NovelToon NovelToon
THE VAMPIR BRIDE

THE VAMPIR BRIDE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / Vampir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: crowell

hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍


Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?

Itulah yang terjadi sama Ema.

Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.

Tapi ternyata, Ema salah besar.

Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.

Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.

Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 34

Di dalam mobil, Damian duduk di kursi belakang dengan wajah masam. Sejak tadi, ia sudah beberapa kali melirik jam tangannya, sementara Vandes baru saja masuk dan duduk di kursi pengemudi.

“Lama sekali kau tadi. Bukankah sudah kubilang aku tidak suka menunggu?” kesal Damian sambil menatap Vandes melalui kaca spion.

“Maafkan saya, Tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi,” jawab Vandes dengan tenang.

Damian mendengus pelan. “Apa yang kau lakukan sampai membuatku menunggu selama itu?”

Vandes terdiam sesaat. Ia teringat Sonya yang terluka di taman, lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat sedikit.

Namun, senyum tipis itu tidak luput dari penglihatan Damian.

“Kenapa kau tersenyum?” tanya Damian curiga.

Vandes langsung memasang wajah datar. “Tidak ada, Tuan.”

“Jangan berbohong kepadaku.”

“Saya tidak berbohong, Tuan.”

Damian menyipitkan matanya. “Kau pikir aku tidak mengenal wajahmu? Sejak kapan kau tersenyum sendiri seperti orang bodoh?”

Vandes menarik napas pelan, berusaha mempertahankan ekspresi dinginnya.

“Saya hanya membantu seseorang yang terluka di taman, Tuan.”

“Siapa?”

“Sonya, pelayan baru Nyonya Emma.”

Mendengar nama itu, Damian mengangkat sebelah alisnya.

“Sonya?” ulangnya. “Lalu, apa hubungannya dengan senyummu tadi?”

“Tidak ada hubungannya, Tuan.”

Damian menatapnya beberapa detik sebelum menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Hm. Terserah kau saja. Asalkan jangan sampai urusan pribadimu mengganggu pekerjaanmu.”

“Baik, Tuan.”

Vandes kembali memusatkan perhatiannya ke jalan, berusaha melupakan percakapan barusan.

Sementara itu, Damian kembali menatap layar ponselnya. Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari sikap asistennya hari ini.

Dan jika tebakannya benar, sepertinya mansion mereka akan memiliki satu pasangan baru untuk dijadikan bahan godaan Emma.

...****************...

“Sonia, apakah kau pernah melihat kerajaan vampir?” tanya Emma penasaran sambil duduk santai di sofa ruang keluarga.

“Pernah, Nyonya. Dulu, saya pernah tinggal di sana,” jawab Sonia. “Tapi sekarang kami sudah tidak pernah kembali lagi. Keluarga vampir memilih menjauh dari kerajaan untuk melindungi diri dari para pemburu vampir.”

Emma langsung membulatkan matanya.

“Jadi, kerajaan vampir itu benar-benar ada? Bukan cuma istana tua yang menyeramkan seperti di film-film?” tanyanya bertubi-tubi.

Sonia mengangguk pelan. “Tentu saja ada, Nyonya. Kerajaannya sangat besar, dengan bangunan-bangunan megah dan taman yang luas. Namun, sejak ancaman para pemburu semakin serius, banyak keluarga vampir memilih tinggal jauh dari sana.”

“Wah, sepertinya indah sekali!” celetuk Sonya yang sejak tadi ikut mendengarkan percakapan mereka.

Emma langsung menoleh kepadanya. “Nah, kan! Aku juga jadi ingin melihatnya. Bayangkan saja, istana besar, gaun-gaun cantik, taman bunga, dan mungkin ada pesta kerajaan juga!”

Sonya mengangguk antusias. “Benar, Nyonya! Apalagi kalau ada balkon besar yang menghadap ke taman. Pasti romantis sekali!”

“ASTAGA! KAU MEMBUATKU SEMAKIN INGIN KE SANA!” seru Emma bersemangat.

Sonia hanya tersenyum kecil melihat tingkah kedua perempuan itu.

“Tapi, Nyonya, kerajaan vampir bukan tempat yang bisa dikunjungi sembarangan,” katanya mengingatkan. “Ada banyak aturan di sana, terlebih bagi manusia.”

Emma yang tadinya bersemangat langsung mengerucutkan bibir.

“Yah, kenapa harus ada aturan segala? Aku kan cuma mau jalan-jalan, bukan mau merebut takhta!”

Sonya menahan tawanya, sedangkan Sonia hanya bisa menggeleng pelan.

Dalam hati, Sonia sudah bisa membayangkan betapa pusingnya Damian jika sampai mendengar keinginan istrinya itu.

Apalagi kalau Emma sudah punya keinginan, biasanya sulit sekali untuk menghentikannya.

Dan kalau sudah menyangkut Emma, sepertinya hanya Damian yang mampu menghadapi segala tingkahnya—meskipun pria itu sendiri sering dibuat kewalahan olehnya.

Sementara itu, di kantor, Damian baru saja memasuki ruang kerjanya. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya langsung menundukkan kepala, menyapa dengan sopan sebelum kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Damian memang dikenal sebagai atasan yang dingin dan sulit didekati. Tak banyak yang berani mengajaknya berbicara jika tidak ada urusan penting.

Begitu tiba di ruangannya, Damian meletakkan jasnya di sandaran kursi, lalu duduk di balik meja kerja.

“Vandes, jadwalku hari ini,” ucapnya singkat.

“Baik, Tuan.” Vandes segera menyerahkan tablet berisi jadwal kegiatan Damian. “Pukul sepuluh ada rapat dengan para pemegang saham. Setelah itu, Anda memiliki pertemuan dengan pihak perusahaan yang bekerja sama dengan kita.”

Damian mengangguk sambil memeriksa jadwalnya.

“Batalkan pertemuan pukul dua siang.”

Vandes mengerutkan kening. “Apakah ada sesuatu, Tuan?”

“Aku ingin pulang lebih awal.”

Vandes terdiam sesaat. Pulang lebih awal? Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali Damian meminta hal seperti itu tanpa alasan pekerjaan yang mendesak.

“Baik, Tuan. Akan saya atur.”

“Dan satu lagi.” Damian mengangkat wajahnya. “Jangan biarkan siapa pun masuk ke ruanganku tanpa izin.”

“Baik.”

Vandes hendak berbalik ketika ponsel Damian yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar.

Sebuah notifikasi muncul di layar.

Natalia: Aku ingin bertemu denganmu. Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan, Damian. Kumohon, beri aku kesempatan.

Vandes sempat melihat nama pengirimnya, tetapi ia segera mengalihkan pandangan. Ia tahu betul bahwa urusan Natalia bukan sesuatu yang pantas dicampurinya.

Sementara itu, Damian menatap pesan tersebut dengan ekspresi datar.

Ia menghela napas, lalu membalikkan ponselnya hingga layarnya menghadap meja.

“Apa kau masih punya urusan di sini?” tanyanya ketika menyadari Vandes belum juga keluar.

“Tidak, Tuan.”

“Kalau begitu, keluarlah.”

Vandes mengangguk dan segera meninggalkan ruangan.

Setelah pintu tertutup, Damian menyandarkan tubuhnya ke kursi. Pikirannya justru melayang pada seorang perempuan cerewet dan berbibir manis yang sejak beberapa hari terakhir selalu memenuhi kepalanya.

Emma.

Ia teringat wajah istrinya pagi tadi, terutama ketika perempuan itu cemberut sambil mengomel tentang Natalia.

Sudut bibir Damian terangkat tipis.

“Wanita cerewet,” gumamnya.

Entah mengapa, ia merasa lebih tenang ketika mengingat Emma. Bahkan, membayangkan perempuan itu mengoceh tanpa henti saja sudah cukup membuat suasana hatinya membaik.

Damian meraih ponselnya, membuka ruang obrolan dengan Emma, lalu mengetik sebuah pesan.

Damian: Jangan membuat masalah selama aku di kantor.

Tak sampai semenit, balasan dari Emma masuk.

Emma: AKU MEMANG PERNAH MEMBUAT MASALAH APA?!

Damian menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu tertawa kecil.

“Bahkan lewat pesan pun dia masih berisik.”

Ia mengetik balasan singkat.

Damian: Baru saja membuktikannya.

Di mansion, Emma yang membaca pesan itu langsung mendengus kesal.

Emma: DASAR VAMPIR MENYEBALKAN! PULANG NANTI JANGAN HARAP AKU MAU MENYAMBUTMU!

Damian membaca balasan tersebut sambil menggeleng geli.

Damian: Baik. Aku akan pulang lebih awal.

Emma yang tadinya siap mengetik omelan panjang langsung terdiam.

Pulang lebih awal?

Ia membaca pesan itu sekali lagi, lalu tanpa sadar tersenyum kecil Namun, begitu menyadari dirinya tersenyum hanya karena pesan singkat dari suaminya, Emma buru-buru memasang wajah kesal.

“Cih! Memangnya aku peduli dia pulang cepat atau lambat?” gerutunya.

Sayangnya, senyum di wajahnya justru semakin sulit disembunyikan Dan di kantor, Damian kembali meletakkan ponselnya dengan suasana hati yang jauh lebih baik Sepertinya, hari ini ia benar-benar ingin segera pulang menemui istrinya.

1
@Bella45
lanjut thor sayang jangan lupa istirahat 😍
chelsea~♡
suka dan naksir banget sama carita nya jelas banget 😘🤗
Fiar
puas banget baca nya up nya bir atu bab tapi banyak suka

eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭
miooo😻
cerita KK ngak pernah mengecewakan yah Mangat KK makasih udah mau buat cerita lagi 🥰🥰💪
KEISHA 72_
suka banget sama karya nya kakak semangat KK ❤️❤️💪🤭
Alethea
wahhh cerita nya Karen 💪❤️
Marsya 🌼
ngakak bet hahahaha 🤣
Chloe
Diamian lupa kah sama perjanjiannya sama ayah nya ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!