NovelToon NovelToon
KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
​Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
​"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PUTUS

“Kita putus, Aura. Tolong sadar diri, kamu itu cuma cewek biasa yang nggak bakal pernah selevel sama keluarga aku.”

Suara Aris bergetar oleh kesombongan yang membuncah. Di kafe mewah berlangit-langit tinggi itu, ia menatap Aura tanpa sedikit pun rasa bersalah. Cangkir kopi porselen di hadapannya bahkan belum sempat mendingin, sama seperti hubungan tiga tahun yang dihempaskan begitu saja dalam satu kalimat kejam.

Aura tidak menangis. Jemarinya yang lentik hanya meremas ujung gaun sederhananya di bawah meja, menahan gejolak gemuruh di dadanya. Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Ia telah menemani Aris dari pria itu belum memegang jabatan apa pun di perusahaan, mendukung setiap perjalanannya, hingga kini Aris melangkah makin tinggi dan lupa daratan.

“Tiga tahun, Aris. Kamu sembunyiin aku dari semua orang, dan sekarang kamu buang aku cuma karena cewek yang baru kamu kenal dua bulan?” tanya Aura, suaranya tetap tenang meski matanya menatap tajam.

Aris terkekeh sinis, menyandarkan punggungnya pada kursi kulit premium. Pria berusia dua puluh lima tahun itu mengenakan kemeja desainer ternama dengan jam tangan mewah yang sengaja ia pamerkan saat memegang cangkir kopinya.

“Siska itu putri pemilik jaringan hotel ternama, Aura. Dia punya segalanya. Koneksi, latar belakang keluarga, sampai gaya hidup yang seimbang sama aku,” sahut Aris sambil menatap Aura dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan. “Sedangkan kamu? Cuma staf biasa di perusahaan kecil. Ayahku yang sangat selektif dan berkuasa itu nggak akan pernah sudi punya menantu seperti kamu.”

Sebutan "Ayah" itu selalu menjadi senjata Aris. Selama tiga tahun berpacaran, Aris selalu memakai alasan ayahnya yang dingin dan otoriter untuk menyembunyikan Aura. Sosok ayah yang ia gambarkan bagai monster menakutkan yang memegang seluruh kendali atas hidup, karier, dan harta warisannya. Aris selalu beralasan harus menunggu momen yang tepat untuk bicara pada ayahnya, yang ternyata hanya kebohongan manis untuk mengulur waktu sampai ia menemukan wanita kaya yang lebih menguntungkan.

Aura menghirup napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Rasa sakit hati yang sempat mencubit dadanya perlahan mengkristal menjadi sesuatu yang dingin dan keras.

“Jadi, ini keputusan akhir kamu?” Aura menatap tepat ke manik mata Aris.

“Iya. Anggap saja kita nggak pernah kenal,” sahut Aris dingin seraya berdiri, merapikan jas mewahnya tanpa sudi menatap Aura lagi. “Jangan pernah hubungi aku lagi.”

Pria itu melangkah pergi dengan angkuh, meninggalkan Aura yang duduk sendirian dalam senyap.

Aura tidak mengejar, tidak juga meneteskan air mata. Jemarinya mengusap pinggiran cangkir kopi yang dingin. Di balik tatapan matanya yang teduh, sebuah senyuman tipis dan mematikan perlahan terukir di bibirnya.

‘Kamu bilang aku nggak selevel sama keluarga kaya kamu, Aris? Kita lihat seberapa jauh aku bisa melangkah.’

Satu bulan berlalu.

Aura tidak menghabiskan waktunya dengan meratapi nasib atau menangis di sudut kamar. Sebaliknya, rasa sakit hati dan penghinaan Aris ia ubah menjadi bahan bakar untuk menyusun rencana pembalasan dendam yang paling dingin dan terencana.

Selama sebulan penuh, Aura memanfaatkan kecerdasannya sebagai konsultan riset dan strategi untuk menggali seluruh informasi mengenai keluarga Aris. Dari penelusurannya yang mendalam, Aura menemukan fakta bahwa sosok "Ayah" yang sangat ditakuti sekaligus dibanggakan oleh Aris adalah Hendra Fahreza—pendiri dan pemilik utama dari Fahreza Group, sebuah konglomerasi raksasa di bidang properti, energi, dan investasi media.

Hendra Fahreza bukan sekadar pria kaya biasa. Di usianya yang ke-38 tahun, dia adalah taipan bisnis paling berpengaruh yang ditakuti oleh lawan maupun kawan bisnisnya. Aris selama ini hidup di bawah bayang-bayang kehebatan ayahnya. Pria arogan itu sangat gemetar dan tidak berani membantah sepatah kata pun jika sudah berhadapan dengan Hendra.

Aura menatap pantulan dirinya di cermin besar. Jika Aris mengusirnya dan menyebutnya tidak selevel untuk masuk ke dalam keluarganya, maka Aura tidak akan pernah mengemis. Ia akan masuk lewat pintu depan sebagai penguasa tertinggi di rumah itu. Sebagai ibu tiri Aris.

Malam ini, sebuah pesta dansa amal megah digelar di ballroom hotel bintang lima bertabur pengusaha kelas atas, pejabat, dan selebritas papan atas. Lampu-lampu kristal gantung memantulkan cahaya kemilau di atas gaun-gaun malam bertabur permata.

Aura berdiri anggun di dekat pilar marmer, tampak sangat memukau dalam balutan gaun malam berwarna hijau zamrud yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Riasan wajahnya tegas namun elegan, menonjolkan bibir merah dan mata tajamnya. Tidak ada lagi kesan "cewek biasa". Malam ini, ia menjelma menjadi sosok wanita anggun yang memancarkan aura misterius dan tak tersentuh.

Matanya yang jernih bergerak cepat meneliti kerumunan di tengah ballroom, hingga akhirnya pandangannya terkunci pada sosok pria yang menjadi pusat gravitasi di ruangan tersebut.

Hendra Fahreza.

Di usianya yang hampir kepala empat, Hendra sama sekali tidak tampak seperti ayah dari pria dewasa berusia 25 tahun. Postur tubuhnya tinggi tegap, bahunya lebar dibalut setelan jas hitam custom-tailored buatan Savile Row yang sangat pas di tubuhnya. Rambut hitamnya tertata rapi dengan sedikit uban perak di bagian pelipis yang justru menambah kesan matang dan berwibawa. Rahangnya tegas, dan tatapan matanya tajam bagai elang yang sanggup mengintimidasi siapa saja.

Aura menghirup napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya. Rencana yang ia susun selama satu bulan penuh kini memasuki langkah eksekusi pertama.

Ketika melihat Hendra melangkah seorang diri menuju balkon lantai dua yang lebih sepi untuk menerima panggilan telepon, Aura bergerak dengan langkah halus dan teratur menyusul sang taipan.

Angin malam yang dingin berembus lembut di balkon luar, membawa aroma air hujan yang baru saja reda. Hendra baru saja memasukkan ponsel mewahnya ke dalam saku jas saat ia menyadari kehadiran seorang wanita muda yang berdiri di sampingnya sambil memegang gelas champagne.

“Di dalam terlalu bising, ya, Pak Hendra?” sapa Aura lembut, suaranya tenang tanpa ada nada gugup atau gemetar sedikit pun.

Hendra menoleh perlahan. Mata cokelat gelapnya yang tajam menatap Aura dari atas ke bawah. Sebagai pria yang dikelilingi ribuan wanita yang mencoba memikat atau memanfaatkan kekayaannya setiap hari, Hendra sangat paham membaca gestur tubuh manusia. Dan wanita di hadapannya ini... sama sekali tidak menunjukkan aura godaan murahan atau kecanggungan.

“Kamu tahu nama saya,” suara Hendra terdengar berat, dalam, dan dipenuhi karisma alami yang sanggup membuat jantung wanita mana pun berdesir.

“Siapa yang tidak mengenal pemilik Fahreza Group?” Aura tersenyum tipis, menatap lurus ke dalam manik mata pria matang itu tanpa berkedip. “Tapi saya ke sini bukan untuk membicarakan bisnis Anda.”

Hendra menaikkan sebelah alisnya, sedikit tertarik dengan respon tak terduga tersebut. “Lalu?”

Aura melangkah satu titik lebih dekat, biarkan angin malam membawa aroma parfum mawar dan kayu manis miliknya yang elegan ke indera penciuman Hendra. Tanpa ragu, Aura menatap tepat ke manik mata sang taipan terkuat.

“Saya ke sini untuk menawarkan sesuatu yang tidak bisa Anda tolak.”

Hendra terkekeh pelan—sebuah tawa rendah dan dingin yang terdengar sangat berbahaya namun menawan. Pria itu menyandarkan sikunya di pembatas balkon marmer, menatap Aura dengan binar geli sekaligus penasaran.

“Anak muda, kamu tahu sedang bicara dengan siapa? Apa yang bisa kamu tawarkan pada pria yang sudah memiliki segalanya?”

Aura menatapnya mantap, bibirnya mengukir senyuman penuh misteri saat ia mengutarakan kalimat yang membuat senyum di wajah Hendra seketika memudar:

“Bagaimana kalau kita menikah?”

1
Ds Phone
dia lagi cekap
Ds Phone
siapa pulak tu tak habis lagi ke
Ds Phone
akhir nya derama dah berhair
Ds Phone
meraka lagi cekap
Ds Phone
dah culik anak orang tu pulak
Ds Phone
apa kagi dia nak buat
Ds Phone
semua nya dah kenatankap
Ds Phone
ada yang tak betul ni
Ds Phone
ada yang tak kena lah ni
Ds Phone
ada apa masalah lagi tu
Ds Phone
semua bolih di patah kan nya
Ds Phone
ada masalah lagi
Ds Phone
apa masut dia ya
Ds Phone
kena tankap juga sudah nya
Ds Phone
macam mana kau bolih dapat fi al rasia tu
Ds Phone
dapat lari apa dia akan buat hal
Ds Phone
kalau kita apa
Ds Phone
kena penjara juga sudah nya
Ds Phone
banyak sangat duit yang dia pakai
Ds Phone
kenapa nak kena tankap pulak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!