NovelToon NovelToon
Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Istriku Akhirnya Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Diam-Diam Cinta
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
​Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
​Dan malam itu, doa Arga terkabul.
​Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Matahari mulai meredup ketika Nisa tiba di depan rumah kontrakannya. Tangannya yang lelah setelah seharian bekerja di butik bergerak memutar kunci. Namun, saat pintu kayu usang itu sedikit terbuka, matanya menangkap sesuatu tergeletak di lantai, tepat di bawah celah pintu.

Sebuah amplop cokelat resmi berlambang burung garuda.

Nisa memungutnya dengan tangan yang tiba-tiba terasa dingin. Dari sudut amplop, tertera tulisan tebal yang sangat jelas: PENGADILAN AGAMA KOTA.

Jantung Nisa berdetak satu ritme lebih lambat. Ia melangkah masuk, menutup pintu dengan kakinya, dan menjatuhkan tas kerjanya ke atas kasur. Sambil berdiri mematung di tengah ruangan yang sempit, ia merobek ujung amplop itu dan menarik keluar isinya.

Satu lembar surat panggilan sidang pertama.

Mata Nisa menyapu deretan huruf yang diketik rapi tersebut. Namanya dan nama Arga tertera di sana sebagai penggugat dan tergugat. Tanggal sidang telah ditetapkan: lusa.

Nisa mematung cukup lama. Tidak ada amarah. Tidak ada kepanikan. Hanya ada rasa sesak yang perlahan merayapi rongga dadanya, menyumbat jalan napasnya hingga terasa sakit. Ia meraba dadanya sendiri, membiarkan jemarinya mencengkeram kemejanya dengan erat.

Di tengah keheningan kontrakannya, Nisa memaksakan kedua sudut bibirnya untuk naik. Ia tersenyum. Sebuah senyuman getir yang sangat menyayat hati.

"Alhamdulillah," bisik Nisa, suaranya pecah di ujung kata. "Ya. Ini memang harus terjadi. Semuanya akan segera berakhir."

*****

Tiga minggu berlalu seperti kedipan mata. Karena tak ada sengketa harta gono-gini dan tak ada perebutan hak asuh anak, proses perceraian itu berjalan sangat cepat. Mereka melewati tahap mediasi yang gagal karena Nisa menolak keras untuk berdamai, dan Arga hanya bisa diam membisu.

Hari ini, di ruang sidang yang dingin dengan dinding-dinding kayu yang terasa mengintimidasi, segalanya mencapai garis akhir.

Hakim Ketua mengetuk palunya tiga kali dengan suara lantang.

Tok! Tok! Tok!

Gema ketukan palu itu memantul di seluruh penjuru ruang sidang, menandakan bahwa ikatan suci yang dulu dibangun dengan janji di hadapan Tuhan, kini telah resmi terputus secara hukum negara dan agama.

"Dengan ini, Majelis Hakim memutuskan untuk mengabulkan gugatan penggugat. Perceraian antara Saudara Arga Natakusuma dan Saudari Anisa Rahma dinyatakan sah," ucap Hakim Ketua dengan suara berat. "Selanjutnya, kami persilakan kepada Saudara Arga untuk mengucapkan ikrar talak di hadapan majelis."

Ruang sidang mendadak terasa mencekam.

Arga yang duduk di kursi pesakitan perlahan bangkit berdiri. Kemeja putihnya tampak sedikit kusut, bahunya tak lagi setegap biasanya. Pria itu menelan ludah, namun tenggorokannya terasa seperti disumpal pecahan kaca. Lidahnya kelu. Keringat dingin merembes dari telapak tangannya.

Ia memutar tubuhnya perlahan. Di seberang sana, berjarak tak lebih dari dua meter darinya, Nisa berdiri menghadapnya.

Wanita itu mengenakan gaun sederhana berwarna peach. Rambutnya dibiarkan tergerai menutupi pundak. Nisa berdiri tegak, tak sedikit pun terlihat menunduk. Sorot matanya begitu tenang, begitu tegar, tanpa ada sepercik pun air mata yang membayang. Dan, ketegaran perempuan itu justru membuat dada Arga semakin hancur berkeping-keping.

"Saudara Arga? Silakan dimulai," tegur Hakim Anggota saat Arga tak kunjung bersuara.

Arga menarik napas panjang dan bergetar. Ia menatap tepat ke dalam manik mata Nisa, mencari sisa-sisa cinta yang dulu pernah memuja pria arogan seperti dirinya. Nihil.

Dengan suara parau dan terbata-bata, Arga membuka mulutnya.

"Saya... Arga Natakusuma..." Jeda. Napas Arga seolah terputus. Matanya mulai memanas. "...dengan ini... menalak satu istri saya... Anisa Rahma."

Selesai. Satu kalimat singkat, puluhan huruf yang merangkai kehancuran seumur hidup.

Beban tak kasatmata yang selama ini menghimpit pundak Nisa seolah terangkat terbang bersama embusan udara pendingin ruangan. Wanita itu menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara kebebasan yang sesungguhnya.

Nisa tersenyum tulus. Bukan senyum sinis, bukan senyum getir. Sebuah senyuman yang menyiratkan rasa terima kasih yang mendalam. Ia menganggukkan kepalanya sedikit pada Arga.

"Terima kasih, Mas," ucap Nisa lembut, suaranya terdengar sangat jernih membelah keheningan ruang sidang.

Mendengar kata "terima kasih" dan melihat senyuman mantan istrinya, pertahanan Arga runtuh tak tersisa. Pertahanan yang selama ini ia bangun dari tumpukan ego dan arogansi hancur lebur dalam satu detik.

Satu tetes air mata jatuh dari pelupuk mata Arga. Menyusul tetesan kedua, ketiga, hingga pandangannya mengabur. Arga menangis. Tubuh jangkungnya bergetar hebat di tengah ruang sidang. Ia tak peduli lagi pada tatapan majelis hakim, pengacara, atau beberapa orang yang hadir di ruangan itu. Ia bahkan tidak tahu apa yang sedang ia tangisi. Apakah ia menangisi kehilangan Nisa? Atau menangisi kebodohannya sendiri? Yang jelas, hatinya berteriak kesakitan hingga rasanya ia ingin mati saja.

Tanpa aba-aba, Arga melangkah maju. Ia meraih tubuh Nisa, menarik wanita itu ke dalam pelukannya dengan sangat erat. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Nisa, menghirup dalam-dalam aroma vanila yang selalu ia benci namun anehnya kini menjadi aroma yang paling ia butuhkan untuk tetap hidup.

"Maafkan aku, Nis... Maafkan aku..." isak Arga, merintih di pundak mantan istrinya.

Nisa tidak membalas pelukan itu. Tangannya tetap lurus di sisi tubuhnya. Ia terdiam selama beberapa detik, membiarkan Arga menumpahkan kehancurannya untuk terakhir kali.

Lalu, dengan gerakan yang pelan namun sangat pasti, Nisa mendorong dada Arga.

"Jangan begini, Mas," tegur Nisa dengan suara rendah. "Kita sudah resmi berpisah, dan kita sedang di ruang sidang. Semua orang melihat kita."

Arga tersentak. Ia melepaskan pelukannya perlahan. Kedua tangannya masih mencengkeram lengan Nisa, seolah takut jika ia melepaskannya, Nisa akan menghilang ditelan udara. Pria itu menatap wajah Nisa dengan mata yang memerah dan basah.

"Nis..." Arga menelan ludah pahit. Ia mencoba memaksakan seulas senyum tegar, meski yang tercipta hanyalah ringisan menyedihkan. "Kamu harus janji padaku. Kalau... kalau kamu butuh apa-apa, kalau kamu kesulitan, tolong cari aku. Hubungi aku kapan saja kamu butuh bantuan. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu."

Nisa menatap sepasang mata Arga untuk yang terakhir kalinya. Di masa lalu, janji perlindungan dari suaminya ini adalah hal yang paling ia nantikan. Namun kini, kata-kata itu sudah kehilangan seluruh magisnya.

Perlahan, Nisa melepaskan cengkeraman tangan Arga dari kedua lengannya. Ia mundur selangkah, merentangkan jarak yang sesungguhnya di antara mereka. Jarak yang tak akan pernah bisa lagi dijembatani.

"Terima kasih atas tawarannya, Mas," jawab Nisa tenang. "Tapi... semoga aku tidak akan pernah punya alasan untuk merepotkanmu lagi di masa depan."

Nisa memutar tubuhnya sedikit, bersiap untuk pergi. Namun, sebelum melangkah menjauh, ia menoleh menatap pria yang pernah menjadi seluruh dunianya itu.

"Mari jalani hidup masing-masing." Nisa menyunggingkan senyum terakhir yang mengakhiri segalanya. "Mari jadi orang asing, Mas."

1
Mundri Astuti
coba aja miskinin tuh Arga ..coret dari ahli waris ...jangan kasih jabatan...
pengen tau masih mau ga tuh si lampir sama Arga ...cabut semua dukungan finansial Arga...
Lee Mba Young
nnti arga di miskin kan oleh ortunya, kl miskin masih mau gk pelakor itu.
sunaryati jarum
Nikahkan dengan Adelia dan tarik semua fasilitas Arga,Pak Tommy
sunaryati jarum
Emak akan beri 5 🌟jika Arga telah hancur
MamDeyh
Terimalah Arga pilihanmu😒
Bella. pr1ncess
benar kata kakek nisa meskipun nnti arga nangis darah ingin kembali padamu jangan mau ingatlah akan rasa sakit yg diberi arga ke kamu dan ingatlah akan kata kakek diakhir hayatnya secara tidak langsung argalah yg membunuh kakek
sunaryati jarum
Langsung beberkan saja jika selingkuhan Arga hamil, ngapain kau tutupi Arga saja tidak menjaga perasaan kamu dan keluarganya,kenapa kamu mau berkorban sama lelaki murahan
sunaryati jarum
Kamu yang bilang ke keluarganya Nisa, beserta alasannya.
sunaryati jarum
Dengan dukungan sahabat terbaikmu semoga sukses karir dan sukses dapat pasangan yang menghargai dan menghormati kamu Nisa
ryuka
bersiap lah kamu menerima hasil perbuatan kamu arga
ryuka
meraung guling2 pun tetap tidak bisa mengembalikan kakek dan nisa..
ryuka
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ kakeeeekkkk
Anonim
😭😭😭
ryuka
thoorrr aku nungguin kejatuhan nya adelia 🤭🤭🤭
ryuka
duuuhhhh kakekkk.. semogavkamu kuat ya...
ryuka
diihh dasar pengecut kamu arga
Bella. pr1ncess
lenapa nis kenapa kamu tidak berteris terang dari awal sama orang tuanya arga apakah kamu masih mengharapkan arga sekarang kakek jadi korban karena kedatangan adelia kalau iamu terus terang sama mama kintan pasti kejadiannya tidak seperti itu nis,,,,sadarlah nis arga sudah menyakitimu selama ini tolong nis jangan mengharap arga lagi kamu nasih punya harga diri kan nis
Bella. pr1ncess
teguhlah nisa ingat akan sakitmu yg diberikan arga jangan goyah hanya karena kakek arga yg menyayangimu jangan biarkan yarga dirimu diinjak lagi
Moreno
akhirnya Arga bisa bersatu dengan wanitanya
Ma Em
Arga itulah perempuan yg kamu pilih perempuan yg Arga bela belain sampai mengorbankan istri yg setia baik dan sabar , mungkin kakeknya Arga kena serangan jantung karena sock dan kaget mendengar Arga sdh bercerai dgn Nisa dan Adelia selingkuhan Arga sdh hamil .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!