Xiao Yi pernah menjadi pembunuh yang ditakuti dunia. Namun sebuah konspirasi merenggut nyawanya.
Ketika membuka mata kembali, ia justru terbangun di Benua Yanlong, dalam tubuh seorang tuan muda lemah yang baru saja dikhianati tunangannya dan dibunuh sepupunya sendiri.
Semua orang menganggapnya sampah.
Mereka tidak tahu bahwa Xiao Yi yang dahulu telah mati.
Kini, di tubuh itu hidup seorang petarung yang terbiasa berjalan di antara darah dan kematian. Lebih mengejutkan lagi, Pedang Bingluan yang ikut menyebabkan kematiannya muncul kembali sebagai Jiwa Bela Diri misterius.
Dengan kehidupan kedua dan kekuatan yang seharusnya tidak dimilikinya, Xiao Yi hanya memiliki satu jawaban bagi mereka yang ingin menginjaknya lagi:
Jika dunia ini menghormati yang kuat, maka ia akan berdiri di puncaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Hak yang Tak Bisa Dirampas
Yiyi masih belum sadar.
Setelah memastikan racun di tubuh gadis itu benar-benar hilang, Xiao Yi segera membersihkan lukanya lalu membalutnya dengan kain bersih.
Belati Yang Fu memang tidak mengenai bagian vital, tetapi darah yang hilang cukup banyak.
Selama mendapatkan obat luka yang tepat dan beristirahat beberapa hari, Yiyi seharusnya pulih.
Barulah setelah itu Xiao Yi menoleh ke arah mayat Yang Fu.
Ia mengernyit.
Seorang kultivator Alam Penempaan Tubuh Tingkat Sembilan mati di kamarnya.
Kalau berita itu menyebar, akan sulit menjelaskannya.
Terlebih lagi, Xiao Yi saat ini baru berada di Alam Penempaan Tubuh Tingkat Dua.
Tidak ada seorang pun yang akan percaya ia membunuh Yang Fu sendirian.
Yang lebih penting...
Rahasia Pedang Bingluan tidak boleh diketahui siapa pun.
Xiao Yi mengangkat telapak tangan.
Puuuf!
Nyala api muncul.
Namun api kali ini jauh berbeda dari sebelumnya.
Jika dahulu api Binatang Pengendali Api bahkan lebih lemah dari nyala lampu minyak, sekarang kobaran itu sudah cukup besar untuk membungkus telapak tangannya.
"Jadi ini perubahan setelah naik ke Tingkat Jingga."
Xiao Yi sedikit terkejut.
Kekuatan apinya meningkat berkali-kali lipat.
Ia kini semakin memahami betapa besarnya perbedaan antara tingkatan Jiwa Bela Diri.
Namun itu sekaligus membuatnya lebih waspada.
Jiwa Bela Diri seharusnya tidak dapat berubah setelah dibangkitkan.
Tingkat Merah akan tetap Merah.
Tingkat Jingga tetap Jingga.
Begitu pula tingkat-tingkat berikutnya.
Tetapi Mata Bulan Matahari justru mampu menyerap kekuatan Jiwa Bela Diri lain dan menggunakannya untuk meningkatkan Jiwa Bela Diri miliknya.
Kemampuan seperti ini...
Jika diketahui dunia luar, bahkan kultivator terkuat sekalipun mungkin akan memburunya.
Xiao Yi menatap api di tangannya.
"Rahasia ini tidak boleh bocor."
Setidaknya sebelum memiliki kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri.
Ia menjentikkan jari.
Api melesat menuju tubuh Yang Fu.
Dalam sekejap, kobaran panas menyelimuti mayat itu.
Tidak sampai lama, tubuh pembunuh terkenal Kota Ziyun tersebut berubah menjadi abu.
Saat api hampir padam, sesuatu menarik perhatian Xiao Yi.
Sebuah kantong kecil tertinggal di antara abu.
Api tidak mampu membakarnya.
Xiao Yi mengambilnya.
"Ini..."
Ingatan tubuh sebelumnya segera mengenali benda tersebut.
Kantong Penyimpanan.
Tas itu terlihat kecil, tetapi memiliki ruang penyimpanan beberapa meter kubik di dalamnya. Para kultivator biasa menggunakan benda seperti ini untuk membawa pil, senjata, bahan obat, maupun barang berharga lainnya.
Harganya juga tidak murah.
Setidaknya beberapa ratus tael.
Bagi kultivator Alam Penempaan Tubuh biasa, memiliki satu Kantong Penyimpanan sudah menunjukkan kekayaan yang cukup besar.
Mata Xiao Yi sedikit berbinar.
Yang Fu adalah pembunuh bayaran.
Orang seperti itu biasanya membawa hampir seluruh kekayaannya sendiri.
Ia baru hendak membuka tas tersebut ketika telinganya menangkap langkah kaki dari luar.
Tok. Tok.
"Tuan Muda Xiao Yi?"
Suara seorang pelayan terdengar.
"Tetua Ketiga meminta Anda datang ke Ruang Sidang."
Xiao Yi mengernyit.
Sudah larut malam.
Rapat klan ternyata belum selesai.
Ia melirik Yiyi yang masih terbaring.
Setelah menarik selimut hingga menutupi tubuh gadis itu, Xiao Yi menyimpan Kantong Penyimpanan ke balik pakaian.
"Aku akan segera datang."
***
Ruang Sidang adalah salah satu tempat terpenting di Klan Xiao.
Keputusan mengenai urusan besar klan biasanya dibuat di sana.
Ketika Xiao Yi tiba, aula besar itu telah dipenuhi orang.
Tujuh dari sembilan tetua hadir.
Beberapa diaken duduk di kedua sisi.
Ada pula sejumlah generasi muda klan.
Begitu Xiao Yi masuk, hampir semua tatapan langsung tertuju kepadanya.
Ada yang meremehkan.
Ada yang mengejek.
Bahkan beberapa orang tampak tidak mampu menyembunyikan kegembiraan mereka.
"Sepertinya malam ini memang bukan rapat biasa."
"Yi'er."
Xiao Zhong melambaikan tangan.
"Kemari."
Sebagai Tetua Ketiga sekaligus orang yang saat ini menangani sebagian besar urusan Klan Xiao, ia duduk di posisi utama.
Xiao Yi berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya.
"Tetua Ketiga, ada apa sampai aku dipanggil selarut ini?"
Xiao Zhong tidak langsung menjawab.
Wajahnya terlihat berat.
"Aku memanggilmu karena ada keputusan yang harus dibicarakan."
Belum sempat ia melanjutkan, seorang pria paruh baya di sebelah kanan sudah berdiri.
"Tetua Ketiga, kalau kau sulit mengatakannya, biar aku saja."
Xiao Yi menoleh.
Pria itu adalah Tetua Kelima.
Ayah Xiao Ruohan.
Dan seperti yang diduga, Xiao Ruohan sendiri duduk tak jauh darinya.
Tatapan mereka bertemu sesaat.
Senyum tipis muncul di wajah Xiao Yi.
Xiao Ruohan langsung mengernyit.
Tetua Kelima berbicara dengan suara berat.
"Setelah berdiskusi sepanjang hari, para tetua dan diaken berpendapat bahwa kau sudah tidak layak mempertahankan kedudukan sebagai pewaris Patriak."
Suasana aula langsung menjadi sunyi.
Tetua Kelima melanjutkan.
"Bakatmu terlalu rendah. Selama bertahun-tahun, klan memberikan banyak sumber daya kepadamu, tetapi hasilnya tetap mengecewakan."
"Jika sumber daya tersebut diberikan kepada generasi muda yang lebih berbakat, manfaatnya untuk klan jelas lebih besar."
Xiao Yi hanya mendengarkan.
Tidak ada perubahan di wajahnya.
Tetua Kelima tampaknya tidak puas melihat reaksinya yang terlalu tenang.
Ia melanjutkan,
"Namun karena ayahmu pernah memberi banyak jasa kepada Klan Xiao, kami masih bersedia memberikan pilihan."
"Posisi pewaris Patriak dapat dipertahankan."
"Tapi kau harus menyerahkan jatah memasuki Gua Ziyun yang akan dibuka setengah bulan lagi."
Kini Xiao Yi mengerti.
Jadi itulah tujuan sebenarnya.
Gua Ziyun.
Tempat itu merupakan salah satu sumber daya terpenting milik Klan Xiao.
Gua tersebut hanya dibuka setiap tiga tahun sekali.
Qi langit dan bumi di dalamnya jauh lebih padat dibandingkan dunia luar. Berkultivasi selama beberapa hari di sana dapat memberikan hasil yang setara dengan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan di luar.
Masalahnya, hanya tersedia sepuluh tempat.
Sebagai pewaris Patriak, Xiao Yi memiliki satu tempat tanpa perlu mengikuti perebutan.
Jelas ada orang yang menginginkan jatahnya.
Tetua Ketiga menghela napas.
"Yi'er, aku memanggilmu supaya kau bisa memilih sendiri."
"Pertahankan posisi pewaris Patriak..."
"Atau pertahankan kesempatan masuk Gua Ziyun."
Rasa bersalah terlihat jelas di wajahnya.
Xiao Yi memahami bahwa Xiao Zhong pasti sudah berusaha mempertahankannya selama rapat.
Jika tidak, Tetua Kelima mungkin tidak akan menawarkan pilihan apa pun.
"Tetua Ketiga tidak perlu merasa bersalah."
Xiao Yi tersenyum kecil.
"Aku tahu kau sudah melakukan yang terbaik."
Xiao Zhong terdiam.
Di sisi lain, Tetua Ketujuh mendengus.
"Kalau tahu diri, serahkan saja jatah Gua Ziyun."
"Benar."
Tetua Kedelapan ikut berbicara.
"Dengan bakatmu, masuk ke sana hanya akan menyia-nyiakan tempat."
"Lebih baik diberikan kepada anak klan yang memang memiliki masa depan."
Beberapa orang di aula mengangguk.
Tetua Ketujuh kembali mencibir.
"Klan sudah membesarkanmu selama bertahun-tahun. Sudah saatnya kau memberikan sesuatu sebagai balasan."
Xiao Yi hampir tertawa.
Sumber daya kultivasinya selama bertahun-tahun justru dirampas oleh generasi muda seperti Xiao Jie dan Xiao Shi.
Kini orang-orang ini masih berani mengatakan ia berutang kepada klan.
Kalau pemilik tubuh sebelumnya yang duduk di sini, kemungkinan besar ia hanya akan menunduk dan menerima penghinaan.
Sayangnya...
Xiao Yi yang sekarang tidak mengenal kebiasaan seperti itu.
"Gua Ziyun."
Ia bersandar santai.
"Kalau aku tidak salah, jatah itu diberikan kepadaku berdasarkan aturan klan."
Tetua Kelima mengangguk dingin.
"Benar."
"Kalau begitu kenapa aku harus menyerahkannya?"
Wajah beberapa tetua langsung berubah.
Tetua Kelima menyipitkan mata.
"Jadi kau memilih kehilangan posisi pewaris Patriak?"
"Siapa bilang?"
Xiao Yi balik bertanya.
Tetua Ketujuh langsung memukul sandaran kursi.
"Xiao Yi! Jangan bertingkah bodoh!"
"Kau ingin mempertahankan jabatan dan jatah Gua Ziyun sekaligus?"
Xiao Yi menatapnya.
"Kenapa tidak?"
"Keterlaluan!"
Tetua Kedelapan mencibir.
"Kau pikir kau siapa?"
Xiao Yi berdiri perlahan.
"Pertanyaan itu seharusnya aku berikan kepada kalian."
Tatapannya menyapu aula.
"Siapa kalian sampai bisa mencabut kedudukanku sesuka hati?"
Suasana seketika membeku.
Tetua Kelima berdiri.
"Ini Ruang Sidang!"
"Keputusan para tetua dan diaken mewakili keputusan klan."
"Benarkah?"
Xiao Yi tersenyum.
"Kalau begitu mungkin Tetua Kelima lupa aturan Klan Xiao."
Ia mulai berbicara perlahan.
"Posisi pewaris Patriak hanya dapat dicabut langsung oleh Patriak."
"Jika Patriak tidak berada di klan, keputusan harus disetujui bersama oleh sembilan tetua."
"Jika para tetua tidak mencapai kesepakatan..."
Xiao Yi berhenti sesaat.
"...maka masalahnya harus diputuskan melalui persetujuan seluruh anggota klan."
Beberapa orang mulai saling pandang.
Xiao Yi melanjutkan,
"Dan untuk mencabut kedudukan pewaris Patriak, setidaknya sembilan puluh persen anggota klan harus menyetujuinya."
Wajah Tetua Kelima semakin gelap.
"Jangan bermain kata denganku."
"Aku hanya mengikuti aturan."
Xiao Yi mengangkat bahu.
"Aturan itu ditetapkan para leluhur Klan Xiao."
"Kalau Tetua Kelima ingin mengabaikannya..."
Tatapannya tiba-tiba berubah tajam.
"...apakah itu berarti kalian juga ingin mengabaikan wasiat leluhur?"
Hening.
Tidak seorang pun langsung menjawab.
Tetua Ketujuh menunjuknya dengan marah.
"Kau..."
"Apa?"
Xiao Yi menatapnya tenang.
"Mau bilang aku salah?"
Tetua Ketujuh langsung kehilangan kata-kata.
Karena Xiao Yi tidak salah.
Aturannya memang seperti itu.
Hanya saja selama ini tidak ada seorang pun menyangka Xiao Yi akan berani menggunakannya untuk melawan mereka.
Tetua Kedelapan mendengus.
"Kau benar-benar menganggap dirimu penting. Apa seluruh anggota klan harus berkumpul hanya untuk mengurus sampah sepertimu?"
Xiao Yi tertawa kecil.
"Kalau kalian merasa itu merepotkan..."
Ia kembali duduk.
"...jangan cabut kedudukanku."
Tetua Kelima menatapnya lama.
Tatapannya penuh kemarahan.
Namun di balik kemarahan itu terdapat sedikit keterkejutan.
Xiao Yi yang dikenalnya tidak seperti ini.
Pemuda itu seharusnya lemah.
Mudah ditekan.
Bahkan ketika dihina, ia biasanya tidak berani mengangkat kepala.
Namun malam ini...
Bukan hanya berani melawan.
Ia bahkan membuat beberapa tetua tidak mampu membantah.
Di samping Tetua Kelima, Xiao Ruohan juga menatap Xiao Yi dengan mata menyipit.
Perasaan tidak nyaman perlahan tumbuh di hatinya.
Xiao Yi membalas tatapan itu.
Kemudian tersenyum.
Senyum yang membuat wajah Xiao Ruohan semakin dingin.
Karena hanya mereka berdua yang memahami satu hal.
Pertarungan malam ini bukan soal Gua Ziyun.
Ini hanyalah permulaan.
......................
Bersambung...