Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Di dalam ruang kuliah yang hangat, Irysh Whitman masih belum menyudahi aksi godaannya.
Begitu duduk berdampingan di jajaran kursi belakang, gadis berkulit porselen itu menyenggol lengan Parrie dengan senyuman miring yang penuh arti.
Matanya melirik nakal, mengamati leher Parrie yang tertutup rapat oleh kerah kemeja tingginya.
"Katakan! Apa kalian melakukannya semalaman penuh? Apa ini pertama kalinya?" desak Irysh seraya menggerakkan kedua alisnya naik-turun, berusaha memancing rasa malu sahabat barunya itu.
Parrie menghela napas panjang, mencoba menetralkan rona merah yang sudah menjalar hingga ke ujung telinganya. Alih-alih menghindar, Parrie memutuskan untuk bersikap jujur.
"Tidak..." cicit Parrie pelan.
"Kami... kami sudah saling mengenal sejak enam bulan yang lalu. Dan kami baru kembali bersama setelah sempat berpisah sebulan yang lalu."
Irysh membelalakkan matanya sempurna, menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Oh, gila!! Jadi itu bukan yang pertama kali?! Ah, aku mengira... kau tahu, caramu berjalan hari ini benar-benar membuatku iri! Pantas saja Kaetos menatapmu seperti ingin menelanmu hidup-hidup!"
Parrie berusaha keras untuk tidak bersikap canggung. Ia sudah cukup paham tabiat Irysh—seorang gadis kaya yang cerewet, blak-blakan, namun memiliki hati yang sangat tulus.
"Ah, tidak... aku malu, Irysh," gumam Parrie seraya menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan.
"What? Kau malu?" cercah Irysh tak percaya, tertawa kecil melihat kepolosan Parrie.
"Jangan bertingkah semalu itu! Aku malah khawatir kau akan langsung dibanting Kaetos di atas ranjangnya nanti malam kalau terus-terusan menggemaskan begini!"
Tawa mereka berdua pun meledak halus di sudut ruangan, mencairkan seluruh ketegangan yang sempat melingkupi mereka sejak dari area parkir tadi.
Parrie akhirnya bisa bernapas lega, menyandarkan punggungnya di kursi sambil menunggu dosen pengampu matakuliah pagi itu datang.
Namun, saat Parrie meraba bagian dalam tas punggungnya untuk mengambil buku catatan penting, jemarinya hanya menyentuh ruang hampa.
Gadis itu tersentak pelan. Ia baru teringat bahwa buku modul utamanya masih tertinggal di dalam loker pribadi yang berada di lorong gedung perkuliahan.
"Irysh, aku keluar sebentar ya," pamit Parrie seraya bangkit dari duduknya.
"Mau ke mana? Dosen sebentar lagi masuk," sahut Irysh menahan lengan Parrie.
"Aku melupakan bukuku di loker. Cuma sebentar, sebelum dosennya tiba," jawab Parrie tersenyum tipis.
Parrie melangkah keluar dari ruang kelas. Namun, baru tiga langkah melewati ambang pintu, ia langsung dihadapkan dengan sosok sang kekasih, Kaetos Ashford, yang baru saja hendak masuk ke dalam kelas bersama dua sahabatnya, Kendrick dan Marvel.
Kaetos menghentikan langkahnya tepat di depan Parrie.
Pandangan mata tajam pria itu seketika melunak, menebarkan pendar kehangatan yang hanya diperuntukkan bagi Parrie.
"Mau ke mana? Ayo masuk, dosennya sudah berjalan di ujung lorong," tutur Kaetos pelan, mengusap bahu Parrie dengan lembut.
Parrie menganggukkan kepalanya pelan. "Sebentar, Kae... aku harus ke loker. Buku modulku tertinggal di sana."
Kaetos menatap lorong gedung yang mulai sepi, lalu mengangguk paham.
Sebuah senyuman hangat dan amat tampan terukir di bibirnya. "Baiklah. Segera kembali, hati-hati Honey."
"Iya," jawab Parrie manis sebelum berbalik dan melangkah cepat menuju lorong loker mahasiswa.
Lorong loker gedung utara terasa sangat sepi dan lengang.
Sebagian besar mahasiswa sudah masuk ke dalam ruang kelas masing-masing. Langkah kaki Parrie bergema halus di atas lantai granit saat ia mendekati barisan loker logam berwarna abu-abu.
Parrie memasukkan kunci, memutarnya hingga terdengar bunyi klik, lalu menarik pintu besi itu.
Namun, bau menyengat yang amis dan membusuk seketika menyeruak keluar, mengusik indra penciumannya. Parrie mengerutkan dahi.
Di dasar lokernya, tergeletak sebuah kotak karton berwarna cokelat yang sedikit basah.
Parrie bukan gadis penakut yang akan menjerit histeris hanya karena kejutan murahan. Tanpa ragu atau gemetar, dengan tenang Parrie meraih dan membuka penutup kotak tersebut.
Di dalamnya, tergeletak seekor bangkai tikus hitam berukuran besar dengan darah kering yang mengotori dasar kotak. Namun, bukan bangkai hewan itu yang membuat dada Parrie bergemuruh hebat, melainkan selembar kertas putih kusut yang dilipat rapi di sampingnya.
Parrie mengambil kertas itu dan membuka lipatannya. Tulisan tangan bercetak tebal dengan tinta hitam terpampang jelas di sana:
"Daddy tahu kau mendengar semuanya! Daddy tidak menyangka kau akan tahu secepat ini. CCTV mansion menunggu mu kembali malam ini, putriku."
DUARRR!
Bagaikan disambar petir di siang bolong, seluruh darah di dalam tubuh Parrie rasanya membeku seketika.
Pesan itu... pesan itu datang dari ayahnya—pria yang memimpin keluarga Ford! Ayahnya tahu bahwa Parrie mendengar semuanya!
Belum sempat Parrie menguasai rasa syoknya—
SRET!
Dari arah belakang, tanpa ada peringatan sama sekali, sebuah jemari mencengkeram kasar helaian rambut panjang Parrie!
Rambut halusnya dijambak dengan sangat hebat hingga kepala Parrie terlempar ke belakang secara paksa.
"Aww!" pekik Parrie kesakitan, refleks melepaskan kotak di tangannya hingga terjatuh ke lantai.
"Kau pikir kau bisa melenggang bebas setelah apa yang kau lakukan, hah?!" suara melengking penuh dendam menggema di lorong sepi itu.
Si gadis berambut merah muda—Jessica Vance—berdiri di belakang Parrie dengan wajah yang rusak oleh rasa benci.
Di sampingnya, berdiri sosok Julian Vance dengan tatapan mata yang dingin dan licik.
Parrie berusaha membalikkan badan dan membalas cengkeraman itu, namun lorong loker yang sepi memberikan ruang gerak yang sangat leluasa bagi kedua musuhnya.
Julian bergerak secepat kilat.
Pria itu menyergap tubuh Parrie dari belakang, mengunci kedua tangan Parrie yang berontak, lalu membungkam hidung dan mulut Parrie menggunakan sebuah sapu tangan tebal yang sudah dibasahi cairan kimia beraroma menyengat.
Bius!
"Mmph! Mmpphh!!"
Parrie membelalakkan matanya, berontak secara liar. Ia menendang-nendang udara, mencoba menyiku perut Julian dengan sisa kerangka tenaganya.
Bau menyengat itu merayap masuk memenuhi paru-parunya, membuat pandangan matanya perlahan-lahan mengabur dan kesadarannya merosot tajam.
Jessica tertawa puas, suara tawanya bergema jahat di lorong yang sunyi. Melihat Parrie yang mulai lemas dan terkulai di atas lantai, Jessica melangkah mendekat.
Dengan gerakan kaki yang kasar dan emosional, Jessica menginjak perut dan dada Parrie yang terbaring tak berdaya.
"Rasakan ini, Bitch!" maki Jessica seraya menekan ujung high heels-nya ke tubuh Parrie, meluapkan seluruh dendam dan rasa kesalnya karena beberapa hari lalu pernah dibuat babak belur oleh Parrie di kampus.
"Kau pikir karena kau bersama Kaetos, kau bisa bersikap tinggi di depanku?!"
Parrie merintih lirih, pandangannya semakin gelap. Tubuhnya melemah di atas lantai granit yang dingin.
Dalam sisa-sisa kesadarannya yang kian menipis, bayangan ketakutan melintas di kepalanya. Ia teringat kembali perkataan Kaetos tempo hari mengenai reputasi kelam Julian—bahwa pria licik itu sanggup melakukan tindakan tak beradab pada seorang wanita hingga korban terbangun dalam kondisi hancur tak berdaya.
Kae... tolong aku...batin Parrie meratap dalam kegelapan yang kian mendekat.
Tepat saat Julian hendak mengangkat tubuh lemas Parrie untuk dibawanya pergi—
"HEY! Apa yang kalian lakukan di sana?!"
Sebuah suara tegas dan melengking memecah keheningan lorong dari ujung koridor. Langkah kaki dengan hak sepatu yang ketat berderap cepat mendekati lokasi mereka.
Julian tersentak kaget. Ia mendongak dan melihat sosok wanita berpakaian formal dengan kacamata bertengger di hidungnya sedang berjalan cepat menuju mereka dengan raut wajah murka.
"Ayo pergi! Dia dosen!" seru Julian panik.
Julian langsung menarik kasar tangan Jessica yang masih emosi dan hendak menendang Parrie sekali lagi.
"Lepaskan aku, Julian! Aku belum selesai dengannya!" amuk Jessica.
"Bodoh! Kau mau kita dikeluarkan dari kampus ini?! Ayo cepat!" bentak Julian seraya menyeret Jessica melarikan diri menembus pintu darurat lorong sebelum sang dosen berhasil mengenali wajah mereka secara jelas.
Lorong itu kembali hening, menyisakan Parrie yang terkapar lemah di atas lantai, terengah-engah menghirup udara bersih.
Dosen muda yang tampak sangat cantik dan berwibawa itu berlari kecil menghampiri Parrie. Ia berlutut di sebelah tubuh Parrie, mengangkat kepala gadis itu dengan penuh kehati-hatian.
"Hey? Heii, kau tidak apa-apa?! Dengar suaraku?" panggil dosen muda itu dengan suara cemas.
"Uhuk! Uhuk... uhuk!" Parrie terbatuk-batuk hebat, dadanya naik-turun memburu.
Sisa senyawa bius masih menyiksa tenggorokannya, dan rasa sakit di kepalanya akibat jambakan keras tadi membuat air matanya menetes perlahan membasahi pipi.
Parrie menatap langit-langit lorong dengan pendar mata yang basah dan bergetar. Ia baru saja lolos dari bahaya yang teramat mengerikan.
Hampir saja... hampir saja hidup dan harga dirinya berakhir dengan mengenaskan di tangan Julian dan Jessica jika dosen muda di hadapannya ini tidak datang tepat pada waktunya.