Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.
Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.
Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Cahaya pucat fajar merembes menembus tirai linen yang tebal, memandikan kamar dalam kilau keemasan yang sunyi. Udaranya berat, sarat aroma dua tubuh yang saling mencari tanpa malu sepanjang malam. Beraroma keringat, hasrat yang tuntas, seprai kusut, dan janji-janji yang tak terucapkan.
Zaira membuka mata perlahan. Langit-langit dengan balok kayu gelap adalah hal pertama yang dilihatnya, tapi benaknya masih berenang di antara bayang-bayang kenikmatan dan pusaran penyerahan diri. Simpul yang tertidur di perutnya mulai mengencang. Bukan sekadar lelah. Melainkan panas terkutuk yang masih terperangkap di bawah kulitnya, seakan pria itu masih berada di dalam dirinya.
Ia berbalik, menahan napas, dan melihatnya.
Leonardo tertidur di sisinya, telanjang, satu tangan terulur ke arahnya, seakan tanpa sadar berusaha menahannya tetap di sana. Wajahnya yang begitu ditempa oleh kehidupan, oleh kekerasan, oleh wibawa terkutuk yang menguar saat ia terjaga... kini melembut oleh tidur. Rahangnya yang kokoh beristirahat tanpa ketegangan, dan bayang tipis janggutnya justru mempertegas keindahan yang kejam di wajah itu.
Zaira terus menatapnya, terpukau, merasakan denyut nadinya berpacu tanpa bisa dicegah.
Ya Tuhan. Pria itu tampan sekali begini. Tampan yang berbahaya.
Dan pria itu miliknya. Untuk beberapa jam, ia sempat menjadi miliknya. Dengan setiap erangan, setiap sapuan lidah, setiap perintah yang dibisikkan ke telinganya, Leonardo telah mengklaimnya berulang kali. Dan Zaira membiarkan dirinya diperlakukan, menyerahkan diri tanpa syarat. Karena meski tak sepenuhnya menerimanya, ia mendambakan pria itu melampaui akal sehat.
Ia menelan ludah, tenggorokannya kering, seakan hasrat masih mencekiknya.
Ia harus pergi. Sebelum menjadi kecanduan.
Dengan sangat hati-hati, ia menyibakkan seprai yang menyelimutinya, menahan getaran saat merasakan kontras antara kehangatan ranjang dan udara dingin kamar. Marmer lantai, yang dipoles hingga berkilau, membekukan telapak kakinya yang telanjang. Ia berjalan pelan, tanpa suara, seakan derit paling lirih pun bisa membangunkan pria itu. Jarinya memungut blusnya yang kusut, celana yang masih menyimpan aroma parfumnya bercampur aroma Leonardo.
Ia mengenakan pakaian dengan tangan gemetar. Mengancingkan kancing tanpa melihat, canggung. Sepatunya tergeletak di samping sofa, satu nyaris terselip di bawah perabot, seolah dilempar seseorang tanpa berpikir. Ia membungkuk memungutnya, menahan napas.
Gema langkahnya di lantai bergema terlalu keras dalam kesunyian.
Ketika akhirnya ia mencapai pintu, kebebasan hanya tinggal beberapa senti jauhnya, sebuah suara dalam dan serak, yang masih sarat kantuk, menghentikannya seketika:
"Kamu mau pergi... tanpa pamit?"
Zaira membeku. Nadanya berat. Tidak mengancam. Tapi juga tidak ramah. Itu campuran berbahaya yang hanya bisa dimainkan olehnya.
Ia merasakan kulit tengkuknya meremang, seolah tatapan pria itu menyentuhnya dari ranjang. Ia menarik napas dalam dan berbalik.
Leonardo sudah bangkit, bertopang pada satu siku, dengan seprai membelit di sekitar pinggangnya. Selebihnya... selebihnya adalah kulit. Kulit yang keemasan oleh matahari, otot yang dipahat oleh kehidupan, tato yang meliuk di dada dan lengannya bagai rahasia. Bekas-bekas luka lama memecah kesempurnaan simetrisnya, menambahkan kekasaran, kenyataan.
Kedua mata kelabunya menyipit, tapi waspada. Dan di dalamnya ada campuran kejengkelan, hasrat... dan sesuatu yang lebih gelap. Sesuatu yang membuat Zaira ragu.
"Kamu juga tidak pamit waktu pertama kali," kata Zaira, menyilangkan lengan, dengan keberanian yang lebih tampak di pose daripada di dalam jiwanya.
Leonardo memiringkan kepala sedikit, menilainya. Seolah menikmati pemberontakan dalam kata-kata gadis itu.
Lalu, tanpa sepatah kata, ia bangkit dari ranjang.
Zaira mundur selangkah. Bukan karena takut. Melainkan karena melihatnya begitu, sepenuhnya terbuka, begitu jantan, begitu menguasai diri... terasa mencengangkan.
Setiap otot tubuhnya bergerak dalam harmoni yang berbahaya. Seperti melihat serigala mendekat: indah, mematikan, mustahil diabaikan.
Ia mencapai Zaira dalam dua langkah.
Ia menatapnya, dengan intensitas yang membuat gadis itu lupa cara bernapas.
Lalu ia membungkuk.
Mulutnya mendarat di leher Zaira, tepat di bawah telinga, di tempat yang ia tahu bisa melucuti pertahanannya.
Zaira memejamkan mata, menelan erangan. Getaran menjalari sekujur punggungnya.
Aroma Leonardo menyelimutinya: seprai bersih, tembakau lembut, sesuatu yang beraroma kayu... dan nada yang sepenuhnya miliknya, liar dan jantan, yang membuatnya gila.
"Aku ingin menemuimu setiap akhir pekan," bisiknya di telinga. Itu bukan ajakan. Itu perintah yang dibungkus rayuan.
Zaira berpegang pada sisa terakhir martabatnya.
"Aku bukan pendamping bayaran," bisiknya, suaranya hanya getaran yang terbungkus perlawanan.
Leonardo tersenyum. Ekspresi arogan terkutuk itu, yang sama memikatnya dengan menjengkelkannya.
Ia menjauh, berjalan telanjang ke sofa dan mengambil jaket kulitnya yang gelap. Ia merogoh sesaat di saku dalam dan mengeluarkan segepok uang tebal. Ia kembali menghampiri Zaira, mengulurkannya seolah menyodorkan seikat bunga.
"Pergilah berbelanja. Pakaian, sepatu, tata rambutmu. Aku ingin melihatmu lebih cantik lagi lain kali."
Zaira merasakan ada sesuatu di dalam dirinya yang retak. Uang itu. Nadanya. Tatapan penuh kepemilikan itu.
Apa arti malam itu baginya? Cuma permainan yang bisa dibayar?
"Aku bukan simpananmu. Bukan pula pelacurmu," ucapnya, suaranya rendah tapi tegas, matanya berkilau oleh harga diri yang terluka hingga ke tulang.
Leonardo menatapnya. Wajahnya mengeras sesaat. Keheningan menjadi pekat, berbahaya.
Lalu, ia tersenyum. Senyum lambat, seperti pemangsa, tanpa secuil pun penyesalan.
Ia mendekat lagi, hingga udara di antara mereka lenyap.
Ia membelai pipi Zaira dengan punggung jari. Kedua mata kelabunya menambatkan diri pada mata gadis itu.
"Aku ingin kamu jadi milikku seorang. Saat aku menginginkannya. Di mana pun aku menginginkannya.
Jangan menjawab sekarang," tambahnya, suaranya serak bagai janji yang sarat racun. "Katakan di akhir pekan, apakah kamu bisa hidup tanpaku."
Zaira mengerjap, seakan kata-kata itu memicu alarm di dalam dirinya.
Namun, yang ia rasakan justru sengatan listrik... disusul kebutuhan mendesak dan tak masuk akal untuk tinggal.
Leonardo membungkuk dan menyentuhkan bibirnya pada bibir Zaira dalam sebuah nyaris-ciuman. Sentuhan yang nyaris tak terasa, tapi begitu sarat listrik hingga membuatnya gemetar.
Ketika ia menjauh, ia melakukannya dengan kelambanan yang disengaja. Seolah tahu perpisahan itu tak nyata. Bahwa Zaira akan kembali.
"Kamu ini berengsek dan kamu bisa menelan uangmu sendiri."
Zaira berbalik dan keluar, dengan hati terperas.
Udara pagi menampar wajahnya bagai seember air es. Ia memeluk diri sendiri, gemetar, langkahnya tak beraturan dan dadanya membara.
Sepanjang perjalanan pulang, bayangan malam sebelumnya mengganggunya tanpa ampun: tubuhnya melengkung di bawah tubuh pria itu, tangan besar Leonardo mencengkeramnya dengan kuat, napas tersengal yang mereka bagi serentak.
Ia tidak melakukannya demi uang.
Ia melakukannya karena ia mendambakan pria itu. Karena, di ranjang itu, tak ada ruang untuk kebohongan.
Dan kini, tawaran yang terbungkus kendali itu.
Setiap akhir pekan.
Sanggupkah ia menolak?
Sanggupkah ia hidup tanpa kembali merasakan kulit, suara, dan tangan pria itu?
Zaira memejamkan mata di tengah jalan yang lengang, membiarkan air matanya mengalir tanpa henti.
Itu air mata frustrasi. Air mata hasrat. Air mata takut. Ia dalam bahaya. Sebuah bahaya bernama Leonardo.
Dan yang paling buruk... ia tak yakin ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Pada saat-saat itu, ia tak punya apa-apa. Hanya masalah, utang, dan semua itu demi mempertahankan martabat serta harga dirinya.
Semua uang itu telah ia kembalikan kepada pria itu dan ia menolaknya ketika Leonardo memberi lebih banyak lagi.