NovelToon NovelToon
Teror Arwah Ci Sepi

Teror Arwah Ci Sepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.

Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!

Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.

Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. DUA GARIS MERAH

"Kenapa nada dering gue jadi berubah begini? Sejak kapan lagu marawis koplo masuk ke dalam daftar putar HP ini?" gumamnya kebingungan.

Ia baru ingat, kemarin sore Amel sempat meminjam ponselnya dengan alasan "mau mengecek kekuatan sinyal desa".

Si bocah TikTok itu pasti sudah menyabotase pengaturan nada dering teleponnya sebagai aksi balas dendam yang terstruktur.

Rahsya mendengus kesal, namun ia tetap menekan tombol hijau untuk mengangkat telepon dari nomor Pak Anwar yang tertera di layar.

"Halo, Pak Anwar? Ada apa menelepon malam-malam begini?" tanya Rahsya dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.

"D-dokter... Dokter Rahsya!" suara Pak Anwar di seberang sambungan telepon terdengar sangat panik, diselingi oleh suara gemeletuk giginya yang beradu karena ketakutan.

"Dokter ada di mana sekarang? Di dalam kamar? Coba Dokter lihat ke arah jendela... Jangan menengok ke belakang dulu, Dok! Cepat keluar dari ruangan itu sekarang juga!"

Rahsya terdiam seketika. Bulu kuduk di lehernya meremang tanpa sebab. Ia perlahan-lahan melirik ke arah jendela besar di samping tempat tidurnya, di mana kain tirainya tampak sedikit tersingkap.

"Saya lagi di kamar, Pak. Memangnya ada apa sih? Heboh banget kedengarannya," tanya Rahsya ketus.

Kejengkelannya malam ini benar-benar sudah mencapai ubun-ubun kepala. Setiap kali ia sudah hampir menjemput mimpi, selalu saja ada gangguan yang datang mengacaukan, mulai dari bayangan Amel hingga konser dangdut marawis di ponselnya.

"Ada hantu cewek, Pak Dokter! Lagi nongkrong diam di jendela atas, barangkali itu jendela kamarnya Bapak!" seru Pak Anwar di seberang sana. Suaranya naik dua oktav saking histerisnya.

"Bapak ini jangan bercanda ya. Menelepon tengah malam cuma mau bilang hal takhayul begitu? Maaf Pak, saya mau istirahat," balas Rahsya

dingin.

Tut!

Rahsya mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia menghela napas panjang untuk menenangkan sarafnya, namun sepasang matanya tetap tidak bisa berhenti melirik ke arah jendela yang gordennya sedikit tersingkap itu.

Rasa penasaran kedokterannya mulai menggerogoti logika rasionalnya. Dengan jantung yang mulai berdegup kencang, ia turun dari atas ranjang dan melangkah perlahan namun pasti ke arah jendela.

Srak!

Dengan satu gerakan tangan yang kasar—seolah-olah sedang mencabut plester pada luka—Rahsya menyibak kain gorden itu sepenuhnya.

Kosong. Tidak ada penampakan wanita pucat, tidak ada sepasang mata merah yang melotot. Hanya ada pemandangan kegelapan malam Desa Ci Sepi yang tampak sunyi dan tenang.

Namun, tepat saat ia hendak menarik kembali kain gorden untuk menutup jendela, sudut mata Rahsya menangkap keberadaan sesuatu yang ganjil di atas lantai, tepat di bawah bingkai jendela kayu. Sebuah benda plastik putih berukuran panjang dan kecil.

Rahsya berjongkok perlahan, memungut benda tersebut dengan kening yang berkerut dalam. Itu adalah sebuah alat uji kehamilan atau testpack.

Rahsya mengangkat benda itu ke arah sorot lampu tidur yang temaram.

Seketika, jantungnya seolah-olah berhenti berdetak selama beberapa detik. Dua buah garis merah tegas terpampang nyata di sana. Hasilnya positif.

"Testpack? Punya siapa ini bisa ada di dalam kamar gue?" gumam Rahsya heran, kebingungan setengah mati.

Sebagai seorang dokter, ia tahu betul bahwa ia tidak pernah membawa limbah atau alat medis apa pun dari klinik garasi ke dalam kamar pribadinya. Pikirannya mendadak melayang liar tanpa arah...

'Amel? Tidak mungkin dia, kan? Kami baru saja kecelakaan tadi siang!'

Ia segera melempar benda plastik itu ke dalam tong sampah sudut kamar seolah-olah benda itu mengandung racun berbahaya.

Rahsya kemudian menempelkan wajahnya dekat ke kaca jendela, mencoba mengintip ke arah halaman bawah vila untuk mengalihkan pikiran buruknya. Di sana, di bawah sorotan lampu jalan yang temaram, ia bisa melihat Pak Udin dan Pak Anwar yang tampak sedang kalang kabut celingukan.

"Pak, kok hantu ceweknya tiba-tiba berubah jadi cowok?" bisik Pak Anwar di bawah sana sambil mendongak ngeri ke arah jendela kamar Rahsya.

Pak Udin buru-buru memungut senter besarnya yang tadi sempat terlempar ke aspal, lalu mengarahkan sorot cahayanya tepat ke arah wajah Rahsya.

"Itu mah Pak Rahsya, bukan hantu cewek yang tadi kita lihat!"

"Lah, terus hantunya pergi ke mana dong? Kok hilangnya cepat banget tidak ketahuan?" tanya Pak Anwar kebingungan sambil sibuk menoleh ke arah rumpun pohon bambu di dekat pagar.

Rahsya membuka sedikit celah jendela kamarnya, membiarkan angin dingin malam masuk menerpa wajahnya yang tegang.

"Pak Udin! Pak Anwar! Tidak ada hantu apa pun di atas sini! Sudah, kalian pulang sana ke pos ronda, jangan bikin gaduh di pekarangan rumah orang!" teriak Rahsya dari lantai dua.

Namun, tepat saat Rahsya hendak menarik kembali bingkai jendela untuk menguncinya rapat-rapat, ia mendadak merasakan adanya sebuah hembusan napas sedingin es batu tepat di lubang telinga kirinya, diikuti oleh sebuah suara bisikan lembut wanita yang sangat dikenalinya dari masa lalu.

"Rahsya... jangan pulang ke Jakarta dulu..."

Deg!

Jantung Rahsya seakan-akan berhenti berdetak selama beberapa detik. Bulu kuduk di leher dan tengkuknya langsung berdiri tegak, mengirimkan sebuah sinyal bahaya yang tidak akan pernah bisa dijelaskan secara medis. Ia memutar tubuhnya dengan perlahan, lalu sepasang matanya menyapu tajam setiap sudut kamar yang hanya diterangi oleh sorot lampu tidur yang temaram.

Kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana selain bayangan perabotan kayu yang tampak memanjang kaku akibat siluet cahaya.

Rahsya mematung di tempatnya berdiri, mencoba mengatur ritme napasnya yang mulai memburu. Ia berusaha keras meyakinkan logika dokternya bahwa suara barusan hanyalah murni sebuah halusinasi pendengaran akibat faktor kelelahan fisik atau kekurangan pasokan oksigen di otaknya.

'Sebenarnya gue kenapa sih?' batin Rahsya bertanya-tanya dengan sangat gelisah.

'Dulu waktu gue masih sering berlibur ke desa ini, tidak pernah ada gangguan gaib yang seaneh ini. Apa kesialan mistis si Reno sekarang sudah menular ke gue?'

Rahsya memang sudah sangat akrab dengan bangunan vila pribadi ini sejak ia masih kecil. Namun, tiga tahun belakangan semenjak ia resmi menyandang gelar dokter umum dan sibuk berpraktik di Jakarta, ia memang sudah sangat jarang berkunjung ke Desa Ci Sepi.

Seingatnya, desa ini hanyalah sebuah pemukiman yang sangat tenang, sedikit membosankan bagi orang kota, namun jauh dari kata angker. Semua keanehan mistis ini—mulai dari kematian tragis Rehan, penampakan siluet wanita di jendela, hingga suara bisikan misterius barusan—seolah-olah baru muncul sejak malam ia terpaksa menjadi "bidan sapi" dadakan milik Pak Udin di dekat telaga.

Rahsya segera menutup daun jendela kamarnya dengan bantingan keras, lalu memutar anak kuncinya rapat-rapat. Ia melangkah kembali ke atas ranjang, namun sepasang matanya tidak bisa berhenti melirik ke arah tong sampah di sudut kamar, tempat ia membuang alat uji kehamilan atau testpack bergaris dua tadi. Pikirannya malam ini benar-benar bercabang antara teror mutilasi di telaga dan misteri benda plastik medis di dalam kamarnya sendiri.

Di halaman luar vila, suara perdebatan Pak Udin dan Pak Anwar masih terdengar samar-samar, berdebat tentang sosok hantu yang konon bisa berubah wujud menjadi seorang dokter tampan.

"Sudah, Pak Anwar. Mungkin hantunya memang sedang kebagian shift malam, makanya posisinya gantian sama Pak Rahsya!" seru Pak Udin dari bawah. Suaranya terdengar parau karena tertiup angin malam yang kencang.

Rahsya segera merebahkan kembali tubuhnya ke kasur, lalu menarik selimut tebalnya hingga menutupi kedua telinga. Ia tidak mau memedulikan lagi perdebatan absurd kedua peronda itu tentang sosok hantu yang mereka lihat di jendela.

Saat ini, ia hanya butuh mengistirahatkan tubuhnya karena besok siang ia sudah harus pulang kembali ke Jakarta.

****

Sementara itu, di bawah bayang-bayang pohon beringin tua yang akar-akar gantungnya menjuntai menyerupai rambut raksasa, Jaka dan Pak Dahlan melangkah dengan sangat waspada.

Mereka baru saja berhasil keluar dari kepekatan hutan jati yang gelap dan kini mulai menginjakkan kaki di area tepian telaga yang sunyi. Namun, baru beberapa meter mereka melangkah maju, sebuah bunyi benturan benda jatuh yang cukup berat mendadak mengejutkan langkah keduanya.

Buk!

"Apaan tuh?" ucap Pak Dahlan spontan. Ia tersentak kaget. Tangannya refleks mengarahkan sorot senter ke kanan dan ke kiri, menyisir area semak-semak belukar yang gelap.

"Paling juga buah kelapa jatuh, Pak," jawab Jaka santai tanpa beban.

Sebagai warga lokal yang lahir di desa ini, ia sudah hafal betul kalau di dekat pohon beringin tua itu memang terdapat sebatang pohon kelapa yang buahnya sangat lebat dan sudah tua-tua. Jaka mengira gaya gravitasi bumi baru saja menjalankan tugasnya malam ini.

Pak Dahlan terdiam sejenak. Tidak lama kemudian, sebuah senyum semringah yang lebar mendadak terukir di wajah sangarnya yang menakutkan.

"Kebetulan nih, Jak. Istri saya di rumah memang lagi butuh kelapa tua buat bikin santan," ucap Pak Dahlan sambil menyerahkan senter besarnya kepada Jaka.

"Pegang senternya sebentar, saya mau mengambil kelapa itu dulu. Daripada beli di pasar harganya mahal, mending ambil yang gratisan begini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!