NovelToon NovelToon
DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DIBAWA LANGIT YANG SAMA

"Karena setelah badai yang sangat panjang... akhirnya aku bisa melihat matahari terbit milikku sendiri tanpa ada yang membatasinya lagi."

Suara Sora mengalir tenang, berpadu dengan hembusan angin pagi yang masuk melalui pintu galeri yang terbuka setengah.

Bima, pengacara muda yang berdiri di hadapannya, tersenyum hangat. Ia tidak langsung menjawab, membiarkan keheningan yang nyaman mengisi udara di antara mereka. Tidak ada rasa tertekan, tidak ada tatapan memburu atau obsesi gelap yang dulu selalu menghantui Sora setiap kali seorang pria menatap matanya. Hubungan yang terjalin antara Sora dan Bima selama beberapa bulan terakhir tumbuh secara natural—sebuah pertemanan sehat yang berlandaskan rasa saling menghargai dan memulihkan diri.

"Kalau begitu, mari kita rayakan hari baru ini," kata Bima sambil meletakkan map dokumen resmi pemulihan aset di atas meja resepsionis. "Bagaimana kalau kita makan siang di kafe rooftop dekat sini? Kebetulan kasus administrasi terakhir klienku sudah selesai, jadi aku punya waktu luang."

Sora menatap seikat bunga matahari di tangannya, lalu tersenyum mengangguk. "Tentu, Bima. Berikan aku waktu sepuluh menit untuk merapikan kuas dan mencuci tangan."

"Silakan, aku tunggu di sini."

Sora kembali ke sudut ruang kerjanya. Sambil membersihkan sisa cat minyak di jari-jarinya dengan kain basah, ia menatap bayangannya sendiri di cermin kecil di atas meja. Wajah itu sudah berubah. Tidak ada lagi sorot mata ketakutan, tidak ada lagi bayangan pucat seorang wanita yang terkurung dalam sangkar emas. Ia telah sepenuhnya merdeka.

Pukul dua belas siang.

Kafe rooftop berkonsep taman terbuka itu menawarkan pemandangan lanskap kota Jakarta yang sibuk namun tampak indah dari ketinggian. Langit biru bersih tanpa awan membentang luas, seolah ikut merayakan lembaran baru dalam hidup Sora.

Sora dan Bima duduk di meja sudut yang dinaungi payung kanvas putih. Di hadapan mereka tersaji hidangan makan siang sederhana—pasta aglio olio dan dua gelas lemon tea dingin.

"Aku masih tidak menyangka semuanya bisa berakhir sebersih ini," ucap Bima di sela-sela suapannya, menatap Sora dengan binar kekaguman. "Kamu adalah salah satu klien paling tangguh yang pernah kudampingi, Sora. Menghadapi konspirasi sebesar jaringan Helena dan Aris bukanlah hal yang mudah bagi siapa pun."

Sora tersenyum kecil, mengaduk minumannya pelan. "Aku tidak akan bisa bertahan kalau aku memilih menyerah sejak awal, Bima. Luka-luka itu memang meninggalkan bekas yang dalam... tapi bekas luka itu juga yang mengingatkanku bahwa aku sekarang jauh lebih kuat dari sebelumnya."

"Dan galeri seni itu adalah buktinya," tambah Bima lembut. "Karya-karyamu punya jiwa yang luar biasa sekarang."

Obrolan hangat itu mengalir ringan, diselingi tawa kecil yang membuat dada Sora terasa lapang. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, makan siang bersama seorang pria tidak mendatangkan rasa cemas atau curiga. Ini adalah wujud nyata dari ketenangan yang selama ini ia impikan.

Namun, di belahan kota yang berbeda, tidak semua orang bisa menikmati kebebasan yang sama.

Di dalam sel tahanan khusus Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1, suasana terasa begitu pengap, lembap, dan berbau besi berkarat.

Seorang pria berambut agak panjang dengan pakaian tahanan bernomor dada mencolok duduk bersandar di sudut tembok yang dingin. Wajahnya tirus, matanya cekung, dan sorot matanya kosong menatap dinding beton di hadapannya.

Itu adalah Rian.

Sejak persidangan terakhir dan kesaksiannya sebagai justice collaborator, Rian dijatuhi hukuman lima tahun penjara atas keterlibatannya dalam konspirasi finansial masa lalu. Kehidupan mewahnya musnah total. Perusahaannya bangkrut, asetnya disita negara, dan teman-teman sosialitanya lenyap begitu saja begitu namanya jatuh ke jurang nista.

Seorang sipir penjara melangkah mendekat ke jeruji sel Rian, mengetukkan pentungan besi ke teralis.

"Rian! Ada kunjungan untukmu di ruang tamu!" seru sipir tersebut dengan suara datar.

Rian mendongak lesu. Selama berbulan-bulan di sini, tidak pernah ada seorang pun yang mengunjunginya. Keluarga besarnya telah memutus hubungan, dan rekan-rekan bisnisnya enggan menengok bangkai kegagalannya.

"Siapa yang mengunjungiku, Pak?" tanya Rian parau.

"Sudah, keluar saja. Jangan banyak tanya," hardik sipir membukakan pintu sel besi.

Dengan langkah kaki diseret rantai ringan, Rian digiring menuju ruang kunjungan sempit yang dipisahkan oleh kaca tebal dan interkom suara.

Saat Rian duduk di kursi logam dan mengangkat gagang interkom, matanya langsung membelalak kaget melihat sosok wanita paruh baya berambut ubanan yang duduk di sisi seberang kaca.

Wanita itu adalah Helena Kusuma.

Meskipun kini berstatus sebagai narapidana kelas kakap dengan pakaian tahanan khusus, aura dingin, arogan, dan mematikan dari diri Helena sama sekali tidak luntur. Wanita itu menatap Rian dengan senyuman tipis yang sangat mengerikan.

Rian mengangkat interkom dengan tangan gemetar. "Helena...? Kamu... kamu juga dipenjara di blok ini?"

Suara Helena terdengar melalui pengeras suara kecil di interkom, dingin dan tajam bagaikan irisan sembilu.

"Kamu pikir kekaisaran bisnis yang kubangun puluhan tahun bisa runtuh begitu saja hanya karena pengkhianatan kecil dari anak buah rendahan sepertimu, Rian?" ucap Helena tenang.

Rian menelan saliva, keringat dingin mengucur di pelipisnya. "Apa... apa mau mu menemuiku? Belum cukupkah kamu menghancurkan hidupku dan Aris?!"

Helena mendekatkan wajahnya ke kaca pembatas, sorot mata cokelat gelapnya menghujam langsung ke mata Rian.

"Aris adalah kelemahanku, dan dia sudah mati karena kebodohannya sendiri," desis Helena tanpa sedikit pun rasa duka. "Tapi permainan ini belum selesai, Rian. Selama aku bernapas di dalam atau di luar penjara ini, orang-orang yang meruntuhkan keluargaku—termasuk wanita bodoh bernama Sora itu—tidak akan pernah bisa hidup tenang."

Rian merinding hebat mendengar ancaman itu. Rasa takut yang dulu pernah ia rasakan pada keluarga Kusuma kembali merayap, menghantam sisa kewarasannya di dalam penjara.

"Dia sudah bebas, Helena..." cicit Rian putus asa. "Biarkan dia hidup tenang..."

Helena tertawa pelan—sebuah tawa datar yang menggema menyeramkan di ruang kunjungan sempit itu.

"Kebebasan itu mahal harganya, Rian," bisik Helena penuh racun. "Dan dia akan segera tahu... bahwa bayang-bayang kami tidak akan pernah bisa dihapus dari hidupnya."

Kembali ke Jakarta Selatan.

Sora Art Gallery tampak dipadati oleh beberapa pengunjung sore hari yang mengagumi deretan lukisan baru.

Sora berdiri di dekat meja informasi, melayani pertanyaan seorang kolektor seni dengan senyuman ramah. Setelah transaksi kecil selesai dan pengunjung tersebut berlalu, Sora menghela napas lega, merapikan beberapa brosur pameran di atas meja.

Hari sudah mulai senja. Warna jingga keemasan perlahan menggantikan terik matahari sore, memantulkan bias cahaya yang indah ke dalam galeri melalui jendela kaca besar.

Bima, yang tadi sempat pamit kembali ke kantor hukumnya untuk mengambil berkas tambahan, kembali datang membawa secangkir cokelat hangat untuk Sora.

"Nih, buat seniman galeri yang dari tadi sibuk terus," ujar Bima ramah sambil menyodorkan kertas penutup cangkir cokelat hangat.

Sora tertawa kecil, menerima cangkir tersebut dengan kedua tangannya. "Terima kasih banyak, Bima. Kamu tahu persis apa yang kubutuhkan kalau sudah sore begini."

Mereka berdua berdiri berdampingan di dekat jendela besar, menikmati pemandangan jalanan kota yang mulai menyalakan lampu-lampu kendaraan di bawah sana. Suasana terasa begitu hangat, damai, dan menenangkan.

Namun, tanpa disadari oleh Sora maupun Bima, dari seberang jalan raya di luar area galeri, sebuah mobil sedan hitam ber kaca sangat gelap terparkir diam di balik deretan pohon rindang.

Di dalam mobil tersebut, seorang pria berbadan tegap—salah satu orang kepercayaan Helena yang masih bergerak bebas di luar—mengarahkan lensa kamera profesional bertelefoto tajam, membidik gambar Sora dan Bima yang sedang tersenyum berdampingan di balik kaca galeri.

Cekrek!

Foto beresolusi tinggi itu tersimpan otomatis di dalam kartu memori kamera. Pria itu langsung mengeluarkan ponsel satelitnya, menekan nomor kontak enkripsi khusus, dan melaporkan situasi terkini langsung ke dalam penjara tempat Helena ditahan.

"Nyonya... target terpantau di galeri bersama seorang pria baru," lapor pria itu dengan suara berbisik dingin. "Semua instruksi lanjutan sudah siap."

Di ujung sambungan telepon, suara Helena terdengar memberikan perintah mutlak yang mematikan.

"Bagus... AWasi gerak-gerik mereka. Jangan bertindak gegabah sampai waktunya tiba. Kita akan hancur leburkan kebahagiaan palsu itu dalam satu malam."

Di dalam galeri, Sora tiba-tiba merasakan bulu kuduknya merinding hebat. Ia menghentikan seruputan cokelat hangatnya, lalu mengedarkan pandangan ke arah jalan raya di luar.

Jalanan tampak normal, dipenuhi kendaraan yang berlalu-lalang. Tidak ada yang mencurigakan.

"Ada apa, Sora? Kamu kelihatan pucat mendadak," tanya Bima penuh perhatian, menyadari perubahan ekspresi di wajah Sora.

Sora menggeleng pelan, tersenyum tipis untuk menepis rasa gelisah yang tiba-tiba menyusup di dadanya. "Ah, tidak apa-apa, Bima. Mungkin cuma kelelahan biasa."

Bima merangkul bahu Sora sekilas dengan penuh rasa hormat dan kehangatan yang tulus. "Kalau begitu, galeri ini harus segera tutup. Kamu butuh istirahat malam ini, Sora."

Sora mengangguk, membiarkan rasa tenang kembali merayapi hatinya, tidak tahu bahwa di luar sana, sebuah badai baru yang jauh lebih gelap sedang bersiap menyambut langkah kakinya.

"Masa lalu mungkin bisa dikubur dalam-dalam... tapi monster yang tertidur di dasarnya, selalu menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!