NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RDBMB 34

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang kerja eksekutif di lantai tiga puluh gedung Zico Group. Empat pengawal pribadi bertubuh kekar tergeletak tak berdaya di atas lantai marmer yang dingin. Rintihan kesakitan mereka terdengar samar di antara serpihan kertas surat perjanjian yang robek berantakan dan pecahan kaca lemari pajangan kristal. Bau keringat dingin dan hawa kekalahan memenuhi udara ruangan berpendingin tersebut.

Zico masih terduduk lemas di atas kursi kulit mewahnya. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, napasnya memburu cepat. Keringat dingin menetes deras dari pelipisnya, membasahi kerah kemeja sutra mahal yang dikenakannya. Pandangan matanya menatap kosong ke arah Theodore yang sedang menuntun tangan Yevone menuju pintu keluar.

Namun, tepat ketika genggaman tangan Theodore menyentuh gagang pintu berlapis emas, rasa malu yang membakar dan keangkuhan gila di dalam dada Zico mendadak meledak kembali. Pria yang terbiasa dihormati dan ditakuti di kota ini tidak sanggup menerima kenyataan bahwa dirinya baru saja diinjak-injak oleh seorang pria yang selalu dianggapnya sebagai sampah jalanan.

"Kamu... kamu pikir kamu bisa keluar dari ruangan ini hidup-hidup, bangsat?!" Zico berteriak histeris dengan suara melengking yang pecah, matanya melotot merah penuh dendam.

Langkah kaki Theodore terhenti tepat di ambang pintu. Ia tidak langsung membalikkan badan, melainkan berdiri mematung membelakangi Zico.

"Kamu cuma gembel tak berguna yang kebetulan tahu sedikit trik berkelahi!" raung Zico sambil menepuk meja kayunya dengan sekuat tenaga, berusaha membangun kembali sisa-sisa keberaniannya yang sudah hancur. "Kamu lupa siapa gue?! Gue Zico! Putra tunggal Keluarga Z! Keluarga gue punya jaringan bisnis raksasa, uang tak terbatas, dan pasukan bawah tanah terkuat di kota ini!"

Zico menyeringai buas dengan raut wajah meliuk gila. "Dalam waktu kurang dari satu jam, gue bakal pastikan seluruh polisi, pengacara, dan ratusan preman di kota ini mengepung rumah gembelmu! Gue bakal bikin kamu membusuk di penjara paling dalam, dan istri cantikmu itu bakal merangkak memohon di bawah kaki gue!"

Mendengar ancaman mengerikan dari Zico, tubuh Yevone seketika kembali tegang. Rasa takut yang sempat mereda kini kembali menyergap dadanya. Ia meremas jemari Theodore dengan sangat kuat, matanya berkilat cemas menatap punggung suaminya.

"Theo... ayo kita pergi dari sini," bisik Yevone dengan suara bergetar parau, mencoba menarik lengan Theodore keluar dari ruangan. "Jangan dengarkan dia lagi."

Theodore menoleh pelan, menatap wajah istrinya dengan sorot mata yang mendadak berubah menjadi sangat lembut dan hangat. Ada kedamaian yang begitu menenangkan di dalam manik mata hitamnya.

"Tunggu di luar pintu sebentar ya, Yev," Theodore berbisik sangat lembut, mengelus punggung tangan Yevone dengan jemarinya. "Aku cuma ada sedikit urusan kecil yang belum selesai dengan Tuan Muda Zico."

Yevone sempat ragu dan menatap Theodore dengan dahi berkerut bingung. Namun, melihat kepastian dan aura pelindung yang begitu kuat dari suaminya, Yevone akhirnya mengangguk pelan. "Jangan lama-lama, Theo..."

"Iya, cuma lima detik," janji Theodore tersenyum tipis.

Yevone melangkah keluar dari ruangan, membiarkan pintu berlapis kayu jati itu terbuka sedikit.

Setelah istrinya berdiri aman di luar lorong, senyuman hangat di wajah Theodore seketika menguap tanpa sisa. Ia memutar badannya secara perlahan. Sorot mata hitamnya kembali meredup dingin, memancarkan aura membunuh yang pekat dan menusuk tulang.

Theodore melangkah kembali ke dalam ruangan, berjalan mendekati meja kerja Zico. Setiap hentakan tumit sepatunya di atas lantai marmer terdengar bagaikan dentang lonceng kematian yang merambat pelan.

Zico yang tadinya berteriak-teriak sombong mendadak membisu total. Nyali pemuda itu seketika menciut begitu melihat Theodore kembali berjalan melangkah mendekatinya. Wajah Zico yang tadinya merah padam oleh amarah mendadak kembali pucat pasi bagaikan kertas.

"K-kamu... kamu mau ngapain lagi?!" sergah Zico gagap dengan suara yang gemetar hebat, menyandarkan punggungnya rapat-rapat ke sandaran kursi kulitnya.

Theodore tidak menjawab. Ia menghentikan langkahnya tepat di sebelah kursi Zico. Tanpa peringatan, Theodore mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram kerah kemeja sutra Zico, lalu menarik tubuh pemuda itu ke depan dengan sangat mudah.

"Aagghh!" jerit Zico tercekik, wajahnya berada hanya beberapa sentimeter dari wajah Theodore.

Theodore memiringkan kepalanya sedikit, menunduk hingga bibirnya berada tepat di samping daun telinga kiri Zico. Napas dingin Theodore berembus tipis, menyentuh kulit leher Zico yang memucat ketakutan.

"Dengarkan aku baik-baik, Zico," Theodore berbisik dengan suara yang sangat rendah, dingin, dan berat.

Suara bisikan itu tidak keras, namun mengandung penekanan absolut yang membuat seluruh bulu kuduk Zico berdiri tegang dan jantungnya serasa berhenti berdetak.

"Dalam tiga hari..." bisik Theodore tepat di telinga Zico, menancapkan setiap kata bagaikan paku emas ke dalam jiwanya, "...keluargamu akan mengemis di jalanan."

Mata Zico membelalak lebar hingga urat-urat merah di bola matanya terlihat jelas. Napasnya terhenti di tenggorokan, lidahnya mendadak kaku tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Vonis tiga hari yang diucapkan dengan sangat tenang oleh pria di hadapannya ini terasa begitu nyata, berat, dan mengerikan—seolah-olah takdir kejatuhan organisasinya baru saja dikunci secara mutlak.

Theodore melepas cengkeraman jarinya dari kerah baju Zico. Tubuh pemuda arogan itu langsung merosot lemas, jatuh terhempas kembali ke atas kursi kulitnya seperti boneka kain yang putus talinya.

Tanpa melirik Zico lagi, Theodore membalikkan badan, melangkah santai keluar dari ruangan eksekutif itu, lalu menutup pintu kayu jati tersebut rapat-rapat di belakangnya.

***

Di dalam ruang lift yang meluncur turun menuju lantai dasar gedung, suasana terasa sangat sunyi. Yevone berdiri bersandar di dinding kaca lift, menatap Theodore yang berdiri tenang di sampingnya dengan pandangan penuh tanda tanya dan kebingungan yang amat sangat.

Pria yang berdiri di sampingnya saat ini adalah pria yang sama yang selama tiga tahun ini memasak sayur di dapur, menyapu lantai rumah, dan selalu diam menunduk saat dimaki oleh ibunya. Namun, apa yang baru saja terjadi di lantai tiga puluh tadi benar-benar merobek pemahamannya tentang sosok Theodore.

"Theo..." panggil Yevone pelan dengan suara bergetar, memecahkan keheningan lift.

Theodore menoleh, menatap istrinya dengan senyuman hangat yang biasa. "Ada apa, Yev?"

"Kamu... kamu sebenarnya siapa?" Yevone menatap mata suaminya lekat-lekat, air mata kebingungan kembali merebak di pelupuk matanya. "Di mana kamu belajar bertarung seperti itu? Empat pengawal besar tadi tumbang cuma dalam waktu beberapa detik di tanganmu... Dan ancaman tiga hari itu... dari mana kamu dapat keberanian bicara seperti itu pada Tuan Muda Keluarga Z?"

Theodore menghela napas pelan, lalu melangkah satu titik mendekati istrinya. Ia merogoh jemari tangan Yevone, menggenggamnya dengan lembut untuk menyalurkan rasa aman.

"Aku cuma pernah belajar sedikit bela diri dasar waktu merantau di luar negeri dulu, Yev," Theodore menjawab dengan nada suara yang sangat tenang dan jujur. "Soal pengawal tadi... mereka cuma menang badan besar, tapi gerakan mereka lambat dan tidak terlatih."

"Lalu soal ancaman tiga hari itu?" desak Yevone dengan mata berbinar cemas. "Keluarga Z itu konglomerat paling berkuasa di kota ini, Theo! Kalau Zico marah dan benar-benar mengerahkan pasukannya, bagaimana nasib kita?!"

"Orang arogan seperti Zico itu sebenarnya penakut di dalam hatinya, Yev," Theodore tersenyum tipis, mengelus lembut jemari istrinya. "Kalau kita menunjukkan rasa takut di depannya, dia bakal makin semena-mena. Makanya aku harus memberi gertakan paling keras supaya dia takut dan tidak berani mengganggumu lagi."

Yevone menatap wajah suaminya cukup lama. Penjelasan Theodore terdengar sangat sederhana dan masuk akal, namun ada bagian kecil di dalam hati nuraninya yang merasa bahwa ada rahasia yang jauh lebih besar di balik sosok suaminya. Meski demikian, melihat betapa tulusnya tatapan mata Theodore yang selalu melindunginya, rasa curiga di hati Yevone perlahan-lahan luluh.

"Jangan pernah bertindak nekat seperti itu lagi ya, Theo," panggil Yevone berbisik parau, menyandarkan kepalanya ke bahu lebar Theodore. "Aku takut banget kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu..."

"Iya, aku janji," balas Theodore pelan, memeluk bahu istrinya dengan penuh kehangatan saat pintu lift terbuka di lantai dasar.

***

Sementara itu, di dalam ruang kerja eksekutif lantai tiga puluh.

Brak!

Zico menyapu seluruh barang di atas meja kayunya hingga hancur berantakan ke lantai marmer. Telepon kabel, dokumen penting, dan vas bunga mahal pecah berkeping-keping. Napasnya memburu gila, matanya merah padam oleh gabungan rasa malu, amarah, dan ketakutan yang tak tertahankan.

Bisikan dingin Theodore masih terus bergema berulang-ulang di dalam gendang telinganya: *Dalam tiga hari, keluargamu akan mengemis di jalanan.*

"Gila! Bener-bener orang gila!" raung Zico histeris sambil mencengkeram rambutnya sendiri dengan liar. "Gembel tak berguna mau bikin Keluarga Z mengemis dalam tiga hari?! Kamu pikir kamu siapa, hah?! Dewa?!"

Dengan tangan yang gemetar hebat, Zico menyambar ponsel pintarnya yang tergeletak di atas sofa, lalu mendial nomor kontak pribadi ayahnya—Tuan Besar Z, pemilik tertinggi Zico Group yang sedang berada di luar kota.

Sambungan telepon terhubung pada nada dering kedua.

"Halo, Zico? Ada apa telepon siang-siang begini?" suara berat dan berwibawa Tuan Besar Z terdengar dari seberang saluran.

"Ayah! Tolong Zico, Yah!" jerit Zico histeris tanpa basa-basi, air mata kekalahan dan amarah menetes membasahi pipinya. "Keluarga Mahendra sudah kurang ajar! Si benalu gembel menantu mereka baru saja menyerang kantor Zico, melukai pengawal kita, dan secara terbuka menantang Keluarga Z!"

"Apa?!" suara Tuan Besar Z seketika berubah menjadi sangat dingin dan murka di seberang telepon. "Menantu gembel keluarga Mahendra berani merusuh di kantormu?!"

"Iya, Yah! Dia bahkan sesumbar bilang kalau dalam tiga hari Keluarga Z bakal bangkrut dan mengemis di jalanan!" cerocos Zico dengan gigi terketuk rapat. "Zico mau Ayah kerahkan seluruh koneksi bank, jaringan mafia, dan tim pengacara kita hari ini juga! Hancurkan Mahendra Group! Bikin si gembel itu membusuk di selokan!"

Tuan Besar Z tertawa terbahak-bahak di seberang telepon, sebuah tawa dingin yang meremehkan. "Hahaha! Memiskinkan Keluarga Z dalam tiga hari? Gertakan konyol dari seorang gembel yang kepepet! Baik, kalau itu mau si benalu itu! Ayah akan hubungi seluruh direktur bank mitra kita sore ini untuk membekukan sisa aset Mahendra Group! Kita lihat siapa yang bakal mengemis di jalanan dalam tiga hari!"

"Terima kasih, Yah! Bikin mereka semua mati kelaparan!" seru Zico penuh dendam sebelum mengakhiri sambungan telepon.

Zico melempar ponselnya ke atas sofa, lalu melangkah mendekati dinding kaca raksasa yang menembus pemandangan kota dari ketinggian. Pemuda arogan itu menyunggingkan senyuman gila yang penuh kemenangan, membayangkan kejatuhan Mahendra Group besok pagi.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di saat yang bersamaan, di balik layar monitor raksasa markas pusat Aegis Corporation, Exel baru saja menekan tombol perintah eksekusi utama. Hitung mundur tiga hari menuju kebangkrutan total Keluarga Z telah resmi dimulai.

1
Glastor Roy
update
Fery Oktavian: update tiap hari 5 bab
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!