NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Kegelapan yang pekat menelan Naya bulat-bulat. Tidak ada suara gemuruh bangunan, tidak ada jeritan kepanikan para tamu undangan, yang ada hanyalah denging panjang di telinganya dan hampa yang teramat sangat. Di dalam pingsannya, bayangan punggung Kafka yang mendorongnya menjauh dari reruntuhan beton berulang kali berputar bagaikan film bisu yang menyayat hati.

Ketika kesadaran perlahan merayap kembali, aroma obat antiseptik dan cairan infus langsung menusuk indra penciumannya.

Naya mengerjap pelan. Kelopak matanya terasa sangat berat, seolah direkatkan oleh timah. Pandangannya yang buram perlahan menangkap langit-langit ruangan yang serba putih. Bau khas rumah sakit.

"Naya... Ya Allah, Nduk. Kamu sudah sadar?"

Suara serak penuh kelegaan itu milik Bu Tari. Wanita paruh baya tersebut langsung mendekat, menggenggam tangan Naya dengan jemari yang gemetar hebat. Di sebelah Bu Tari, Pak Haris berdiri dengan perban melingkar di kepalanya, matanya merah sembap, menatap putrinya dengan tatapan paling menyayat yang pernah Naya lihat seumur hidupnya.

Naya mencoba bergerak, namun sekujur tubuhnya terasa remuk redam. Tenggorokannya kering, suaranya keluar tertahan saat ia mencoba memanggil nama seseorang.

"Kaf... ka..." bisik Naya lemah, air mata langsung tumpah membasahi pipinya. Matanya menatap berkeliling ruangan rawat inap VIP tersebut, mencari sosok tinggi tegap beraroma cedarwood yang seharusnya duduk di sisinya.

Bu Tari dan Pak Haris saling berpandangan. Tidak ada yang menjawab. Keheningan yang teramat berat jatuh menyelimuti ruangan itu, membuat degup jantung Naya mendadak berpacu tidak karuan. Ada ketakutan luar biasa besar yang mencengkeram dadanya.

"Ibu... Bapak... di mana Kafka?" Naya memaksa suaranya keluar, meskipun tenggorokannya terasa seperti disayat sembilu. Ia mencoba bangkit dari brankar, namun Bu Tari segera menahan tubuhnya dengan isak tangis yang akhirnya pecah.

"Naya... tenang, Nduk. Istirahatlah..." Bu Tari mengusap kepala Naya dengan tangan gemetar.

"Aku tanya, di mana Kafka, Bu?!" teriak Naya histeris, mencengkeram selimut rumah sakit dengan kuat. Pandangannya beralih pada ayahnya. "Pa! Katakan di mana Kafka! Kemarin... kemarin dia ada di depan aku! Dia menyelamatkan aku!"

Pak Haris membuang muka, menyeka air mata di pipinya yang keriput dengan punggung tangan. Pria paruh baya itu menarik napas panjang, mencoba menahan suaranya agar tidak bergetar hebat saat menyampaikan kenyataan yang jauh lebih menghancurkan daripada reruntuhan gedung itu sendiri.

"Kafka... sudah tidak ada, Naya," bisik Pak Haris serak.

Dunia Naya seolah runtuh untuk kedua kalinya. Lebih parah dari ledakan kemarin. Suara di sekelilingnya mendadak lenyap.

"Nggak... nggak mungkin," Naya menggelengkan kepalanya kuat-kuat, air matanya tumpah semakin deras. "Kemarin dia baik-baik saja! Dia berjanji akan menjagaku! Dia baru saja memakaikan gelang ini!" Naya mengangkat tangan kirinya, menunjukkan gelang emas putih yang diberikan Kafka semalam sebelum pria itu memanjat balkon.

"Benturan beton itu... merusak hampir delapan puluh persen tubuhnya, Naya," suara Pak Haris tercekat. "Tim dokter di rumah sakit sudah berjuang semalaman. Tapi luka di organ dalamnya terlalu parah. Mereka... mereka tidak bisa menolongnya lagi."

Naya merasa dadanya dihantam palu tak kasat mata. Ia menjerit, sebuah jeritan pilu yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam, merobek kesunyian ruang rumah sakit tersebut. Ia ingin mati. Jika Kafka tidak ada di dunia ini, untuk apa ia bertahan?

Bu Tari dan Pak Haris hanya bisa menangis memeluk tubuh Naya yang bergetar hebat. Tidak ada surat yang ditinggalkan. Tidak ada kata-kata perpisahan terakhir yang sempat diucapkan oleh pria itu. Keheningan yang ditinggalkan Kafka terasa begitu mutlak dan menyiksa.

Di tengah isak tangis histeris yang nyaris merenggut seluruh sisa oksigen di paru-parunya, Pak Haris dengan suara lirih menyampaikan satu informasi lagi yang baru saja ia dapatkan dari pihak rumah sakit.

"Naya... ada satu hal lagi yang harus kamu tahu," kata Pak Haris bergetar. "Jauh sebelum hari ini, jauh sebelum insiden itu terjadi... Kafka rupanya pernah menandatangani surat perjanjian Donor Organ Purna-Merta."

Naya membeku. Isakannya mendadak terhenti di tenggorokan. Ia menatap ayahnya dengan pandangan kosong yang dipenuhi air mata.

"Saat tubuhnya hancur dan tidak ada lagi yang bisa menyelamatkannya, organ tubuhnya yang masih berfungsi sempurna untuk didonorkan hanyalah hati dan jantungnya," lanjut Pak Haris, air matanya kembali menetes. "Hati dan jantung Kafka... didonorkan kepada dua orang pasien yang berbeda yang sangat membutuhkan."

Naya merosot di atas brankar, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasa sakit itu begitu pekat hingga ia tidak bisa lagi mengeluarkan suara. Pria yang mencintainya separuh mati, pria yang membangun kerajaannya hanya untuk melindunginya, pergi tanpa sempat meninggalkan sepatah kata pun, namun menyisakan detak kehidupan di dalam tubuh orang lain yang tidak ia kenal.

"Antar aku..." bisik Naya parau, menatap orang tuanya dengan mata yang menyala oleh kepedihan yang teramat sangat. "Antar aku ke tempat peristirahatan terakhirnya."

Bu Tari menatap suaminya dengan cemas. Pak Haris mengangguk pelan, berjalan ke sisi brankar, lalu membantu putrinya berdiri meskipun kaki Naya masih sangat lemas dan tidak bertenaga.

Satu jam kemudian, sebuah taksi mengantarkan Naya ke sebuah pemakaman umum yang terletak di kawasan perbukitan selatan Jakarta. Suasana pemakaman sangat sepi karena hujan gerimis baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah yang pekat.

Naya berjalan tertatih-tatih di atas jalan setapak konblok, dipapah oleh ibunya. Langkah kakinya terasa sangat berat, seolah membawa seluruh beban dunia di pundaknya.

Hingga akhirnya, langkah Naya terhenti di depan sebuah gundukan tanah baru yang masih ditaburi oleh kelopak bunga segar. Di atasnya, tertancap sebuah nisan batu granit berwarna hitam legam.

Tertulis dengan tinta emas: KAFKA ADIRAJA

Naya melepaskan pegangan ibunya. Ia jatuh berlutut di atas rumput basah yang dingin, tepat di hadapan nisan tersebut. Tangannya yang gemetar terulur, meraba tulisan nama pria yang sangat dicintainya pada permukaan batu nisan yang dingin.

Tidak ada pelukan hangat. Tidak ada aroma cedarwood dan mint. Tidak ada surat atau pesan perpisahan. Tidak ada lagi suara bariton yang memanggilnya 'Sayang'.

Yang tersisa hanyalah keheningan kuburan, detak jantung orang lain di luar sana yang membawa bagian dari diri Kafka, dan Naya yang kini terduduk sendiri di bawah langit abu-abu, menyadari kenyataan paling pahit di dunia:

Kafka telah pergi selamanya, jauh sebelum mereka sempat mengucapkan janji suci pernikahan.

1
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!