NovelToon NovelToon
Gulungan Dewa Naga 2

Gulungan Dewa Naga 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Season kedua ini akan berfokus pada persiapan Yang Zhen dalam menghadapi ancaman invasi skala penuh dari Sekte Pedang Langit ibu kota yang berniat merebut energi Jiwa Iblis Darah Kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Bab 113 - Taruhan Menaklukkan Pusaka

Wush wush.

Uap merah darah terus mengepul dari permukaan kolam yang mendidih.

Yang Zhen berdiri hanya beberapa jengkal dari tepi kolam, menatap Pedang Meteorit Penindas Jiwa dengan mata berbinar.

"Kakek Tua, kau terlalu meremehkan batasan akal sehat manusia," ucap Yang Zhen memecah keheningan.

"Aku bisa mencabut pedang rongsokan ini tanpa membangunkan iblis kesayanganmu itu."

Leluhur Ye melayang mendekat dengan raut wajah penuh amarah dan ketidakpercayaan.

"Kau terlalu sombong, Anak Muda!" raung Leluhur Ye menunjuk ke arah pedang tersebut.

"Aura membunuh dari pedang itu tidak bisa ditahan oleh pikiran manusia fana."

Sang leluhur mengelus janggut transparannya dengan tangan gemetar.

"Bahkan aku di masa puncak kultivasi Tahap Langit harus mengorbankan separuh jiwaku hanya untuk menancapkannya di sana."

Su Lin mendengus pelan dan menyilangkan tangannya di depan dada.

Haaaah.

"Masa puncakmu hanyalah pijakan awal bagi suamiku, Leluhur Ye," sindir Su Lin dengan nada dingin.

"Jangan samakan kelemahanmu dengan potensi tanpa batas milik Yang Zhen."

Leluhur Ye menggertakkan gigi fiktifnya mendengar hinaan dari gadis berambut biru tersebut.

Krak.

Sisa jiwa itu merasa harga dirinya benar-benar diinjak-injak hingga tidak tersisa.

"Baiklah! Jika kau memang memiliki kemampuan yang setara dengan kesombonganmu, mari kita bertaruh!" tantang Leluhur Ye dengan suara menggema.

Yang Zhen memiringkan kepalanya dan tersenyum sangat lebar.

"Bertaruh? Apa yang bisa dipertaruhkan oleh seekor hantu yang bahkan tidak memiliki tubuh fisik?" ejek Yang Zhen.

"Aku mempertaruhkan seluruh pengetahuan dan sisa jiwaku ini," jawab Leluhur Ye dengan nada mutlak.

"Jika kau berhasil menaklukkan pedang itu tanpa merusak segel iblis, aku akan tunduk dan menjadi pelayan abadimu."

Yang Zhen menaikkan sebelah alisnya, merasa tawaran itu cukup menarik.

"Dan apa yang kau inginkan jika aku gagal, Kakek Tua?" tanya Yang Zhen memancing niat asli sang leluhur.

Leluhur Ye menatap tubuh atletis Yang Zhen dengan pandangan penuh perhitungan.

"Jika akal sehatmu hancur dan kau gagal, aku akan mengambil alih tubuh fisikmu," ucap Leluhur Ye tanpa ragu.

"Aku akan menggunakan tubuhmu untuk memulihkan kejayaan keluarga Ye dan menjaga segel ini selamanya."

Mendengar niat busuk tersebut, Su Lin langsung menghunus pedang esnya hingga memancarkan kabut beku.

Sring.

"Beraninya kau mengincar tubuh suamiku!" desis Su Lin bersiap menebas jiwa transparan itu.

Namun Yang Zhen justru tertawa terbahak-bahak dan mengangkat tangannya untuk menahan istrinya.

Hahaha.

"Tahan amarahmu, Istriku. Keserakahan adalah sifat dasar manusia yang paling jujur," ucap Yang Zhen menenangkan Su Lin.

Pemuda itu kemudian menatap Leluhur Ye dengan tatapan yang jauh lebih mengerikan dari iblis mana pun.

"Aku terima taruhan konyolmu ini, Kakek Tua," putus Yang Zhen dengan suara berat.

"Tapi bersiaplah, karena mulai hari ini kau akan memanggilku sebagai Tuanmu."

Leluhur Ye tersenyum sinis, merasa yakin bahwa pemuda arogan ini akan segera menemui ajalnya.

"Buktikan ucapanmu, Bocah Sombong," tantang Leluhur Ye melayang mundur untuk memberikan ruang.

"Sentuh saja gagangnya, dan jiwamu akan langsung ditelan oleh aura ribuan iblis pembunuh."

Yang Zhen memutar lehernya ke kiri dan ke kanan hingga terdengar suara tulang berderak.

Krak krak.

Pemuda itu melangkah maju hingga ujung sepatunya hampir menyentuh cairan darah yang mendidih.

Bloop bloop.

Hawa panas dari kolam darah berpadu dengan udara sedingin es dari pedang meteorit hitam tersebut.

Rantai energi biru yang mengikat pedang itu mulai bergetar hebat merespons kedatangan entitas asing.

Kling klang.

Sebuah tekanan mental yang sangat brutal tiba-tiba meledak dari bilah pedang berkarat itu.

Tekanan itu berupa gelombang suara jeritan ribuan jiwa yang mati dibantai di masa lalu.

"Mati... darah... daging..."

Suara-suara gaib itu berbisik langsung ke dalam gendang telinga Yang Zhen, mencoba menembus kewarasannya.

Leluhur Ye tertawa pelan melihat Yang Zhen terdiam mematung di pinggir kolam.

"Kau sudah bisa mendengarnya, bukan?" ejek Leluhur Ye dengan wajah penuh kemenangan.

"Itu adalah jeritan kematian. Akal sehatmu akan hancur dalam hitungan detik."

Namun Yang Zhen hanya mendesah bosan dan memejamkan matanya.

Haaaah.

"Suara bising ini benar-benar mengganggu telingaku," keluh Yang Zhen dengan nada santai.

Pemuda itu sama sekali tidak mencoba melawan tekanan mental tersebut menggunakan energi spiritual.

Ia merentangkan tangan kanannya ke arah gagang pedang hitam yang melayang di tengah kolam.

"Aku tidak akan menyentuh pikiran mereka," ucap Yang Zhen membuka matanya yang kini memancarkan kilatan cahaya emas.

"Aku akan mencekik seluruh suara mereka hingga mati menggunakan ruang hampa."

Syuut.

Sub Bending Gravitasi diaktifkan dengan kekuatan maksimal tepat di sekeliling pedang meteorit tersebut.

Yang Zhen menarik seluruh partikel udara di sekitar pedang, menciptakan ruang hampa udara yang absolut.

Gelombang jeritan gaib itu tiba-tiba terputus seketika.

Tanpa adanya medium udara untuk merambat, suara dan tekanan mental dari pedang itu tidak bisa keluar dari ruang isolasinya.

Leluhur Ye membelalakkan matanya hingga hampir melompat keluar dari rongga matanya.

"A-apa yang terjadi?! Kenapa aura membunuh pedang itu menghilang?!" jerit Leluhur Ye tidak percaya.

Su Lin tersenyum bangga melihat kejeniusan suaminya beraksi.

"Suara dan aura membutuhkan udara untuk menyebar, Leluhur Ye," jelas Su Lin dengan nada menggurui.

"Suamiku baru saja mengurung pedang mematikanmu di dalam ketiadaan absolut."

Di pinggir kolam, Yang Zhen mengepalkan tangannya perlahan.

Wush.

Ruang hampa di sekitar pedang itu mulai menyusut dan menekan bilah pedang dengan gaya tarik yang sangat mengerikan.

Rantai energi biru yang mengikat pedang itu menjerit tertahan menahan beban tarikan gravitasi.

"Waktunya kau berpindah majikan, Pedang Rongsokan," bisik Yang Zhen dengan senyum iblis.

Pemuda itu menarik lengan kanannya ke belakang dengan satu sentakan keras.

Babak penentuan untuk mencabut pusaka prasejarah tanpa merusak segel iblis baru saja dimulai.

1
mbono keling
💪👍💪👍💪👍💪💪
Predi Siswanto
agak membosan kan sampai sekarang cuman berkutat disatu kota
DD
kok diulang Thor 😅
iwakali
RoboCop
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Waooow jlebz 🔥🌽
Yan Panungkek
lanjutkan karyanya author kami tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!