Tanah warisannya di incar oleh PT besar untuk di jadikan tambang, anaknya di culik, cintanya di hianati, Ia keluar masuk rumah sakit sampai Ia hilang ingatan.
Setelah anaknya lahir, anak itupun tak sempurna fisiknya, bahkan anak nya di bilang kutukan di dusunnya.
dengan penuh perjuangan dan airmata Ia berjuang sekuat tenaganya memulihkan kondisi anaknya dengan cara yang sangat dramatis, di situlah muncul cinta tanpa syarat buat buah hatinya.
dua perjuangan menyelamatkan anak dan mempertahankan warisannya, menjadi tonggak terciptanya novel ini dengan judul, *CINTA TANPA SYARAT*
ikuti kisah juang nya, yang penuh airmata dan pengorbanan dalam dalam mempertahankan hak miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sari Koma Keajaiban Bintang
Sudah 7 hari Sari koma di ICU RS Sanglah Bali.
7 hari Bintang tidak bertemu ibunya.
7 hari Johan lumpuh di kursi roda di samping ranjang Sari, tidak bisa berdiri, hanya bisa menatap istri yang terbaring dengan selang di mana-mana karena memberikan sumsum tulang terakhirnya untuk anak mereka.
Dokter bilang, "Pak Johan, Bu Sari pendarahan otak kecil karena anemia berat setelah donor. Kesempatan bangun 10%. Kalau bangun pun, bisa amnesia atau lumpuh seperti Anda."
Johan yang lumpuh, setiap hari, dari jam 6 pagi sampai jam 12 malam, duduk di kursi roda di samping Sari, memegang tangan Sari yang dingin, membacakan dongeng untuk Bintang dan Kevin yang ada di box bayi di sebelahnya.
Kevin, yang sudah di anggap keponakannya Sari sudah sembuh dari transplantasi sumsum Johan.
Wajahnya tidak biru lagi. Jantungnya sudah siap operasi minggu depan.
Kevin tidur pulas di box bayi, tidak tahu bahwa ayah donornya lumpuh karena dia.
Bintang, anak kandungnya, juga sudah sembuh. Thalassemia-nya hilang 100% karena sumsum Sari. Kaki bengkoknya, setelah gips ketiga di Bali, sudah lurus sempurna.
Gips putih kecil itu sudah dilepas kemarin. Untuk pertama kalinya dalam 11 hari hidupnya, kaki Bintang bisa lurus, bisa digerakkan, tidak bengkok lagi.
Tapi Bintang tidak mau terlalu aktif bergerak, tidak mau tertawa. Sejak ibunya koma, Bintang hanya diam, menatap ranjang ibunya, kadang menangis pelan, Ia seolah tahu, kalau Ibunya berjuang demi dirinya.
Wajah anak yang fisiknya tidak normal itu, seolah tahu ibunya sedang berjuang bangun untuk dirinya.
Mama Leni setiap hari berdoa di pojok ICU, memegang sertifikat tanah Sari yang sudah berhasil ia rebut dari Lina di terminal.
Lina sendiri, dari penjara wanita di Denpasar, mengirim surat tulisan tangan untuk Sari, yang dibacakan polisi untuk Johan.
Suratnya pendek:
"Kak Sari, maafkan aku. Kevin sudah sembuh karena Johan. Aku di penjara 2 tahun karena mencuri tanahmu dan laporan palsu. Aku ikhlas. Tolong jaga Kevin kalau aku di penjara. Jangan benci dia. Dia tidak salah. Aku yang salah. - Lina"
Johan melipat surat itu dan meletakkannya di dada Sari yang koma. Wajah lelaki itu seperti mendung yang menutup langit biru.
Hari ke-7, jam 6 sore, dokter ICU masuk dengan wajah berat.
"Pak Johan, Bu Leni, kami harus bicara. Sudah 7 hari Bu Sari koma. Alat monitor menunjukkan aktivitas otak menurun.
Kalau sampai hari ke-8 tidak bangun, kami harus cabut ventilator sesuai SOP. Biaya ICU 10 juta per hari, yayasan sudah tidak sanggup. Dan secara medis, harapan hampir tidak ada."
Johan tertegun mendengar petugas medis itu.
Dia terdiam tanpa harus bisa berkata apa?
Mama Leni langsung meraung, "JANGAN CABUT! JANGAN! SARI ANAK SAYA! DIA BARU 22 TAHUN!"
Johan yang lumpuh di kursi roda, tidak bisa berdiri, hanya bisa memukul-mukul kakinya yang lumpuh itu dengan tangan. Ia merasa seperti lelaki yang hilang harga diri, karena tidak mampu membiayai istrinya, gara-gara Ia di kursi roda tersebut.
"KAKI BODOH! KAKI LUMPUH! GARA-GARA KAMU SARI KOMA! KALAU SAYA TIDAK DITIPU LINA, SARI TIDAK AKAN DONOR! SARI TIDAK AKAN KOMA!"
Di tengah tangisan itu, Bintang yang ada di box bayi, yang selama 7 hari diam, tiba-tiba melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan bayi 11 hari.
Bintang bergerak, dia menghadapi kearah ibunya yang tak sadarkan diri, tangannya yang kecil sekali, terus menggapai ke arah ibunya. Ia seperti mau merangkak menuju sang ibu.
Perawat kaget, melihat, melihat respon bayi berumur sebelas hari itu. dia bisa menunjuk ke arah ibunya. seperti tidak mungkin!"
Tapi Bintang terus mengangkat tangan mungilnya. Suster menggendongnya kearah ranjang sang ibu.
Dengan kaki yang baru saja sembuh, yang baru lepas gips, yang seharusnya belum bisa jalan sampai umur 1 tahun, Bintang menunjukkan respon yang luar biasa.
suster menggendong menuju ranjang ibunya.
Semua orang di ICU terdiam. Dokter, perawat, Mama Leni, Johan yang lumpuh, semua menatap bayi kecil dengan kaki yang baru sembuh gerakannya sangat aktif sekali.
Sampai di samping ranjang Sari yang koma.
Bintang memegang pinggiran ranjang, dan dengan kekuatan yang tidak masuk akal untuk bayi 11 hari, Bintang menggapai tangan ibunya.
Tangan kecilnya gemetar, menautkan jari kecilnya ke arah sang ibu, gerakan itu terlihat jelas di mata suster yang menggendongnya.
Bayi yang baru 11 hari lalu bengkok kakinya, yang dibilang kutukan oleh penduduk desa, yang dibilang tidak akan bisa jalan seumur hidup.
tiba-tiba merespon ibunya yang diam diatas ranjang rumah sakit. Ia terus memegang tangan sang ibu.
"Bintang...?" bisik Johan yang lumpuh, menangis.
Bintang menyentuh tangan ibunya yang koma itu.
Dan ajaibnya, saat tangan kecil Bintang menyentuh tangan dingin ibunya yang koma...
Monitor jantung Sari yang tadinya berbunyi pelan...
tuuuut, tut tiba-tiba berbunyi cepat.
Jari tangan Sari yang koma selama 7 hari, bergerak sedikit.
Satu kedutan kecil.
Dokter ICU langsung berlari melihat monitor otak.
"Aktivitas otak naik! Naik drastis! Bu Sari merespon sentuhan bayinya!"
Mama Leni berteriak, "SARI! SARI! BANGUN! BINTANG SUDAH, BINTANG SUDAH SEMBUH! LIHAT, SARI!"
Johan yang lumpuh di kursi roda, menangis meraung-raung, mencoba berdiri dari kursi rodanya yang lumpuh itu, jatuh ke lantai, merangkak juga menuju ranjang Sari, sama seperti Bintang.
Johan seperti mendapat kekuatan dan harapan
Harapan yang sempat hilang dan ketakutan yang menyelimuti pikirannya, kini seolah-olah tumbuh kembali, Ia berlutut di samping Bintang yang Aktif dan kembali ceria.
"Sari! Maafkan aku! Aku lumpuh! Bintang sudah sembuh dari kakinya yang bengkok, Bintang sudah bisa berdiri di pangkuan orang yang menggendongnya, bisa jalan! Bangun, Sari! Lihat anak kita sudah aktif dan normal seperti anak lainnya!"
Di ICU RS Sanglah Bali jam 6 sore itu, pemandangan paling nyesek dan indah terjadi:
Seorang bayi 11 hari yang baru sembuh dari kaki bengkok, berdiri memegang tangan ibunya yang koma.
Seorang bapak yang lumpuh karena donor untuk anak selingkuhannya, yang kini ibunya masuk penjara karena mau merebut milik sari. merangkak dekat sari yang masih terpejam matanya.
Seorang nenek yang memegang sertifikat tanah satu-satunya peninggalan bapak Sari, berdoa.
Dan seorang ibu yang sudah memberikan 750 cc darah, sumsum tulang, tanah, dan nyawanya, terbaring koma, dengan jari yang mulai bergerak karena sentuhan anaknya.
Apakah Sari akan bangun?
Apakah Johan akan bisa jalan lagi?
Apakah Bintang akan benar-benar bisa berjalan normal dan punya rumah di tanah bapaknya?
Dan apakah cinta tanpa syarat seorang ibu desa Kolorai yang dihina satu desa karena anak cacat, akhirnya bisa mengalahkan semua kutukan?
____
Silahkan Bintang tunggu komen dari pembaca setia Bintang. Terimakasih