NovelToon NovelToon
Si Detektif Gila

Si Detektif Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Sistem
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Menurut informasi dari alat penyadap, tim Pak Dimas sudah mengalihkan fokus penyelidikan mereka ke dua kasus lama. Bahkan, dia sudah mengirim seseorang ke rumah tua korban untuk mencari petunjuk dan menghidupkan kembali kasus yang selama ini terbengkalai.

Sepertinya Pak Dimas benar-benar sudah kehabisan jalan.

Revan tidak bisa menahan tawa kecil.

“Cih! Itu salah kalian sendiri karena meremehkan gue. Kali ini, jangan harap gue bakal bagi-bagi informasi berharga ini!” gumamnya dalam hati.

Dia kembali fokus mencatat semua informasi terbaru di notepad ponselnya. Tak lama kemudian, pikirannya masuk ke mode analisis.

Sekarang dia hampir yakin bahwa Kasus Tangan Hilang memiliki hubungan dengan piano!

Masalahnya, bagaimana hubungan itu?

Revan masih belum bisa memastikannya.

Dia merasa bahwa karena ketiga korban memiliki keterkaitan dengan piano, pelakunya kemungkinan besar juga bukan orang sembarangan. Bisa jadi dia seorang pianis, guru piano, atau seseorang yang sangat memahami dunia musik.

Dan orang itu pasti pernah berinteraksi dengan ketiga korban.

Menurut informasi dari Nina, ketiga korban ternyata berasal dari sekolah musik yang berbeda dan belajar kepada guru yang berbeda pula.

Meski ketiganya sama-sama sudah mencapai tingkat piano tertinggi, mereka mengikuti ujian pada waktu yang berbeda.

Dengan kata lain, ketiganya mungkin memang sama-sama ahli piano, tetapi mereka tidak saling mengenal.

Lalu...

Mungkinkah ketiganya sebenarnya mengenal pelaku secara terpisah?

Begitu memikirkan kemungkinan itu, Revan kembali menelepon Nina.

“Cari riwayat belajar piano ketiga korban. Aku mau tahu apakah mereka pernah belajar atau mengikuti kegiatan yang sama pada periode tertentu.”

Nina jelas tidak terlalu senang mendengar permintaan itu.

“Kak Revan, tahu nggak betapa susahnya ini? Kalau mau mencari data seperti itu, aku harus menghubungi semua sekolah musik yang pernah mereka datangi. Kejadiannya sudah hampir dua puluh tahun lalu! Beberapa sekolah musik bahkan mungkin sudah tutup. Nyari datanya hampir mustahil!”

“Please!”

Karena Nina adalah satu-satunya orang yang masih mau membantunya, Revan terpaksa menurunkan gengsinya.

“Informasi ini benar-benar penting. Kalau kasusnya berhasil kita pecahkan, aku traktir kamu makan.”

“Nah, begitu dong.”

Suara Nina langsung terdengar lebih puas.

“Aku bakal coba semaksimal mungkin.”

“Tapi...” Revan kembali mengingatkan, “jangan kasih tahu siapa pun soal penyelidikan kita. Terutama Budi dan Tim B. Mengerti?”

“Tenang aja. Aku paham.”

Nina langsung menutup telepon setelah mengatakan itu.

Revan menggosok kedua tangannya dengan gelisah. Dia sudah tidak sabar mendapatkan jawabannya.

Namun, rasa tidak sabar tidak akan membantu apa pun.

Masih ada satu urusan penting yang harus diselesaikannya.

Akhirnya Revan hanya bisa kembali ke lobi dan duduk di tempatnya semula.

Sesi tanya jawab masih berlangsung.

Wali kelas tampak bersemangat menjawab berbagai pertanyaan para orang tua murid. Para orang tua pun mendengarkan dengan serius.

Tidak banyak yang memperhatikan ketika Revan kembali ke tempat duduknya.

Revan sendiri tidak terlalu peduli.

Pikirannya terus berputar pada satu hal.

Apa hubungan antara Kasus Tangan Hilang dengan piano?

Berbagai bukti, detail, dan kemungkinan terus bermunculan di kepalanya.

Satu demi satu.

Bahkan, tanpa sadar pikirannya kembali terhubung dengan Sistem Keajaiban miliknya.

Mungkinkah menyamar sebagai ayah Siska, datang ke ruang musik sekolah, lalu melihat para orang tua bermain piano merupakan bagian dari petualangan yang diberikan sistem hari ini?

Sayangnya, Revan tidak bisa mengingat petunjuk maupun tema petualangannya.

Lantas, apa sebenarnya rahasia di balik petualangan ini?

Dia mulai mengingat kembali kejadian ketika dirinya memasuki lobi.

Saat itu, ibu Desi baru saja selesai bermain piano.

Tunggu...

Mungkinkah masih ada sesuatu yang dikatakan wanita itu?

Ibu Desi mengatakan bahwa dia sudah lama tidak memainkan piano.

Orang-orang yang tidak mengenalnya dengan baik tentu tidak akan tahu bahwa wanita itu pernah belajar piano.

Hal itu sangat mirip dengan korban pertama dan Kedua.

Meskipun Revan memiliki data mengenai keduanya, tidak ada satu pun informasi yang menyebutkan bahwa mereka adalah pemain piano, apalagi sama-sama pernah mencapai tingkat tertinggi.

Mungkinkah...

Pelakunya sudah mengenal mereka selama bertahun-tahun?

Pelaku mengetahui rahasia mereka.

Pelaku tahu bahwa mereka bisa bermain piano.

Mungkinkah...

Pelaku adalah seseorang dari masa lalu mereka?

Musuh lama?

“Tunggu!”

Tiba-tiba Revan teringat sesuatu yang sangat penting.

Ketiga korban memang tidak berasal dari sekolah musik yang sama.

Mereka juga tidak saling mengenal.

Tetapi...

Ada satu tempat dan satu waktu yang memungkinkan mereka bertemu.

“Eh?!”

Revan mendadak teringat ucapan ibu Desi.

“Aku masih ingat. Sekitar dua puluh tahun lalu, aku pernah datang ke sini untuk mengikuti kompetisi piano. Waktu itu aku bahkan hampir diterima di sekolah musik negeri.”

“Benar...!”

Seluruh tubuh Revan langsung merinding.

“Sial!”

Akhirnya dia menemukannya!

Titik pertemuan ketiga korban adalah sebuah kompetisi piano!

Ketiganya merupakan pemain piano berbakat.

Mereka tinggal di kota yang sama.

Usia mereka juga hampir sebaya.

Jadi sangat mungkin mereka pernah mengikuti kompetisi piano yang sama!

“Ya... cuma itu kemungkinannya!”

Revan langsung mengambil kesimpulan.

Pelaku Kasus Tangan Hilang kemungkinan besar juga pernah mengikuti kompetisi tersebut!

Namun, mungkin prestasinya buruk dan dia tersingkir lebih awal.

Sejak saat itu, dia menyimpan dendam.

Dan setelah bertahun-tahun, dendam tersebut berubah menjadi kebencian yang mengerikan hingga akhirnya dia melakukan tindakan kejam itu.

Revan bahkan bisa membayangkan suara pelaku di kepalanya.

“Tanpa tangan kalian... bagaimana kalian bisa bermain piano lagi?”

Revan semakin yakin dengan teorinya.

Kalau usia pelaku dan ketiga korban hampir sama, berarti saat kompetisi itu berlangsung mereka masih sangat muda.

Saat itu pelaku mungkin belum memiliki kemampuan untuk membalas dendam.

Namun, setelah bertahun-tahun...

Dia akhirnya merasa memiliki kekuatan.

Dan kemudian...

Kasus Tangan Hilang dimulai.

“Gila... dendamnya sedalam apa sampai melakukan hal seperti ini?”

Revan masih memikirkan kemungkinan tersebut.

“Cuma gara-gara sebuah kompetisi piano? Memangnya separah itu?”

Tiba-tiba ponselnya bergetar.

Revan sudah menunggu telepon tersebut.

Bahkan sebelum ponselnya sempat berdering untuk kedua kalinya, dia langsung mengangkatnya.

“Kak! kak Revan!”

Suara Nina terdengar sangat bersemangat dari seberang telepon.

“Aku nemuin! Aku nemuin datanya!”

“Apa?”

“Sekitar delapan belas tahun lalu, mereka bertiga ternyata pernah mengikuti Kompetisi Piano Pelajar Jakarta yang ke-10!”

Revan langsung menegakkan tubuh.

“Ketiganya masuk babak final!”

“Astaga!”

Revan menepuk pahanya keras-keras.

Dia hampir saja melompat karena kegirangan.

Suaranya terlalu keras.

Para orang tua yang sedang mengikuti sesi tanya jawab kembali terkejut.

Dalam sekejap, lobi besar itu mendadak sunyi.

Semua kepala menoleh ke arah Revan.

Namun Revan tidak peduli.

“Cepat, kasih tahu aku! Kompetisinya diadakan di mana? Siapa saja yang ikut?”

“Aku belum tahu siapa saja pesertanya. Sudah terlalu lama, datanya nggak bisa langsung ditemukan. Aku masih harus menyelidikinya.”

“Terus lokasinya?”

“Aku tahu tempatnya.”

Nina berhenti sebentar.

“Kompetisinya diadakan di SMA Negeri 2 Jakarta.”

Mendengar nama sekolah itu, Revan seketika membeku.

Rasanya seperti disambar petir.

Tubuhnya bergetar hebat.

“SMA Negeri 2 Jakarta...?”

Kebetulan ini...

Terlalu kebetulan.

“Sial...!”

Ucapan Revan kembali terlontar tanpa sadar.

Para orang tua yang berada di sekitar langsung ikut tegang dan saling berpandangan.

“Kak Revan, aku juga merasa ini bukan kebetulan,” kata Nina dengan suara serius. “Kompetisinya sudah terlalu lama. Aku nggak mungkin mendapatkan semua informasi cuma lewat telepon.”

“Kalau menurutku, kamu harus pergi ke sana sekarang juga. Cari bukti sebanyak mungkin.”

Nina kemudian bertanya,

“Tapi... setelah selama itu, Kakak sebenarnya sekarang ada di mana?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!