NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 24

Deru mesin sedan hitam Kenan perlahan berhenti saat mobil memasuki kawasan Dago Atas sekitar pukul sembilan malam. Udara dingin khas Bandung masuk melalui celah jendela yang dibuka sedikit, membawa aroma tanah basah dan pinus. Lampu-lampu kota Jakarta yang bising kini berganti dengan gemerlap syahdu pemandangan malam Bandung City Light dari ketinggian.

Kirana yang sepanjang jalan tertidur lelap dengan kepala bersandar di bahu Kenan perlahan menggeliat. Selimut tipis yang diselimutkan Kenan ke tubuhnya meluncur pelan saat Kirana membuka mata, menyesuaikan penglihatannya dengan remang lampu jalanan Dago.

"Udah sampai, Kir?" bisik Kirana dengan suara serak khas bangun tidur.

Kenan mematikan mesin mobil tepat di depan pagar besi hitam minimalis sebuah rumah dua lantai. Ia memutar tubuhnya, mengusap lembut pipi Kirana yang agak merona. "Udah, sayang. Selamat datang di rumah baru kita."

Kirana menatap rumah di depannya melalui kaca mobil. Dinding luar rumah berpadu antara kayu hangat dan ornamen batu alam, dikelilingi taman kecil yang tertata rapi. Dago malam itu sangat sejuk, tenang, dan jauh dari hiruk-pikuk Jakarta.

Begitu turun dari mobil, Kenan membukakan pintu untuk Kirana. Sebelum melangkah menuju teras, Kenan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kunci berinisial K&K. Ia meletakkannya di telapak tangan Kirana.

"Rumah ini dibeli dari hasil tabungan masa depan yang disiapkan keluarga, tapi penataan dan atmosfer di dalamnya sepenuhnya milik lo," ujar Kenan lembut di dekat telinga Kirana, jemarinya menggenggam erat tangan istrinya.

Dengan tangan sedikit bergetar penuh haru, Kirana memutar kunci di pintu utama. 

Klek.

Pintu kayu tebal terbuka, menyambut mereka dengan aroma kayu pinus yang hangat dan pencahayaan lampu kuning yang estetis.

Tanpa mampu membendung rasa bahagianya, Kirana berbalik dan langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Kenan. Kenan tertawa pelan, merengkuh pinggang molek istrinya, lalu mengangkat dan memutar tubuh Kirana di ruang tengah yang luas.

"Makasih ya," bisik Kirana tulus di leher Kenan. "Makasih udah menyiapkan tempat teraman buat kita berdua."

Kenan menurunkan Kirana perlahan. Pandangannya mengunci manik mata bening Kirana. Tanpa kata-kata lagi, Kenan menangkup kedua pipi istrinya dan mendaratkan ciuman yang dalam, penuh kehangatan dan rasa kepemilikan yang sah di tengah keheningan malam Dago.

….

Keesokan harinya pukul 07.30 WIB, Kirana terbangun oleh aroma gurih roti panggang dan seduhan kopi yang membumbung hingga ke lantai dua. Mengenakan oversized sweatshirt abu-abu milik Kenan dan rambut yang diikat asal, Kirana berjalan turun tangga.

Di dapur bersih berkonsep Skandinavia, Kenan berdiri membelakangi tangga hanya mengenakan kaos oblong putih dan celana olahraga hitam. Otot lengannya terlihat jelas saat ia membalikkan pancake di atas teflon.

Kirana berjalan tanpa suara, lalu memeluk pinggang tegap Kenan dari belakang. "Pagi, sayang..."

Kenan terkekeh, mematikan kompor dan membalikkan badan di dalam dekapan Kirana. Ia mengecup kening istrinya lama. "Pagi, Nyonya Alister. Gimana tidurnya? Nyenyak?"

"Nyenyak banget. Udara Dago sejuk bikin betah di kasur," cengir Kirana manis.

Namun, momen manis sarapan pagi mereka terganggu oleh suara bel pintu depan yang berbunyi dua kali.

Ting tong!

Kirana dan Kenan saling berpandangan. Di kota ini, belum ada satu pun teman kampus atau kerabat yang tahu alamat pasti rumah mereka.

"Biar gue yang buka," kata Kenan seraya mengusap sisa sirup maple di bibir Kirana menggunakan ibu jarinya.

Kenan melangkah ke pintu depan, disusul Kirana yang mengekor di belakang. Begitu pintu dibuka, berdiri seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun bersama seorang pemuda tampan seusia mereka yang membawa wadah berisi bolu kukus Lembang.

"Selamat pagi!" sapa wanita itu dengan senyuman ramah khas Sunda. "Saya Bu Susi dari rumah nomor 12. Tadi malam liat ada mobil baru masuk, jadi saya mau menyapa tetangga baru."

Kenan tersenyum sopan, membungkuk kecil. "Selamat pagi, Bu Susi. Terima kasih banyak. Saya Kenan."

"Saya Kirana, Bu," sambung Kirana ramah.

"Aduh, cantiknya..." puji Bu Susi kagum. "Ini anak Saya, Rian. Dia juga baru mau masuk kuliah tahun ini di ITB jurusan Teknik Sipil."

Pemuda bernama Rian itu mengulurkan tangannya pada Kenan dan Kirana. Wajahnya rupawan, berpenampilan kasual dengan jaket jins, dan memancarkan aura khas mahasiswa populer.

"Gue Rian," sapa cowok itu dengan senyuman ramah. Namun, begitu pandangannya beralih dari Kenan ke Kirana, mata Rian sempat tertahan beberapa detik menikmati kecantikan alami Kirana yang hanya mengenakan baju santai di pagi hari.

"Gue Kenan, ini istri gue, Kirana," potong Kenan dengan intonasi suara bariton rendah yang disengaja diberi penekanan pada kata istri gue.

Mata Rian seketika terbelalak kaget. Tatapannya refleks berlanjut ke jemari Kirana dan Kenan yang sama-sama melingkar cincin pernikahan polos.

"I-istri?!" Rian menelan ludah, kaget luar biasa. "Sumpah? Kalian seumuran gue tapi udah nikah?"

Ibu Susi tertawa pelan, menepuk lengan anaknya. "Rian, gak usah heran gitu. Ya sudah, ini ada sedikit kue selamat datang. Kalau butuh bantuan apa-apa di Dago, jangan sungkan ya Neng Kirana, Nak Kenan."

Setelah sedikit basa-basi, Bu Susi dan Rian berpamitan. Begitu pintu ditutup, Kirana membalikkan badan membawa wadah kue. Namun, ia mendapati Kenan berdiri bersandar di dinding dengan tangan bersedekap, menatapnya dengan tatapan tajam dan dingin.

"Kenapa, Ken?" tanya Kirana polos.

Kenan melangkah cepat, mengambil wadah kue dari tangan Kirana dan meletakkannya di meja. Lalu, kedua tangan tegapnya merengkuh pinggang Kirana, menariknya rapat hingga tak ada jarak di antara mereka.

"Tatapan cowok tadi berlebihan, Kir," cetus Kenan datar, nada cemburu dan posesif meluap jelas dari suaranya.

Kirana tertawa geli, menepuk dada tegap suaminya. "Mana ada berlebihan? Dia cuma kaget aja kita udah nikah di usia muda. Lagian kan lo udah langsung tegas bilang gue istri lo."

"Tetap aja," gumam Kenan rendah, menundukkan kepala dan menggigit pelan cuping telinga Kirana membuat cewek itu geli setengah mati. "Gue gak suka ada cowok lain yang mandangin lo kayak gitu di rumah ini."

"Iya, iya, Bapak Ketos posesif! Gue cuma punya Kenan Alister kok," goda Kirana seraya mengecup singkat rahang tegas suaminya, berhasil meluluhkan raut kaku Kenan dalam sekejap.

…

Sore harinya pukul 16.00 WIB, saat Kirana dan Kenan sedang sibuk merapikan koper-koper pakaian di kamar lantai dua, sebuah pesan masuk ke ponsel Kirana dari nomor tak dikenal.

Kirana membuka pesan WhatsApp tersebut. Dahinya berkerut membaca isinya.

[Nomor Tak Dikenal]: Selamat atas rumah barunya di Dago, Kirana. Ternyata Bandung tidak sempit yang Lo bayangkan. Jangan pikir kejutan dari Jakarta tidak bisa ngejar Lo sampai ke Kampus Unpad.

Jantung Kirana berdegup kencang seketika. Tangan cewek itu bergetar pelan. Ia mengenali gaya bahasa dalam pesan itu gaya bahasa samar yang biasa digambarkan oleh jaringan atau simpatisan kelompok Clarissa saat disekolah.

Kenan yang baru saja membawa kardus buku melihat perubahan raut wajah istrinya. Ia meletakkan kardus itu dan langsung duduk di samping Kirana.

"Kenapa, Kir?" tanya Kenan sigap, mengambil ponsel dari tangan Kirana.

Kenan membaca pesan itu dengan mata menyipit. Aura dingin penuh ancaman terpancar seketika dari wajah Kenan. Ia langsung menekan nomor tersebut dan melakukan panggilan balik, namun nomor itu sudah tidak aktif.

"Siapa, Ken? Clarissa? Atau ada orang lain yang tahu kita pindah ke Dago?" tanya Kirana cemas, membayangkan ketenangannya di kota baru ini akan terusik lagi.

Kenan menggenggam jemari Kirana yang dingin, menarik istrinya ke dalam dekapan dadanya yang kokoh.

"Siapa pun itu, Kirana... mau itu sisa geng Clarissa atau siapa pun yang berniat jahat di Bandung, mereka lupa satu hal," bisik Kenan dengan nada suara yang sangat tenang namun amat berbahaya. "Waktu disekolah gue bisa memblokir mereka sebagai Ketua OSIS. Di Bandung ini, sebagai suami lo, gue punya otoritas penuh buat hancurin siapa pun yang berani menyentuh ketenangan lo."

Kenan merogoh ponselnya sendiri, mengirimkan tangkapan layar nomor tersebut ke tim keamanan keluarga dan rekan mahasiswa ITB untuk melacak pemilik nomor seluler tersebut dalam hitungan jam.

Kirana menyandarkan kepalanya di dada bidang Kenan, mendengarkan detak jantung suaminya yang stabil dan menenangkan. Di balik hawa dingin Kota Bandung dan intrik baru yang mulai membayangi, Kirana tahu bahwa ia berada di dalam pelukan pria yang paling tepat.

      

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!