NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.

Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.

Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.

Balapan liar, berkelahi, membolos.

Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.

Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.

Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"

Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...

Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.

Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Setelah kejadian di makam, rumah itu kembali sunyi. Tapi sunyinya berbeda.

Jam 06.00 pagi, Sean turun dengan mata sembab. Ia takut Aditya akan memarahinya habis-habisan karena kabur semalam dan bikin heboh satu kompleks.

Di meja makan, hanya Alena yang ada dengan dua gelas susu cokelat hangat.

"Pagi jagoan sean," sapa Alena lembut.

Sean duduk pelan. "Bunda... Ayah mana? Apa dia marah denganku?"

Alena tertegun,rupanya Sean sudah menerimanya,dia fikir Sean memanggilnya ibu hanya karna sedang sedih saja.

Meskipun terlihat masih kaku dan canggung namun alena merasa hubungan mereka jauh lebih hangat dibandingkan sebelumnya.

Alena menggeleng, tersenyum menenangkan. "Ayah sudah berangkat tadi subuh,beliau ada dinas mendadak ke Surabaya, katanya 3 hari. Ayah titip pesan, kamu jangan kabur lagi."

Sean menghela napas lega, tapi juga ada kecewa kecil. Ayahnya pergi lagi.

"Ya sudah, sekarang minum susunya. Hari ini kamu tidak sekolah dulu, kita tepati janji kemarin. Kita belajar bareng, bagaimana sean apa kamu keberatan?

Sean mengangguk. "Beneran Bunda mau ajarin saya?"

"Beneran dong. Saya sudah siapin semuanya di perpustakaan."

Jam 09.00, di perpustakaan lantai dua.

Ruangan besar yang biasanya dingin dan kaku itu kini disulap Alena jadi tempat paling nyaman. Ada karpet bulu, papan tulis kecil, dan snack berjejer.

Hanya ada mereka berdua. Tidak ada Aditya.

"Bunda, saya anak yang bodoh. Percuma," keluh Sean saat melihat buku matematikanya yang penuh nilai 40.

Alena menarik kursi, duduk di sebelah Sean, sangat dekat. "Jangan bilang diri kamu bodoh lagi,saya tidak suka. Kamu bukan bodoh. Kamu cuma benci matematika karena setiap nilai jelek, Ayah marah. Ya kan?"

Sean kaget, karena tepat.

"Mulai hari ini kita tidak belajar untuk Ayah. Kita belajar untuk Mama. Biar Mama di surga bangga lihat kamu pinter. Dan untuk diri kamu sendiri, biar tidak ada yang berani panggil kamu bodoh lagi," ucap Alena sambil memegang tangan Sean.

Sean mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Caranya gimana Bunda? Susah?"

"Kita pakai cara curang," Alena mengambil spidol warna-warni. "Matematika itu kayak balapan motor. Kamu suka balapan kan? Soal ini tuh kayak tikungan terakhir. Kalau kamu ngerem terus kamu kalah. x ini tuh gasnya. Kita harus tahu kapan ngegas."

Dengan analogi motor, game, dan nasi goreng, Alena menjelaskan aljabar yang rumit jadi sangat mudah.

Sean yang biasanya ngantuk 5 menit, kali ini 2 jam matanya berbinar terus.

"WAH! Jadi x itu gigi motor ya Bunda! Kalau nanjak harus turun gigi! Gila Bunda pinter banget!"

"PINTEER! Anak Aditya Pradana memang pintar dan memang harus pintar.Ayahmu seorang ceo yang siapapun orang yang mengenal dia akan takjub karna sepak terjangnya di dunia bisnis,selain itu dia juga seperti singa yang ditakui orang-orang.Nah Sean kamu jadilah singa seperti Aditya Pradana." Alena menepuk pundak Sean dengan penuh keyakinan.

Sean tertawa malu. Sudah lama sekali tidak ada yang memujinya pintar.

Mereka belajar sambil bercanda. Sean jahil mencoret hidung Alena dengan spidol pink. Alena pura-pura marah lalu menyuapi Sean dengan kue cokelat.

Tawa mereka berdua memenuhi perpustakaan yang selama 2 tahun sepi itu.

"Bunda, kalau aku dapat 80 ujian minggu depan, Bunda kasih apa?" tanya Sean iseng.

" Kasih apa ya?" Aalena terlihat berpikir. "Bunda kasih peluk gratis seumur hidup?"

"Ih geli!" Sean pura-pura jijik tapi wajahnya merah.

"Kalau 90?" Sean nantang.

Alena berbisik seperti rahasia. "Kalau 90, Bunda bikinin bekal tiap hari dengan surat cinta di dalamnya. Bunda tulisin 'Semangat jagoan Bunda!'"

Sean terdiam. Bekal dengan surat cinta... itu yang selalu dibuat Mamanya dulu.

"Bunda janji?" suara Sean kecil.

Alena mengulurkan kelingkingnya. "Janji. Janji Bunda Alena."

Sean mengaitkan kelingkingnya erat. Janji pertama mereka sebagai ibu dan anak. Tidak ada Aditya di sana. Hanya mereka berdua yang saling menguatkan.

---

Di tempat lain.

Bukan di Surabaya.

Sebuah rumah modern minimalis yang tersembunyi di area Senopati. Rumah rahasia Aditya. Tidak ada satu pun yang tahu alamat ini kecuali Rendra, asisten pribadinya.

Di dalam ruang kerja yang gelap, Aditya duduk dengan kemeja yang masih sama sejak semalam. Di depannya ada laptop mati, dan di tangannya ada foto Riana, mendiang istrinya.

Sejak pulang dari pemakaman semalam, pikiran Aditya berkecamuk. Sangat berkecamuk.

Suara tangisan Sean di depan makam Riana terus terngiang di kepalanya.

"Sejak Mama nggak ada, Ayah nggak pernah peluk Sean lagi! Rumah itu dingin banget, Ma!"

"Sean takut kalau sayang Bunda Alena, Sean ngelupain Mama..."

Aditya memukul mejanya keras. "Bangsat!! aku ayah macam apa!

Ia merasa gagal. Ia merasa bersalah pada Riana. Selama 2 tahun ia pikir dengan bersikap dingin dan keras, Sean akan jadi kuat. Ternyata ia justru membuat anaknya merasa tidak disayangi.

Dan kemudian... Alena.

Wajah Alena yang menangis sambil memeluk Sean di bawah hujan. Cara Alena berbisik, "Bunda di sini bukan untuk gantiin Mama kamu..."

Aditya memejamkan mata. Sejak kapan istri mudanya yang ia nikahi karena perjodohan bisnis itu menjadi begitu... keibuan? Begitu tulus?

Ponselnya bergetar. Rendra.

"Halo Pak. Sesuai perintah, saya masih di depan rumah utama. Ibu Alena dan Sean masih di perpustakaan dari jam 9 pagi sampai sekarang. Mereka belajar, Pak. Terdengar suara tertawa."

Aditya diam lama.

"Terus awasi. Jangan sampai mereka tahu saya tidak di Surabaya. Dan... pastikan mereka makan siang. Suruh Mbak Siti antar makanan ke atas," perintah Aditya dengan suara dingin, tapi ada perhatian di dalamnya.

"Baik Pak. Apa Bapak tidak pulang saja? Ibu Alena tadi malam juga kehujanan..."

"Jangan banyak tanya, Rendra! Lakukan saja!" bentak Aditya, lalu mematikan telepon.

Aditya kembali menatap foto Riana.

"Riana... aku harus gimana? Aku lihat Alena bisa buat Sean tertawa lagi... tertawa yang tidak pernah aku lihat selama 2 tahun... Aku harusnya senang, tapi kenapa dadaku sesak begini? Kenapa aku tidak suka lihat anakku lebih dekat dengan dia daripada denganku?"

Itulah kecamuknya. Aditya cemburu. Cemburu pada kedekatan Alena dan Sean. Dan ia juga mulai merasakan sesuatu yang berbahaya pada Alena. Rasa kagum yang mulai berubah.

Aditya berdiri, berjalan ke jendela. Dari jauh, ia bisa melihat langit mendung.

"Alena... kamu itu siapa sebenarnya? Kenapa kamu bisa bikin rumah dingin itu jadi hangat lagi?"

Aditya memutuskan tetap bersembunyi. Ia belum siap pulang. Ia belum siap menghadapi kenyataan bahwa ia merindukan tawa di rumahnya, tapi ia juga takut pada perasaan barunya sendiri.

Ia hanya bisa meminta Rendra terus mengawasi dari jauh, memastikan istri muda dan anaknya itu baik-baik saja, sambil ia berperang dengan pikirannya sendiri di rumah rahasia itu.

Malam itu, di rumah utama, Sean tertidur di atas buku dengan kacamata belajar masih terpasang setelah belajar 4 jam penuh tanpa disuruh.

Alena menyelimutinya dengan lembut.

"Tidur yang nyenyak ya pahlawan Bunda. Besok kita lanjut lagi. Bunda bangga banget sama kamu."

Alena tidak tahu, di luar gerbang, mobil Rendra masih terparkir, melaporkan semua itu pada Aditya yang masih terjaga di rumah rahasianya dengan pikiran yang berkecamuk.

Bersambung...

1
Atha Diyuta
trimakasih kk😊
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
Atha Diyuta
Karya terbaruku bantu ramaikan teman-teman ☺️☺️
Atha Diyuta: oke siap ka diperbaiki trimakasih kk ☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!