NovelToon NovelToon
Lily

Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:599
Nilai: 5
Nama Author: Lili Pinarsih

Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Malam yang tidak diinginkan

Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam ketika Lily selesai mandi. Ia mengenakan gaun tidur sederhana berwarna putih, kemudian mengikat rambut panjangnya agar tidak mengganggu saat membantu pelayan menyiapkan makan malam.

Kediaman persembunyian keluarga Katagiri masih sama seperti yang diingatnya. Bangunan itu berdiri jauh di dalam hutan, dikelilingi pepohonan tinggi dan pagar pengaman yang membatasi kawasan tersebut dari dunia luar. Jalan menuju gerbang dipenuhi pohon sakura yang kini sedang berbunga lebat. Kelopak-kelopak merah muda berjatuhan setiap kali angin musim semi bertiup, menciptakan pemandangan indah yang terasa kontras dengan kesunyian tempat itu.

“Biarkan saya yang menyelesaikannya, Nona,” ujar pelayan yang sedang memotong sayuran.

“Tidak apa-apa. Saya memang suka memasak.” Lily tersenyum tipis. “Lagi pula, kita bisa menyelesaikannya lebih cepat kalau bekerja bersama.”

Pelayan berusia lanjut itu terkekeh pelan.

“Nona masih sama seperti dahulu. Tidak banyak yang berubah namun sekarang terlihat lebih dewasa.”

Lily tidak menjawab. Ia hanya melanjutkan pekerjaannya, membantu menata makanan di atas meja makan kecil.

Bagi Lily, melakukan pekerjaan sederhana seperti itu jauh lebih menenangkan daripada duduk sendirian sambil memikirkan pesan-pesan misterius yang diterimanya sejak tiba di Jepang.

Setelah makanan tersaji, mereka makan bersama. Pelayan itu sesekali menanyakan perjalanan Lily, sedangkan Lily menjawab seperlunya. Ia tidak menceritakan ancaman yang diterimanya karena tidak ingin membuat perempuan tua itu khawatir.

Selesai makan, Lily membawa piring-piring kotor ke dapur.

“Biarkan saja, Nona. Saya akan membereskannya besok pagi.”

“Tidak perlu. Saya bisa mencucinya sendiri.”

Pelayan itu menggeleng, tetapi akhirnya membiarkan Lily melakukan apa yang diinginkannya.

Malam semakin larut. Sesuai kebiasaan di kediaman tersebut, sang pelayan harus pulang ke rumahnya yang terletak cukup jauh dari kawasan hutan itu. Ia tidak pernah menginap karena keluarganya tinggal di daerah lain.

Sebelum pergi, perempuan tua itu berpamitan kepada Lily.

“Saya pulang dahulu, Nona. Para penjaga akan tetap berada di luar gerbang. Jika membutuhkan sesuatu, Anda bisa menghubungi nomor saya.”

“Baik. Hati-hati di jalan.”

“Jangan tidur terlalu larut.”

Lily mengangguk sambil tersenyum kecil.

Tak lama kemudian, suara kendaraan pelayan itu menghilang di balik pepohonan. Kediaman kembali sunyi, hanya menyisakan Lily di dalam bangunan dan beberapa penjaga yang bertugas di luar gerbang.

Setelah memastikan seluruh pintu terkunci, Lily kembali ke dapur untuk menyelesaikan cucian piringnya.

Ia baru saja membilas piring terakhir ketika suara deru ban mobil terdengar dari kejauhan.

Tangannya langsung berhenti.

Lily menoleh ke arah jendela dapur.

Sebuah kendaraan sedang mendekati gerbang.

Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia teringat pesan yang mengatakan bahwa seseorang telah mengetahui lokasi rumah persembunyiannya. Mungkinkah orang-orang yang mengincar dirinya telah menemukan tempat ini juga?

Namun, tidak terdengar teriakan atau peringatan dari para penjaga. Tidak ada suara langkah berlarian maupun tanda-tanda keadaan darurat.

Apakah itu Kakek Mahito? pikirnya.

Mahito memang memiliki akses ke tempat tersebut. Mungkin pria tua itu datang lebih cepat daripada yang diperkirakan.

Lily segera menyelesaikan cucian piringnya, mengeringkan tangan, lalu berjalan menuju pintu depan.

Dari balik jendela, ia melihat cahaya lampu kendaraan menyapu halaman. Lampu taman di dekat gerbang hanya menerangi sebagian jalan, membuat sosok orang yang berada di dalam mobil sulit terlihat.

Lily membuka pintu, tetapi tidak langsung melangkah keluar. Ia berdiri di balik daun pintu sambil menunggu kendaraan itu mendekat.

Mobil hitam tersebut akhirnya berhenti di depan kediaman.

Pintu pengemudi terbuka, disusul pintu penumpang belakang.

Seorang pria bertubuh tinggi keluar dari kendaraan dengan setelan gelap. Rambut pirangnya tampak sedikit berantakan, sementara sepasang mata birunya menatap lurus ke arah bangunan.

Lily membeku.

Ia mengenali pria itu bahkan sebelum wajahnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu.

Satoshi Katagiri.

Suaminya.

Lily mengembuskan napas panjang, antara terkejut dan tidak percaya. Selama tiga tahun pernikahan mereka, Satoshi hampir tidak pernah datang ke tempat persembunyian tersebut. Bahkan ketika Mahito memintanya mengunjungi kediaman utama keluarga Katagiri, Satoshi selalu memiliki alasan untuk menghindarinya.

Namun, malam ini pria itu justru muncul di hadapannya, di tempat yang selama ini menjadi salah satu perlindungan terakhirnya.

Satoshi menatap Lily yang berdiri di balik pintu. Untuk beberapa saat, keduanya tidak mengatakan apa-apa.

Lily akhirnya membuka pintu lebih lebar.

“Silakan masuk,” ucapnya datar.

Ia berusaha bersikap biasa, meskipun rasa kesal dan muak muncul bersamaan di dadanya. Ia tidak ingin menunjukkan betapa kehadiran pria itu mengganggu ketenangan yang baru saja diperolehnya.

Satoshi melangkah masuk, lalu memandang wajah istrinya dengan saksama.

“Kau tidak senang aku berada di sini?”

Lily tidak menjawab pertanyaan itu. Ia berbalik dan mulai berjalan menuju tangga.

“Saya akan tidur lebih dahulu. Saya lelah setelah perjalanan panjang.”

Satoshi mengikuti dari belakang.

“Lily.”

Perempuan itu tetap melangkah.

“Pelayan tidak menyiapkan kamar untukku,” lanjut Satoshi. “Jadi, sepertinya kita harus tidur di kamar yang sama malam ini.”

Lily berhenti sesaat di anak tangga terakhir.

Ia menoleh dengan tatapan dingin.

“Kalau begitu, Anda bisa tidur di sofa ruang keluarga.”

“Aku baru menempuh perjalanan panjang. Kau benar-benar akan menyuruhku tidur di sofa?”

“Itu bukan urusan saya.”

Jawaban itu membuat Satoshi terdiam sejenak. Ia tidak terbiasa mendengar Lily berbicara setegas itu kepadanya. Dahulu, perempuan tersebut akan segera menuruti permintaannya, bahkan ketika permintaan itu menyakitkan atau tidak masuk akal.

Kini, Lily bahkan tidak berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya.

Satoshi menghela napas, lalu kembali mengikutinya menuju kamar.

Sesampainya di dalam, Lily mengambil selimut tambahan dari lemari. Ia meletakkannya di atas ranjang, kemudian menunjuk tempat tidur tersebut.

“Silakan tidur di ranjang. Saya akan tidur di lantai.”

Satoshi mengerutkan kening.

“Kau yang tidur di lantai, sedangkan aku mengambil ranjang?”

“Bukankah Anda yang menginginkan kamar ini?”

“Aku tidak mengatakan bahwa kau harus tidur di lantai.”

“Kalau begitu, kita tidak perlu memperdebatkannya. Saya sudah terbiasa tidur di tempat yang lebih sederhana.”

Ucapan itu membuat Satoshi teringat pada kamar kecil yang berada diruang penyimpanan di rumah mereka di Amerika. Kamar yang selama bertahun-tahun ditempati Lily karena ia sendiri tidak mengizinkan perempuan itu tidur di kamar utama.

Rasa tidak nyaman muncul di dadanya, tetapi ia segera menyingkirkannya.

Lily membentangkan selimut tipis di atas karpet, lalu mengambil bantal dari lemari. Ia berusaha menyelesaikan semuanya secepat mungkin agar tidak perlu berlama-lama berhadapan dengan suaminya.

Namun, ketika ia hendak berjongkok untuk merapikan selimut, Satoshi tiba-tiba mendekat.

Sebelum Lily sempat menyadari gerakannya, kedua lengan pria itu melingkar dari belakang dan memeluk tubuhnya dengan erat.

Lily tersentak.

“Lepaskan saya!”

Ia berusaha melepaskan diri, tetapi Satoshi tidak langsung mengendurkan pelukannya. Wajah pria itu mendekati sisi kepalanya, sementara dagunya hampir menyentuh bahu Lily.

“Sudah lama kita tidak berada sedekat ini,” bisiknya, mencoba terdengar menggoda.

Bagi Satoshi, pelukan itu mungkin sekadar usaha untuk mendekatkan diri kepada istrinya. Namun, bagi Lily, sentuhan tersebut mengingatkannya pada malam-malam ketika ia tidak memiliki kuasa untuk menolak.

Tubuhnya menegang.

"Kita memang tidak pernah sedekat ini."

“Saya bilang, lepaskan!”

Kali ini suaranya terdengar lebih keras.

Satoshi terdiam. Ia baru menyadari bahwa Lily tidak sekadar kesal. Kedua tangan perempuan itu mencengkeram lengannya, berusaha melepaskan diri dengan napas yang memburu.

Perlahan, Satoshi melonggarkan pelukannya.

Lily segera menjauh dan berdiri beberapa langkah darinya. Ia memeluk tubuhnya sendiri, seolah berusaha memastikan tidak ada lagi tangan yang akan menyentuhnya tanpa izin.

“Jangan lakukan itu lagi,” katanya dengan suara bergetar. “Anda tidak berhak memeluk saya hanya karena kita masih terikat pernikahan.”

Satoshi menatapnya tanpa menjawab.

Ia ingin mengatakan bahwa dirinya hanya bercanda. Ia ingin meminta Lily berhenti bersikap seolah-olah dirinya adalah orang asing. Namun, ketika melihat ketakutan di mata perempuan itu, semua alasan tersebut terasa tidak pantas diucapkan.

“Aku hanya ingin—”

“Saya tidak peduli apa yang Anda inginkan.”

Lily mengangkat wajahnya. Kali ini, ia tidak mengalihkan pandangan.

“Selama ini, Anda selalu melakukan apa yang Anda inginkan tanpa memikirkan perasaan saya. Saya tidak ingin kembali mengalami hal yang sama.”

Keheningan memenuhi kamar.

Di luar jendela, angin musim semi menggoyangkan ranting-ranting sakura. Beberapa kelopak bunga terlepas dan melayang melewati kaca, tetapi tak satu pun dari mereka memperhatikannya.

Satoshi menurunkan tangannya.

“Baik,” katanya akhirnya. “Aku tidak akan menyentuhmu lagi malam ini.”

Lily tidak menjawab. Ia mengambil bantalnya dan kembali menuju tempat tidur di lantai.

Satoshi berdiri diam, menyaksikan perempuan itu membelakanginya. Ia baru datang dengan harapan bisa mendekat, tetapi sekali lagi tindakannya justru membuat Lily semakin menjauh.

Malam itu, mereka tidur di ruangan yang sama dengan jarak yang memisahkan keduanya.

Di atas ranjang, Satoshi tetap terjaga, menatap langit-langit sambil memikirkan kata-kata Lily.

Sementara di lantai, Lily berbaring membelakanginya, menahan kegelisahan yang tidak ingin ia perlihatkan.

Ia tidak tahu mengapa Satoshi menyusulnya sampai ke Jepang. Ia juga tidak tahu apakah pria itu datang untuk melindunginya atau sekadar memastikan bahwa ia tidak benar-benar lepas dari genggamannya.

Satu hal yang pasti, kedatangan Satoshi telah merenggut ketenangan yang baru saja ia temukan.

Dan di luar kediaman, di antara deretan pohon sakura yang diterangi lampu taman, seorang penjaga menerima panggilan singkat dari nomor tak dikenal.

“Perempuan itu sudah berada di dalam, bukan?” tanya suara di seberang telepon.

Penjaga tersebut melirik bangunan utama sebelum menjawab pelan.

“Benar.”

“Bagus. Jangan biarkan mereka meninggalkan tempat itu selama lima hari ke depan.”

Panggilan terputus.

Pria itu menatap layar ponselnya dengan wajah tegang. Ia kemudian menyimpan perangkat tersebut ke dalam saku dan kembali berdiri di dekat gerbang, seolah tidak terjadi apa-apa.

Di dalam kamar, Lily dan Satoshi sama sekali tidak mengetahui bahwa seseorang di luar sana sedang mengawasi mereka.

Musim semi baru saja dimulai.

Pukul 2 pagi Satoshi terjaga, dinginnya udara musim semi menusuk tulangnya. Dilihatnya Lily tidur dengan merengkuh erat selimutnya, dia sudah tidak memperdulikan lagi kata kata Lily tadi.

Satoshi turun dari ranjangnya dan memeluk Lily yang sedang tidur membelakanginya, wajahnya yang tegas terbenam dibelakang leher Lily.

Lily merasakan hangat namun seperti mimpi, seperdetik kemudian dia tersadar dan menemukan bahwa tangan Satoshi melingkar diperutnya.

Lily berusaha melepaskan pelukan Satoshi tapi tenaga Satoshi tidak bisa dianggap remeh.

"Tuan, apa yang anda lakukan?".

"Diamlah, atau kau benar benar ingin membuat ku ereksi."

Lily terdiam ketika merasakan sesuatu yang berdenyut dan menonjol dibelakang nya.

"Li, kau tau kan kita hanya berdua dikediaman ini. "Menurutmu apa yang akan dilakukan orang dewasa jika berdua saja, kebetulan juga mereka sudah menikah."

Mata Lily terbelalak, badannya menegang, nafas Satoshi yang panas terasa ditengkuk lehernya. Badannya kaku, hangat sangat nyaman, tapi bukan hangat seperti ini yang Lily maksud.

"S-saya, harus kekamar mandi dulu."

"Itu cuman alasanmu, Li, aku tidak tahan lagi."

..........

1
⌓̈⃝𓆩ImAntifragile𓆪દᵕ̈૩
aku mampir, semangat upnya. tulisannya seruuu😍
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁
Lili Pinarsih: mkasih ya 🥰 aku jugaa udah mampir kok dicerita kamu😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!