Ceisya hacker jenius dan ahli bela diri mati konyol gara-gara emosi membaca novel dark romance The Alpha’s Obsession. Takdir gila melempar jiwanya bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran cupu bernasib paling sial mati menjadi tumbal sahabatnya sendiri, Belva.
Namun, Ceisya yang sekarang menolak mati! Dengan otak cerdas dan kemampuan, Ceisya membalikkan keadaan. Ia melumpuhkan para pembunuh bayaran di tengah hutan salju, dan mulai membalas permainan licik Belva serta ancaman Bianca satu per satu.
Tetapi, Aksi Cesiya di atas salju memicu insting predator sang Alpha. Fenrir Volkov—Raja Serigala paling kejam, dingin, dan ditakuti di seluruh Kerajaan Valesia mendadak mengklaim Ceisya sebagai tawanan pribadinya, menyeretnya ke dalam kamar sang Raja, dan menguncinya dalam lingkar obsesi yang teramat posesif.
Di tengah intrik berdarah istana dan jeratan sang Raja Serigala, bisakah Ceisya merebut kebebasannya atau ia justru akan menyerahkan dirinya utuh menjadi milik Sang Alpha sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Candu Tanpa Akhir dan Racun Di Balik Bayangan
Cahaya matahari pagi yang memantul dari hamparan salju abadi Valesia menerobos masuk dari celah jendela, menyapu keheningan kamar utama Kastil Valesia. Udara di dalam ruangan luas itu terasa hangat, sarat akan aroma kayu cendana dan jejak keintiman semalam yang teramat pekat.
Di atas tempat tidur king-size berbulu angsa, Ceisya terbangun dengan seluruh persendian yang terasa pegal. Namun, sebelum ia sempat menarik selimut untuk menutupi tubuh mulusnya, dua lengan kekar Fenrir Volkov sudah melingkar erat di pinggangnya dari belakang, menariknya kembali rapat ke dalam dada bidangnya.
Gairah Sang Raja Serigala yang belum terkikis sedikit pun mendadak kembali membara saat melihat lekuk bahu dan leher Ceisya yang dipenuhi tanda kemerahan hasil klaimnya semalam.
"Pagi, sayang..." bisik Fenrir rendah di telinga Ceisya, suara baritonnya yang serak mengirimkan getaran intim yang membuat kulit Ceisya merinding.
"King Alpha... lepasin, aduh... badanku masih pegal—"
Protes Ceisya tenggelam seketika saat Fenrir membalikkan tubuhnya dan melumat bibirnya secara brutal. Candu akan rasa manis dan kehangatan tubuh Ceisya membuat Fenrir sama sekali tak bisa menahan diri.
"Aku menginginkanmu lagi Sayang, jadi nikmatilah sentuhanku."
Buset... Fenrir hyper Seks kali? Semalam 10 ronde kan gila... Kuat bangat dia mana terlihat enggak ada lelahnya. Gimana nih? Emang setelah itu dia memberikan kekuatan agar tubuhku tidak sakit dan lemas dan membersihkan tubuhku setelah aku lemas dengan air mawar! Tapi...
Fenrir mengukung tubuh Ceisya dan melebarkan pahanya di kala Ceisya sedang melamun.
Jleb...
"Ah...mmmpp."
Fenhir langsung mencium bibir Ceisya dengan penuh gairah.
Pagi itu, tiga ronde keintiman yang panas, liar, dan menuntut kembali meledak di atas kasur berbulu angsa, menguras habis stamina Ceisya hingga gadis itu pasrah terengah-engah di bawah himpitan Sang Alpha.
Setelah sesi pagi yang membara, Fenrir menyalurkan sedikit energi sihirnya kembali agar Ceisya sanggup berdiri untuk menyantap sarapan.
Di ruang makan pribadi suite utama, nampan berisi sup daging dan buah-buahan segar sudah tersaji di atas meja pualam. Ceisya duduk di atas kursi kayu berukir dengan jubah mandi sutra yang melonggar, mengunyah daging dengan cemberut.
"Makannya yang banyak, manis," ujar Fenrir lembut, mengelus rambut cokelat Ceisya.
"Manis, manis! Gimana mau manis kalau dari subuh udah dihajar terus?!" omel Ceisya sengit sambil melambaikan sendoknya. "Anda itu beneran kayak serigala kelaparan yang gak punya tombol off!"
Fenrir terkekeh rendah—sebuah tawa puas yang sangat tampan. Namun, melihat bibir Ceisya yang mengomel dengan rona merah di pipinya, gairah Fenrir kembali tersulut tak terkontrol.
Srek!
Dengan satu gerakan cepat, Fenrir mengangkat tubuh Ceisya dan mendudukkannya tepat di atas meja makan pualam, menggeser piring-piring di sekitarnya.
"Eh! Eh! King Alpha! Mau ngapain lagi?! Ini meja makan!" pekik Ceisya kaget.
"Kau adalah hidangan utamaku yang paling manis, sayang..." bisik Fenrir di lehernya.
Dua ronde keintiman yang teramat membara kembali terjadi di atas kursi dan meja makan pualam itu. Fenrir melumat dan mengklaim setiap inci tubuh Ceisya dengan kecanduan liar yang seolah tak pernah terpuaskan.
Tak berhenti di situ, saat Ceisya berusaha melarikan diri ke kamar mandi berbatu pualam untuk membersihkan diri, Fenrir kembali menyusul masuk. Di bawah kucuran air hangat dan uap yang membumbung tinggi, tiga ronde keintiman kembali terjadi di dalam kamar mandi, membuat gelombang air hangat membentak dinding batu.
Hingga siang menjelang, Ceisya melangkah perlahan ke balkon kamar untuk menghirup udara segar yang dingin. Namun, baru saja ia bersandar di pembatas batu balkon, Fenrir melingkarkan lengannya dari belakang, mendudukkan Ceisya di atas pembatas batu di bawah paparan langit terbuka Valesia, dan mengeksekusi dua ronde keintiman lagi di atas balkon tersebut.
Sore harinya, Ceisya terbaring lemas di atas sofa empuk berlapis kulit di sudut ruangan, mengenakan jubah mandi sutra tebal sambil menikmati camilan kue kering dan teh hangat untuk mengisi staminanya yang terkuras habis.
"Hah... akhirnya bisa ngemil dengan tenang," gumam Ceisya mengelus dadanya, mengunyah kue dengan pipi menggembung. Fenrir gila hyper... Walau tubuhnya bagus bangat kekar berotot tetap aku rasanya ingin pukul kepalanya pakai centong... Seandainya aku punya kekuatannya?... Aih!Serigala gila itu bener-bener gak ada obatnya. Kalau begini terus, aku bisa jadi pingsan berdiri!
Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa menit.
Langkah kaki Fenrir yang bertelanjang dada melangkah mendekati sofa. Iris mata merahnya kembali berkilat oleh kehangatan dan rasa haus yang tak pernah tuntas saat menatap Ceisya yang sedang makan dengan imut.
"Ngemilnya enak, manis?" bisik Fenrir menyeringai tipis, melangkahi sofa dan mengukung Ceisya di antara kedua tangannya.
Ceisya terbelalak lebar, kue kering di mulutnya hampir tersedak. "T-Tunggu! King Alpha! Aku lagi ngemil! Mangkuk tehnya masih di pegang nih!"
"Nanti dilanjutkan lagi ngemilnya, sayang..." bisik Fenrir rendah, menepis pelan mangkuk teh dari tangan Ceisya lalu menunduk melumat bibir manis gadis itu.
Di atas sofa empuk itu, ronde kesebelas hari itu kembali pecah dengan gairah yang teramat manis, panas, dan posesif—memastikan seluruh penjuru kamar utama ini dipenuhi oleh jejak kehangatan dan klaim mutlak Sang Alpha King atas wanita pilihannya.
Sementara itu, jauh di Kediaman Megah Klan Reinhardt...
Atmosfer di dalam ruangan pribadi Bianca Reinhardt terasa teramat pekat oleh aura dendam dan rasa iri yang membakar jiwa.
Gema lolongan serigala dari malam sebelumnya—yang menandakan bahwa Fenrir telah mengklaim Ceisya sebagai Ratu mutlaknya—masih terngiang-ngiang di telinga Bianca bagaikan petir yang meremukkan harga dirinya.
PRANG!
Bianca melemparkan botol ramuan kaca ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Wajah cantiknya yang biasa anggun kini terdistorsi oleh kebencian yang mendalam.
"Ratu?! Gadis pelayan murahan tanpa klan itu menjadi Ratu Valesia?!" jerit Bianca dengan suara melengking bergetar. Tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya menancapkan luka di telapak tangannya sendiri.
Di hadapannya, seorang penyihir hitam berkerudung gelap berlutut memegang sebuah botol kaca kecil berisi cairan berwarna ungu pekat yang memancarkan bau busuk samar.
"Nona Bianca... ini adalah Eclipsis Toxica, racun pelumpuh jiwa paling mematikan dari pegunungan terlarang," bisik penyihir hitam itu dengan suara parau. "Racun ini tidak berbau dan tidak berasa. Cukup satu tetes di dalam minuman atau pakaian, dan organ dalam serigala maupun manusia akan membusuk dari dalam tanpa meninggalkan jejak sihir."
Bianca mengambil botol racun itu dengan jemarinya yang gemetar oleh amarah. Senyuman iblis yang teramat beracun terkembang di bibirnya.
"Bagus..." bisik Bianca dingin, matanya menyala oleh kegilaan iri hati. "Fenrir berpikir dia bisa menyembunyikan dan mengurung gadis murahan itu di kamar utamanya selamanya? Aku akan menyusupkan racun ini lewat pelayan istana yang bisa kubayar."
Bianca mendekatkan botol racun itu ke matanya, membayangkan nasib tragis Ceisya. "Aku tidak akan biarkan gadis itu menikmati tahta Ratu lebih lama lagi. Begitu racun ini bekerja, dia akan mati mengenaskan di dalam dekapan Fenrir sendiri! Fenrir adalah milikku... dan hanya milikku!"
saran sedikit Bisa gak kalo gaya Bahasanya Ceisya dirubah lebih Elegan tnpa bawa' istilah kehidupan yg lalu, lebih swag lebih tajem, lebih pintar dn berani ngelawan terutama kalo sama Fenrir jgn terlalu nurutlahh biar fenrir yang ngejar tapi Ceisya kyak gak peduli gitu ada hargadirinya
dan tokohnya tangguh gak menye menye
Seru banget apalagi nnti kalo sudah masuk konflik ditunggu kakak kelanjutanya rajin update yaa
Alurnya Tipe aku bangett
Jangan buat mudah untuk fenrir mendapatkan Ceisya yaa kak buat fenrir gedebak gedebuk dulu sampek kecintaan sama Ceisya 😄😄
aku suka Alurnya🥰🥰🥰
karya baru sepertinya Seru
lanjut thor😊