NovelToon NovelToon
Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Cinta Terlarang / Obsesi / Beda Usia / Tamat
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Celina González ♥️

Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.

Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.

Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Sabtu itu terbit terbungkus ketenangan yang menipu, seolah langit menahan napas menghadapi apa yang akan terjadi. Di ketinggian kota, tempat beton berbalut kaca dan baja, Leonardo menyusuri apartemen baru itu dengan tangan di saku dan dahi sedikit berkerut.

Tempat itu luas, modern, dengan jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya sore masuk bagai belaian keemasan. Lantai kayu ek terang berkilau oleh kebersihan yang masih baru, dan aroma samar cat baru masih mengambang di udara. Semuanya dilengkapi perabot bercita rasa halus namun elegan: sofa lebar dari linen krem, karpet-karpet lembut, lukisan-lukisan abstrak yang tergantung dengan pertimbangan matang. Sebuah rumah yang sunyi... yang belum menjadi rumah bagi siapa pun.

"Sempurna," gumamnya, setelah untuk terakhir kali memeriksa ruang makan. "Tidak terlalu mewah, tidak pula terlalu dingin. Persis seperti yang akan ia sukai."

Ia tahu membeli apartemen itu penuh risiko. Bukan soal uang, melainkan soal maknanya. Soal apa yang mungkin ditimbulkannya pada gadis itu jika ia salah menafsirkannya. Karena itu ia belum akan mengatakannya. Ia hanya akan menjadikannya panggung bagi percakapan yang telah lama ia nantikan.

Ia memencet sebuah nomor.

"Semua sudah siap? Pastikan ada anggur merah dan camilan yang ringan. Jangan yang neko-neko. Dan pastikan suhu ruangannya pas."

Ia menutup telepon, lalu berdiri menghadap jendela-jendela besar. Jam menunjukkan pukul 18.13.

Zaira naik ke lantai teratas dengan jantung berdebar keras. Lift itu elegan, dengan cermin di dinding-dindingnya dan cahaya lembut yang membuat segalanya tampak lebih hangat dari yang sebenarnya. Ia mengenakan gaun linen gading yang longgar dan jatuh hingga lutut dengan anggun, melambai di tiap langkah seakan geraknya dikoreografikan oleh angin. Sepatu hak tinggi mempertegas kakinya yang jenjang, dan meski tangannya sedikit gemetar, langkahnya mantap.

Rambutnya diikat kuncir tinggi, rapi, memperlihatkan lehernya yang jenjang. Riasannya samar: sedikit pemerah pipi, riasan mata bernuansa tanah, bibir polos yang bercahaya. Ia ingin merasa cantik... tapi tetap menjadi dirinya sendiri.

Ketika pintu apartemen terbuka, Leonardo menatapnya seolah baru saja menyaksikan seni menjelma dalam wujud manusia. Ekspresinya membeku sepersekian detik, lalu ia tersenyum, dengan gaya angkuh dan berbahaya yang membuat Zaira ingin menjaga jarak... namun sekaligus ingin mendekat sedikit lagi.

"Kamu..." ia mulai berkata, tapi terhenti. "Sialan, sempurna sekali."

Zaira menunduk, kikuk. Tapi ia tak berkata apa pun.

Leonardo mendekat, tanpa tergesa, dan ketika sudah berdiri di hadapannya, matanya menurun menyusuri lekuk lehernya yang terbuka. Ia memiringkan kepala dan mengecup tepat di belakang telinga Zaira, sentuhan yang teramat tipis, bagai sebuah janji.

"Kuncir itu..." bisiknya dengan suara rendah dan serak yang membuat kulit Zaira meremang. "Mengundang untuk melakukan banyak hal."

Zaira menelan ludah. Pipinya terbakar, tapi ia tetap teguh.

"Kamu belum membiarkanku memberikan jawabanku," ucapnya dengan suara yang selembut sekaligus setegas mungkin.

Leonardo tersenyum tepat di kulitnya lalu mundur selangkah, memberinya ruang.

"Kamu benar. Aku tak akan buru-buru. Belum."

Ia menuntunnya ke ruang tamu dengan tangan di punggung bawahnya, membimbingnya seolah gadis itu terbuat dari kaca dan api sekaligus. Ruangan itu bersuhu sempurna, dengan musik instrumental lembut mengambang di udara, campuran jazz dan piano yang mengisi keheningan tanpa memaksakan diri. Cahaya senja mewarnai dinding dengan rona kuning keemasan, membungkus mereka dalam atmosfer yang nyaris seperti mimpi.

Zaira duduk di sofa lebar, kaki bersilang dan tangan di atas lutut. Ia mengedarkan pandangan, memperhatikan detail-detailnya: tak adanya barang-barang pribadi, kesempurnaan keteraturan. Tempat itu baru. Namun tetap terasa nyaman. Akrab, entah bagaimana.

"Ini milikmu?" tanyanya penasaran.

Leonardo duduk di hadapannya, dengan segelas anggur di tangan. Ia menawarkan segelas lagi, yang diterima Zaira dengan gerakan kecil.

"Baru saja kubeli. Aku tak tahu mau kuapakan... sampai sekarang."

"Sampai sekarang?" ulangnya, mengangkat sebelah alis.

Leonardo hanya menatapnya. Ia tak akan berbohong, tapi juga tak akan mengungkap terlalu banyak. Belum.

"Katakanlah tempat ini kurasa panggung yang tepat untuk sebuah percakapan penting."

Zaira memperhatikannya dalam diam, mencoba membacanya. Lalu ia menyesap anggurnya, membiarkan rasa hangat itu sedikit mengendurkan sarafnya. Ia bersandar lembut ke sofa, seakan suasana mulai melunakkan tameng pertahanannya.

"Lalu apa tepatnya yang ingin kamu ketahui?"

Ia menyandarkan siku di lutut, mencondongkan tubuh ke arah Zaira.

"Maukah kamu menerimaku dalam hidupmu, Zaira? Dengan semua syaratku? Aku ingin memilikimu setiap akhir pekan. Kalau bisa, malah setiap hari. Aku ingin kamu sepenuhnya menjadi milikku. Sebagai gantinya, aku bisa memberimu apa pun yang kamu mau. Dan tolong jangan tersinggung."

Zaira mengerjap. Ia tak menyangka selugas itu.

"Aku menerima uangmu... ponselmu... menemuimu tiap akhir pekan. Tapi itu bukan berarti kamu memiliki diriku."

"Aku tak akan pernah memilikimu," katanya, jujur. "Meski kamu harus mengerti satu hal. Kamu hanya akan jadi milikku, tak seorang pun boleh menyentuh sehelai pun rambutmu."

Pandangan Zaira sedikit meredup, bergulat dengan sesuatu di dalam dirinya.

"Kenapa aku? Ada banyak wanita yang tak akan bikin repot separuh dari yang kubikin."

Leonardo mencondong lebih dekat, matanya terpaku pada mata Zaira.

"Justru itu yang paling kusuka darimu. Kamu banyak menawar walau mati-matian ingin melakukan apa yang kuinginkan."

Keheningan menjadi pekat. Hanya musik, anggur, dan senja yang membungkus mereka.

Zaira menunduk menatap gelasnya, termenung.

"Aku tak mau bergantung pada siapa pun lagi. Aku cuma ingin kuliah dan berhasil mengeluarkan ibuku dari tempat itu."

Ia mencondong dan meraih tangan Zaira, dengan sentuhan tegas namun tenang.

"Aku tak ingin kamu bergantung padaku. Aku cuma ingin hadir. Menjadi bagian dari duniamu... tanpa menyerbunya, atau kalaupun iya, dengan cara yang menyenangkan."

Zaira mengangkat pandangannya. Matanya sedikit bergetar.

"Kalau begitu, inilah jawabanku," katanya akhirnya. "Aku bersedia mencobanya. Tapi aku butuh ruangku. Waktuku. Kebebasanku."

Leonardo mengangguk, dan bibirnya melengkung dalam senyum yang tulus. Bukan senyum penaklukan. Melainkan senyum lega.

"Jangan khawatir, aku akan membuatmu sangat bahagia dengan banyak cara."

Zaira menarik napas dalam, dan... ia merasa tidak sedang melarikan diri dari apa pun. Melainkan melangkah menuju sesuatu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!