NovelToon NovelToon
Genius Keturunan Klan Phoenix

Genius Keturunan Klan Phoenix

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.

Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.

Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Ujian di Pulau Batu Berdarah

Ketiga sahabat itu melesat menuju pulau yang terlihat gelap dan tandus dari kejauhan — sepotong batu raksasa yang melayang di antara samar cahaya bintang, luasnya setara dengan pulau-pulau yang telah mereka kunjungi. Angin berhembus kencang di sekitarnya, membawa aroma belerang dan kekeringan. Semakin dekat mereka, semakin terlihat permukaannya yang kasar, penuh celah dan puncak batu yang tajam bagai mata pisau.

Tiba-tiba sesuatu meluncur ke arah mereka — benda berwarna merah kekuningan, bergerak secepat kilat tanpa suara. Mata Bai Wing membelalak.

"Hati-hati! Itu Binatang Hunshuan!"

Belum selesai suaranya terdengar, sepasang kaki panjang yang runcing melesat menyerang mereka. Ketiganya menukik menghindar, ujung kaki itu menyambar ruang kosong tempat mereka berada sesaat sebelumnya. Makhluk itu berputar dan kembali menyerang, memaksa mereka turun ke permukaan pulau batu itu.

Brak!

Sesampainya di tanah, mereka melihat sosok yang menyerang mereka. Berbentuk persis laba-laba, namun sebesar kuda, tubuhnya berwarna merah menyala, kakinya panjang, ramping, dan setajam pedang kelas surga tingkat atas. Di antara dua rahangnya terlihat benang lengket yang siap menjerat siapa pun yang lewat. Tingkat kekuatannya — sebelas akhir, setara dengan Dewa Menengah tingkat sembilan.

"Siut! Bam! Bam!"

Kakinya menghantam tanah, memecahkan batu keras bagai membelah air. Ketiganya melesat ke samping, kecepatan mereka saja yang menyelamatkan nyawa. Sedetik terlambat, tubuh mereka akan tertusuk dan tertembus tanpa ampun. Serangan makhluk itu datang bertubi-tubi: tusukan, sapuan, percikan benang lengket yang menyambar di udara. Setiap kali kakinya menghantam, permukaan pulau itu hancur berkeping-keping.

Riu Han, Genbu, dan Bai Wing membalas serangan. Pukulan mereka mendarat di tubuh makhluk itu, namun dampaknya jauh lebih kecil dari yang diharapkan. Kulit keras laba-laba itu sama kokohnya dengan cangkang Genbu sendiri — hampir tak tergores. Makhluk itu hanya terhenti sejenak, lalu menyerang kembali dengan ganas.

Kaki panjangnya kembali melesat, Riu Han menghindar mundur — namun di belakangnya berdiri bongkahan batu besar yang tak bisa ia lewati seketika. Kaki tajam itu meluncur lurus ke arahnya.

"Kakak!" teriak Genbu.

Dua sahabatnya melompat hendak menolong, namun terlambat. Ujung kaki itu menembus tempat Riu Han berdiri, menghancurkan batu di belakangnya menjadi debu. Asap beterbangan di udara. Genbu dan Bai Wing terhenti, napas mereka tertahan. Riu Han masih berdiri di sana — tepat di tempat yang sama — namun kaki laba-laba itu tidak menusuknya. Ia tersenyum tenang, lalu melangkah maju seakan tak ada apa-apa. Makhluk itu mengulangi serangan, sekali lagi, dua kali — selalu mengenai tempat yang sama, selalu menghancurkan batu, namun Riu Han tetap berdiri tak terluka sedikit pun.

Ia tidak hanya berdiri diam. Dalam sekejap mata, Riu Han melesat ke depan, pedang hitam muncul di tangannya.

Siut... Jleb! Buzzz...

Tebasan itu membelah leher makhluk itu bersih. Kepala raksasa itu terlepas, jatuh ke tanah dengan suara berat. Tubuhnya gemetar sejenak, lalu diam.

Genbu dan Bai Wing mendekat dengan wajah penuh kebingungan. "Kakak... kau baik-baik saja?"

Riu Han mengangguk sambil membersihkan pedangnya. "Aku baik saja. Ayo ambil Kristal Roh-nya sebelum makhluk lain datang."

Saat mereka memanen inti berkilauan itu, Riu Han menjelaskan apa yang terjadi. "Saat kakinya hampir menyentuhku, aku melipat ruang di detik terakhir," ucapnya tenang. "Aku tetap terlihat berdiri di tempat itu, namun sesungguhnya aku sudah berpindah puluhan langkah ke samping. Yang mereka lihat hanyalah bayangan dari posisi sebelumnya."

Genbu mengangguk pelan, mulai memahami. "Jadi kau tidak benar-benar berada di sana..."

"Benar. Ruang itu berubah, namun pandangan mata tetap tertinggal di tempat semula. Itulah mengapa serangannya selalu mengenai tempat yang kosong."

Mereka melanjutkan perjalanan, namun belum jauh berjalan, dua ekor makhluk lain muncul dari celah tanah — kalajengking berwarna jingga menyala, seukuran kuda, dengan capit besar dan ekor yang melengkung mengancam. Tingkat mereka sama — sebelas akhir.

"Kali ini aku tidak akan menggunakan konsep ruang," ucap Riu Han pelan. "Mari kita latih kekuatan tangan ke tangan. Mereka adalah lawan yang tepat."

Dua kalajengking itu menyerang serentak. Ekor mereka melesat seperti anak panah, capit mereka mengatup dengan suara dentuman logam yang nyaring. Ketiganya bergerak lincah, menghindar, membalas, lalu mundur. Kulit mereka sekeras baja; pukulan mendarat hanya menimbulkan bunyi berdenging tanpa luka yang berarti.

Riu Han menatap pola gerakan mereka, mencari celah. Ketika salah satu kalajengking mengangkat ekornya untuk menyerang, ia melesat ke bawah dan menghantam bagian lunak di leher bawah makhluk itu. Pukulannya menembus masuk, dan makhluk itu ambruk. Di saat yang sama, Genbu menangkap ekor kalajengking kedua dan menahannya, sementara Bai Wing melesat tinggi dan menebas leher makhluk itu dengan cakarnya yang tajam.

Hening kembali menyelimuti tempat itu. Ketiganya menghela napas panjang.

"Lumayan sulit," ucap Genbu sambil mengusap keringat di dahinya.

"Ya," Riu Han tersenyum. "Tapi ini yang kita butuhkan. Latihan yang nyata."

Mereka membagi tiga Kristal Roh yang diperoleh, lalu melanjutkan masuk lebih dalam. Pulau batu ini ternyata bukan tempat yang sepi. Sepasang kalajengking muncul lagi, lalu sepasang laba-laba merah, bergantian, sepanjang jalan yang mereka lalui. Setiap pertarungan menguji ketangkasan, kekuatan, dan kerja sama mereka. Riu Han mempertahankan keputusannya — tidak menggunakan konsep ruang, melainkan mengandalkan kemampuan bertarung murni. Perlahan namun pasti, Genbu dan Bai Wing semakin memahami cara bertarung sebagai satu kesatuan: Bai Wing mengganggu dan memancing serangan dengan kecepatannya, sementara Genbu menahan dan membalas dengan kekuatan fisik yang dahsyat. Perpaduan itu semakin tajam setiap kali mereka bertarung.

Pulau itu terasa tak berujung. Sepuluh kali mereka bertarung, sepuluh kali mereka menang. Dua puluh satu Kristal Roh terkumpul — tujuh untuk masing-masing. Permukaan pulau itu kini penuh dengan bekas pertarungan: lubang besar, batu yang retak, dan jejak cakar yang dalam. Ketika mereka melangkah keluar dari area terdalam, tak ada lagi makhluk yang muncul. Hening kembali datang, tanda bahwa pulau ini telah bersih dari ancaman.

Riu Han menatap langit yang dipenuhi bintang, lalu menunjuk ke arah pulau berikutnya yang terlihat samar di kejauhan.

"Ayo," ucapnya mantap. "Perjalanan kita belum selesai."

Ketiganya melesat naik, meninggalkan pulau batu itu di belakang mereka, menuju tempat yang belum diketahui — dengan kekuatan yang semakin kokoh, kerja sama yang semakin erat, dan tekad yang tak tergoyahkan.

1
Annisa Lupiyanah
keren👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Ceritanya makin mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍👍
Lanjut Up Thor..
𝕸𝕬𝕾𝕿𝕰𝕽𝕾 𝕷𝕰𝕰, 𝕬𝕸𝕶
Luar Biasa, Mantap
sibaweh abduh
cerita yang sangat baik thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor..
Tetap semangat Thor 💪💪
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Alur Ceritanya bagus dan menarik untuk dibaca, Mantap 👍👍
Bg Byl
Cerita yg menarik dg alur yg mengalir baik dan tata bahasa yg bagus. keren 👍❤️
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Petualangan Riu Han makin mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍
syarif ibrahim
makin sakti nih.... 👍
syarif ibrahim
akhirnya.... terobati sudah kerinduan selama 20 tahun.... 👍
syarif ibrahim
kaget... ternyata sudah habis ceritanya..... up lagi Thor....... 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Ceritanya makin mantap 👍
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!