Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Plaza Senayan City, Mall yang berada di Jakarta pusat. Hari ini pengunjungnya cukup ramai, namun tidak seperti hari weekend. Aurora memarkirkan mobil di parkiran.
Aurora kini turun dari mobil, pergi ke sisi sebelah mobilnya dan membukakan pintu untuk Luna.
"Silahkan Nona manis." Ucap Aurora kepada Luna sebari mengulurkan tangannya.
Luna menggapai genggaman tangan kakaknya, anak kecil itu berlagak seperti putri di negeri dongeng.
"Terima kasih dayang..." Ucap Luna, sambil menarik sedikit roknya ke atas seperti yang kerap ia lihat di cerita disney.
"Ayo putri, biar aku membawamu pergi mengelilingi seluruh penjuru negeri dongeng ini." Mendengar ucapan Aurora, seketika membuat Luna tertawa riang.
"Ha ha ha ha ha, kakak lucu, aku baru tau sekarang kalau kakak bisa bercanda." Melihat Luna yang tertawa terpingkal-pingkal membuat Aurora menjadi heran.
Wanita itu kemudian membuang muka ke arah lain karena merasa heran dengan adiknya. "Memang apanya yang lucu? Baru tau kalau ternyata aku bisa melawak? Memang iya kah?" Tanya Aurora kepada dirinya sendiri.
Aurora menggandeng lengan Luna, mereka berjalan sambil bernyanyi hingga memasuki mall. Aurora yang tampak senang, dan Luna yang tampak gembira di sisi sang kakak.
Ada penjual es krim di sana, Luna langsung berlari menarik kakaknya. Lalu mau tidak mau, ia pun kini pergi mengikuti sang adik.
"Kakak, Luna mau es krim ya." Tanya Luna dan di jawab anggukan oleh Aurora.
"Ok bos." Aurora memberikan hormatan tangan dan seketika membuat Luna kembali menertawakannya.
"Luna, pesanlah, kau mau yang apa?"
Anak kecil itu kemudian berpikir, "Pak, Luna mau semuanya..." Mendengar itu sang penjual langsung tersenyum senang. Namun tidak dengan Aurora.
Wanita itu berkacak pinggang dan menatap adiknya dengan tatapan tajam. "Aluna Darren Shen" Panggilnya dengan nada tegas.
Wajah Luna seketika langsung sedih, anak kecil itu kini mengeluarkan jurus terakhirnya. Yaitu puppy eyes. Terlihat imut sekali di mata sang kakak, sampai membuat Aurora tak tega jika harus menolak keinginannya.
Aurora kini bersimpuh di depan Luna untuk menyelaraskan tingginya dengan anak kecil itu.
"Dengar ya Luna, gigi kamu itu sudah sehat, kalau kebanyakan makan es krim nanti ompong loh. Mau kamu jadi kayak kakek yang ompong." Ucap Aurora dan Luna malah bersedekap dan memalingkan wajahnya dari sang kakak.
"Huhhhh, tapi kakek kan giginya masih utuh. Kakak lupa atau gimana sih." Ucap Luna dengan nada merajuk.
Aurora seketika langsung memalingkan mukanya masam, "Mana lah ku tahu, memang dia kakekku." Batinnya.
Tak mau berdebat lagi dengan adiknya, kini Aurora pun mengalah. "Baiklah, kakak pesankan kamu semua rasa. Tapi di campur! Ok." Mendengar itu, Luna yang sempat merajuk kini langsung bersorak kegirangan.
"Hore..." Ucap bocah itu sambil melompat-lompat kegirangan.
"Campur semua ya pak, sedikit-sedikit saja, yang cup kecil. Terus punya saya yang vanila aja. Yang cup besar."
"Siap Nona." Ucap Penjual itu dan langsung membuatkan pesanan Aurora.
"Ihhhh ini nggak adil." Anak kecil itu lagi dan lagi malah kembali merajuk.
Dari eskalator, seorang wanita berkaca mata hitam dengan pakaian modis turun dari lantai 2. Wanita itu kemudian menatap Aurora dan Luna.
Ia menurunkan kaca matanya, dan benar. Pandangannya memang tak salah.
"Aurora?" Ucapnya.
Wanita itu kemudian berlarian kecil menghampiri Aurora dan Luna.
Aurora kini tengah mengambil es krim yang ia pesan. "Terima kasih ya pak, tadi uangnya sudah qr." Ujar Aurora dan di jawab anggukan senyum oleh penjual itu.
"Terima kasih nona, jangan lupa mampir lagi."
"Asiap pak. Es krim ini enak..." ucap Luna dengan kegirangan.
"Ayo Luna..." Aurora kembali menggandeng lengan adiknya. Baru beberapa langkah ia berjalan, dirinya sudah di kejutkan dengan kehadiran seseorang.
"Aurora... Akhirnya kita bertemu lagi." Ucap wanita itu. Namun Aurora malah menatap sekitar, ia kemudian kembali menatap wanita itu dan menunjuk dirinya sendiri.
"Aku?" Tanyanya, yang kini malah membuat wanita itu bingung.
Luna kemudian menarik-narik lengan kakaknya, Aurora pun menunduk menatap Luna.
"Kak, itu kan kak Amel. Masa kakak juga lupa sama kak Amel." Ujar Luna sebari memakan es krim.
Amel yang merasa sakit hati lantaran di lupakan, kini langsung merasa kecewa berat. "Tega sekali kau melupakan sahabatmu ini." Melihat Amel yang seperti langsung membuat Aurora menatap datar ke arahnya.
"Aurora, hidupmu memang penuh dengan drama ya sepertinya." Ucap Aurora dalam hati.
Amel kini menggenggam kedua bahu Aurora erat-erat. "Ternyata benar apa yang di katakan oleh Anne. Kau ternyata memang dalam masalah besar." Ucapan itu benar-benar membuat Aurora merasa keheranan.
"Anne? Kau kenal dia?" Ucapan itu kembali membuat Amel menjadi sedih.
"Rora, tega sekali kau melupakan kami, aku ini Amel masa kau tidak mengenalku?"
"Aku ingat dia, dia yang di pesta itu. Dia juga yang mengenalkan Jordan pada Anne. Itu artinya, dia juga penghianat, aku harus waspada terhadapnya." Batin Aurora.
Aurora kini berdiri di hadapan Luna, seperti tengah melindunginya. Seolah ia takut akan terjadi sesuatu dengan mereka.
Amel yang melihat sahabatnya kini langsung kebingungan. "Aurora, kau ini kenapa? Sudahlah jangan main-main lagi." Ucap Amel dan setelahnya berdiri di samping Aurora.
Wanita itu kemudian merangkul Aurora, ia menatap sekitar. Menoleh ke kiri, ke kanan, ke samping bahkan belakang untuk memastikan semuanya aman entah dari apa.
Amel kemudian menarik kepala Aurora, keduanya kini menyelaraskan kepala mereka. Menunduk, dan Amel berbicara dengan berbisik-bisik.
"Kau, hanya datang bersama Luna kan?!" Bisik Amel, dan hal itu menimbulkan banyak pertanyaan di benak Aurora.
"Mengapa dia mencari Anne?" Batinnya.
Luna kini tampak kebingungan menatap mereka, anak kecil itu kembali menggaruk kepalanya.
Dari kejauhan, tampak Jordan dan Rumero yang mendekat ke arah mereka.
"AURORA, LUNA" Teriak Jordan dari kejauhan sebari melambaikan tangannya.
Luna yang melihat Jordan seketika langsung tersenyum girang. Anak kecil itu langsung berlari ke arah Jordan. Lalu memeluk kaki pria itu.
Jordan kini bersimpuh di hadapan Luna. "Luna, kau beli apa?" Tanya Jordan dan Luna langsung menyodorkan es krim miliknya.
"Es krim campur, kakak ganteng mau?"
Jordan kemudian mencubit pipi Luna gemas, Aurora menyusul adiknya. Amel masih mengikutinya dari belakang.
"Luna, kenapa kamu berlari meninggalkan kakak? Kalau jatuh bagaimana?" Ujar Aurora kepada sang adik.
Aurora kemudian menarik Luna kembali ke sisinya, dan Jordan pun langsung berdiri.
"Amel, kau di sini juga?" Sapa Rumero, dan wanita itu langsung kembali menarik Luna, menyuruh kedua pria itu untuk menjaga Luna.
"Memang Luna ini mobil mainan? Di tarik sana tarik sini." Luna menatap Amel datar, ia tak suka di perlakukan seperti itu.
Amel pun membungkuk, ia langsung meminta maaf kepada Luna. "Maaf ya sayang, namun ada hal penting yang harus kakak Amel ucapkan pada kakakmu."
Luna pun merajuk, "Huh..." Ucap Luna sambil bersedekap lalu berpaling dari Amel.
Amel pun langsung membenarkan posisinya, ia kemudian kembali merangkul Aurora.
"Kalian, tolong jaga Luna, aku ada urusan dengan Aurora."
"Apa?" Ucap Jordan dan Rumero bersamaan.
Tanpa pikir panjang, Amel langsung menarik Aurora pergi. Meninggalkan Luna yang kini bersama dengan Jordan dan Rumero.
BERSAMBUNG