Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!
Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghancuran Segel Pertama
Gelap.
Itulah hal pertama yang menyapa Lu Mingseng saat kesadarannya tertarik kembali dari dasar kegelapan.
Seluruh tulangnya terasa bagai diremukkan lalu disatukan kembali secara paksa. Setiap inci dagingnya berdenyut ngilu, sementara bau amis darah kental membasahi lidah dan sudut bibirnya.
Dengan napas tersengal, Mingseng memaksakan kelopak matanya terbuka.
Aula batu hitam itu masih diselimuti keheningan mencekam. Di udara, salah satu dari sembilan rantai emas raksasa kini telah putus, menjuntai tak berdaya ke atas lantai. Sementara itu, Tulang Jari Emas yang tadi menembus dahinya telah lenyap—menyatu sepenuhnya ke dalam aliran darahnya.
"Di... mana aku?" Mingseng merangkak pelan, suaranya parau dan kering.
"Di tempat yang akan menentukan nasibmu—apakah kau akan mati bagai bangkai, atau berdiri menantang langit."
Suara tua yang berwibawa bergema di sekeliling dinding aula.
Mingseng tersentak. Dengan menahan denyut nyeri di dadanya, ia mendongak.
Syuut!
Cahaya keemasan mengumpul di tengah ruangan, membentuk wujud transparan seorang lelaki tua berambut putih panjang. Wajahnya dipenuhi garis-garis kerutan tebal, namun sepasang matanya memancarkan pendar cahaya yang sanggup meruntuhkan nyali siapa pun.
"Siapa... Anda?" bisik Mingseng.
"Aku hanyalah sisa jiwa dari masa lalu yang tertinggal," jawab lelaki tua itu tenang. "Dahulu kala, seluruh benua menyebutku... Kaisar Keabadian."
Mingseng menahan napasnya.
Kaisar Keabadian! Meskipun berasal dari keluarga kecil di Kota Qinghe, ia pernah mendengar legenda tentang sosok-sosok yang telah mencapai puncak jalan kultivasi. Dan kini, bayangan legendaris itu melayang tepat di hadapannya.
"Senior... mengapa harus aku?" tanya Mingseng ragu. "Aku hanyalah manusia tanpa bakat... seorang cacat yang dibuang keluarganya."
"Bakat?" Lelaki tua itu tertawa pelan, sebuah tawa yang sarat akan ironi. "Manusia-manusia di luar sana terlalu bodoh untuk memahami struktur tubuhmu."
Ia mengibaskan lengan jubahnya. Seketika, pendar keemasan menyelimuti tubuh Mingseng, membuat seluruh organ dan jalur di balik kulitnya terlihat transparan bak kristal.
Di dalam dada Mingseng, terlihat sembilan jalur energi utama. Namun, kesembilan jalur itu dililit rapat oleh rantai hitam pekat berduri yang mengunci mati seluruh alirannya.
Mingseng menatap bayangannya sendiri dengan mata membelalak. "Apa... apa yang ada di dalam tubuhku?"
"Sembilan Meridian Terkunci," sahut Kaisar Keabadian dingin. "Keluargamu menganggapmu sampah karena energi spiritual yang kau serap selalu menguap. Padahal, jalurmu disumbat oleh segel terkutuk sejak kau dilahirkan."
Jantung Mingseng berdebar kencang. Rasa sesak yang bertahun-tahun menghimpit dadanya mendadak berubah menjadi letupan emosi liar.
"Maksud Senior... aku sebenarnya bisa berkultivasi?!"
"Tentu saja. Tapi jalanmu tidak mudah," potong sang Kaisar tegas. "Segel ini bukan sekadar menyumbat, tapi akan terus merusak meridianmu. Jika kau memaksa berkultivasi dengan teknik biasa, jantungmu akan pecah."
Mingseng mencengkeram lantai batu hingga jemarinya memutih.
Tujuh belas tahun... ia menanggung penderitaan dan hinaan karena dianggap anak tak berguna. Ternyata, tubuhnya memang dikunci!
"Senior! Apakah segel ini bisa dihancurkan?!"
Kaisar Keabadian menatap Mingseng lekat-lekat. "Bisa. Tapi harga yang harus kau bayar adalah rasa sakit yang sanggup menghancurkan jiwamu. Jika gagal, kau akan tewas tanpa sisa."
Aula kembali diliputi keheningan yang menghimpit.
Mingseng menundukkan kepala. Ingatannya berputar cepat pada raut wajah ibunya yang memucat di atas ranjang lapuk, pada tatapan jijik Lu Tianhao saat menendangnya ke tanah berlumpur, serta pada tamparan keras di kedai obat.
Selama ini ia mengalah. Ia berlutut dan menahan diri karena merasa tidak memiliki kekuatan.
Namun sekarang, sebuah kesempatan ada di depan matanya.
"Senior..." Mingseng mendongak. Ketakutan di matanya telah sirna, digantikan oleh bara tekad yang menyala-nyala. "Aku tidak takut mati. Aku lebih takut hidup sebagai pengemis yang bisa diinjak-injak kapan saja!"
Kaisar Keabadian tertegun sejenak. Di balik tubuh ringkih pemuda di hadapannya, ia melihat bayangan semangat baja yang amat langka.
"Baiklah," ujar sang Kaisar pelan. "Terimalah Metodemu!"
BUM!
Lempengan batu hitam di ujung aula meledak, menjelma menjadi ribuan aksara cahaya keemasan yang melesat dan menembus pori-pori kulit Mingseng secara paksa.
"AAAAAARGH!"
Jeritan histeris Mingseng membelah kesunyian aula.
Rasa sakitnya tiada tara. Setiap inci pembuluh darah dan jaringan dagingnya terasa seperti digores oleh sembilan puluh sembilan bilah pisau beracun. Mingseng tersungkur, mengerang dan mencakar lantai batu hingga kuku-kukunya patah menumpahkan darah.
"Jangan hilangkan kesadaranmu! Arahkan energi keemasan itu ke meridian pertamamu!" bentak Kaisar Keabadian dari atas.
Mingseng menggigit bibir bawahnya hingga dagingnya robek, menggunakan rasa sakit fisik untuk menjaga jiwanya tetap sadar. Ia mengarahkan seluruh fokusnya ke titik hitam di bagian dada sebelah kiri.
Di sana, segel rantai hitam pertama merintangi alirannya.
Saat energi emas dari warisan bertabrakan langsung dengan segel tersebut—
KRAK!
Rasa mual dan hantaman luar biasa membuat Mingseng memuntahkan darah segar berulang kali. Tubuhnya kejang-kejang di atas ubin basah.
'Ibu...' batinnya menjerit di tengah kegelapan. 'Aku harus bertahan... Aku belum membalas mereka!'
"HANCUR!" teriak Mingseng histeris dengan sisa napasnya.
Ia membakar seluruh daya tahannya, menghantamkan gelombang cahaya emas itu ke arah segel hitam untuk terakhir kalinya!
BOM!
Suara ledakan halus bergema dari dalam dada Mingseng.
Segel hitam di meridian pertamanya pecah berkeping-keping!
Seketika, hawa hangat yang teramat murni menerobos masuk, mengalir deras membasahi jalur spiritualnya yang selama belasan tahun kering kerontang. Luka-luka di dalam organ tubuhnya pulih secara ajaib. Rasa sakit yang membakar perlahan berganti menjadi kesejukan yang menenangkan.
Mingseng terkapar lemas di atas lantai, napasnya memburu, sebelum akhirnya matanya terpejam dan ia pingsan dalam kedamaian.
Kaisar Keabadian melayang mendekat, memperhatikan tubuh pemuda itu dengan sudut bibir terangkat tipis. "Anak ini... benar-benar memiliki tekad gila."
Beberapa jam kemudian.
Ketika Mingseng kembali membuka mata, rasa lelah luar biasa masih menyelimuti fisiknya. Namun, ada sesuatu yang berbeda.
Dunia di sekitarnya terasa jauh lebih jernih. Ia bisa mendengar getaran angin di lorong, merasakan partikel cahaya tipis di udara, dan yang paling menakjubkan—sebuah aliran energi hangat kini berputar secara stabil di dalam dadanya.
Ia mengepalkan tangan. "Apakah ini... energi spiritual?"
"Jangan jumawa," sahut Kaisar Keabadian yang melayang di dekatnya. "Kau baru menghancurkan segel pertama. Kau bahkan belum resmi menginjak ranah Pengumpulan Qi tahap awal."
Sang Kaisar menatap Mingseng dengan raut serius. "Sembunyikan kekuatan dan warisan ini rapat-rapat. Jika kultivator dari sekte-sekte besar di luar sana mengetahui keberadaan warisan ini, mereka tidak akan segan mencincang tubuhmu menjadi jutaan bagian."
Mingseng teringat pada kekejaman dunia di luar sana. Ia membungkuk hormat. "Mingseng mengerti, Senior."
Sementara itu — Langit di atas Pegunungan Kabut Hitam.
WUSSS!
Tiga berkas cahaya melesat cepat membelah awan malam. Tiga sosok berpakaian jubah putih dengan bordiran pedang perak menghentikan penerbangan mereka, melayang tepat di atas jurang tempat Mingseng jatuh.
Pimpinan mereka, seorang pria paruh baya berwajah dingin bernama Tetua Han dari Sekte Pedang Awan, menyipitkan matanya tajam.
"Tetua Han, apa yang terjadi?" tanya seorang murid di sampingnya. "Awan petir di langit tadi mendadak lenyap."
Tetua Han meraba udara, merasakan sisa-sisa fluktuasi energi hangat yang sangat murni di sekitar lembah.
"Ada gelombang kekuatan luar biasa yang baru saja terbangun di dasar jurang ini," gumam Tetua Han dengan mata berkilat penuh keserakahan. "Harta karun atau warisan tingkat tinggi pasti tersembunyi di bawah sana!"
Ia mengibaskan lengan bajunya. "Turun! Selidiki setiap jengkal tanah di dasar jurang. Jangan biarkan sekte lain mendahuluinya!"
Ketiga kultivator itu meluncur turun bagai kilat menuju kegelapan bawah tanah.
Badai baru... siap menerjang Lu Mingseng yang baru saja mengambil langkah pertamanya!
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳