Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Harus Tebang Pohon Revan
Pagi setelah Dion kesurupan lima hantu dan lari ke hutan, Langgur tidak ada yang berani keluar rumah. Semua pintu rumah dikunci, semua jendela ditutup, anak-anak tidak boleh main di luar. Dari arah hutan tempat Dion lari semalam, terdengar suara tertawa yang aneh, kadang suara Dion, kadang suara lima orang tertawa bersamaan.
Pohon Revan yang kemarin daunnya rimbun hijau mengkilap setelah hujan bunga, pagi ini daunnya rontok lagi banyak, batangnya mengeluarkan air bening lagi, seperti menangis lagi. Di tanah bawahnya, tempat peti emas terkubur, tanahnya retak-retak lagi, seperti ada yang mau keluar dari dalam.
Ara semalaman tidak tidur, memegang batu kecil R dan A yang sudah pecah kemarin dan sekarang hanya jadi debu emas di tangannya. Kata-kata terakhir Revan masih terngiang di kepalanya, "Satu-satunya cara hentikan peti itu, kalian harus bongkar pohon ini dan pindahkan petinya ke laut. Tenggelamkan di laut dalam."
Tebang Pohon Revan? Pohon yang adalah satu-satunya kenangan Revan? Pohon yang sudah ganti nama jadi Pohon Revan?
Jam delapan pagi, Pak RT Unus mengumpulkan semua warga di balai desa darurat yang agak jauh dari Pohon Revan, karena dekat pohon itu sekarang terasa panas dan bau anyir.
"Warga, Dion sudah jadi tumbal setengah. Kalau dia jadi tumbal keenam, peti itu akan terbuka sendiri dan emasnya keluar. Kalau emasnya keluar, Langgur akan jadi rebutan lagi, lebih besar dari Pak Hendra. Bisa datang tentara, bisa datang perusahaan besar dari Jakarta. Langgur bisa hilang."
Jali berdiri dengan parang di tangannya. "Jadi harus tebang pohonnya sekarang! Sebelum Dion balik lagi!"
Tapi Mama Ino langsung menangis dan memeluk Ara. "Jangan! Jangan tebang! Kalau pohon itu ditebang, Revan akan hilang selamanya! Ara bilang Revan tidak akan bisa datang lagi bahkan di mimpi kalau pohonnya ditebang! Revan itu penjaga kita!"
Warga jadi terpecah dua. Setengah mau tebang pohon biar selamat dari kutukan emas, setengah tidak mau tebang karena sayang Revan.
Ara yang dari tadi diam, akhirnya berdiri di tengah balai desa dengan debu emas di tangannya dan jaket hitam Revan yang sudah tidak wangi lagi, sudah bau tanah lagi.
"Aku... aku yang putuskan," kata Ara dengan suara pelan tapi semua orang diam mendengarkan.
"Revan bilang ke aku semalam, kalau pohon ini tidak ditebang, lima hantu di dalam peti itu akan pakai tubuh Dion untuk buka petinya. Dion akan mati jadi tumbal, dan setelah itu peti akan terbuka dan emasnya akan keluar. Kalau emasnya keluar, Langgur tidak akan pernah damai lagi."
Ara menatap Pohon Revan dari jauh, air matanya jatuh.
"Tapi kalau pohon ini ditebang... Revan... Revan akan pergi selamanya... Aku tidak akan bisa mimpiin dia lagi..."
Semua warga ikut menangis, karena mereka juga sayang Revan, anak Langgur yang mati karena jaga tanah Langgur.
Tiba-tiba, dari arah hutan, Dion muncul lagi! Tapi kali ini penampilannya lebih mengerikan! Badannya kurus kering, matanya hitam semua, tidak ada putihnya, di punggungnya ada lima tangan hitam yang menempel, tangan hantu penjaga emas itu! Lima tangan itu menggerakkan tubuh Dion seperti boneka!
Dion berjalan pelan ke arah balai desa, setiap langkahnya tanah di bawah kakinya gosong hitam!
"JANGAN TEBANG POHON! EMAS ITU MILIK KAMI! KALIAN TIDAK BOLEH TENG GELAMKAN DI LAUT!" teriak Dion dengan lima suara bersamaan dari mulutnya, suara lima maling yang ditelan peti itu!
Warga langsung panik dan mundur, ada yang jatuh, ada yang pingsan.
Dion yang kesurupan itu mengangkat tangannya, dan dari tangannya keluar rantai berkarat! Rantai peti emas itu! Rantai itu melilit balai desa dan menarik balai desa sampai hampir roboh!
"KALAU POHON DITEBANG, AKU MATI! KALIAN SEMUA MATI JUGA!" teriak Dion lagi!
Ara yang melihat balai desa mau roboh dan warga mau tertimpa, tanpa pikir panjang berlari ke arah Pohon Revan! Dia mengambil parang dari tangan Jali!
"JALI! BANTU AKU! KITA TEBANG SEKARANG! SEBELUM DIA BUKA PETINYA!"
Jali yang kaget melihat Ara berani, langsung ikut berlari dengan parang besar!
Dua anak muda Langgur, Ara dan Jali, mulai menebang Pohon Revan! Pohon keramat yang sudah ratusan tahun berdiri!
Setiap tebasan parang ke batang pohon itu, pohon itu mengeluarkan air bening seperti darah! Dan setiap tebasan, Dion yang kesurupan itu menjerit kesakitan juga, karena pohon itu terhubung dengan peti dan dengan Dion!
"JANGAN! SAKIT! SAKIT!" teriak Dion sambil memegangi kepalanya yang berdarah, darah hitam keluar dari hidungnya.
Tebangan pertama, kedua, ketiga, pohon itu masih berdiri kuat.
Warga lain yang melihat Ara dan Jali berani, akhirnya ikut membantu! Pak RT Unus, Bapak Simon, semua bapak-bapak mengambil kapak dan parang dan ikut menebang Pohon Revan bersama-sama! Ibu-ibu berdoa sambil menangis di belakang.
Dion yang kesurupan itu mencoba menghentikan mereka, dia melempar rantai berkaratnya ke arah warga, tapi rantai itu patah di tengah jalan karena debu emas dari tangan Ara yang masih ada sisa sedikit!
"TEBANG TERUS! JANGAN BERHENTI!" teriak Ara sambil menangis dan menebang!
Setelah hampir satu jam ditebang bersama-sama oleh seluruh warga Langgur, Pohon Revan yang besar itu mulai miring! Akarnya yang besar mulai terangkat! Tanah di bawahnya mulai terbuka lagi!
Dan terlihatlah peti kayu hitam dengan rantai berkaratnya yang sudah patah-patah, ada di dalam lubang!
Pohon Revan tumbang! BRAK! Suara tumbangnya sangat keras sampai terdengar ke Tual! Burung-burung terbang semua!
Saat pohon tumbang, Dion yang kesurupan itu juga jatuh terjerembab ke tanah dan pingsan, lima tangan hitam di punggungnya menghilang masuk kembali ke dalam peti!
Dan yang paling menyedihkan, jaket hitam yang dipakai Ara, yang wangi bunga mangga itu, tiba-tiba jadi bau tanah lagi dan robek sendiri di bagian lengannya, seperti ada yang menariknya.
Ara tahu, Revan sudah pergi selamanya. Tidak akan datang lagi bahkan di mimpi.
Ara jatuh terduduk di samping batang Pohon Revan yang sudah tumbang, memeluk batang itu sambil menangis keras.
"VAN! VAN! MAAF! AKU HARUS TEBANG! MAAF, VAN!"
Hujan turun lagi, rintik-rintik, membasahi Langgur yang baru saja menebang penjaganya sendiri.
Di dalam lubang, peti emas itu masih ada, menunggu untuk ditenggelamkan ke laut.
Warga Langgur menangis bersama Ara, bukan karena pohon tumbang, tapi karena mereka tahu, mereka baru saja melepas penjaga terbaik mereka untuk selamatkan desa mereka.