-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
****
Mentari pagi baru saja merayap menembus celah-celah gedung RS Utama Wigunadi ketika sirine darurat berbunyi lantang melalui pengeras suara internal. Kesunyian koridor lantai tiga seketika pecah oleh langkah-langkah tergesa dari jajaran staf medis.
“Paging darurat! Code Red Gedung A! Tim Bedah Saraf dan Spesialis Mata segera menuju Ruang Operasi Utama Tiga! Kasus pendarahan intrakranial kompleks dengan komplikasi trauma retrobulbar!”
Di scrub room, air mengalir deras dari keran otomatis. Aini sedang mencuci jemari hingga lengannya sesuai standar sterilisasi ketat ketika pintu geser otomatis terbuka. Ivandra melangkah masuk dengan balutan seragam hijau operasi.
Tidak ada lagi aura intimidasi yang menekan. Saat mata hitam Ivandra bertatap langsung dengan manik mata Aini melalui cermin besar di depan mereka, sebuah pandangan hangat dan sarat akan perlindungan terpancar jelas.
"Sudah siap, Aini?" tanya Ivandra dengan suara berbariton rendah, lembut namun sarat wibawa.
Aini mengangguk tipis di balik masker medisknya, menyunggingkan senyuman yang memancar lewat binar matanya. "Siap, Mas... maksud saya, Dokter Ivandra."
Sudut bibir Ivandra terangkat samar di balik maskernya. "Gunakan panggilan apa pun yang membuatmu nyaman. Yang terpenting, fokus kita hari ini adalah menyelamatkan pasien."
Kasus kali ini teramat kritis: seorang pasien korban kecelakaan lalu lintas mengalami fraktur tulang tengkorak yang menekan saraf optik sekaligus memicu pendarahan epidural masif di otak kanan. Prosedur membutuhkan presisi tinggi dari bedah saraf untuk mengevakuasi gumpalan darah, berpadu dengan tindakan mikroskopis spesialis mata untuk membebaskan saraf penglihatan agar pasien tidak mengalami kebutaan permanen.
Pembedahan dimulai dalam keheningan yang mencekam. Ivandra bertindak sebagai operator utama bedah saraf, sementara Aini yang saat itu sedang menjalani stase mata bertindak sebagai asisten pendamping utama untuk observasi struktur orbita dan intrakranial.
"Sinar lampu bedah ke sudut empat puluh lima derajat," perintah Ivandra tegas sembari memegang skalpel. Jemari tegapnya bergerak memotong lapisan jaringan dengan akurasi milimeter. "Aini, pantau tekanan intraokular dan pasokan perfusi retina."
"Tekanan intraokular berada di angka dua puluh dua mmHg, Dokter Ivandra. Ada pembengkakan jaringan di belakang bola mata," lapor Aini sigap, suaranya tenang, jernih, dan tanpa getaran ragu sedikit pun.
"Baik. Kita lakukan dekompresi tulang orbita bersamaan dengan evakuasi hematoma," sahut Ivandra.
Selama empat jam pembedahan yang menegangkan, komunikasi tanpa suara di antara mereka terjalin sangat luar biasa. Tanpa perlu perintah panjang lebar, Aini seolah tahu betul instrumen apa yang dibutuhkan Ivandra sebelum pria itu sempat memintanya. Ketika Ivandra membutuhkan traksi jaringan halus di dekat pembuluh darah vital, jemari Aini menyangga instrumen dengan stabilitas luar biasa.
"Sution... klem bipolar," pinta Ivandra pendek.
Aini menyodorkan alat tersebut tepat ke telapak tangan Ivandra dalam hitungan detik. "Irigasi NaCl hangat siap, Mas."
Ivandra melirik Aini sekilas melalui celah masker. Binar rasa kagum dan hormat profesional terpancar amat pekat dari iris mata sang Kepala Bedah Saraf. Sintesis kerja mereka begitu presisi dan harmonis, membuat para perawat instrumen di sekeliling meja bedah bertukar pandang penuh rasa takjub.
"Irama kerja Dokter Ivan sama Dokter Aini luar biasa banget," bisik salah satu perawat senior pelan. "Nggak ada buang waktu sama sekali, seolah-olah mereka udah bisa baca pikiran masing-masing."
Menjelang jam kelima, tindakan kraniotomi dan dekompresi saraf mata berhasil diselesaikan dengan sangat sempurna. Pendarahan terkendali, dan struktur saraf retina pasien berhasil diselamatkan dari kerusakan permanen.
"Tanda-tanda vital stabil. Tekanan intrakranial normal," lapor perawat anestesi lega.
Ivandra menghembuskan napas panjang, melepas sarung tangan latex-nya yang berbercak darah. "Kerja yang amat luar biasa, Tim. Terima kasih atas dedikasinya."
Usai keluar dari Ruang Operasi Tiga, Aini melangkah menyusuri koridor utama menuju stasiun perawat. Rasa lelah fisik yang luar biasa mendadak menyergap seluruh persendiannya. Prosedur berdiri lima jam tanpa henti, ditambah tekanan emosional dan fisik beberapa minggu terakhir, membuat pandangan Aini perlahan meredup.
Kepalanya terasa berat dan berkunang-kunang.
"Aini? Kamu nggak apa-apa?" tanya Nina yang baru keluar dari ruang steril.
Aini menyandarkan tangannya di dinding koridor. "A-Aku... sedikit pusing, Nin..."
Langkahnya melenceng sempoyongan. Tubuh mungil Aini kehilangan keseimbangan dan hendak rubuh ke lantai granit yang dingin.
"Aini!" jerit Nina panik.
Namun, sebelum tubuh Aini menyentuh lantai, sebuah bayangan jangkung bergerak secepat kilat. Ivandra, yang baru saja selesai merapikan berkas operasi, menangkap tubuh Aini tepat pada waktunya. Lengan kekarnya merengkuh pinggang dan punggung Aini, membopong tubuh mungil istrinya erat-erat di dalam dekapan dadanya.
Aroma kayu cendana bercampur mint yang hangat seketika menyelimuti Aini sebelum kesadarannya terkelupas sepenuhnya.
"Aini! Buka matamu!" panggil Ivandra dengan suara berbariton parau yang sarat akan kepanikan murni. Pria yang biasanya tampil dingin dan kaku itu kini tak memedulikan tatapan puluhan pasang mata staf medis yang melotot terkejut di sepanjang lorong.
"Dokter Ivan! Ada apa dengan Dokter Aini?!" seru Dr. Farhan yang berlari mendekat bersama dua perawat IGD.
"Siapkan Ruang Periksa Satu sekarang!" perintah Ivandra lantang tanpa menerima bantahan. Tanpa menunggu brankar, Ivandra menggendong Aini di tangannya, melangkah lebar menembus kerumunan perawat yang mulai berbisik-bisik heboh.
Di dalam Ruang Periksa VIP Satu yang tenang, Aini terbaring lelah di atas ranjang periksa. dr. Maya, seorang dokter spesialis penyakit dalam senior yang bertugas di IGD VIP, segera melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, didampingi oleh seorang perawat.
Ivandra berdiri kaku di samping ranjang, memegang erat jemari dingin Aini. Wajah tampannya tampak pucat pasi, matanya menatap cemas pada layar monitor TTV dan stetoskop yang menempel di dada istrinya.
"Bagaimana kendalanya, Dokter Maya?" cecar Ivandra cepat, suaranya bergetar menahan gelisah. "Dia pingsan akibat kelelahan pasca-operasi atau anemianya kumat lagi?"
dr. Maya melepaskan stetoskopnya, lalu menatap Ivandra dan Aini yang mulai membuka kelopak matanya perlahan. Senyuman tipis dan hangat terbit di wajah dokter senior itu.
"Tekanan darahnya memang sedikit rendah, Dokter Ivandra. Tapi... ada hal lain yang mendasari kondisi lemas dan mual yang dialami Dokter Aini," tutur dr. Maya tenang.
Aini mengedipkan matanya pelan, mencoba menata kesadarannya. "M-Maksud... Dokter Maya apa?"
dr. Maya mengambil hasil tes darah cepat dan strip pemeriksaan hormon dari nampan medis. "Dari hasil kadar hormon beta-hCG darah dan tes urin cepat yang baru saja kami jalankan, kadar hormon kehamilan Dokter Aini menunjukkan angka yang signifikan."
Seketika, keheningan tebal jatuh merayapi ruangan itu.
"K-Kehamilan...?" bisik Aini terbata-bata, matanya membelalak tak percaya.
"Iya, selamat Dokter Aini. Kamu sedang mengandung," ujar dr. Maya hangat. "Hasil indikasi awal menunjukkan usia kehamilan baru memasuki minggu ketiga atau empat—tanda-tanda kehamilan yang sangat awal. Kelelahan ekstrem, perubahan hormon, serta stres fisik yang dialaminya hari ini adalah pemicu utama kenapa tubuhnya mendadak pingsan."
dr. Maya kemudian menatap Ivandra dengan kening berkerut halus, diliputi rasa bingung yang amat transparan. "Tapi... seingat saya, di data administrasi rumah sakit, Dokter Aini statusnya masih lajang, kan? Siapa suami—"
"Saya suaminya," potong Ivandra cepat tanpa keraguan sedikit pun.
Suara berbariton tegap Ivandra bergema memenuhi ruangan. Pria jangkung itu menatap dr. Maya dengan ketegasan penuh seorang suami yang siap melindungi martabat keluarganya.
"Aini adalah istri sah saya," tegas Ivandra lurus. "Pernikahan kami memang dirahasiakan atas alasan profesionalitas di rumah sakit ini. Tolong jaga kerahasiaan medis ini secara ketat, Dokter Maya."
dr. Maya tertegun membeku seketika, terkejut luar biasa mendengar pengakuan jujur dari sang Kepala Bedah Saraf yang terkenal paling dingin dan tak tersentuh itu. Namun, melihat kesungguhan dan binar perlindungan di mata Ivandra, dr. Maya mengangguk paham. "Baik, Dokter Ivandra. Berkas ini akan saya kunci dalam kerahasiaan medis."
Setelah dr. Maya dan perawat pamit keluar ruangan, keheningan yang amat dalam menyelimuti ruang periksa VIP tersebut.
Ivandra perlahan menjatuhkan lututnya di lantai, berlutut tepat di samping ranjang Aini. Tangannya yang gemetaran merengkuh jemari mungil Aini, menempelkannya ke pipinya sendiri dengan kehangatan yang luar biasa pekat.
Aini menatap Ivandra dengan linangan air mata bening yang menetes di pipinya—bercampur antara rasa syok, haru, dan kehangatan asing yang membuncah di dalam dadanya. Di dalam rahimnya, kini telah tumbuh sebuah benih kehidupan baru, hasil dari malam penyatuan mereka yang penuh dinamika.
"Aini..." bisik Ivandra dengan suara parau yang basah oleh getaran emosi mendalam. Pria angkuh itu menatap mata istrinya dengan ketulusan murni yang meluap. "Terima kasih... Terima kasih banyak, Sayang..."
Ivandra mengecup punggung tangan Aini dengan penuh rasa hormat dan cinta yang tak lagi tertutupi oleh gengsi, menandai awal dari babak baru yang utuh di dalam perjalanan pernikahan mereka.
Bersambung...
mampir ya ke novel ku