Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Bangkai di Hulu
Fajar baru memucat di langit ketika Jian Chen, Dao, dan Tan Fu meninggalkan desa menyusuri tepi sungai ke arah hulu. Tanahnya berlumpur dan licin oleh embun. Dao membawa kapak besar di bahu dan sekantung karung kosong. Tan Fu membawa dua kantong air rebusan dan sekeranjang roti yang sudah ia bagi menjadi tiga bagian sama besar, kecuali bagiannya sendiri yang sedikit lebih besar.
"Kau tahu apa yang akan kita temukan?" tanya Dao sambil melangkahi akar pohon.
"Bangkai."
"Bangkai apa?"
"Mungkin sapi, mungkin kerbau." Jian Chen menyingkirkan ranting yang menghalangi jalan. "Orang di hulu biasanya membuang ternak yang mati ke ngarai, dan ngarai itu bermuara ke sungai."
"Dari mana kau tahu?"
"Dari bau." Jian Chen tidak menoleh. "Sejak semalam angin dari hulu membawa bau yang tidak biasa."
Dao mengendus udara, mengerutkan dahi, lalu mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lagi.
Mereka berjalan hampir empat jam. Sungai semakin sempit dan airnya semakin keruh. Tan Fu mulai mengeluh soal kakinya, tetapi berhenti setiap kali Dao menoleh. Menjelang siang, bau itu muncul lebih jelas, manis dan busuk, menempel di tenggorokan seperti kain basah. Di balik tikungan sungai, sebuah ngarai sempit menganga, dan di dasarnya bertumpuk puluhan bangkai kerbau yang sudah menggembung.
Tan Fu langsung menutup hidung dan mundur beberapa langkah. "Dewa," gumamnya. "Berapa banyak?"
"Tiga puluh, mungkin lebih," kata Dao sambil menahan napas. "Sudah seminggu atau lebih."
"Dan airnya mengalir lewat sini." Jian Chen menunjuk ke genangan hitam di dasar ngarai, tempat aliran kecil merembes ke sungai utama. "Ini sumbernya."
"Siapa yang membuangnya?" tanya Tan Fu.
"Kita akan tanya."
Mereka tidak perlu mencari lama. Dua puluh langkah dari ngarai itu, di lereng yang lebih tinggi, berdiri sebuah gubuk kayu dan kandang kosong. Seorang lelaki bertubuh pendek dan berkulit gelap sedang duduk di depan gubuk, memegang pisau dan sedang mengasah sesuatu. Ia mendongak ketika mendengar langkah kaki dan langsung berdiri dengan wajah curiga.
"Kalian mau apa di sini?"
"Aku Jian Chen dari Sekte Pedang Fajar," jawab Jian Chen sambil mengangkat tangan. "Kami datang dari Desa Sungai Hitam. Kau pemilik ternak itu?"
Lelaki itu mundur setengah langkah, pisaunya terangkat sedikit. "Namaku Zhu. Kenapa kalian menanyakan ternakku?"
"Karena bangkainya di ngarai. Air sungai terkontaminasi dan orang-orang di desa jatuh sakit."
"Tidak mungkin." Zhu menggeleng cepat. "Ternakku mati karena penyakit kaki. Itu bukan sesuatu yang menulari manusia."
"Tapi airnya sudah tercemar."
"Itu bukan salahku!" Suara Zhu meninggi. "Aku tidak punya tempat lain untuk membuangnya! Aku sudah kehilangan seluruh kawananku dalam dua pekan! Kalau aku mengubur semuanya, butuh sepuluh orang dan seminggu! Aku sendirian!"
"Kau membuangnya ke ngarai karena tidak ada pilihan," kata Dao. Suaranya lebih lembut dari yang Jian Chen duga. "Aku mengerti."
Zhu menatapnya dengan mata merah. "Kau mengerti?"
"Aku pandai besi. Aku tahu rasanya kehilangan sesuatu yang dibangun bertahun-tahun." Dao menurunkan kapaknya. "Tapi dengar. Di bawah sana, anak-anak sedang sakit. Sebelas orang sudah mati. Kalau kita tidak singkirkan bangkai itu sekarang, jumlahnya akan bertambah."
Zhu terdiam lama. Pisau di tangannya turun perlahan. "Apa yang harus kulakukan?"
"Membakarnya," kata Jian Chen. "Kita akan menggali parit di sisi ngarai, menyeret bangkai ke dalamnya, menaburkan kapur dan membakarnya. Aku butuh bantuan. Tiga orang tidak cukup."
"Aku tidak punya kapur."
"Aku bawa," kata Tan Fu. Ia mengangkat kantong yang tadi ia anggap berisi tepung. "Lin Xue yang menyuruhku membawa ini. Katanya mungkin berguna."
Jian Chen menatapnya. "Dia bilang begitu?"
"Aku bertanya apa yang akan kita temukan. Dia hanya bilang, 'Bawa kapur. Kalau bangkai, kapur selalu berguna.'" Tan Fu mengangkat bahu. "Aku tidak bertanya lagi."
Zhu menarik napas panjang dan lalu mengangguk. "Baik. Aku ikut. Tapi sebagai imbalan, kalian harus bicara pada tabib untuk memberiku obat bagi sisa ternakku yang masih hidup."
"Aku akan memintanya," kata Jian Chen. "Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan mencoba."
"Itu lebih baik daripada tidak ada."
Mereka bekerja sampai sore. Dao dan Zhu menggali parit sepanjang dua puluh langkah di sisi ngarai dengan kapak dan juga sekop. Jian Chen dan Tan Fu mengikat tali di kaki bangkai dan menyeretnya dengan sangat susah payah. Bau busuk menempel di baju, rambut, dan tenggorokan mereka. Tan Fu muntah dua kali dan terus bekerja.
Menjelang tengah hari, mereka berhenti sebentar untuk minum. Tan Fu terduduk di atas batu dengan wajah hijau, sedangkan Dao menyeka keringat dari dahinya dengan lengan baju.
"Aku tidak akan pernah makan daging kerbau lagi," kata Tan Fu lemah.
"Kau akan makan lagi besok," kata Dao.
"Kau tidak mengenalku."
"Aku mengenal semua orang yang selalu lapar."
"Itu bukan hinaan?"
"Itu pujian," kata Dao. Ia menoleh pada Jian Chen yang duduk agak jauh sambil menatap api kecil yang menyala di ujung parit. "Kau yakin ini yang terburuk yang pernah kau lihat?"
"Bukan," jawab Jian Chen.
"Lalu apa?"
"Aku pernah melihat desa ini setelah empat puluh tujuh kuburan," kata Jian Chen pelan. "Aku tidak ingin melihatnya lagi."
Dao dan Tan Fu saling pandang. Tidak ada yang bertanya kapan, di mana, atau bagaimana. Dao hanya mengangguk perlahan, dan Tan Fu mengunyah rotinya dalam diam.
Menjelang petang, tiga puluh dua bangkai sudah masuk parit. Jian Chen menaburkan kapur di atasnya, lalu Zhu menyalakan api dari obor. Api menyambar cepat, menghasilkan asap hitam tebal yang naik ke langit. Mereka berdiri di jarak aman, menutup hidung dengan kain basah.
"Satu hal lagi," kata Jian Chen sambil terbatuk. "Jangan buang bangkai ke ngarai lagi. Kalau ternakmu mati, gali lubang di sisi bukit yang jauh dari sungai."
"Aku tidak akan membuangnya lagi," kata Zhu. Ia menatap api dengan mata basah. "Dan aku minta maaf. Aku tidak tahu itu bisa membunuh orang."
"Sekarang kau tahu."
"Ya." Zhu mengangguk. "Dan itu lebih berat daripada tidak tahu."
Mereka kembali ke desa saat malam. Di gerbang, Lin Xue sudah menunggu dengan lentera, wajahnya tegang. "Kalian lama sekali."
"Kami menemukan sumbernya," kata Jian Chen. "Tiga puluh dua bangkai kerbau di ngarai hulu. Sudah dibakar."
"Bagus." Lin Xue menarik napas. "Tabib Kepala Rong sudah memutuskan untuk mengubah rencana. Setelah dua pasien yang air minumnya direbus menunjukkan perbaikan hari ini, ia memerintahkan seluruh warga merebus air. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tabib Shu memburuk." Lin Xue menurunkan suaranya. "Ia menanyakanmu sejak siang."