[SEASON 2]
Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'
"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Bayi Yang Lahir Dari Kristal
"Apa ini... telur raksasa?" gumam Lucas takjub. Otak petaninya mencoba mencari logika.
Apakah ini telur dinosaurus purba yang entah bagaimana jatuh dari langit? Ataukah benda berharga dari peradaban kuno yang terkubur?
Sempat terlintas di benak Lucas yang naif, jika benda ini memiliki nilai jual yang tinggi, dia dan Sarah bisa kaya mendadak dan tidak perlu memeras keringat di ladang setiap hari. Lucas tersenyum lebar sesaat, membayangkan tumpukan emas. Namun, seringai itu langsung lenyap begitu dia membayangkan wajah murka Sarah jika tahu dia kabur ke hutan demi mencari batu bernilai tinggi.
Lucas menggeleng cepat, menepuk dahinya sendiri. "Aduh, apa yang kupikirkan? Ini pasti cuma batu luar angkasa biasa. Lebih baik aku laporkan saja ke kepala desa..."
Tepat ketika Lucas hendak berbalik untuk meninggalkan kawah, sebuah suara menghentikan gerakannya.
Krek.
Garis retakan muncul di permukaan telur pualam tersebut. Cahaya putih benderang menyembur keluar, membelah cangkang menjadi dua bagian.
Saat cangkang itu terbuka sepenuhnya, selimut energi hangat menguap ke udara, menampakkan sesosok makhluk kecil di atas hamparan kain sutra putih.
Seorang bayi perempuan yang baru lahir. Kulitnya seputih pualam, parasnya sangat cantik menawan layaknya dewi kecil.
Jantung Lucas berdentum hebat. Selama lima belas tahun, dia dan istrinya mendambakan seorang anak. Dan kini, alam semesta menyajikan seorang bayi perempuan yang suci tepat di hadapannya.
Bawa pulang atau tidak? Bagaimana kalau bayi ini berbahaya? Tapi bagaimana mungkin makhluk seindah ini berbahaya?
Pikiran Lucas berkecamuk hebat antara rasa tidak percaya, ketakutan akan hal magis, dan naluri kebapakan yang mendadak bangkit.
Dengan tangan gemetar, ia berlutut di dasar kawah, menyentuh pipi lembut sang bayi. Debar kegembiraan meluap di dadanya, mengikis semua rasa lelah dan takut akan kutukan kuno.
Sambil mendekap erat bundelan sutra putih itu, Lucas memotong jalur ladang tomat agar tidak terlihat oleh warga desa, lalu menyelinap melalui pintu belakang rumahnya.
Cklek.
Lucas mengunci pintu perlahan, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berpacu liar. Ia melangkah cepat meniti lantai kayu menuju kamar tidur utama di lantai satu.
"Sayang, lihat apa yang kubawa!" seru Lucas dengan nada bergetar.
Sarah, yang sedang berbaring untuk memulihkan diri akibat kepanikan di ladang tadi, langsung menegakkan punggung. Tatapannya seketika terkunci pada bundelan kain di dekapan suaminya. Dari balik lipatan kain itu, samar-samar terdengar lenguhan kecil.
"Benda apa itu, Lucas? Kau nekat kembali ke hutan?" tanya Sarah curiga.
"Ini bukan benda, Sarah. Ini hadiah terbaik dari alam semesta untukmu."
Lucas melangkah mendekat, membuka sedikit lipatan kain sutra tersebut untuk memperlihatkan isinya.
"Oh, Tuhan... Lucas?!" Sarah terpekik kecil, refleks menutup mulutnya.
Di hadapannya, terbaring seorang bayi perempuan yang teramat cantik. Kulitnya seputih pualam, dan sejumput rambut seputih salju tumbuh di kepala mungilnya. Sepasang manik mata beningnya terbuka perlahan, menatap polos ke arah Sarah.
"Oekk! Oekk!"
Tangisan jernih seketika pecah, membelah kesunyian kamar kayu mereka.
"Lucas... apa aku sedang bermimpi? Kenapa bisa ada bayi di tengah hutan?"
"Aku menemukannya di dalam kawah bekas ledakan, Sarah. Dia berada di dalam bongkahan kristal berbentuk telur raksasa yang mendadak terbelah," jawab Lucas panik.
"Bagaimana ini? Apa kita harus melapor ke kepala desa?"
Namun, ketakutan Lucas tidak menular pada istrinya. Air mata haru mendadak mengalir deras membasahi pipi Sarah. Tanpa ragu, ia mengambil alih tubuh mungil bayi perempuan itu dan mendekapnya erat ke dada.
"Sudahlah, Lucas! Jangan panik," ucap Sarah, suaranya dipenuhi emosi. "Aku justru ingin berterima kasih padamu. Lima belas tahun kita hidup dalam kesunyian tanpa anak. Akhirnya aku bisa menimang seorang bayi. Aku akan menjaga, merawat, dan menganggapnya sebagai darah dagingku sendiri."
Lucas yang berdiri di tepi ranjang hanya bisa menatap dengan mata berkaca-kaca, ikut terharu melihat binar kehidupan yang kembali menyala di mata istrinya.
"Mulai hari ini, aku adalah ibunya, dan kau adalah ayahnya," ucap Sarah sambil tersenyum manis, membiarkan jemari mungil si bayi menyentuh jarinya.
"Sekarang, segera pergi ke kota. Beli pakaian bayi, susu, selimut, dan semua perlengkapan yang dia butuhkan!"
"Baik, aku berangkat sekarang!"
Lucas memutar tubuhnya dengan tergesa-gesa, namun langkahnya kembali terhenti di ambang pintu.
"Tunggu, Sarah. Kita belum memberikan nama untuk putri kecil kita."
Sarah memandangi helai rambut sang bayi yang berkilau terkena pantulan cahaya lilin. Sebuah kata mendadak terlintas begitu saja di kepalanya, seolah ada suara gaib yang membisikkannya.
"White," ucap Sarah lirih. Ia menatap Lucas dengan mata berbinar. "Kita akan menamainya White Emerson. Entah kenapa, nama itu terdengar begitu suci dan sangat cocok dengan rambutnya yang seputih salju."
Lucas tersenyum lebar dan mengangguk mantap. "White Emerson... nama yang sangat indah. Kalau begitu, aku berangkat dulu, Sarah!"
Lucas bergegas keluar. Tak lama kemudian, derap langkah kuda tunggangannya terdengar membelah keheningan bukit Arcania, melaju kencang menuju Kota Luminara demi memborong keperluan bayi mereka.
Sementara itu di dalam kamar, sentuhan penuh kasih Sarah berhasil menenangkan tangisan sang bayi hingga terlelap kembali. Sarah memandangi wajah mungil yang tenang itu dengan saksama. Namun, sebuah perasaan asing mendadak merayap di benaknya.
Kenapa suasana ini rasanya tidak asing? Aku merasa pernah menggendong bayi di tengah situasi mencekam seperti ini sebelumnya... tapi di mana? batinnya bertanya-tanya.
Ada kilasan memori semu yang samar—seolah-olah dia pernah berada di bawah bayang-bayang ketakutan yang hebat.
Sarah segera menggelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha mengusir lamunan aneh tersebut. Apa yang sedang kupikirkan? Itu tidak mungkin. Jelas-jelas aku belum pernah hamil atau memiliki anak sebelumnya.
Sarah kembali tersenyum manis, merapatkan kain selimutnya untuk membungkus tubuh White.
"Ya Tuhan, aku berharap anak ini adalah pertanda baik bagi keluarga kami. Semoga dia membawa warna baru yang indah."
****
Lucas telah menempuh perjalanan jauh membelah jalur berbatu menggunakan kereta kuda tuanya. Pria itu kini telah kembali dari pusat Kota Luminara menuju rumah kayu sederhananya di bukit Arcania. Di bak belakang kereta, terikat beberapa kantong besar berisi tumpukan perlengkapan bayi yang baru saja diborongnya untuk White.
Pasangan suami istri petani itu sebenarnya berada di puncak kebahagiaan. Mereka sangat bersyukur karena setelah lima belas tahun menanti dalam kesunyian, alam semesta akhirnya mengirimkan seorang anak, meskipun White bukanlah darah daging mereka sendiri.
Namun, kebahagiaan itu mendadak terusik saat Sarah mulai membongkar isi kantong belanjaan di atas ranjang.
"Lucas... kenapa semua pakaian, selimut, dan handuk ini berwarna merah muda? Apa kau sama sekali tidak melihat warna lain di toko?"
Sarah menyipitkan matanya, menatap tumpukan pakaian White yang seragam memancarkan warna pink cerah. Ia melempar selembar baju bayi ke atas kasur dengan nada kesal yang mulai ditekan.
"Tidak ada yang salah dengan itu, Sarah. Aku sengaja memilih warna merah muda agar anak perempuan kita terlihat lebih feminin dan anggun," jawab Lucas santai, tanpa menyadari bahaya yang sedang mengintainya.
Sarah mengembuskan napas panjang. Sebagai wanita yang terbiasa hidup keras di ladang, Sarah memiliki kepribadian tomboi dan sangat membenci warna merah muda yang menurutnya terlalu kekanak-kanakan.
"Apa kau sedang menyindirku, Lucas? Apa kau khawatir anak ini tidak akan tumbuh feminin karena memiliki ibu yang kasar sepertiku?"