"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Pov Danu pengungkapan
"Dosa apa, Mama, sampai bisa melahirkan anak nggak berguna sepertimu."
Aku tercekat saat wanita yang sudah mengandungku selama sembilan bulan itu seolah menyesal telah melahirkanku ke dunia. Selama ini aku memang tidak selalu menjadi anak yang bisa dibanggakan, tetapi mendengar kalimat seperti itu langsung dari mulut Mama tetap membuat dadaku terasa sesak. Suaranya terdengar bergetar, berbeda dari biasanya, seolah kalimat tadi keluar setelah menahan kekecewaan yang terlalu lama.
"Bener. Aku juga malu punya kakak seperti dia."
Kali ini Ghina ikut menimpali. Selama ini aku memang sering bertengkar dengannya, tetapi semua itu sebagai wujud kasih sayang antara adik dan kakak. Kami memang sering saling mengejek dan berselisih, tetapi aku tahu semua itu tidak pernah benar-benar mengubah rasa sayangnya padaku. Namun, kali ini rasanya ada sesuatu yang berbeda. Tidak ada nada bercanda ataupun keusilan yang biasanya selalu menyertai ucapannya. Kedua tangannya bahkan saling menggenggam erat di depan tubuhnya.
Aku diam sambil menunggu satu orang lagi mengatakan sesuatu kepadaku. Aku berharap lelaki itu akan memberikan penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sayangnya, sama seperti Ghina dan Mama, dia justru menjadi orang yang paling tajam bicaranya.
"Sesama lelaki, aku bahkan nggak tahu harus menyebutmu sebagai laki-laki atau bukan. Martabatmu sendiri seolah nggak ada harganya."
Aku mengembuskan napas pendek. Kalimat itu terasa lebih menyakitkan karena datang dari lelaki yang selama ini tidak pernah sembarangan menegurku. Tidak ada nada bercanda sedikit pun. Suaranya berat dan tegas, membuatku semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Jangan-jangan Dinda sudah menghasut keluargaku untuk membenciku. Bukan tanpa alasan aku berpikir seperti itu. Mereka semua memang sangat menyayangi wanita itu. Bahkan sejak awal pernikahan kami, Dinda sudah lebih mendapatkan tempat tersendiri di keluarga ini.
"Kenapa kalian berbicara seperti itu? Apa hakku sebagai anak dan kakak sekarang sudah tergantikan oleh wanita itu?" tanyaku.
Aku bisa melihat perubahan raut wajah mereka setelah mendengar pertanyaanku. Mama menghela napas, sementara Papa masih berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Ghina justru langsung mengernyit seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan.
Tak lama kemudian, suara Ghina terdengar. "Kakak bilang wanita itu? Kakak sadar nggak kalau dia itu istrimu?"
"Lalu kenapa? Aku tahu dia istriku, meskipun belum sah secara hukum," jawabku. "Lagipula, aku sudah bilang, wanita yang aku cintai itu Belinda, bukan dia."
"Aku nggak sangka lelaki seperti Kakak bangga sekali mencintai wanita yang bahkan bermain api di luar."
Aku baru saja hendak menyela, tetapi Ghina belum berhenti sampai di situ. Dia menarik napas sebelum melanjutkan, seolah sedang berusaha menahan emosi yang sejak tadi memenuhi kepalanya.
"Kakak itu penerus perusahaan Danu, lulusan fakultas ternama, nilai bahkan cumlaude." Ghina menahan tawanya, tetapi nada suaranya jelas mengejek. "Tapi kalau soal percintaan, bodoh. Memang benar, cinta bikin orang buta mata dan buta hati."
Aku meradang mendengar hinaannya. "Cukup, Ghina!" teriakku sambil mengangkat tangan. Ingin sekali memberikan tamparan di wajahnya, tapi aku menahan semuanya.
"Selama ini aku diam karena kamu adikku. Kamu kira aku nggak tahu apa yang kamu lakukan pada Belinda beberapa hari yang lalu? Kamu sengaja membawanya bertemu dengan teman-temanmu dan mempermalukannya," ungkapku berniat menegur Ghina.
Tapi jawaban adikku seolah menantang batasanku.
"Oh, jadi wanita itu cerita?"
"Dia punya nama, Belinda!" seruku karena nggak terima mendengar Ghina menyebutnya sebagai "wanita itu".
"Jadi, Kakak bisa menyebut namanya juga."
Aku hendak membalas lagi, tetapi suara Papa terdengar menyela kami.
"Kamu seperti anak kecil, Danu!"
"Pa, Ghina yang memulai duluan," jawabku, masih kesal.
"Daripada kamu berdebat soal hal yang nggak penting seperti itu, lebih baik fokus ke inti masalah," sahut Papa dengan nada meninggi. Telapak tangannya sempat menghantam permukaan meja, membuat percakapan kami terhenti sejenak.
Benar juga. Aku sendiri masih penasaran kenapa keluargaku tiba-tiba menjadi musuhku. Sejak tadi mereka terus menyudutkanku, bahkan sampai mengatakan hal-hal yang belum pernah kudengar dari mereka sebelumnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kalian begitu membenciku?"
Pertanyaanku membuat ruangan kembali sunyi. Mama dan Papa saling bertukar pandang, sedangkan Ghina memilih menundukkan kepala. Beberapa saat kemudian, Mama meraih sebuah amplop berwarna cokelat yang sejak tadi berada di sampingnya.
Aku mengernyit ketika Mama menyerahkan beberapa lembar foto dari dalam amplop itu kepadaku. Begitu melihat isinya, tanganku spontan berhenti bergerak. Aku mengambil seluruh foto tersebut dan memperhatikannya satu per satu. Perasaan tidak enak yang sejak tadi mengganjal tiba-tiba semakin kuat.
"Dan, Belinda nggak sebersih yang kamu kira. Kamu lihat foto-foto itu. Dia selingkuh, Dan."
Aku mencengkeram foto yang ada di tanganku. Sulit rasanya menerima apa yang sedang kulihat. Selama ini aku selalu yakin bahwa Belinda adalah wanita yang kucintai. Aku bahkan rela melakukan banyak hal demi bisa bersamanya.
"Itu wujud wanita yang kamu cintai segenap jiwa."
Suara Ghina kali ini terdengar lebih pelan. Tidak ada ejekan seperti sebelumnya. Justru perubahan nada itu membuat perkataannya terasa semakin menusuk.
Aku kembali memperhatikan foto-foto tersebut tanpa mampu langsung memberikan jawaban. Namun, aku tidak boleh begitu saja percaya. Bisa saja foto ini hasil editan yang sengaja dibuat untuk menghancurkan hubunganku dengan Belinda.
"Mama, dari mana Mama memesan tukang edit ini? Bilang sama dia, gambar ini kurang bagus," ucapku.
Ghina mendengkus. "Kamu benar-benar sudah nggak ketolong, Kak."
"Ghina, diam, ya! Sekarang suruh wanita itu keluar. Gara-gara dia, hubungan keluarga ini bakal hancur!"
"Danu! Kalau kamu nggak percaya dengan foto itu, kamu bisa konfirmasi sendiri. Dan ini semua nggak ada hubungannya dengan Dinda!" beber Papa.
Aku benar-benar nggak percaya. Entah ilmu sihir apa yang digunakan Dinda sampai keluargaku bisa seperti ini. Bahkan Papa yang jarang membela orang lain kini ikut-ikutan membelanya.
"Pa, aku..."
"Danu, Mama sendiri yang menyelidiki semua ini. Kalau kamu nggak percaya, apa kamu meragukan Mama?"
Aku menggeleng. Jujur saja, aku benar-benar bimbang dan terpukul. Iya, sekarang aku memang mulai kurang suka dengan Belinda, tetapi saat menemukan tuduhan bahwa dia selingkuh, aku sama sekali tidak terima. Entah ini karena aku masih keras kepala saat keluargaku berusaha membuka mataku tentang sosok wanita yang kucintai, atau karena egoku yang nggak mau disentuh sedikit pun setelah merasa sudah memilih wanita yang salah.
"Ma, aku tahu Mama kurang suka sama Belinda, tapi..."
Aku belum menyelesaikan kalimatku, tetapi Ghina lagi-lagi menyelanya.
"Lagian siapa yang mau suka sama wanita seperti itu kalau bukan kakakku yang bodoh!"
"Ghina, sekali lagi kamu bicara aku gak segan-segan ya!"
"Aku nggak akan berhenti, Kak." Suaranya mulai bergetar. "Aku itu sayang sama Kakak. Aku nggak mau Kakak menyesal di kemudian hari karena sudah membuang permata demi batu kerikil!"
"Tentu saja aku tidak akan menyesal karena Belinda itu permata!" sahutku.
Ghina perlahan berjalan ke arahku, lalu menatapku dari ujung rambut hingga ke kaki.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku.
Aku melihat Ghina menarik sudut bibirnya tipis lalu berkata, "Kak Dinda, keputusanmu meninggalkan lelaki ini sudah benar. Semoga di tempat baru kamu menemukan lelaki yang lebih baik."
"Apa maksudmu?"
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
Dinda ingin tetap waras.... & tak prlu km sibuk mncarinya.... krna itu tak perlu...
smoga sja... dimasa mndatang dinda mndpt jodoh lelaki yg terbaik...
sesuai yg km ktakn.... klo Dinda prgi berrti km sdh mnceraiknnya....
tak prlu kepengadilan agama.... toh km cm nikah siri sm Dinda....
up bnyak bnyak😘😘
km.g tau kejamnya danu mmprlakikn dinda.... bhkn mulut danu tak segan mngatakn hal yg keji trhdp dinda...🙄🙄
seenteng... dan segmpang itu kta keramat km ucpkn kedinda....
jgn prnh lgi km mngusik hidup dinda.... krna dinda bukan lgi bagian dri hidupmu..... krna dinda sdh km jandakn🙄🙄
untuk dinjadikn senjata.... saat si belinda mnindasnya...
mulutmu sll mnghina dinda tidak berharga..... tpi nyatanya km yg prtama mnikmatinya.....
justru belinda yg tak ada harganya.... krna sdh dinikmati laki" lain.... ntah sdh berapa ratus kali di pake...