NovelToon NovelToon
Dokter Yang Mengatur Takdir

Dokter Yang Mengatur Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Mafia
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: Nvlin888

Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Klinik di Kaki Bukit yang Tidak Ada di Peta

Mereka berangkat Sabtu subuh. Dua mobil beriringan menembus jalanan kota yang masih sepi, lampu-lampu jalan memantul di aspal basah bekas gerimis semalam. Raze menyetir mobil depan dengan Alya di sampingnya, sementara Rani duduk di belakang, bersandar ke jendela dengan jaket Raze yang dia pinjam tanpa izin dan baru dia akui setengah jam kemudian. Di mobil kedua, Damar dan dua orang kepercayaannya mengikuti dari jarak yang selalu sama persis, tidak lebih dari lima puluh meter, tidak kurang.

"Kamu bilang lima meter," Rani menggerutu sambil mengunyah roti isi yang dibawakan Alya, "tapi mobil kita beda mobil, Dok. Itu nggak konsisten."

"Lima meter berlaku saat kita turun dari mobil," Raze menjawab tanpa menoleh. "Di dalam mobil, aku bisa mengawasi kalian dari kaca spion."

"Berarti dari tadi kamu liatin aku makan?"

"Dari tadi aku menghitung berapa potong roti yang kau ambil. Tiga. Itu bagian terakhir dari bekal Alya."

Alya terbahak sampai menutup mulut, dan Rani, dengan wajah pura-pura tersinggung, menyodorkan potongan terakhir itu ke depan, ke bibir Raze. "Nih. Biar kamu berhenti ngitung."

Raze, yang tidak pernah terlihat menerima makanan dari tangan siapa pun selain Alya, mengunyahnya dengan wajah datar yang justru membuat tawa mereka makin pecah.

Setelah dua jam, jalan mulai menanjak, dan kota menghilang digantikan sawah bertingkat yang menuruni lereng seperti anak tangga raksasa, hijau muda di bawah kabut yang menggantung rendah. Alya menempelkan dahi ke kaca jendela, mengagumi pemandangan yang persis seperti gambar di kartu pos tua itu, dan entah kapan, matanya mulai terasa berat. Kepalanya jatuh ke bahu Raze sebelum dia sempat menyadarinya.

Raze tidak bergerak. Dia hanya menurunkan kecepatan, melepas jaketnya dengan satu tangan, dan menyampirkannya ke bahu Alya, lalu meletakkan telapak tangannya di atas lutut Alya, hangat dan tenang, seolah itu satu-satunya tempat yang boleh dia sentuh selama menyetir.

"Dia tidur," bisiknya, kepada Rani yang menatap mereka dari kaca spion dengan senyum yang tidak disembunyikannya.

"Aku liat," Rani berbisik balik. "Kamu nyetir pelan banget sekarang. Padahal tadi kayak mau ngejar pesawat."

"Aku tidak ingin dia terbangun," Raze menjawab, nyaris tak terdengar. "Dia jarang tidur nyenyak belakangan ini."

Rani terdiam, lalu bersandar lagi ke jok belakang, dan untuk pertama kalinya dia menatap pria itu bukan sebagai orang kaya yang mengatur hidup adiknya, melainkan sebagai seseorang yang diam-diam menghafal setiap jam tidur perempuan yang dia cintai. "Dok," katanya pelan. "Kalau kamu nyakitin adikku, aku bakal jahit mulutmu pakai benang kasur."

"Aku percaya kau bisa," Raze menjawab, dan bibirnya melengkung sedikit. "Mesin jahitmu terdengar menakutkan."

Klinik itu muncul setelah jalan aspal berganti jalan tanah, setelah tiga kali mereka bertanya ke warga yang menggeleng kebingungan, lalu setelah seorang nenek penjual singkong menunjuk ke arah bukit kecil dengan tongkatnya sambil bergumam, "Dokter Sari? Di atas sana, Nak. Orang kota jarang nyari."

Bangunannya kecil, berdinding papan dicat putih yang sudah mengelupas, atap seng berkarat dengan tanaman rambat hijau menjalar di salah satu sisi, dan di depannya papan nama kayu tulisan tangan, Klinik Kasih Sehat, Buka Sesuai Kebutuhan. Bau minyak kayu putih dan rebusan daun sirih menyambut mereka, dan dari balik jendela, seorang gadis muda berkerudung biru mengintip lalu keluar tergopoh-gopoh.

"Maaf, Bapak Ibu cari siapa?"

"Dokter Sari," Alya menjawab, dan Raze, di sampingnya, tidak sanggup membuka mulut.

"Beliau lagi nolong persalinan di dusun seberang, Bu. Dari subuh. Biasanya sebelum tengah hari udah pulang." Gadis itu menatap Alya dan Rani bergantian, matanya membelalak. "Ya Allah, Ibu kembar?"

"Iya," Rani menjawab ringan. "Kami juga masih kaget."

Mereka menunggu di beranda, di bangku kayu panjang yang catnya sudah pudar, dan Raze tidak bisa duduk. Dia berdiri, berjalan ke ujung beranda, kembali, berdiri lagi, menatap jalan tanah yang menurun ke lembah seperti seseorang yang sedang menghitung langkah kaki yang belum datang. Alya mengamatinya selama lima menit penuh, lalu bangkit, menyodorkan segelas teh manis yang dibuatkan perawat muda tadi, dan menarik tangannya, memaksanya duduk di sampingnya.

"Minum."

"Aku tidak—"

"Raze." Alya menatapnya, dan dia berhenti. "Minum. Aku nggak minta. Aku nyuruh."

Raze menatapnya lama, antara tidak percaya dan sesuatu yang menyerupai geli, lalu meminum teh itu satu tegukan panjang, dan Alya, tanpa melepaskan tangannya, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari, berulang-ulang, lambat. "Kalau dia marah, kamu terima. Kalau dia nangis, kamu peluk. Kalau dia nggak mau ngomong, kamu duduk aja di situ. Aku di sini."

"Kau tidak keberatan?" Raze bertanya, hampir berbisik. "Aku akan memeluk perempuan lain."

"Aku bakal keberatan kalau kamu nggak melakukannya," Alya menjawab, dan mengecup pelipisnya. "Sepuluh tahun itu terlalu lama buat dibayar pakai sungkan."

Sarah datang tepat saat matahari mulai condong. Mereka lebih dulu mendengar suara motor trail yang batuk-batuk menanjak, lalu melihat sosok berjas hujan kuning penuh lumpur turun dari motor itu, membuka helm, dan mengibaskan rambut yang sudah dipotong pendek dan mulai beruban di pelipis. Wajahnya masih teduh, matanya masih sangat cerdas, hanya kini dikelilingi garis-garis halus oleh sepuluh tahun hidup di bawah langit yang sama.

Dia berhenti di tengah halaman, tangan masih memegang helm, ketika matanya jatuh pada Raze yang sudah berdiri dari bangku.

Tidak ada yang bicara cukup lama sampai burung-burung di atas atap seng berhenti berkicau, seolah ikut menahan napas.

"Kamu tua," Sarah berkata akhirnya, suaranya serak oleh tahun-tahun yang tidak dipakai bicara dengan orang yang dia kenal. "Dan masih berdiri tegak banget kayak ada tongkat di punggungmu."

Raze melangkah satu kali, dua kali, lalu berhenti, tangannya terangkat setengah dan jatuh lagi, seperti pria yang lupa bagaimana caranya memeluk. Sarah yang menutup jarak itu. Helmnya jatuh ke tanah, dan dia memeluk Raze erat, wajahnya terbenam di bahunya, dan Raze, akhirnya, menutup lengannya di punggung jas hujan kuning yang basah itu, kepalanya menunduk ke rambut pendek Sarah, bahunya bergetar tanpa suara.

"Maaf," Raze berbisik, berulang kali, seperti doa yang tidak selesai. "Maaf, maaf, aku tidak tahu, aku pikir kau—"

"Aku tahu," Sarah memotong lembut, menepuk punggungnya seperti menenangkan pasien kecil. "Aku nulis ke Bu Ratna biar kamu tahu. Aku nggak pernah marah, Raze. Kamu cuma terlalu pintar nyalahin diri sendiri."

Alya berdiri beberapa langkah di belakang, tangan terlipat di dada, air mata mengalir tanpa dia sadari, dan Rani merangkulnya dari samping sambil mengusap hidungnya dengan lengan jaket. "Aku nggak nyangka bakal nangis buat orang yang nggak kukenal," bisik Rani.

"Aku juga," Alya membalas.

Sarah menyuguhi mereka teh jahe di ruang praktik yang sempit, antara rak obat dan dipan periksa berlapis plastik biru. Dia mendengarkan semuanya. Tentang kecelakaan, tentang Baskara, tentang daftar pasien yang disunting, tentang Dewan dan Rumah Pertama, dengan wajah seorang dokter yang sudah lama tahu bagaimana mendengar kabar buruk tanpa memotong pembicara. Ketika Raze selesai, dia menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap Alya dan Rani lama.

"Aku kenal wajah itu," katanya pelan. "Wajah kalian. Sepuluh tahun lalu, aku residen jaga di rumah sakit lama, dan suatu malam aku menemukan arsip daftar pasien kecelakaan tol dua puluh tahun sebelumnya, yang kebetulan tersalin di dokumen audit. Dua nama yang sama, 'Nireva A', dan salah satunya dicoret dengan tinta yang beda. Aku bertanya ke orang yang salah."

"Paman Baskara," Raze menyebut.

"Baskara," Sarah membenarkan. "Dia memanggilku ke ruangannya keesokan harinya. Aku pikir aku akan dipecat. Ternyata dia menyuruhku mengemasi barang malam itu juga. Dia sendiri yang menyetir mobilku ke terminal, dan bilang, 'Ada yang memerintahkan agar kau tidak lagi ada. Aku tidak mau jadi orang yang melakukannya. Pergilah jauh, dan jangan pernah pakai namamu.'" Matanya berkaca-kaca. "Dia memalsukan surat pengunduran diriku, Raze. Dia menyelamatkanku, dengan cara paling pengecut sekaligus paling berani yang pernah aku lihat."

"Dan tunanganmu?" Alya bertanya hati-hati.

Sarah menggeleng pelan. "Dia tidak sempat sampai ke gunung. Aku baru tahu setahun kemudian." Suaranya tidak pecah, tapi tangannya, yang menggenggam cangkir, memutih di buku jarinya. "Aku bertahan di sini karena orang-orang di dusun ini tidak bertanya siapa aku. Dan karena aku menyimpan sesuatu yang kupikir suatu hari akan dibutuhkan seseorang."

Dia bangkit, menyingkirkan karpet plastik di sudut ruangan, mengetuk tiga kali pada papan lantai tertentu, dan mengangkatnya dengan obeng. Di bawahnya, terbungkus kantong plastik tebal, sebuah map cokelat tua.

"Salinan asli daftar itu," katanya. "Dengan tulisan tangan asli perawat malam itu, sebelum dicoret. Baskara memberiku ini, bukan memusnahkannya. Dia bilang, 'Simpan di tempat yang tidak ada yang tahu. Kalau suatu hari anakku, Raze, mencari kebenaran, berikan padanya.'"

Raze menerima map itu dengan kedua tangan, seperti benda yang bisa pecah.

Di luar jendela, burung-burung yang tadi sempat diam tiba-tiba terbang serempak dari pepohonan di kaki bukit, dan dari bawah, jauh tapi jelas, terdengar bunyi mesin mobil yang menanjak pelan, lebih dari satu.

Damar muncul di ambang pintu dengan wajah tegang. "Pak," katanya rendah. "Tiga mobil. Tidak ada plat dinas."

Sarah menatap jendela, lalu menatap Raze, dan wajahnya yang tadi lembut berubah tenang dengan cara yang menakutkan. "Mereka lebih cepat dari yang kuduga," katanya. "Dua minggu mereka menanyakan aku. Hari ini mereka memutuskan datang sendiri."

Yang membuat Alya merinding bukan ketenangan itu, melainkan betapa terlatihnya gerakan Sarah setelahnya. Dia tidak berteriak, tidak panik. Dia hanya berjalan ke pintu belakang, mengambil ransel hijau lusuh yang tergantung di paku, tempat yang jelas sudah sepuluh tahun menunggu dipakai, lalu meraih sebatang kentongan bambu kecil dari rak dan mengetuknya tiga kali, pendek-pendek, jeda, tiga kali lagi. Dari lereng, di antara rumah-rumah papan, terdengar sahutan yang sama, satu per satu, merambat dari rumah ke rumah seperti api kecil di sumbu.

"Itu tanda untuk warga," Sarah menjelaskan sambil menyampirkan ransel ke bahu. "Siapa pun yang pernah kuobati tahu apa artinya. Anak-anak masuk rumah, pintu ditutup, lampu dimatikan. Kami tidak punya polisi di sini, Raze. Kami punya kebiasaan."

"Sepuluh tahun kau menyiapkan ini," Raze berkata pelan.

"Sepuluh tahun aku menunggu hari ini," Sarah membenarkan, tanpa nada mengeluh. "Ada jalan setapak lewat kebun teh di belakang. Muat satu motor dan lima orang yang tidak keberatan basah."

Mereka bergerak lewat pintu belakang ketika langit mulai berubah ungu. Di lorong sempit antara dinding klinik dan pagar bambu, Raze mendadak menarik Alya ke dadanya, punggungnya menempel ke papan dinding, satu telapak tangan menutup pelan sisi kepala Alya seperti perisai. Tubuhnya menutup sepenuhnya jalan pandang dari arah depan klinik.

"Dengarkan aku," bisiknya di telinganya, nadanya rendah dan tidak menyisakan celah untuk bantahan sekecil apa pun. "Kau berjalan tepat di belakangku. Kalau aku bilang berlari, kau berlari, tanpa menoleh. Kalau aku bilang merunduk, kau merunduk. Jangan bantah aku malam ini, Alya. Itu satu-satunya permintaanku."

Alya mendongak. Wajah Raze sangat dekat, rahangnya mengeras, tapi matanya basah dan penuh sesuatu yang bukan sekadar perintah. Alya mengangkat tangan, menyentuh rahangnya yang tegang dengan ujung jari, lalu menariknya turun, mencium bibirnya cepat dan keras, sekali, seperti meterai.

"Aku nurut," bisiknya, dahi mereka bertemu sepersekian detik. "Tapi kamu juga nurut sama satu permintaanku. Kamu nggak boleh jadi tameng buat siapa pun malam ini. Kamu harus pulang bareng kami."

Raze menatapnya, napasnya patah. "Itu bukan permintaan yang bisa kujanjikan."

"Kalau gitu aku nggak nurut," Alya berbisik, dan sudut bibir Raze, di tengah ketakutan sebesar itu, naik sedikit.

"Kau persis seperti kakakmu," katanya. "Menyebalkan."

"Aku denger itu," suara Rani menyahut dari belakang mereka, sambil menyodorkan jaket hujan kuning cadangan milik Sarah ke tangan Alya. "Pake. Terus berhenti ciuman di tengah penyelamatan, Dek. Aku masih nggak ngerti kenapa kalian berdua selalu milih waktu paling nggak masuk akal."

Buku bersampul kulit hitam itu tertinggal di laci terkunci di lantai dua puluh dua, jadi untuk pertama kalinya, Raze menulis di luar halamannya. Sebelum mereka memasuki kebun teh, dia menyobek selembar kertas dari buku saku kecil dan menulis dengan tangan yang gemetar, lalu melipatnya ke saku dada:

Baskara menyelamatkan Sarah. Orang yang kubenci dua hari lalu ternyata menyimpan bukti agar anak angkatnya bisa menemukan kebenaran. Aku tidak tahu harus meletakkan dia di mana: pengkhianat, pengecut, atau ayah yang mencintaiku dengan cara paling buruk yang bisa dilakukan seorang ayah.

Mereka datang. Jika malam ini aku kehilangan salah satu dari ketiga perempuan itu, aku tidak akan pernah memaafkan diriku. Kali ini aku tidak akan berhitung tentang strategi. Aku hanya akan berdiri di depan mereka.

❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜

Ada orang yang menyelamatkan dengan cara yang hanya dimengerti bertahun-tahun kemudian, setelah luka-luka yang ditimbulkannya sendiri sudah lama mengering. Kita baru tahu bahwa yang kita benci dan yang kita syukuri ternyata berasal dari satu tangan yang sama.

1
falea sezi
mending putus ma bayu klo lu uda gk ada rasa jangan php trs jangan Terima raze dlu soalnya kayak gk beres ini si rezek🤣
Nvlin888: tenangkan dirimu kaa 🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
alya uda kayak lacur gampangan🤣🤣🤣 sebel liat cwek gatel gini serakah
falea sezi
serakah amat ini cwek😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!