikit berbeda.
Bukan karena mereka menjadi pasangan.
Bukan pula karena Retna sudah memberikan jawaban atas perasaan Nathan.
Namun ada sesuatu yang berubah di antara mereka.
Nathan menjadi semakin terbuka menunjukkan perhatiannya.
Tidak berlebihan sampai membuat Retna merasa tertekan, tetapi cukup untuk membuat perempuan itu menyadari bahwa pria tersebut benar-benar serius.
Pagi hari, Nathan selalu memastikan Retna sudah sarapan.
Jika pulang terlambat, ia akan mengirim pesan.
Jika sedang bekerja, sesekali ia akan menanyakan keadaan rumah.
Bahkan ketika Retna mengatakan dirinya baik-baik saja, Nathan tetap bertanya lagi.
"Kamu benar-benar baik-baik saja?"
Pertanyaan sederhana itu terkadang justru membuat Retna tersenyum sendiri.
Ia belum terbiasa dipedulikan seperti itu.
Dan yang paling membuatnya takut adalah...
Ia mulai terbiasa.
Siang itu, ketika Retna sedang menyiram tanaman di halaman, mobil Nathan memasuki halaman rumah.
Retna tersenyum melihatnya.
"Mas sudah pulang?"
Nathan turun dari mobil.
"Iya."
"Kok cepat?"
"Aku sengaja pulang lebih cepat."
Retna mengerutkan kening.
"Kenapa?"
Nathan hanya tersenyum.
"Nanti kamu tahu."
Retna semakin penasaran.
Namun Nathan tidak menjelaskan apa pun.
Setelah berganti pakaian dan beristirahat sebentar, Nathan mengajak Retna keluar.
Kali ini bukan ke restoran.
Mereka menuju sebuah tempat yang cukup tenang di pinggir kota.
Sebuah taman dengan pemandangan danau kecil.
Retna duduk di bangku sambil memandangi air yang tenang.
"Mas membawa saya ke sini?"
Nathan mengangguk.
"Aku ingin bicara."
Nada suara Nathan membuat Retna menoleh.
"Bicara apa?"
Nathan duduk di sebelahnya.
Tidak terlalu dekat.
Tetapi cukup untuk membuat Retna menyadari bahwa pembicaraan ini mungkin penting.
Nathan menarik napas.
"Retna."
"Hmm?"
"Aku sudah memikirkan semuanya."
Retna mulai merasa gugup.
"Memikirkan apa?"
"Tentang kita."
Retna langsung terdiam.
Nathan menatap danau di depan mereka.
"Aku tahu selama ini aku bilang tidak akan memaksamu."
Retna mengangguk.
"Dan aku memang tidak akan memaksamu."
Nathan kemudian menoleh.
"Tapi aku juga tidak ingin terus membuat hubungan kita tidak jelas."
Jantung Retna berdetak lebih cepat.
"Mas..."
"Aku ingin hubungan ini serius."
Retna terdiam.
Nathan melanjutkan dengan tenang.
"Aku ingin kamu menjadi seseorang yang benar-benar ada dalam hidupku."
Retna menelan ludah.
"Serius bagaimana?"
Nathan tersenyum tipis.
"Seperti pasangan."
Retna tidak langsung menjawab.
Nathan kemudian berkata,
"Kalau kamu bersedia, aku ingin kita menjalani hubungan ini dengan tujuan yang jelas."
Retna menunduk.
Tangannya saling menggenggam.
"Tujuan..."
"Menikah."
Satu kata itu membuat tubuh Retna seakan membeku.
Senyum di wajahnya perlahan menghilang.
Pernikahan.
Kata itu kembali terdengar.
Dan bersama kata tersebut, kenangan lama yang selama ini berusaha ia kubur tiba-tiba muncul.
Rumah yang dulu terasa seperti tempat paling aman.
Janji-janji yang pernah ia percaya.
Hari-hari ketika ia mencoba menjadi istri yang baik.
Lalu pengkhianatan.
Perceraian.
Tangisan.
Rasa malu.
Dan perasaan bahwa dirinya tidak cukup baik untuk dicintai.
Retna memejamkan mata sebentar.
"Retna?"
Ia membuka mata.
"Maaf."
Nathan memperhatikannya.
"Kamu tidak perlu meminta maaf."
Retna menggeleng.
"Saya tidak menyangka Mas akan membicarakan ini."
"Aku tahu."
"Kenapa sekarang?"
"Karena aku serius."
Retna tersenyum pahit.
"Saya justru takut mendengar kata itu."
Nathan diam.
Retna menarik napas panjang.
"Dulu saya pernah berpikir menikah itu sesuatu yang indah."
Suaranya mulai bergetar.
"Saya percaya kalau dua orang saling mencintai, mereka bisa melewati semuanya."
Ia tertawa kecil, tetapi terdengar getir.
"Ternyata saya salah."
Nathan tidak menyela.
"Saya pernah berjanji pada diri sendiri..."
Retna berhenti.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Saya tidak akan menikah lagi."
Nathan menatapnya.
"Seumur hidup?"
Retna mengangguk perlahan.
"Iya."
"Karena Arman?"
Retna terdiam cukup lama.
"Bukan hanya karena dia."
Ia menatap tangannya.
"Karena saya takut menjadi perempuan yang sama lagi."
Nathan mengernyit.
"Maksudmu?"
"Saya dulu terlalu percaya."
Retna menarik napas.
"Saya memberikan semuanya. Waktu saya, tenaga saya, kepercayaan saya..."
Suaranya semakin pelan.
"Tapi akhirnya saya tetap ditinggalkan."
Nathan tidak mengatakan apa-apa.
Retna menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Saya tidak mau mengalami itu lagi."
Nathan akhirnya berbicara.
"Aku mengerti."
Retna menggeleng.
"Mas tidak mengerti."
Nathan tidak tersinggung.
Ia justru mengangguk.
"Mungkin memang tidak."
Retna terdiam.
"Aku tidak pernah mengalami apa yang kamu alami."
Nathan menatapnya.
"Jadi aku tidak akan mengatakan aku tahu persis bagaimana rasanya."
Retna mengusap sudut matanya.
"Tapi aku tahu satu hal."
"Apa?"
"Aku tidak ingin menjadi orang yang membuatmu takut."
Retna menatapnya.
Nathan melanjutkan,
"Aku memang ingin menikah denganmu suatu hari nanti."
Retna kembali terdiam.
"Tapi aku tidak ingin kamu menikah denganku karena takut kehilangan aku."
Nathan menghela napas.
"Aku ingin kamu memilihku karena kamu memang ingin."
Retna tidak mampu menahan air matanya.
"Mas..."
"Aku tidak akan meminta jawaban hari ini."
Retna menatapnya dengan bingung.
"Tidak?"
"Tidak."
Nathan tersenyum.
"Aku sudah bilang aku serius. Jadi aku punya banyak waktu."
Retna justru tertawa kecil di tengah air matanya.
"Mas percaya diri sekali."
"Aku hanya sabar."
"Kalau saya tetap tidak mau?"
Nathan terdiam sebentar.
"Lalu aku akan menghargainya."
Jawaban itu membuat Retna semakin bingung.
"Mas tidak marah?"
"Untuk apa?"
"Karena saya menolak."
"Aku belum dilamar dan ditolak."
Retna tertawa kecil.
"Kan Mas tadi bilang menikah."
"Aku bilang aku ingin menikah denganmu."
Nathan tersenyum.
"Belum berarti kamu harus menjawab sekarang."
Retna menunduk.
Hatinya terasa semakin kacau.
Di satu sisi, ia takut.
Sangat takut.
Ia tidak ingin kembali menjadi istri seseorang.
Tidak ingin kembali tinggal di dalam rumah tangga yang membuatnya merasa tidak berharga.
Tidak ingin kembali mempercayai seseorang lalu menyaksikan kepercayaan itu dihancurkan.
Tetapi di sisi lain...
Nathan berbeda.
Pria itu tidak memaksanya.
Tidak menyuruhnya melupakan masa lalu.
Tidak mengatakan bahwa semua ketakutannya berlebihan.
Bahkan ketika Retna mengatakan tidak ingin menikah lagi, Nathan tetap duduk di sampingnya.
Tetap tenang.
Tetap menghargai pilihannya.
"Kenapa Mas tetap mau?"
Nathan menoleh.
"Mau apa?"
"Mendekati saya."
Nathan tersenyum.
"Karena aku menyukaimu."
"Walaupun saya seperti ini?"
"Justru karena kamu seperti ini."
Retna mengerutkan kening.
Nathan tertawa kecil.
"Kamu tidak sempurna."
Retna langsung cemberut.
"Mas malah bilang saya tidak sempurna."
"Aku juga tidak sempurna."
Nathan menatapnya.
"Tapi mungkin dua orang yang sama-sama tidak sempurna bisa belajar saling menjaga."
Retna terdiam.
Nathan kemudian berdiri.
"Ayo pulang."
Retna ikut berdiri.
Namun sebelum berjalan, ia memanggilnya.
"Mas."
Nathan menoleh.
"Saya belum bisa menjawab."
"Aku tahu."
"Saya juga belum bisa berjanji akan menikah lagi."
Nathan mengangguk.
"Aku tahu."
Retna menatap pria itu cukup lama.
"Tapi..."
"Hmm?"
"Saya tidak ingin Mas pergi."
Senyum Nathan muncul.
"Aku juga tidak berencana pergi."
Retna menunduk.
Ada sesuatu yang hangat memenuhi dadanya.
Ia belum siap menikah.
Bahkan mungkin masih jauh dari kata siap.
Namun untuk pertama kalinya sejak perceraian, ia tidak lagi merasa bahwa masa depannya harus selalu sendirian.
Mungkin ia belum berani membuka pintu sepenuhnya.
Tetapi setidaknya...
Ia sudah berani membukanya sedikit.
Dan Nathan tidak mencoba menerobos masuk.
Ia hanya berdiri di depan pintu itu.
Menunggu.
Tanpa memaksa.
Tanpa mendesak.
Memberi Retna kesempatan untuk menentukan sendiri kapan ia siap membuka pintu tersebut.
Malam itu, ketika mereka tiba di rumah, Retna masuk ke kamarnya.
Ia berdiri di depan cermin cukup lama.
Tangannya menyentuh wajahnya sendiri.
"Menikah lagi?"
Ia tersenyum pahit.
Dulu ia pernah berjanji tidak akan pernah mengucapkan kata itu lagi.
Namun sekarang ada seseorang yang perlahan membuat janji tersebut terasa tidak lagi sekuat dulu.
Retna mengambil napas panjang.
"Saya belum siap, Mas Nathan."
Ia tersenyum kecil.
"Tapi mungkin... saya juga belum benar-benar menutup hati."
Dan untuk pertama kalinya, Retna menyadari bahwa menerima cinta baru tidak selalu berarti mengkhianati luka lama.
Mungkin...
Itu hanya berarti memberi dirinya kesempatan untuk bahagia kembali.