kecelakan tragis itu merenggut nyawa Kiara, setelah mengetahui fakta bahwa dia dikhianati suaminya.
Tetapi Tuhan selalu memberi plot twist yang tidak pernah bisa kita tebak. Kiara mendadak terbangun kembali ke lima tahun lalu tepat di hari pertama pernikahan kontrak mereka dimulai.
Menyadari bahwa dia kembali mengulang waktu, kali ini Kiara bertekad untuk mengumpulkan uang lalu kabur demi menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi, Kiara justru dibuat syok oleh perubahan drastis Dante, sang mafia kejam yang tiba-tiba berubah menjadi super bucin, posesif, dan memanjakan Kiara dengan uangnya yang tidak akan pernah habis itu. Kiara tidak pernah tahu bahwa suaminya yang kejam itu ternyata juga ikut bereinkarnasi dari masa depan, membawa rasa bersalah dan sejuta penyesalan yang siap melakukan apa saja agar sang istri tidak pernah pergi lagi dari pelukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laksmi Harsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Dayita kekasih yang dinanti kini mulai hadir membawa sejuta getaran di dada. Moda kegembiraan ini tumbuh mekar dengan sangat indah menghapus sepi. Kalyana kebahagiaan suci menuntun sepi
...----------------...
"Hi Kiara. Istri tercinta dari sang penguasa bawah tanah, Dante?" sebuah suara pria asing di seberang telepon terdengar begitu berat, diiringi dengan tawa kecil yang terdengar sangat meremehkan.
Kiara seketika menegang, firasat buruk langsung menghantam dadanya. "Siapa kau? Dari mana kau mendapatkan nomor teleponku?"
"Panggil aku Jack. Sampaikan pesan ini pada suamimu yang terhormat," suara pria itu berubah menjadi sangat dingin. "Katakan pada pria sombong itu, bahwa apa yang terjadi di gudang utara pagi ini baru permulaan kecil. Jika dia tidak menyerahkan jalur logistik pelabuhan barat kepadaku dalam waktu dua puluh empat jam, maka aku tidak bisa menjamin keselamatan istri cantiknya. Aku memiliki mata di mana-mana, Kiara."
Klik!
Sambungan telepon langsung diputus secara sepihak dari seberang sana. Kiara terbelalak, napasnya memburu dengan cepat sementara tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat hingga benda itu terjatuh ke atas karpet tebal.
"Nyonya? Ada apa? Siapa yang menelepon?" tanya Bi Narti panik melihat perubahan drastis pada wajah Kiara yang mendadak pucat pasi.
"B-Bi... panggil penjaga depan. Hubungi Dante... sekarang juga!" pekik Kiara histeris.
...----------------...
Ponsel di atas meja marmer ruang rapat Belmont Development bergetar. Nama Kiara berkedip di layarnya. Dante, yang tadinya sedang mendengarkan laporan dari Leo, langsung mengangkat panggilan itu dalam satu sentakkan. Namun, bukan suara manja atau lembut istrinya yang terdengar, melainkan isak tangis yang tertahan dan panik.
"Dante... Dante, tolong aku..." suara Kiara terdengar bergetar di seberang sana.
Aura di dalam ruangan rapat seketika membeku. Dante bangkit berdiri, kursi kebesaran itu terdorong ke belakang hingga menimbulkan suara decitan. "Kiara? Ada apa? Apa yang terjadi di mansion?!"
"S-seseorang baru saja meneleponku, Dante. Dia... dia tahu aku ada di dalam mansion. Dia bilang namanya Jack," Kiara terisak, mencoba mengatur napasnya. "Dia mengancamku. Dia bilang jika kau tidak menyerahkan jalur logistik pelabuhan barat dalam dua puluh empat jam, dia... dia akan menjadikanku target. Dante, dia bilang dia punya mata di mana-mana!"
Mendengar nama Jack dan ancaman yang diarahkan pada istrinya, rahang Dante mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Sepasang mata elangnya berkilat merah penuh amarah. Buku-buku jarinya memutih mencengkeram ponselnya dengan sangat kuat, seolah bisa menghancurkan benda itu menjadi kepingan.
"Tenang, Kiara. Dengarkan aku," suara Dante mendadak berubah menjadi sangat rendah. "Kau aman di dalam mansion. Tidak akan ada satu bajingan pun yang bisa menembus dinding rumah itu. Kau mengerti?"
"Tapi dia tahu aku di sini, Dante! Bagaimana kalau mereka sudah ada di luar? Bagaimana kalau mereka memata-matai kita?" tanya Kiara histeris.
"Bi Narti! Berikan ponselnya pada Bi Narti!" perintah Dante.
Beberapa detik kemudian, suara Bi Narti yang tak kalah panik terdengar. "Ya, Tuan? Saya di sini."
"Kunci seluruh akses mansion sekarang juga. Aktifkan sistem keamanan dasar. Jangan biarkan siapa pun masuk atau keluar tanpa izin dariku. Paham?!" seru Dante.
"Baik, Tuan. Segera saya laksanakan," jawab Bi Narti sebelum sambungan telepon terputus.
Dante menurunkan ponselnya perlahan. Ia memejamkan mata sejenak, menghirup napas dalam-dalam menahan amarah di dalam dirinya agar tidak menghancurkan ruangan ini.
Namun saat mata itu kembali terbuka, yang tersisa hanyalah tatapan iblis yang haus akan darah. Seluruh kepala divisi di ruangan itu tertunduk, tidak berani bernapas terlalu keras.
Dante menoleh ke arah Leo yang berdiri tegap di sampingnya dengan wajah yang sama tegangnya.
"Leo," panggil Dante, suaranya sangat tenang, namun ketenangan itulah yang paling mengerikan dari seorang Dante.
"Ya, Tuan?"
"Batalkan rencana interogasi Harris. Biarkan dia membusuk di ruang bawah tanah untuk sementara waktu," perintah Dante dingin. "Aku ingin kau mengumpulkan seluruh anggota elit sekarang juga. Siapkan seluruh persenjataan berat kita."
Leo tertegun sejenak. "Tuan, apakah kita akan langsung menyerang markas utama mereka?"
"Jack baru saja menggali kuburannya sendiri dengan menyentuh Kiara," jawab Dante sambil berjalan menuju pintu keluar, melangkah dengan keangkuhan. "Ular kecil itu mengira dia bisa memeras dengan mengancam sarangnya. Aku akan menunjukkan padanya bahwa ada beberapa garis di dunia ini yang tidak boleh dilewati jika dia masih ingin melihat matahari esok hari."
"Berapa banyak personel yang harus saya kerahkan, Tuan?" tanya Leo sambil berjalan cepat mengikuti langkah lebar bosnya menuju lift.
"Semuanya. Jangan sisakan satu pun. Malam ini, aku tidak ingin mendengar ada kelompok bernama Viper lagi di kota ini. Ratakan markas mereka dengan tanah," jawab Dante tanpa keraguan.
Sementara itu, suasana di dalam mansion berubah menjadi sangat mencekam. Tirai-tirai besi otomatis mulai turun menutupi seluruh jendela besar, mengubah rumah mewah yang tadinya terang benderang menjadi gelap dan tertutup rapat. Belasan penjaga bersenjata lengkap dengan seragam hitam tampak menyebar di setiap sudut halaman.
Di dalam kamar utama, Kiara duduk meringkuk di atas ranjang panjangnya. Ia memeluk bantal erat-erat, matanya menatap nanar ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Bi Narti berdiri di dekatnya, memberikan ketenangan dengan mengusap punggung sang Nyonya.
"Nyonya, minumlah air hangat ini sedikit. Anda harus menenangkan diri. Tuan sudah mengurus semuanya," bujuk Bi Narti dengan lembut.
Kiara menggelengkan kepalanya lemah. "Bagaimana aku bisa tenang, Bi? Pria itu... Jack, dia terdengar sangat yakin dengan ancamannya. Bagaimana jika ini semua adalah jebakan untuk memancing Dante keluar? Bagaimana jika Dante dalam bahaya?"
"Tuan Dante bukan pria sembarangan, Nyonya. Di dunia luar, beliau adalah hukum itu sendiri. Tidak ada yang bisa menjatuhkannya dengan mudah," tegas Bi Narti, mencoba menanamkan keyakinan pada Kiara.
"Tapi ini karena aku, Bi! Jika terjadi sesuatu pada Dante karena dia mencoba melindungiku, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri," tangis Kiara kembali pecah.
Tiba-tiba, pintu kamar utama terbuka. Kiara tersentak dan refleks menjerit karena terkejut. Namun, rasa takutnya langsung sirna saat melihat sosok pria jangkung yang melangkah masuk dengan kemeja hitam yang beberapa kancing atasnya sudah terbuka, memperlihatkan tato naga yang melingkar di dadanya. Dante telah kembali.
"Dante!" Kiara langsung melompat dari atas ranjang dan berlari menghambur ke dalam pelukan suaminya.
Dante menangkap tubuh mungil istrinya dengan erat. Ia memeluk Kiara seolah wanita itu adalah satu-satunya hal berharga yang tersisa di dunia ini. Aroma maskulin khas Dante langsung menyeruak, perlahan mengusir rasa takut yang sejak tadi menyiksa Kiara.
"Kau aman, Sayang. Aku di sini," bisik Dante sambil mengecup puncak kepala Kiara berkali-kali. Ia melirik ke arah Bi Narti dan memberikan isyarat dengan anggukan kepala agar kepala pelayan itu meninggalkan mereka berdua. Bi Narti membungkuk hormat lalu melangkah keluar, menutup pintu kamar dengan pelan.
Dante menuntun Kiara untuk duduk kembali di tepi ranjang. Ia berlutut di hadapan istrinya, memegang kedua tangan Kiara yang terasa dingin.
"Katakan padaku, apa saja yang bajingan itu katakan padamu di telepon tadi? Jangan sembunyikan apa pun," pinta Dante, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Kiara yang berkaca-kaca.
Kiara menarik napas dalam, mencoba menstabilkan suaranya. "Dia... dia bilang dia tahu aku ada di mansion ini. Dia minta kau menyerahkan jalur logistik pelabuhan barat dalam waktu dua puluh empat jam. Jika tidak... dia bilang dia tidak bisa menjamin keselamatanku. Dia bilang dia punya mata di mana-mana di sekitar rumah ini, Dante."
Dante terkekeh rendah, namun suara tawanya terdengar sangat berbahaya. "Mata di mana-mana? Dia hanya menggertakmu, Kiara. Sistem keamanan mansion ini sulit ditembus. Jika ada tikus kecil yang mendekat dalam radius satu kilometer, anak buahku sudah akan menembak kepalanya sebelum dia sempat berkedip."
"Tapi bagaimana jika dia benar, Dante? Bagaimana jika ada pengkhianat di dalam mansion ini seperti di gudang utaramu?" tanya Kiara penuh selidik, matanya menyiratkan ketakutan.
Dante terdiam sejenak. Pertanyaan Kiara ada benarnya, dan itulah alasan mengapa ia memerintahkan Leo untuk menyisir ulang seluruh latar belakang pelayan dan penjaga yang ada di rumah ini. Namun, ia tidak ingin menambah beban pikiran istrinya.
"Tidak akan ada pengkhianat yang bisa bertahan hidup di dekatku, Kiara. Aku sendiri yang akan memastikan hal itu," jawab Dante sambil mengusap air mata yang membasahi pipi mulus istrinya. "Sekarang, aku ingin kau beristirahat. Jangan pikirkan apa pun lagi."
Kiara memegang tangan Dante yang ada di pipinya. "Kau... kau mau pergi lagi setelah ini?"
Dante tidak langsung menjawab. Ia berdiri, lalu mengecup kening Kiara dengan lembut. "Ada beberapa hama yang harus kubersihkan malam ini agar kau bisa tidur dengan nyenyak besok, Kiara."
"Dante, kumohon jangan pergi!" seru Kiara sambil menahan lengan suaminya. "Ini pasti jebakan! Dia sengaja membuatku panik agar kau bertindak gegabah dan menyerang mereka tanpa persiapan. Tetaplah di sini, bersamaku."
Dante menatap istrinya dengan tatapan penuh kehangatan, sebuah ekspresi yang hanya dia tunjukkan untuk Kiara. Ia kembali duduk di samping istrinya, menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapan hangatnya.
"Jebakan atau bukan, itu tidak ada bedanya bagiku, Kiara," ucap Dante, suaranya terdengar penuh keyakinan. "Dunia ini harus tahu, bahwa siapa pun yang berani mengusik ketenanganmu, berarti mereka sedang mengundang kematian mereka sendiri. Aku tidak akan membiarkan ular kecil itu hidup lebih lama lagi setelah dia berani membuat istriku menangis."
"Aku takut, Dante..." bisik Kiara pelan, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
Dante tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kuasa "Tunggu aku di sini, Nyonya Dante. Saat aku kembali, semua ini sudah berakhir," ucap Dante sebelum mendaratkan sebuah kecupan di bibir Kiara.
Kiara tidak bisa lagi membalas ucapan itu. Di dalam hatinya, ia hanya bisa mempercayakan semuanya kepada suaminya.