Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-2 Berkhayal
Baru saja Amora hendak melangkah keluar dari ruang tunggu dokter dengan sisa-sisa harga diri yang tercerai-berai, ponselnya bergetar di saku celemek. Layar ponselnya menunjukkan nama: Anggi (Partner in Crime & Drama Hidup).
Dengan firasat buruk yang melintas seperti awan mendung, Amora menjawab panggilan itu. "Halo?"
Suara Anggi terdengar panik di seberang sana. "Amora! CEPAT BALIK KE KAFE! INI UDAH MACAM PASAR MALAM! Orang-orang ngantri, mesin kopi mogok, dan gue butuh bantuan lo sebelum gue menyerah dan kabur ke Bali!"
Amora menghela napas panjang. "Astaga, Anggi… gue baru aja berdamai sama takdir. Masa harus lari lagi?"
"INI DARURAT!" teriak Anggi, nyaris memekakkan telinga.
Tanpa pikir panjang, Amora berbalik, berlari menembus lorong rumah sakit yang kini terasa seperti lintasan lari dadakan. Suster-suster melirik, beberapa dokter menahan tawa melihat cewek bercelemek melesat sambil menggendong nampan kosong.
Sesampainya di kafe kecil mereka di sebelah rumah sakit, Amora langsung disambut dengan pemandangan neraka versi kafe
Antrian mengular sampai pintu keluar. "Ini si bos pakai penglaris apaan, tiba-tiba rame kayak begini. Ini manusia atau bangsa jin?" gumamnya dalam hati sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
Seorang bapak-bapak mengetuk meja dengan ritme penuh protes.
Seorang ibu melotot sambil berkata, "Mbak, es kopi susu saya mana? Udah cair nih esnya!"
Dan Anggi… berdiri di belakang mesin kopi dengan rambut acak-acakan seperti baru bertarung melawan tornado.
"AMORA!" teriak Anggi lega seolah baru melihat pasukan bala bantuan.
Amora melompat ke balik meja tanpa basa-basi. "Oke! Lo pegang kasir, gue ambil alih kopi!"
"Deal!" seru Anggi.
Amora menggerakkan tangannya seperti barista profesional (meski sebenarnya ia baru jago bikin kopi setelah sepuluh cangkir pertama selalu gagal). Tapi hari itu, mungkin karena adrenalin… atau mungkin karena sisa energi dari insiden pria misterius tadi, ia bekerja lebih cepat dari biasanya.
Tiba-tiba, di tengah kekacauan, terdengar suara pria yang dingin tapi familiar. "Espresso, double shot. Tanpa gula."
Amora menoleh, dan BOOM! Pria itu. Lagi.
Damian (meski Amora belum tahu namanya) berdiri di depan meja, masih dengan wajah datar tak tertembus emosi, seolah dunia di sekitarnya tidak lebih penting dari sepatunya yang rapi.
Amora refleks menjawab, "Baik, Pak!" sambil buru-buru membuat espresso dengan tangan agak gemetar. Entah karena grogi atau efek kafein berlebih.
Saat menyerahkan gelas kecil berisi espresso panas itu, mata mereka bertemu sejenak. Tatapan tajam pria itu seolah menilai… atau mungkin mengingat?
Amora mencoba bersikap santai. "Hati-hati, Pak. Panas… kayak tatapan Anda."
Hening. Anggi yang sedang memegang kasir hampir tersedak udara. Beberapa pelanggan melirik. Amora ingin menghilang.
Damian hanya mengangkat alis tipis, mengambil kopinya tanpa sepatah kata, lalu pergi begitu saja.
Begitu pria itu menghilang di balik pintu, Anggi membungkuk, tertawa tanpa suara sambil menepuk-nepuk meja. "PANAS KAYAK TATAPAN ANDA? SERIUS, MOR?"
Amora menutupi wajahnya dengan tangan. "Gue… nggak tahu kenapa mulut gue ngomong sendiri."
"Kayaknya lo bukan butuh kopi, tapi butuh reset otak," celetuk Anggi.
Dan hari itu, di tengah hiruk-pikuk kafe rumah sakit, Amora resmi mendapatkan julukan baru dari Anggi: "Ratu Gagal Pede di Depan Dokter Ganteng."
Setelah insiden "panas kayak tatapan Anda," Amora merasa hidupnya sudah mencapai puncak kegagalan sosial. Tapi seperti kata pepatah, "jika kamu pikir hidupmu sudah cukup memalukan, tenang saja… semesta selalu punya bonus."
Baru lima menit setelah Damian pergi, Amora masih sibuk memproses rasa malu yang membara di dada.
Anggi, yang belum bisa move on, terus nyengir sambil sesekali melempar komentar.
"Mor, serius deh, kalau lo jadi stand-up comedian, punchline lo tinggal ngomong kayak tadi. Dijamin penonton ngakak."
Amora melirik tajam. "Anggi, gue bawa sendok. Jangan coba-coba."
Belum sempat Anggi membalas, pintu kafe terbuka lagi.
Dan ya… ia kembali.
Damian berdiri di ambang pintu, ekspresinya masih datar, tapi kali ini ada yang berbeda. Ia melangkah mendekat, membawa gelas kopinya yang… ternyata tumpah sedikit di bagian tutup.
Amora langsung panik dalam hati. "ASTAGA! ADA APA LAGI NIH?"
Damian berhenti di depan meja.
"Mbak," katanya dengan suara tenang tapi tegas.
Amora refleks berdiri tegak seolah sedang menghadapi dosen killer di sidang skripsi.
"Iya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" suaranya sedikit melengking karena panik.
Damian mengangkat gelasnya sedikit. "Tumpah dan kebanyakan gula. Aku minta tanpa gula."
Amora menelan ludah. "Oh, maaf, Pak. Mau saya ganti?"
Damian mengangguk singkat. "Iya. Tanpa gula. Double shot. Awas jangan salah lagi," ucapnya dengan tatapan tajam.
Amora buru-buru membuatkan kopi baru, kali ini dengan level kehati-hatian yang setara operasi bedah. Saat menyerahkan kopi itu, ia memaksa diri tersenyum.
"Semoga kali ini tidak tumpah… kayak perasaan saya barusan. Dan yang pasti tanpa gula karena manisnya pindah pada Anda."
Hening lagi.
Anggi batuk pura-pura di belakang.
Damian hanya mengedipkan matanya sekali, lalu meraih kopinya tanpa komentar. Ia berbalik pergi.
Begitu Damian benar-benar keluar dari kafe, Amora menunduk ke meja, menggeleng-geleng tak percaya.
"Apa sih, Mor? Kenapa mulut lo kayak nggak ada filter?"
Anggi sudah tidak tahan lagi. Dia tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya keluar.
"LO TUH, YA… ini antara jodoh atau karma instan. Sumpah!"
Amora menutupi wajahnya dengan celemek. "Anggi, gue mau cuti dari kehidupan."
Tapi dalam hatinya, Amora sadar…
Ada yang aneh.
Bukan soal kopinya, bukan soal malu yang membara.
Tapi soal pria itu.
Kenapa setiap ia muncul, jantung Amora berdetak lebih cepat?
Dan kenapa, meski ia super judes dan dingin, Amora merasa… penasaran?
Seolah semesta berkata:
"Bersiaplah, Amora. Ini baru permulaan."
---
Setelah seharian penuh menghadapi pelanggan yang rewel, mesin kopi yang suka mogok, dan tentu saja… pria dingin tanpa ekspresi bernama “Eh Dia Lagi”, Amora akhirnya bisa pulang.
Dengan langkah lemas, ia membuka aplikasi ojek online di ponselnya sambil menggumam, "Semoga driver-nya nggak nyasar kayak hidup gue."
Tak lama, sebuah motor matic biru menghampiri. "Amora, ya?" tanya si driver.
Amora mengangguk, menaiki motor dengan semangat yang tinggal sisa-sisa. Begitu motor melaju, Amora membiarkan kepalanya bersandar di punggung driver (tentu dengan sopan), matanya menatap kosong ke jalanan yang dipenuhi lampu-lampu kota.
Di dalam pikirannya, Amora membayangkan dirinya duduk di kursi pijat mewah di sebuah rumah megah. Ia mengenakan jubah sutra, dengan wajah mulus tanpa jerawat bekas shift malam, sambil memegang secangkir kopi mahal yang bukan hasil bikin sendiri.
"Oh, Amora… hidupku sungguh sempurna," ia bergumam dalam lamunan, membayangkan ada suami tampan, kaya raya, dan—tentu saja—penuh perhatian yang berkata,
“Sayang, mau aku belikan pulau kecil buat kamu? Atau cukup jet pribadi dulu?”
Amora tertawa kecil sendiri.
Si abang ojek melirik dari kaca spion, bingung.
"Mbak, kenapa ya? Ada yang lucu?"
Amora kaget, sadar bahwa dia ketawa sendiri.
"Eh? Nggak kok, Bang. Cuma ingat… betapa lucunya hidup."
Lucu? Lebih tepatnya tragis. Karena begitu abang ojek melewati polisi tidur, Amora nyaris terlempar dari motor. Lamunan mewahnya buyar seketika.
Kenyataan datang tanpa permisi.
Dompetnya hampir kosong.
Besok kerja lagi.
Dan jet pribadi?
Ah, yang penting besok ada diskon di minimarket.
Sesampainya di rumah sederhananya, Amora turun, membayar ongkos, dan berjalan menuju kamarnya yang hanya cukup untuk satu kasur, satu lemari kecil, dan segunung cucian yang menatapnya penuh harap.
Ia duduk di lantai, menatap langit-langit.
"Ya Tuhan… aku cuma mau hidup enak. Susah banget, ya?"
Namun sebelum sempat meratapi nasib lebih lama, ponselnya berbunyi.
Anggi. Lagi.
"Amora! BESOK LO HARUS MASUK PAGI! Ada acara rumah sakit, katanya bakal rame banget! JANGAN TELAT! Kita dapat orderan mendadak."
Amora menghela napas panjang.
"Baik, Anggi… baik."
Setelah menutup telepon, Amora menatap ponselnya sejenak lalu menggumam, "Yah, siapa tahu besok aku ketemu jodoh kaya raya di rumah sakit. Kan nggak ada yang tahu."
Dan tanpa sadar, wajah pria dingin bermata tajam itu terlintas di kepalanya. Ia menggeleng cepat.
"Ah, nggak mungkin. Dia kan… terlalu dingin. Seperti freezer. Mana mungkin aku suka. Mana udah tua juga sih kayaknya tapi ganteng."
Amora lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia menatap langi-langit kamarnya sambil menengadahkan kedua tangannya, "Ya Tuhan, jika rezekiku berupa pria kaya, tinggi, tampan, tolong arahkan aku ke jalannya. Tapi jangan yang sudah nikah, ya. Nanti aku dosa, ribet urusannya. Duda juga nggak apa-apa kok. Tapi jangan dua tua bangka juga. Kalau bisa sekalian yang punya mobil mewah, rumah luas, dan suka beliin istri barang branded. Amin. Eh, tambahin juga… yang setia. Tapi ganteng. Tapi setia. Ganteng tapi nggak genit. Ya, pokoknya yang paket lengkap, ya Tuhan. Jangan seperti mantanku yang sialan parasit itu. Aku trauma. Aamiin ..."