NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.

Namun, satu hal tak pernah berubah.

Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.

Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.

Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Tetap Pergi

Setelah pertengkaran kecil malam itu, Nala menjadi jauh lebih berhati-hati. Bukan dalam arti takut pada Junho, tetapi ia memang semakin waspada agar tidak membuat pria itu marah. Seolah-olah setiap pilihan kecil kini memiliki gema yang lebih panjang dari biasanya. Ia memastikan pesan-pesannya terkirim tepat waktu, panggilan-panggilan terjawab meski hanya singkat, dan setiap hal yang Junho butuhkan atau sekadar ingin ia ketahui diprioritaskan di sela-sela kesibukannya yang padat.

Tidak ada keluhan ataupun nada defensif. Hanya upaya tenang seorang perempuan yang memahami bahwa jarak emosional sering kali tumbuh dari hal-hal kecil yang tidak pernah dibicarakan.

Sore itu, Nala bersiap menuju Sangam-dong, Mapo-gu. Sebuah agenda yang, dalam lima tahun terakhir, nyaris tidak pernah muncul di kalender agency hiburan: Creative Retreat, sebuah lokakarya intensif lintas divisi kreatif yang dirancang untuk membicarakan arah, gagasan, dan strategi artistik perusahaan dalam suasana yang jauh dari rutinitas kantor.

Acara tersebut dipimpin langsung oleh Jeongin, selaku Chief Creative Strategist ORIONA Entertainment, bersama Nala sebagai Creative Director & Head of Internal Writing Team, serta dua kepala kreatif lain yang turut terlibat dalam pengembangan arah artistik jangka panjang agensi.

Bagi sebagian orang, agenda itu mungkin hanya terlihat seperti rapat kerja yang dipindahkan ke tempat berbeda. Namun bagi tim kreatif ORIONA, lokakarya semacam ini memiliki bobot yang berbeda.

Mereka tidak hanya dituntut menghasilkan gagasan baru, tetapi juga harus mampu melihat kembali identitas kreatif perusahaan, mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap berhasil, serta menentukan ke mana mereka ingin melangkah setelahnya.

Justru Jeongin pula yang pertama kali mengajukan proposal kegiatan tersebut kepada jajaran direksi. Alasannya sederhana, nyaris terdengar idealistis: kreativitas tidak lahir dari meja kerja yang terus-menerus diawasi.

Namun, idealisme itu diterima.

Mereka tidak berangkat hanya berempat. Rombongan kecil tersebut turut diisi oleh Oh Yu-ra, Creative Operations Manager yang menjadi penghubung antara tim kreatif dan manajemen produksi. Ia dikenal teliti, nyaris perfeksionis, tetapi cukup dekat dengan Nala sehingga keberadaannya selalu membuat suasana kerja terasa sedikit lebih ringan.

Ada pula Jeon Sumin, Content Development Supervisor yang bertanggung jawab atas riset tren, pengarsipan konsep, serta kesinambungan narasi lintas proyek. Sumin lebih banyak bekerja di balik layar, tetapi hampir selalu memiliki catatan ketika orang lain mulai kehabisan ide.

Sementara itu, Park Yoo-gi, Creative Staff & Visual Concept Coordinator, merupakan spesialis pengembangan moodboard, instalasi visual, serta eksperimen artistik nonkonvensional. Ia memiliki cara berpikir yang terkadang sulit ditebak, tetapi justru itulah yang membuat sudut pandangnya kerap dibutuhkan dalam diskusi kreatif.

Selain mereka, beberapa staf kreatif lain turut bergabung. Jumlahnya tidak banyak namun cukup untuk menjaga diskusi tetap intim, tetapi tetap hidup dengan beragam sudut pandang.

Rencananya, mereka akan berangkat sore itu juga menuju Nanji Camp Ground, area perkemahan di tepi Sungai Han yang telah dipesan atas nama perusahaan sejak dua hari sebelumnya.

Tempat tersebut dipilih bukan karena fasilitasnya yang mewah. Justru sebaliknya. Ruang terbuka, udara sungai, suara air yang sesekali terbawa angin, serta jaraknya dari gedung-gedung kaca Seoul dianggap cukup untuk membuat setiap orang kembali berbicara sebagai manusia, bukan sebagai jabatan.

Selama dua hari, mereka akan meninggalkan ruang rapat, layar presentasi, dan jadwal kantor yang padat. Tidak ada meja panjang dengan kursi yang tersusun rapi. Tidak ada dinding kaca yang memisahkan satu divisi dengan divisi lainnya.

Hanya mereka, sejumlah gagasan yang belum selesai, dan waktu yang sengaja diberikan untuk membiarkan pikiran bekerja dengan cara yang berbeda.

Bagi Jeongin, itulah inti dari Creative Retreat tersebut. Bukan sekadar membawa pekerjaan ke tempat terbuka, melainkan memberi setiap orang kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan melihat kembali apa yang sebenarnya ingin mereka ciptakan.

“Mommy, Seok tidak boleh ikut? Sama sekali?” tanya Jun-seok sembari menatap Nala yang sedang membereskan beberapa pakaiannya ke dalam tas.

Nala menghentikan tangannya sejenak. Ia kemudian berjongkok tepat di hadapan putranya, menyamakan tinggi mereka. Tatapannya menetap cukup lama pada wajah kecil itu sebelum akhirnya ia mengecup keningnya dengan lembut.

“Hanya dua hari saja. Nanti Mommy pulang bawakan Seok buku yang Seok mau itu. Mommy bekerja sebentar... Seok mau menunggu Mommy pulang, kan?” tanyanya, berusaha menyelipkan senyum agar putranya tidak semakin khawatir.

Jun-seok menatap Nala lama. Matanya kemudian beralih kepada Junho yang berdiri tidak jauh dari mereka, diam dengan ekspresi yang nyaris tidak berubah.

“Mommy janji tidak akan lama?” tanyanya lagi.

Nala langsung mengangguk.

“Hanya dua hari... Mommy janji.”

Jawaban itu membuat bocah sepuluh tahun tersebut mengembuskan napas panjang. Bahunya yang sejak tadi sedikit tegang akhirnya turun, meski wajahnya masih menyimpan keengganan.

“Tapi Mommy juga harus janji bawa pulang bukunya... Lalu tidur dengan Seok saat pulang nanti,” katanya sembari menyodorkan jari kelingking.

Nala tersenyum kecil melihat ulah putranya. Ia mengangkat tangannya, lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kecil Jun-seok.

“Iya, sayang. Mommy janji.”

Barulah Jun-seok terlihat sedikit lebih tenang.

Nala kembali melanjutkan kegiatannya, menata pakaian satu per satu ke dalam tas. Beberapa kali ia memeriksa ulang barang yang dibawanya—pakaian untuk dua hari, perlengkapan pribadi, dokumen pekerjaan, hingga laptop yang tidak mungkin ditinggalkan.

Jun-seok dan Junho sesekali ikut membantu. Jun-seok memasukkan beberapa barang kecil yang menurutnya penting, sementara Junho memastikan tidak ada keperluan istrinya yang tertinggal.

Pria itu bahkan rela tidak masuk kerja hari itu demi membantu Nala berkemas. Bagaimanapun, istrinya akan berangkat sore itu juga dan mereka tidak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan semuanya.

Di tengah kesibukan sederhana itu, Nala beberapa kali mencuri pandang kepada suaminya, ada sesuatu yang terasa hangat dari cara Junho membantu tanpa banyak bicara. Seolah-olah kejadian malam sebelumnya tidak membuatnya berhenti menjadi seseorang yang tetap memperhatikan hal-hal kecil dalam kehidupan istrinya.

Nala tidak mengatakan apa-apa, ia hanya kembali melipat pakaiannya, menyimpan satu per satu ke dalam tas, sementara Jun-seok duduk di dekatnya dan sesekali memastikan janji tentang buku serta waktu tidur bersama itu tidak akan dilupakan.

Setelah selesai bersiap, Junho dan Jun-seok mengantarkan Nala ke basement. Junho sebenarnya ingin mengantar istrinya sampai ke agensi, tetapi ia tidak bisa melakukannya. Selama keluarga mereka masih dirahasiakan dari publik, kemunculan mereka bersama di tempat terbuka tetap menjadi sesuatu yang harus dihindari, bahkan setelah Junho sepenuhnya pensiun dari dunia hiburan.

Bukan karena ia masih terikat jadwal pekerjaan atau takut pada sorotan seperti dulu. Hanya saja, bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang popularitas membuat setiap langkah mereka tetap harus diperhitungkan. Terlalu banyak mata yang mengenal wajah Junho, dan terlalu banyak hal tentang keluarganya yang belum pernah ia izinkan untuk diketahui siapa pun.

Karena itu, untuk sementara, basement menjadi batas terakhir yang bisa mereka lewati bersama.

“Mommy pergi, ya...” Nala berpamitan sekali lagi. Ia memeluk putra semata wayangnya itu, tetapi Jun-seok justru kembali menangis di dalam pelukannya.

Anak yang biasanya terlihat tegar dan cukup dewasa untuk usianya itu kini tidak ubahnya seorang bayi yang takut ditinggal ibunya.

“Hei... Seok, kan, sudah janji. Mommy juga janji, kan?” Nala berjongkok dan memeluk putranya lebih erat. Tangannya mengusap punggung kecil itu perlahan. “Mommy hanya sebentar. Lagipula, Seok bisa menelepon dan video call dengan Mommy kapan pun. Jadi, berhenti menangis, Mommy mohon, ya?”

Jun-seok mengangguk kecil di bahu ibunya isakannya perlahan mereda sebelum akhirnya ia melepaskan pelukan tersebut.

“Seok akan menelepon Mommy kalau rindu... Iya, kan, Daddy?” katanya sembari meraih tangan ayahnya.

Junho menatap putranya, lalu tersenyum tipis. Senyum yang sejak pagi seolah enggan muncul di bibirnya akhirnya terlihat juga. Nala berdiri dan mengalihkan pandangannya kepada sang suami dia menatap Junho lama. Sangat lama, seolah masih ada sesuatu yang ingin dipastikannya sebelum benar-benar pergi. Kemudian, tanpa mengatakan apa-apa, Nala melangkah mendekat dan memeluk pria itu.

Junho tidak langsung membalas pelukannya, Nala menunggu beberapa detik sebelum akhirnya berbisik di dekat dadanya.

“Terima kasih sudah percaya... Aku janji akan ingat pesan Oppa.”

Barulah kedua lengan Junho terangkat dan membalas pelukan itu.

“Hati-hati. Jangan kelelahan. Makan yang cukup dan jangan nakal. Ingat siapa dirimu,” katanya sembari mengecup puncak kepala Nala.

Nala mengangguk kecil dalam pelukannya kemudian melepaskan pelukan tersebut dan kembali beralih kepada Jun-seok.

“Seok... jangan nakal, oke? Jangan merepotkan Daddy. Seok, kan, anak baik... Heum?”

Jun-seok mengangguk namun, sebelum Nala sempat berbalik, bocah itu kembali memeluknya. Kali ini Nala membalas tanpa banyak bicara, mengusap rambut putranya beberapa kali sebelum akhirnya melepaskan pelukan tersebut.

“Mommy pergi dulu, ya.”

“Iya...”

Nala tersenyum kecil.

Setelah memastikan keduanya tetap berdiri di sana, Nala membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Pintu tertutup perlahan, memisahkan dirinya dari dua orang yang sejak tadi mengantarnya.

Mobil mulai bergerak meninggalkan basement, membawa Nala menuju agensi. Dari sanalah seluruh rombongan Creative Retreat akan berangkat bersama menuju Nanji Camp Ground.

Dari balik kaca jendela, Nala sempat menoleh sekali lagi memastikan Junho masih berdiri di tempatnya bersama Jun-seok.

Nala mengangkat tangannya kecil sebagai salam perpisahan, Jun-seok langsung membalas dengan lambaian tangan, sementara Junho hanya berdiri di samping putra mereka, menatap mobil itu sampai perlahan menghilang dari pandangan.

Di dalam mobil yang membawanya ke titik kumpul, Nala sempat melirik ponselnya sekali lagi. Ia menarik napas pelan, lalu menyimpannya kembali ke dalam tas.

Untuk dua hari ke depan, ia tahu bahwa ia harus menjalani dua peran sekaligus: perempuan yang sedang menjaga rumah tangganya tetap utuh, dan pemimpin kreatif yang dituntut jernih, tajam, serta hadir sepenuhnya.

Lokakarya ini memang belum dimulai, tetapi bagi Nala, prosesnya telah berjalan sejak ia memilih untuk tetap berangkat. Setelah tiba di agensi dan seluruh anggota berkumpul, mobil rombongan akhirnya berangkat menjelang senja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!