Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.
Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.
Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA PULUH DUA
"Aargh! Pria kaku dan dingin. itu benar-benar tidak memberi ampun!"
Maki Amara membentuk kekesalan seraya menatap cermin rias di kamarnya. Pagi Senin yang cerah itu mendadak mendung bagi Amara ketika ia mendapati beberapa bercak keunguan di sekitar leher jenjangnya belum juga memudar. Selama Sabtu dan Minggu, Amara praktis menghabiskan waktu beristirahat di rumah. Begitu pula dengan Zain. Meski pria itu lebih banyak mengurung diri di ruang kerjanya, selama dua hari penuh itu Amara terus disuguhi kontras ajaib, sosok Zain yang secara fisik tampak cuek, tenang, dan sangat dingin, ternyata memiliki suara hati yang luar biasa berisik dan penuh kehebohan.
Namun, efek samping dari gairah tersembunyi suaminya kini tercetak nyata. Amara terpaksa menarik kerah kemeja kuliahnya tinggi-tinggi demi menyembunyikan Jejak keunguan itu sebelum berangkat ke kampus. Beberapa yang tak bisa di tutupi dipulas dengan konselor, berharap tak luntur oleh keringat.
Hari ini, jadwal perkuliahan dipadatkan dengan praktikum Toksikologi mengenai uji efektivitas dan sensitivitas obat. Praktikum tersebut digelar di Laboratorium Toksikologi gabungan antara Kedokteran dan Farmasi. Sebagai dosen pengampu utama, Profesor Kaellan Zain Alfatih memimpin jalannya praktikum, dibantu oleh Dila, asisten dosen laboratorium yang baru.
"Perhatikan konsentrasi reagen pada masing-masing tabung reaksi," ujar Zain tegas, suaranya yang berat dan mantap bergema di seluruh sudut laboratorium beraroma kimia tajam itu. "Satu tetes kesalahan perhitungan akan mengubah hasil observasi kalian secara total."
Amara yang berdiri di meja praktikum barisan tengah bersama Erin hanya bisa mencibir pelan. Mata Amara sesekali melirik Zain yang tampil teramat berwibawa dalam balutan jas laboratorium putih bersih.
Di luar, Zain menjelaskan materi dengan begitu lugas. Namun, saat tatapan matanya tak sengaja berselisih dengan Amara, gema batin pria itu mendadak berdesir jernih di dalam kepala Amara.
’Kerahnya sengaja ditutup begitu tinggi pasti untuk menutupi jejak gigitanku kemarin malam... Mengapa dia terlihat semakin cantik dan gemas kalau sedang cemberut begitu?’
Amara menahan napas, buru-buru memalingkan wajahnya dengan pipi yang memanas. Dasar pria mesum berkedok profesor dingin! batin Amara jengkel sekaligus tersipu.
Sesaat kemudian, suasana laboratorium mendadak gempar. Suara berdenting nyaring beradu dengan lantai keramik disusul bau menyengat yang menguar cepat dari meja kelompok depan.
Prang!
"Maaf, Prof! Tidak sengaja!" pekik seorang mahasiswa ketakutan.
Zain melangkah lebar mendekati kelompok tersebut, raut wajahnya mendingin seketika. "Tidak sengaja bukan alasan di laboratorium saya! Reagen yang kamu tumpahkan itu bersifat korosif dan berbahaya jika terhirup langsung tanpa masker! Buka jendela ventilasi sekarang dan bersihkan sesuai prosedur keselamatan!"
Ketegasan Zain membungkam seluruh ruangan. Di samping Zain, Dila, asdos baru berparas manis itu dengan sigap membantu mengondisikan mahasiswi yang panik, lalu berjalan di samping Zain untuk memeriksa kelompok lain.
Amara menggigit bibirnya erat-erat. Hatinya mendadak panas melihat betapa luwesnya Dila berinteraksi dan mengobrol dengan Zain. Sesekali Dila tersenyum ramah pada Zain, dan Zain menanggapi dengan anggukan pelan. Amara meremas botol pipet di tangannya dengan cengkeraman ketat. Ada rasa cemburu yang membakar, ditambah rasa kesal karena Zain sama sekali tidak melirik atau menghampiri mejanya.
"Ra, fokus dong," bisik Erin menyenggol lengannya. "Itu cairan asamnya jangan sampai tumpah."
"Iya, aku tahu," sahut Amara pendek, mengendalikan emosinya.
Namun, nasib naas justru menghampirinya. Saat Amara hendak memindahkan cairan larutan asam dosis rendah ke dalam tabung reaksi, tangannya yang gemetar akibat menahan kekesalan tak sengaja menyenggol pinggiran wadah. Satu kecerobohan berakibat fatal, Amara lupa memakai sarung tangan karetnya.
Crrr!
Cairan asam itu memercik keras, sebagian mengenai punggung tangan kanan Amara.
"Aduh!" ringis Amara refleks menarik tangannya, menahan rasa panas dan perih yang menyengat di kulitnya.
"Eh, Amara! Kamu tidak apa-apa?" seru Erin panik.
Bukan Zain yang pertama kali berlari menghampiri mejanya, melainkan Dila yang kebetulan berada tak jauh dari sana. Dila melangkah cepat membawa botol cairan netralisir dan tisu steril.
"Mana yang terkena cairan asam? Mari saya bantu bersihkan dulu," ujar Dila perhatian, meraih tangan Amara.
Amara menatap Dila dengan rasa ganjil yang menggumpal di dadanya. Tatapannya beralih pada Zain yang berdiri tak jauh di seberang meja, hanya menatapnya dengan raut wajah datar tanpa pergerakan berarti. Kekecewaan mendalam seketika merayapi batin Amara.
"Tidak apa-apa," pangkas Amara ketus, menarik tangannya secara kasar dari genggaman Dila. "Saya bisa bersihkan sendiri di wastafel. Tidak perlu dibantu."
Sikap tajam Amara membuat Dila tertegun kaku, merasa serba salah di hadapan para mahasiswa.
Zain yang menyaksikan penolakan itu melangkah mendekat dengan wajah mengeras. Pandangan matanya menatap Amara lurus-lurus dari balik kacamata tipisnya.
"Amara Putri Sanjaya," tegur Zain dengan suara bass yang amat dingin dan menekan. "Jaga sikapmu. Ibu Dila hanya berniat membantumu. Belajarlah untuk bersikap lebih sopan kepada dosen dan asisten di laboratorium ini."
Teguran terbuka di depan puluhan pasang mata itu menghantam dada Amara seperti gunung berat. Rasa malu, sakit di punggung tangannya, dan cemburu yang membakar berbaur menjadi sebuah rasa sesak yang tak lagi sanggup ia tahan.
Amara mengepalkan tangannya yang memerah, menatap Zain dengan pandangan terluka dan penuh amarah yang membara.
Sopan! jerit Amara dalam hatinya. Kamu membela wanita lain dan mempermalukanku di depan semua orang, Kak Zain?
Namun, di detik yang sama, tepat saat mata Zain mengunci pandangannya, sebuah jeritan batin yang panik dan frustrasi mendadak meledak dahsyat di dalam kepala Amara.
’Tuhan! Tangannya terluka! Aku ingin merengkuhnya dan membawanya ke keran air sekarang juga! Tapi kenapa lidah kaku ini malah menegurnya? Bodoh kamu, Zain! Bodoh! Dia pasti makin membenciku!’
Amara membeku mendengar suara hati suaminya yang sangat panik itu. Namun rasa sakit hati yang terlanjur menguasai emosinya membuat Amara enggan peduli lagi. Karena yang lainnya hanya tahu Amara tengah mendapatkan teguran keras dari profesor Zain.
"Maaf, Profesor," pangkas Amara dengan suara bergetar menahan tangis. "Saya permisi ke luar."
Tanpa menunggu izin dari Zain atau memedulikan panggilannya, Amara memutar tubuhnya dan berlari keluar dari pintu laboratorium, meninggalkan keheningan mendalam dan sosok Zain yang terpaku menatap punggung istrinya dengan rasa penyesalan yang membakar jiwa.