Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Permainan lembut di bawah sorotan fajar itu akhirnya menyisakan kelelahan yang manis dan hangat. Namun, kedamaian di atas peraduan tak pernah bertahan lama bagi seorang penguasa dunia bawah.
Pukul sembilan pagi, ketika matahari sudah bersinar terik menembus jendela, ketukan teratur di pintu kamar memutus keheningan. Marco masuk membawa koper diplomatik hitam dan setelan jas baru yang sangat rapi. Raut wajah sang tangan kanan nampak begitu serius.
"Tuan," ujar Marco membungkuk hormat, mengabaikan kondisi kamar yang masih sarat akan jejak gairah semalam. "Pesawat jet pribadi di bandara privat sudah siap. Para pemimpin kartel dari negara tetangga sudah menunggu di meja perundingan. Konflik perbatasan antar-negara harus diselesaikan hari ini, atau jalur distribusi internasional kita akan dibekukan total."
Gabriel, yang sedang duduk di tepi ranjang dengan kain selimut menutupi pinggangnya, memejamkan mata sejenak. Aura dingin sang *Don* perlahan kembali menyelubungi wajah tampannya, meski tatapannya saat menoleh padaku masih menyimpan kehangatan sisa semalam.
Tugasnya sebagai pemimpin tertinggi mafia melintasi batas negara memanggilnya. Ini bukan sekadar penumpasan faksi lokal, melainkan pertempuran diplomasi berdarah di negara tetangga yang membutuhkan kehadirannya selama berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan. Kami akan berada dalam kondisi Long Distance Relationship (LDR)sebuah jarak geografis yang tak pernah terjadi sejak pertama kali aku diseret ke dalam hidupnya.
Gabriel berdiri, mengenakan pakaiannya satu per satu dengan gerakan tegas. Setelah menyematkan senjata di balik jas mewahnya, ia melangkah mendekat ke arah ranjang tempatku berbaring membungkus tubuh dengan selimut sutra.
Ia berlutut di sampingku, meraup wajahku dengan telapak tangannya yang besar dan hangat. Ia mengecup keningku sangat lama.
"Aku harus pergi ke negara sebelah, Cara mia," bisik Gabriel, suaranya sarat akan kebeatan yang mendalam untuk melangkah pergi. "Urusan di sana rumit dan menuntut darah. Aku tidak bisa membawamu ke tengah medan pertempuran asing yang belum stabil."
Aku menatap matanya, mencoba mencerna kenyataan bahwa pria yang baru saja memberikan surga duniawi ini akan terpisah ribuan kilometer dariku.
Gabriel meraih jemariku, menempelkan punggung tanganku ke bibirnya. Lalu, ia membisikkan sesuatu yang membuat jantungku berhenti berdetak sejenak.
"Selama aku pergi... sangkar ini terbuka untukmu, Aurora."
Aku terperanjat, mataku membelalak tak percaya. "Apa maksudmu?"
"Kau bebas," ucap Gabriel tegas, menatap lurus ke dalam manik mataku. "Kau boleh keluar dari puri ini kapan saja kau mau. Kau boleh pergi ke pusat kota, berbelanja, menikmati udara segar, mengunjungi galeri seni, atau melakukan apa pun yang ingin kau lakukan untuk menikmati hidupmu. Aku tidak akan lagi mengurungmu di dalam dinding batu ini."
Sebuah helaan napas berat lolos dari dada bidangnya.
"Marco sudah menyiapkan kartu kredit tanpa batas atas namamu, dan pengawalan tak terlihat dari jauh hanya untuk memastikan keselamatanmu dari musuh-musuhku. Tapi kau tidak akan ditarik, tidak akan dilarang. Hiduplah seperti manusia bebas, Aurora. Nikmati hidup yang sempat kurenggut darimu."
Aku terpaku membisu. Sangkar emas yang selama bertahun-tahun mengunciku rapat-rapat, kini pintunya dibuka lebar-lebar oleh sang pemilik sangkar sendiri. Pria yang dulunya gila akan kontrol dan kepemilikan mutlak, kini memberiku kebebasan untuk menikmati dunia luar.
Gabriel mengecup bibirku sekali lagi sebuah ciuman perpisahan yang dalam dan penuh kehangatan sebelum akhirnya berdiri, berbalik, dan melangkah keluar kamar bersama Marco tanpa menoleh lagi.
---
Kepergian Gabriel meninggalkan perubahan drastis di dalam puri.
Hari berikutnya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku melangkah keluar dari gerbang besi raksasa Puri Moretti tanpa borgol bisu atau tatapan intimidasi dari sang Don. Aku mengenakan gaun kasual yang nyaman, melangkah menyusuri jalanan kota yang hidup dan berwarna di bawah sengatan sinar matahari sore.
Rasa kebebasan itu menghantamku bagai gelombang udara segar yang memabukkan.
Aku berjalan di sepanjang trotoar kota, mendengarkan hiruk-pikuk suara kendaraan, tawa anak-anak di taman, dan denting cangkir kopi di kafe-kafe pinggir jalan. Aku mendatangi toko buku tua, membeli beberapa novel favoritku, duduk di sebuah kafe terbuka seraya menyesap teh hangat tanpa ada sosok bertubuh tinggi yang mengawasi setiap gerak-gerikku dari jarak dekat.
Meski aku tahu di suatu tempat di antara kerumunan ada beberapa pengawal berpakaian sipil suruhan Gabriel yang memantau dari jauh untuk memastikanku aman dari sisa-sisa musuh kartel, kehadiran mereka begitu tersamar dan tidak mengganggu sama sekali.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku merasakan diriku menjadi manusia kembali. Aku tertawa, menikmati makanan lezat, dan berjalan hingga kakiku pegal hanya untuk melihat matahari terbenam di pesisir pantai kota.
Namun, di tengah kebebasan indah yang menyapa hidupku, sebuah perasaan asing dan kontradiktif perlahan timbul di dalam dada.
LDR ini terasa begitu aneh.
Setiap malam, ketika aku kembali ke kamar utama puri yang kini terasa sangat luas dan sepi, ponsel khusus yang ditinggalkan Gabriel selalu bergetar tepat pukul sembilan malam.
Di tengah kesibukannya membantai musuh, memimpin rapat gelap, dan menumpas konflik berdarah di negara sebelah, Gabriel tidak pernah absen menghubungiku.
"Bagaimana harimu, Cara mia?" suara berbariton rendah dan seraknya mengalun melalui speaker ponsel, terdengar begitu hangat di tengah dinginnya malam. Di latar belakang panggilannya, kadang aku mendengar sayup-sayup dentuman senjata atau deru helikopter perbatasan, menandakan betapa ganasnya medan perang yang sedang ia hadapi.
"Aku... aku pergi ke pantai hari ini," jawabku pelan, berbaring di atas ranjang yang dulu menyaksikan peraduan lembut kami. "Aku membeli beberapa buku dan minum teh di kafe."
Terdengar kekeh pelan dari ujung telepon sebuah suara tawa tulus yang jarang sekali keluar dari tenggorokan sang bos mafia. "Bagus. Belilah apa saja yang kau suka. Habiskan uang itu. Aku bekerja dan menumpas para pengganggu ini agar kau bisa menikmati dunia itu tanpa rasa takut."
"Kapan... kapan kau akan selesai di sana?" tanyaku tanpa sadar, sebuah pertanyaan yang jujur meluncur dari bibirku sebelum akal sehatku sempat menghentikannya.
Hening sejenak di ujung telepon. Hembusan napas berat Gabriel terdengar jelas.
"Segera, Aurora," bisiknya dengan nada kerinduan yang begitu pekat dan dalam. "Aku sedang membersihkan sisa-sisa kartel utara di negara ini. Begitu semuanya bersih dan tak ada lagi ancaman untuk keselamatanmu... aku akan langsung pulang padamu."
Aku memejamkan mata, meremas ponsel di tanganku.
Perubahan ini begitu membingungkan jiwaku. Di satu sisi, aku menikmati kebebasan luar biasa yang akhirnya kudapatkan kembali. Aku bisa menikmati hidup, menjelajahi kota, dan bernapas lega tanpa tekanan. Namun di sisi lain, kelembutan semalam dan perhatian tulus yang ia tunjukkan dari kejauhan ribuan kilometer ini secara perlahan mengikis sisa-sisa kebencianku.
Setiap kali melihat deretan pakaian mewahnya di lemari atau menghirup aroma tembakau dan parfum khasnya yang masih tertinggal di bantal sutra, dadaku berdesir aneh.
Aku yang dulu berdoa agar iblis itu mati di medan perang, kini justru mendapati diriku sendiri berbisik pelan dalam hati setiap kali menutup telepon di malam hari: berharap pria berhati dingin itu kembali dengan selamat dari negara sebelah, membawa pulang kelembutan yang telah mengubah takdir hidupku.