Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.
Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.
Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.
Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.
Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.
Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kondisi Kiki Drop
"Jadi benar, Anda golongan darah AB negatif?" tanya dokter pada Anggara untuk memastikan.
"Iya Dokter, benar," jawab Anggara yakin.
"Tapi darah yang dibutuhkan itu sangat banyak, karena pasien kehilangan banyak sekali darah. Sehingga kita membutuhkan fisik yang benar-benar sehat," jelas Dokter.
"Itu tidak masalah, saya seorang prajurit, fisik saya terlatih dan saya sehat luar dalam. Lakukan saja, dia butuh segera ditangani!" tutur Anggara.
"Anda yakin, Pak Anggara? Saya takut Anda kenapa-kenapa," Tanya Naura, memastikan pada pria itu.
Anggara menoleh pada Naura yang bertanya padanya, "Yang perlu kita khawatirkan saat ini Kiki, bukan saya,"
"Kalau memang seperti itu, itu jauh lebih bagus. Mari kita segera lakukan karena pasien tidak bisa menunggu lebih lama lagi," tutur Dokter, yang langsung di iyakan oleh Anggara.
Anggara pun mengikuti dokter ke dalam ruangan, di mana langkah awalnya harus memeriksa tekanan darah dan juga detak jantung Anggara untuk memastikan tubuhnya memang benar-benar siap.
Setelah semuanya yakin normal, mereka mengambil sampel darah untuk uji silang cepat. Tak butuh waktu lama, hasilnya pun keluar dan dinyatakan aman. Proses pun dipercepat dimulai, langsung mendonorkan darah kepada Kiki yang sangat membutuhkan.
Entah mengapa, sepanjang itu pula Anggara terus merasa sangat khawatir dan dia berharap Kiki bisa diselamatkan. Kiki memang bukan siapa-siapanya, tapi kekhawatirannya sama seperti kekhawatiran Naura pada putrinya.
Tanpa dia menyadari, itu adalah ikatan batin antara anak dan ayah. Andaikan saja Dalia tidak mencuri data laporan Naura, pasti dia sekarang sudah tahu kalau Kiki itu putrinya dan dia tidak akan bisa setenang itu.
Butuh sedikit waktu, akhirnya pengambilan darah selesai. Meskipun fisik Anggara sangat kuat, akan tetapi yang namanya sedikit pusing tentu saja terjadi pada sosok Anggara.
Karena darah yang diambil darinya itu tidak tanggung-tanggung. Dokter lalu memintanya untuk berbaring guna menetralkan detak jantungnya.
Tapi tiba-tiba, terdengar suara perawat yang berseru.
"Cepat! Ke mana Dokter! Detak jantung pasien menurun drastis!" Salah satu perawat berseru, saat melihat kondisi Kiki memburuk.
Dokter dengan cepat, langsung menghampiri tubuh tak berdaya Kiki.
"Buruan! Siapkan defibrilator tekanan darahnya jatuh!" Perintah Dokter.
Ruangan itu langsung berubah kalang kabut.
Di depan pintu UGD, di mana Naura yang sedang menunggu bisa mendengar keributan di dalam. Lututnya lemas, dia berusaha mencari tahu apa yang terjadi.
Begitupun dengan Anggara yang langsung keluar dari ruangannya tadi, di mana dia baru saja membaringkan tubuhnya langsung bangkit keluar, menuju kaca UGD didekat Naura, melihat ke dalam ingin memastikan kalau Kiki baik-baik saja dan bisa lepas dari masa kritisnya.
Dokter dan suster tentu saja huru-hara dibuat oleh kondisi Kiki yang tiba-tiba drop. Mereka terus bekerja keras sampai pada akhirnya suara alat pemantau kembali stabil.
Dokter langsung lemas berpikir tadi pasiennya itu sudah kenapa-kenapa. "Kondisinya masih sangat jauh dari kata aman, tapi syukurlah dia berhasil melewati bahaya," tutur Dokter, berjalan keluar.
"Bagaimana dengan putri saya, Dokter?" Tanya Naura cepat.
"Syukurlah, putri Anda sudah melewati bahaya. Semoga saja kondisinya tidak akan menurun lagi," ujar Dokter, menjelaskan.
Naura bernapas lega. Meskipun sebenarnya masih jauh dari kata aman, tapi setidaknya kondisi putrinya sudah ada sedikit perkembangan.
"Terima kasih dokter."
"Ya, sama-sama. Saya pamit sebentar dulu, karena masih banyak yang harus diselesaikan,"
"Apa saya bisa melihat putri saya?" tanya Naura.
"Kalau boleh, tunggu dulu sebentar. Soalnya masih ada beberapa penanganan lagi yang masih dilakukan,"
"Baiklah Dokter..."
Dokter itu berpamitan pergi.
Naura langsung menoleh ke Anggara, "Anda, baik baik saja?" tanya Naura, saat melihat pria itu sesekali memijat pelipisnya sepertinya pusing.
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls