NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fabdul

​Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.

​Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.

​Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.

​Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?

​Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Masa Lalu dan Pilihan

Pagi itu, suasana kantor Mahendra Group berjalan seperti biasa. Devan baru saja menyelesaikan rapat internal ketika Arga masuk ke ruangannya membawa beberapa dokumen.

“Tuan, tim investor sudah mengonfirmasi jadwal pertemuan lanjutan dengan Ibu Clara Wijaya. Mereka akan membahas beberapa poin dalam proposal yang masih perlu ditinjau.”

Devan menerima dokumen yang disodorkan Arga, lalu memeriksa jadwal di halaman pertama.

“Atur pertemuannya siang ini. Minta kepala divisi terkait ikut hadir.”

“Baik, Tuan.”

Arga hendak meninggalkan ruangan ketika Devan kembali memanggilnya.

“Pastikan semua dokumen yang diperlukan sudah disiapkan. Aku tidak ingin pembahasan hari ini berlarut-larut hanya karena ada informasi yang belum lengkap.”

“Sudah saya koordinasikan dengan tim terkait, Tuan. Semuanya akan disiapkan sebelum pertemuan dimulai.”

Setelah Arga keluar, Devan kembali memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Proposal investasi itu cukup menjanjikan, tetapi ia tidak akan mengambil keputusan hanya berdasarkan penawaran yang terlihat menguntungkan. Setiap poin harus diperiksa sebelum dibawa ke tahap berikutnya.

Baginya, urusan bisnis tetap harus berjalan berdasarkan pertimbangan yang matang, terlepas dari siapa yang mengajukan kerja sama tersebut.

Termasuk Clara.

...____🍀🍀🍀🍀____...

Menjelang siang, Clara tiba di Mahendra Group sesuai jadwal yang telah disepakati. Ia disambut oleh Arga dan diarahkan menuju ruang rapat.

Devan sudah berada di sana bersama beberapa anggota timnya. Ketika Clara masuk, keduanya saling menyapa singkat sebelum menempati tempat masing-masing.

Pertemuan pun dimulai.

Clara menjelaskan beberapa penyesuaian dalam proposal investasinya, termasuk proyeksi keuntungan dan rencana distribusi produk ke sejumlah pasar di Asia. Tim Mahendra Group memberikan sejumlah pertanyaan, terutama mengenai pembagian tanggung jawab dan tahapan pelaksanaan kerja sama.

Clara menanggapi setiap pertanyaan dengan tenang. Ia tidak terburu-buru memberikan jawaban ketika ada hal yang perlu diperiksa kembali.

Pada satu kesempatan, ia membuka dokumen di hadapannya dan membaca ulang bagian yang sedang dibahas sebelum menyampaikan pendapat.

Devan memperhatikan gerakan itu sejenak.

Ada sesuatu yang terasa familier.

Dahulu, Clara juga terbiasa memeriksa setiap detail sebelum mengambil keputusan. Bahkan ketika mereka membicarakan sesuatu di luar pekerjaan, perempuan itu tidak pernah menyukai keputusan yang dibuat secara tergesa-gesa.

Tanpa sadar, Devan mengutarakan apa yang terlintas di pikirannya.

“Sepertinya kamu masih punya kebiasaan yang sama. Selalu memeriksa semuanya sebelum memberikan keputusan.”

Clara mengangkat pandangan dari dokumennya. Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu.

“Menurutku, ada beberapa hal yang memang tidak boleh diputuskan dengan terburu-buru,” jawabnya tenang.

Devan terdiam sesaat sebelum mengangguk kecil.

“Benar juga.”

Clara kembali memperhatikan dokumennya. Tidak ada pertanyaan mengenai masa lalu, tidak pula ada percakapan yang sengaja diperpanjang. Mereka melanjutkan pembahasan seolah ucapan tadi hanyalah komentar biasa.

Namun, bagi Devan, kebiasaan kecil itu cukup untuk mengingatkannya bahwa perempuan yang kini duduk di hadapannya pernah menjadi seseorang yang sangat dekat dengannya.

Pertemuan akhirnya selesai setelah seluruh poin yang diperlukan dibahas. Beberapa bagian proposal masih membutuhkan peninjauan lebih lanjut sebelum keputusan dapat diambil.

Clara merapikan dokumennya, kemudian berdiri bersama anggota timnya.

“Terima kasih atas waktunya. Aku akan mengirimkan dokumen tambahan yang tadi diminta.”

Devan turut berdiri.

“Baik. Setelah tim kami selesai meninjau semuanya, kami akan menghubungi pihak Anda untuk langkah berikutnya.”

Clara mengangguk.

“Kalau begitu, aku permisi.”

Setelah Clara meninggalkan ruang rapat, Devan kembali duduk. Ia membuka catatan hasil pertemuan dan memeriksa beberapa poin yang perlu ditindaklanjuti.

Pekerjaan masih menunggunya. Ia tidak berniat membiarkan urusan pribadi mengganggu penilaiannya terhadap proposal tersebut.

Meski begitu, untuk sesaat, pikirannya kembali pada percakapan singkat tadi.

Clara masih sama dalam beberapa hal. Namun, ada banyak hal tentang perempuan itu yang kini tidak lagi ia ketahui.

Devan menutup catatan tersebut dan kembali bekerja.

...____🍀🍀🍀🍀____...

Di tempat lain, Aira sedang duduk di ruang tengah penthouse ketika ponselnya berdering. Nama Bibi muncul di layar.

Ia segera menerima panggilan itu.

“Assalamu'alaikum, Bi.”

“Wa'alaikumsalam, Ra. Maaf, Bibi mengganggu. Ada satu hal yang ingin Bibi bicarakan soal pesanan Galeri Nusantara.”

“Tidak apa-apa, Bi. Ada apa?”

Bibi menjelaskan bahwa para pengrajin sudah mulai mengerjakan pesanan sesuai jadwal. Namun, mereka perlu memastikan kembali pembagian pengerjaan beberapa motif agar setiap pengrajin mendapat bagian yang sesuai dengan keahliannya.

Aira mendengarkan penjelasan itu sampai selesai.

“Kalau begitu, bagaimana kalau pengerjaan motif yang lebih rumit diberikan kepada pengrajin yang memang sudah terbiasa mengerjakannya? Untuk motif lainnya, bisa dibagi kepada pengrajin yang lain. Jadi, hasilnya tetap terjaga dan pekerjaan tidak menumpuk pada satu orang.”

“Bibi juga berpikir begitu. Hanya saja, Bibi ingin memastikan keputusan ini tidak mengganggu pembagian pekerjaan yang sudah disepakati.”

“Menurut saya, selama jumlah pesanan dan jadwal penyelesaiannya tetap sesuai kesepakatan, pembagian pengerjaannya bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing pengrajin. Yang penting, kualitasnya tetap dijaga.”

Bibi menyetujui usulan tersebut. Mereka kemudian membicarakan beberapa hal teknis sebelum mengakhiri panggilan.

Setelah telepon terputus, Aira membuka catatan yang berisi rincian pesanan Galeri Nusantara. Ia memeriksa kembali jumlah produk dan jadwal pengerjaan, memastikan keputusan yang baru dibicarakan tidak bertentangan dengan kesepakatan bersama Rendra.

Baginya, kerja sama ini bukan sekadar pesanan dalam jumlah besar. Ada tanggung jawab yang harus ia jaga agar kepercayaan yang diberikan kepada sanggar kakeknya tidak sia-sia.

Aira lalu mengirimkan pesan kepada Bibi, meminta agar setiap perubahan pembagian kerja dicatat supaya mereka tetap memiliki rincian produksi yang jelas.

Setelah itu, ia menyimpan ponselnya dan melanjutkan pekerjaan lain.

Untuk sementara, semuanya berjalan sesuai rencana.

...____🍀🍀🍀🍀____...

Sore harinya, Siska Mahendra duduk di ruang keluarga rumahnya. Setelah menyelesaikan beberapa urusan, ia mengambil ponsel dan membuka kontak Clara Wijaya.

Sejak pertemuan mereka di restoran, Siska beberapa kali memikirkan kepulangan perempuan itu ke Jakarta.

Clara pernah menjadi sosok yang sangat dekat dengan Devan. Hubungan mereka dahulu bahkan hampir berakhir di pelaminan. Karena itu, Siska tidak pernah benar-benar menganggap Clara sebagai orang asing bagi keluarga Mahendra.

Kabar bahwa Clara kini kembali menjalin hubungan bisnis dengan Mahendra Group membuatnya melihat sebuah kesempatan untuk kembali mendekatkan perempuan itu dengan keluarganya.

Siska menekan tombol panggilan.

Tidak lama kemudian, suara Clara terdengar dari seberang.

“Selamat sore, Tante.”

“Sore, Clara. Bagaimana kabarmu?”

“Baik, Tante. Bagaimana dengan Tante sendiri?”

“Baik juga. Bagaimana kerja sama dengan Mahendra Group."

“Saat ini proposalnya masih dalam tahap peninjauan.”

“Semoga semuanya berjalan lancar.”

“Terima kasih, Tante.”

Siska tersenyum tipis sebelum melanjutkan perkataannya.

“Kalau kamu ada waktu, datanglah ke rumah. Tante ingin menyambutmu dengan baik setelah sekian lama kamu tidak berkunjung.”

Clara terdiam sejenak sebelum menjawab.

“Tentu, Tante. aku akan mengatur waktu setelah jadwal pekerjaanku lebih jelas.”

“Baik. Kabari Tante saja nanti. Tante tunggu.”

Setelah percakapan singkat itu berakhir, Siska meletakkan ponselnya.

Ia tidak berniat terburu-buru. Clara baru kembali, sementara hubungannya dengan Devan merupakan persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya melalui satu pertemuan.

Namun, setidaknya sekarang ia memiliki alasan yang wajar untuk kembali menghadirkan Clara di lingkungan keluarga Mahendra.

Pandangan Siska beralih ke arah tangga yang menuju lantai atas. Ia teringat pada Aira, perempuan yang kini berstatus sebagai istri Devan.

Wajahnya kembali dingin.

Siska masih belum menganggap pernikahan itu sebagai sesuatu yang dapat mengubah penilaiannya terhadap Aira. Baginya, keputusan Devan menikahi perempuan tersebut tetap berkaitan dengan kepentingan yang sudah ia ketahui.

Dan selama keadaan belum berubah, Siska tidak melihat alasan untuk mengubah pandangannya.

...____🍀🍀🍀🍀____...

Malam mulai turun ketika Devan tiba di penthouse. Setelah menyelesaikan beberapa urusan, ia menerima panggilan telepon dari ibunya.

“Devan, tadi Ibu menghubungi Clara,” ujar Siska setelah mereka saling menyapa.

Devan meletakkan dokumen yang sedang dibacanya.

“Untuk apa, Bu?”

“Ibu mengundangnya datang ke rumah. Dia sudah lama tidak berkunjung, jadi tidak ada salahnya menyambutnya kembali.”

Devan terdiam sebentar.

“Ibu sudah menentukan kapan dia datang?”

“Belum. Clara akan menyesuaikan dengan jadwal pekerjaannya.”

Devan mengangguk kecil meskipun ibunya tidak dapat melihatnya.

“Kalau begitu, terserah Ibu.”

“Kamu tidak keberatan?”

“Tidak ada alasan untuk keberatan, selama semuanya berjalan dengan baik.”

Siska terdiam sejenak. Jawaban putranya terdengar datar, seolah kedatangan Clara bukan sesuatu yang perlu dipikirkannya terlalu jauh.

“Baiklah. Nanti Ibu kabari kalau tanggalnya sudah pasti.”

“Baik, Bu.”

Panggilan berakhir. Devan meletakkan ponselnya kembali di meja, lalu melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.

Ia tidak berniat mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Clara kini hadir sebagai perwakilan investor yang sedang menjalin kerja sama dengan Mahendra Group. Selama urusan mereka masih sebatas pekerjaan, Devan tidak melihat alasan untuk mempermasalahkannya.

Namun, ia tahu bahwa cepat atau lambat, pertemuannya dengan Clara di luar ruang rapat akan kembali terjadi.

Dan kali ini, bukan hanya mereka berdua yang akan berada di sana.

Bersambung...

1
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Muft Smoker
Devan gengsi ny msh Segede Bulan ,,
Ariany Sudjana
Devan sudah ada hati sama Aira, cuma masih Denial dengan perasaannya sendiri
Jesselyn Runtuwene
lanjut 👍
Jesselyn Runtuwene
lanjut
fabdul
Luar Biasa
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Jesselyn Runtuwene
ijin promosi novel juga Judul Sang Pemain ( yang awalnya tidak suka bermain bola menjadi pemain profesional ) mampir yuk
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Jesselyn Runtuwene
semoga saja Clara tidak menimbulkan masalah
Muft Smoker
Clara mungkin tenang dlm setiap obrolan ,, dan semoga akan ttap seperti tu ,, jgn prnh merusak rumah tangga prempuan lain ,, dan Devan harus selalu bisa mengambil sikap tegas ,,
Ariany Sudjana
kamu harus tegas Devan, jangan sampai si pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan aira, apalagi mama kamu kelihatan sekali masih berharap Clara yang jadi istri kamu, hanya karena pertimbangan sama-sama keluarga konglomerat
Jesselyn Runtuwene
semoga Clara tidak menjadi masalah bagi Devan
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Anvika
Ratih berhenti sejenak, keknya lebih bagus diganti napas Ratih tercekat.
fabdul: siap kak makasih ya atas masukannya, nanti aku baca kembali bab ini sebelum revisinya 😊
total 1 replies
Anvika
Mampir kak
Anvika
Lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,

semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,
Muft Smoker: ok siap kak ,,
semangat trus /Grin/
total 2 replies
Muft Smoker
waah nyari masalah aj niih siapa pun org ny😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!