Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.
Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.
Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?
Ayo temukan kisah mereka di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghilang
**
Saat kamu berjalan di terowongan gelap, apakah kamu yakin jalan itu selamanya akan terus gelap?
Begitupun, saat kamu berjalan di jalan terang penuh cahaya, apakah kamu sudah yakin jalan kamu selamanya akan selalu terang?
Tidak! Percayalah, diujung jalan yang kamu lewati pasti akan selalu ada akhirnya. Tidak selamanya gelap, percayalah diujung kegelapan ini pasti ada cahaya. Bukannya, dunia ini masih berputar?
Felisa sekarang ini merasa kebalikannya, akhir-akhir ini dia merasa jalannya terasa penuh cahaya, setelah selama ini kegelapan selalu menghantui hidupnya. Baru saja bernapas lega, bahkan nyaris terlena akan ketenangan ini. Tapi, ternyata kehidupan memang seperti roda yang berputar. Nyatanya, kehidupan dalam fase ini harus berakhir dan kembali berjalan ke dalam fase kegelapan.
"Kamu kenapa sih, dari semalam murung terus?" tanya Rafa yang sudah mendudukan dirinya di samping Felisa di sofa.
Felisa melirik Elvan yang baru saja tidur, padahal ini masih jam 10 pagi. Mungkin, ini efek obat juga. Biarlah, anak itu istirahat karena nanti sore mereka akan pulang dan kemungkinan Elvan akan berubah aktif lagi di rumah.
"Dari semalam pulang dari taman kamu aneh, tiba-tiba jadi banyak melamun." Rafa menepuk pundak Felisa yang kembali membuat wanita fokus ke arahnya lagi.
Felisa sekali lagi memperhatikan Rafa, meyakinkan dirinya apakah harus menceritakan kejadian semalam ke Rafa atau tidak. Sekali lagi, menghela napas berat. Memang lebih baik Rafa harus tahu, karena bagaimanapun dia mungkin akan terlibat suatu hari nanti.
"Semalam, aku ketemu Om dari pihak Ibu. Dia itu kakak pertama Ibu." Felisa menarik napas pelan, seketika semua kenangan buruk itu kembali berputar di kepalanya.
"Anak pembawa sial!"
"Seharusnya, kamu gak lahir!"
"Seandainya, kamu gak lahir mungkin kehidupan Ibu kamu akan baik-baik saja! Keluarga ini tidak harus tercerai berai seperti ini!"
"Mereka dulu buang aku, anggap aku anak pembawa sial." Felisa terkekeh, tapi nyatanya hatinya terluka. "Tapi sekarang, sudah sebulan ini mereka merongrong aku buat datang ke sana. Lucu banget!"
Rafa tidak berkata apapun, selain dia belum tahu permasalahan apa dan Rafa pikir Felisa hanya butuh untuk didengarkan. Rafa hanya menggenggam tangan Felisa, memberitahu pada wanita itu bahwa dia ada di sini.
"Aku harus datang gak sih, ke sana? Dateng nemuin orang-orang yang jelas udah buang aku?" Felisa menatap Rafa penuh permohonan.
"Hati kamu bilang mau datang apa enggak? Kalau itu berat buat kamu dan buka luka kamu, lebih baik jangan. Tapi jika kamu memang mau pergi, mau aku temani?"
Rafa pernah mendengar sedikit cerita tentang keluarga pihak ibu Felisa saat waktu itu. Rafa hanya tahu garis besarnya, jika keluarga dari pihak ibunya tidak pernah setuju atas pernikahan ini, menentang keras perpindahan agama Ibu Felisa, menyalahkan pihak pesantren atas kematiannya serta tidak pernah menerima kehadiran Felisa di keluarga itu.
Rafa tidak mencoba bertanya karena dia sangat menghargai Felisa dalam hal privasi.
"Gak tahu. Tapi kalaupun pergi, aku lebih baik sendiri ... enggak!" Felisa menyimpan telunjuk di atas bibir Rafa, menghentikan apapun protesan Rafa. "Kehadiran aku aja belum diterima oleh mereka, apalagi kamu. Aku titip Elvan aja, aku gak akan lama kok."
"Aku suami kamu kalau lupa, aku akan bertanggungjawab atas apapun itu." Felisa kembali menggeleng atas perkataan Rafa ini. "Tapi, kamu gimana kalau di sana kenapa-kenapa?"
Felisa malah terkekeh. "Mereka masih keluarga aku, nyakitin mereka sebatas mental bukan fisik. Aku gak mau Elvan kenapa-kenapa dan ngerasain apa yang aku rasakan, jadi tolong kamu jaga Elvan nanti kalau aku emang harus terpaksa pergi."
Rafa menghela napas berat. "Bandung, kan?" Felisa mengangguk.
Rafa lalu merengkuh Felisa dalam pelukannya. Menyalurkan kekuatan pada Felisa bahwa semuanya pasti baik-baik saja.
*
Waktu berjalan terasa cepat, setelah sebulan yang lalu Elvan keluar dari rumah sakit, keadaan keluarga ini berjalan seperti biasanya.
Pagi ini, mereka sedang bersiap-siap berdandan untuk pergi ke acara kenaikan kelas Elvan dari TK A ke TK B. Felisa sudah heboh setelah mandi harus kembali berkeringat mengejar-ngejar Elvan yang kabur tidak mau mandi. Anehnya, Rafa masih anteng tertidur disaat kehebohan itu. Memang, semalam mereka tidur bertiga karena Elvan yang merengek.
"Sekarang diem, ini udah ganteng. Momi mau bangunkan papa dulu!" perintah Felisa pada Elvan yang sudah ia dudukan di sofa setelah memakai lengkap seragam sekolahnya. Tak lupa, Felisa juga menyalakan televisi.
Elvan mengacungkan dua jempolnya. "Siap, Bos!"
Rasanya, Felisa ingin menjewer telinga anak itu. Tapi memilih mencubit kecil pipi Elvan, kemudian masuk kamar untuk membangunkan Rafa serta dirinya yang harus bersiap. Kebetulan, dia tadi mandi langsung pakai daster rumahan karena dia yakin akan ada adegan drama pagi ini.
"Raf, bangun!" Felisa mengguncang tubuh Rafa. "Setengah jam lagi kita harus berangkat."
Rafa terlihat mengerang, perlahan matanya terbuka. "Jam berapa sekarang?"
"Jam 7. Ayo bangun, Elvan lagi nunggu sarapan!" Felisa sudah berjalan untuk bersiap juga.
"Ngantuk banget, semalam gak bisa tidur. Bener-bener deh, Elvan tidurnya kaya lagi nendang bola dan aku jadi bolanya," keluh Rafa sambil merentangkan kedua tangannya.
Felisa terkekeh. "Anak kamu."
Rafa mendengus. "Giliran jeleknya anak aku, terus bagusnya anak kamu semua." Felisa hanya menanggapi dengan tertawa.
Akhirnya, acara drama-drama itu berakhir juga setelah Felisa terus mengomel sampai suaranya serak. Bukan hanya terhadap Elvan, tapi kepada Rafa juga. Mereka berdua selalu kompak dalam hal membuat keributan.
Di tengah perjalanan, Elvan merengek meminta susu. Sudah berbagai rayuan Felisa dan Rafa lakukan supaya nanti telah sampai di sekolah beli susunya, tapi Elvan malah menangis. Terpaksa, Rafa berhenti di pinggir jalan, sedang Felisa yang akan ke supermarket di seberang.
Felisa sudah berbelanja susu sekalian dengan berbagai Snack, jaga-jaga jika Elvan nanti rewel lagi.
Baru saja Felisa mau menyebrang, seseorang membekap Felisa dengan sapu tangan. Sebelum terjatuh pingsan, tubuhnya sudah dimasukkan ke dalam mobil dan perlahan melaju cepat.
Sudah setengah jam Rafa dan Elvan menunggu, tapi Felisa belum juga datang. Rafa tadi sudah mencoba menghubungi, tapi sayang ponsel Felisa malah ada di mobil.
"Tunggu di sini sebentar, Papa mau jemput mama dulu!" Akhirnya Rafa memutuskan untuk menyusul ke supermarket karena jujur perasaannya sudah tidak tenang.
"Ikut!" rengek Elvan sudah memegang baju Rafa karena tidak mau ditinggal.
"Sebentar, ok! Tunggu di sini, nanti baju Elvan kotor. Kan, nanti mau tampil!"
Elvan terlihat berpikir kemudian mengangguk setuju, setelah itu bocah itu kembali sibuk bermain game.
Rafa sudah mencari Felisa ke seluruh isi supermarket, bahkan Rafa sudah mencari ke toilet karena siapa tahu Felisa ada di sana, tapi sama sekali tidak ada. Rafa juga bertanya ke kasir supermarket dengan menyebutkan ciri-ciri Felisa, tapi kasir bilang Felisa sudah keluar sejak tadi. Jika memang sudah keluar, kenapa belum masuk mobil?
Saat melirik jam, 10 menit lagi acara dimulai. Sementara Elvan, kata Felisa ada penampilan diawal dengan teman sekelasnya. Apalagi, saat Alexa juga menelepon dan menanyakan kita sudah dimana, karena acara sudah mau dimulai.
Rafa memutuskan untuk menunggu 10 menit lagi di mobil, siapa tahu Felisa sedang membeli hal lain di toko lain. Mana mungkin kan, dia lupa jadwal tampil anaknya? Mana mungkin, dia juga pergi begitu saja?
Tapi, Felisa belum juga datang. Sementara, Elvan sudah merengek meminta berangkat dan terus menanyakan mama-nya dimana? Terpaksa, Rafa berangkat dan meninggalkan Felisa, daripada Elvan yang tidak jadi tampil karena anak itu sudah bersemangat sejak kemarin.
"Nanti dia menyusul bisa menaiki taxi."
"Kamu kemana, sih?"
Bahkan, saat penampilan Elvan yang terakhir dan sudah pengambilan raport tapi Felisa belum juga datang. Pikiran Rafa sudah bercabang, antara fokus menonton Elvan dan memikirkan kemungkinan kemana Felisa. Dia juga semakin bingung saat Elvan terus merengek menanyakan mama-nya, ditambah Alexa juga terus menanyakan ketidakhadiran Felisa.
Saat Alexa mengajak untuk makan-makan, Rafa langsung saja menitipkan Elvan karena dia akan kembali mencari Felisa di tempat tadi. Alexa sempat bertanya ada apa, tapi Rafa langsung pergi dan tidak ada waktu untuk menjawab. Beruntung, ada Cio jadi Elvan gampang untuk ditinggal.
Ini sudah hampir tengah malam, Rafa sedang memarkirkan mobilnya di pinggir jalan yang tadi. Memukul stir berulang, sudah bingung harus mencari Felisa kemana lagi. Rafa rasanya sudah mengelilingi seluruh jalanan ibukota, mampir di banyak supermarket dan toko. Bahkan, sudah pergi ke tempat kerja Felisa waktu itu. Dia juga sudah menelepon nomer Meri, tapi kata asisten Felisa itu juga tidak tahu. Bahkan, keluarga Felisa di Sukabumi juga sudah ditelepon, tapi sama sekali tidak ada yang tahu.
Elvan sudah Rafa titipkan di rumah Mama, otomatis membuat semua orang rumah tahu tentang hilangnya Felisa. Mereka sudah menyuruh menelepon polisi, tapi ini belum 24 jam jadi belum bisa proses.
Rafa sendiri, mulai ragu apakah Felisa hilang atau memang sudah berniat menghilang. Wanita itu memang pergi sendiri meninggal dia dan Elvan?
"Apa kamu, benar-benar hilang atau memang mau menghilang dari hidup kita,"
##