Astrid mengorbankan segalanya untuk keluarga. Namun, pengorbanannya justru dibalas dengan hinaan.
Setelah melahirkan, tubuh Astrid berat badannya naik drastis hingga membuat Lucas, suaminya yang seorang dokter, merasa malu memiliki istri sepertinya. Tak hanya itu, Marta, sang mertua, juga menganggap Astrid sebagai wanita tidak berguna karena tidak memiliki pekerjaan maupun prestasi yang bisa dibanggakan.
Puncaknya terjadi saat Lucas dan Marta mempermalukannya di depan banyak tamu undangan. Harga dirinya diinjak-injak tanpa belas kasihan, seolah seluruh pengorbanannya selama ini tidak pernah berarti. Hari itu, Astrid memutuskan untuk berhenti menangis.
Dengan bantuan Mateo, Astrid bangkit dan mengubah hidupnya. Saat satu per satu kesuksesan berhasil diraihnya, orang-orang yang dulu merendahkan mulai menyadari kesalahan mereka.
Kini giliran mereka yang memohon, sementara Astrid tak lagi peduli. Karena ada penghinaan yang bisa dimaafkan, tetapi tidak pernah bisa dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Astrid mengernyit heran saat ponselnya berdering. Nama Mateo muncul di layar. Ia segera menggeser ikon hijau untuk menerima panggilan. Sudah tiga hari ini pria itu sibuk di luar kantor, sehingga mereka jarang sekali bertemu.
"Kenapa?" tanyanya sambil tetap merapikan beberapa dokumen di atas meja kerjanya.
Di seberang sana terdengar tawa pelan Mateo. "Aku sudah ada di bawah. Ayo, kita pulang bersama!"
"Kenapa kamu tidak naik ke atas?" tanya Astrid heran dan menahan tawa.
"Malas harus naik turun lift," jawab Mateo setelah mengembuskan napas.
Astrid melirik jam di sudut layar komputernya, lalu menghela napas kecil. "Memangnya urusan kamu sudah beres?"
"Tinggal sedikit lagi. Sisanya diurus oleh Andrew," jawab Mateo santai, meski sebenarnya ia memang sengaja datang ke kantor dulu agar bisa pulang bersama Astrid.
Senyum tipis terbit di wajah Astrid. "Baiklah. Tunggu sebentar, ya."
"Aku tunggu."
Lima menit kemudian, Astrid keluar dari lobi gedung kantor sambil membawa tas laptop dan beberapa map proyek. Dari kejauhan, Mateo sudah berdiri di samping mobilnya. Begitu melihat Astrid, ia langsung menghampiri tanpa banyak bicara.
Belum sempat Astrid bereaksi, Mateo sudah mengambil tas laptop dari bahunya.
Astrid refleks menahan tali tas itu. "Aku bisa bawa sendiri."
Mateo tetap menarik tas itu dengan santai hingga berpindah ke tangannya. "Aku tahu."
"Lalu kenapa diambil?"
Pria itu menoleh sambil tersenyum tipis. "Anggap saja aku lagi olahraga."
Astrid menggeleng pelan, lalu terkekeh geli. "Dasar. Selalu ada saja alasannya."
"Kalau aku bilang ingin bantu, nanti kamu malah nolak."
Astrid hanya mengembuskan napas sambil tersenyum kecil. Ia sudah terlalu mengenal sifat sahabatnya itu. Kalau Mateo sudah memutuskan membantu, hampir mustahil membuatnya berubah pikiran.
Mereka berjalan berdampingan menuju area parkir. Beberapa karyawan yang baru pulang memperhatikan keduanya. Ada yang saling berbisik, ada pula yang tersenyum penuh arti.
"Bos Mateo selalu menaruh perhatian lebih kepada Astrid."
"Iya. Mungkin karena banyak sekali memberikan keuntungan pada perusahaan. Banyak klien yang puas dengan desain hasil Astrid."
"Jika jadi pasangan, mereka itu cocok."
Bisikan itu memang pelan, tetapi masih sempat tertangkap oleh telinga Astrid. Ia hanya tersenyum canggung tanpa memberi penjelasan. Sementara Mateo pura-pura tidak mendengar, meski diam-diam sudut bibirnya sempat terangkat.
Padahal kenyataannya jauh berbeda. Mateo menyimpan perasaan yang telah bertahun-tahun ia pendam rapat di dalam hati. Ia memilih tetap berada di sisi Astrid sebagai sahabat, karena baginya melihat wanita itu tersenyum sudah lebih dari cukup.
Sedangkan Astrid sama sekali tidak pernah memandang Mateo sebagai lelaki yang diam-diam mencintainya. Di matanya, Mateo adalah sahabat terbaik yang selalu hadir setiap kali hidupnya berada di titik paling sulit.
Malam mulai turun ketika mobil mereka memasuki area parkir tempat penitipan anak untuk menjemput Ariana. Gadis kecil itu langsung berlari dengan langkah kecil yang masih sedikit oleng.
"Om Teooo ...!" Suara cadelnya memecah keheningan.
Mateo langsung berjongkok sambil membuka kedua tangannya. "Om kangen sekali sama kamu, Ariana."
Ariana tertawa riang lalu memeluk leher pria itu erat-erat. Mateo mengangkat tubuh mungil itu dengan mudah.
"Om kangen aku, ya?"
"Iya." Mateo tersenyum lebar lalu mencium pucuk kepala gadis kecil itu.
Ariana mengangguk cepat. "Ana juga kangen Om Teo."
Astrid yang berdiri beberapa langkah di belakang hanya bisa tersenyum hangat melihat kedekatan mereka. "Dia memang selalu tanyain kamu. Itu karena kamu yang terlalu memanjakan dia."
Mateo menoleh sambil masih menggendong Ariana.
Mateo pura-pura berpikir. "Hmm ... apa benar begitu, Ariana?"
Ariana ikut terkikik meski tidak benar-benar mengerti percakapan orang-orang dewasa di sekitarnya.
Mereka kemudian berjalan menyusuri koridor menuju dua unit apartemen yang letaknya berdampingan di lantai atas. Sebelum Astrid sempat membuka pintu, Mateo sudah lebih dulu mengambil beberapa kantong belanja yang tadi diletakkan di dekat pintu lift.
"Mateo, tung—"
"Aku bawakan sekalian."
"Nanti kamu jadi kebiasaan."
Mateo tersenyum santai. "Nggak apa-apa."
Astrid akhirnya menyerah. "Baiklah. Terima kasih."
Begitu memasuki apartemen, Ariana langsung melompat turun dari gendongan Mateo. Ia berlari kecil menuju ruang keluarga.
"Mama ... main, yuk!"
Dalam hitungan detik, berbagai mainan milik Ariana sudah keluar dari keranjang. Boneka, balok warna-warni, puzzle. Semua berpindah ke lantai.
Astrid menghela napas sambil mengusap dahinya. "Ariana ...."
Gadis kecil itu mendongak. "Iya, Mama?"
"Mainnya satu-satu ya, Sayang."
"Iyaaa ...!"
Jawaban Ariana terdengar panjang dan cadel. Namun, kedua tangan mungilnya justru sibuk mengambil mainan lain.
Mateo tertawa pelan melihat tingkahnya. "Biarkan saja. Nanti aku bantu bereskan."
Astrid menggeleng sambil tersenyum pasrah. "Dia memang jago bikin rumah berantakan."
"Tapi juga jago bikin rumah terasa hidup," lanjut Mateo.
Kalimat itu membuat Astrid menoleh sebentar. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan setiap kali Mateo berbicara tentang Ariana.
"Terima kasih," ucap Astrid tulus.
Mateo hanya mengangguk kecil.
Astrid kemudian berjalan menuju dapur. "Aku ambil minum dulu."
"Oke."
Mateo masih sibuk menyusun beberapa kotak belanja di atas meja makan. Sementara Ariana terus asyik memainkan balok-balok kecilnya.
Astrid berbalik sambil membawa dua gelas. Namun tanpa ia sadari, sebuah balok mungil tepat berada di bawah telapak kakinya.
Krek.
"Aaaaa ...!" Tubuh Astrid langsung kehilangan keseimbangan.
Mateo refleks menoleh. Dia pun bergerak cepat. Dalam satu langkah panjang, ia berhasil menangkap lengan Astrid sebelum wanita itu terjatuh.
Namun, karena dorongan tubuh yang terlalu kuat, keseimbangan Mateo ikut goyah. Tubuh mereka sama-sama terdorong ke depan. Lalu ...
***
Terima kasih untuk doa kalian semua. Alhamdulillah, kondisiku sudah jauh lebih baik. Insya Allah bulan depan sekali lagi ke dokter.