NovelToon NovelToon
Aku Ingin Pulang

Aku Ingin Pulang

Status: tamat
Genre:Fantasi / Idola sekolah / BTS / Tamat
Popularitas:322
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPILOG — Rumah yang Tertinggal

Tiga bulan setelah pemakaman Clara.

Sekolah sudah masuk tahun ajaran baru.

Kelas 12 yang dulu sudah lulus semuanya. Panggung kelulusan sudah dibongkar. Banner yang dulu bertuliskan nama-nama lulusan sudah nggak ada.

Tapi taman belakang sekolah masih sama.

Pohon mangga masih berdiri di tempatnya.

Rumputnya masih tumbuh liar di beberapa bagian.

Dan bangku kayu tempat Clara dan Seokjin dulu sering duduk masih ada.

Cuma sekarang, di bagian bawah bangku itu ada tulisan kecil menggunakan tip-ex.

CLARA & SEOKJIN — RUMAH KECIL

Tulisan tangan Clara.

Seokjin baru menemukannya beberapa hari lalu.

Siang itu, Seokjin datang ke taman.

Nggak sendirian.

Ada Suga, Jhope, Namjoon, Jimin, Taehyung, dan Jungkook.

Ada juga Mutiara, Diana, dan Safira.

Mereka semua sudah nggak memakai seragam.

Sebagian mulai kuliah.

Sebagian sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Tapi hari itu, mereka sengaja kembali ke tempat yang dulu sering mereka datangi bersama Clara.

Seokjin masih membawa diary biru Clara.

Diary itu sudah sedikit lusuh.

Sampulnya dilapisi plastik bening oleh Nenek Kamila supaya nggak cepat rusak.

Mutiara membawa bunga putih.

Dia meletakkannya di atas bangku.

"Cla..."

Suaranya pelan.

"Kita datang lagi."

Nggak ada jawaban.

Cuma suara angin yang melewati daun-daun pohon mangga.

Jhope yang biasanya paling berisik cuma berdiri diam.

Namjoon menatap bangku.

Diana mengusap matanya.

Safira menarik napas panjang.

Seokjin duduk.

Dia membuka diary biru.

Sampai ke halaman terakhir.

Halaman tentang rumah.

Sekarang dia nggak menangis seperti tiga bulan lalu.

Nggak berarti dia sudah lupa.

Cuma rasa sakitnya sudah berubah.

Dulu setiap mengingat Clara, dia merasa seperti kehilangan napas.

Sekarang kalau kangen, dia cuma diam.

Mengusap sampul diary itu.

Kemudian membiarkan rasa rindu lewat perlahan.

"Jin."

Namjoon duduk di sampingnya.

"Jadi... gimana rumah di Lembang?"

Seokjin tersenyum tipis.

"Malam itu gue langsung ke sana."

"Malam setelah pemakaman?"

Seokjin mengangguk.

"Lampunya emang nyala. Gue kira ada orang."

Jhope ikut mendekat.

"Terus?"

Seokjin melihat ke arah pohon.

"Ternyata Nenek yang nyalain."

Semua terdiam.

"Nenek datang sore-sore. Katanya dia mau bersihin rumah itu."

Diana mengerutkan kening.

"Sendirian?"

"Iya."

Seokjin tersenyum kecil.

"Katanya..."

Dia berhenti sebentar.

"...kalau Clara pulang, rumahnya harus bersih."

Nggak ada yang langsung menjawab.

Kalimat itu sederhana.

Tapi cukup untuk membuat semuanya diam.

---

Rumah kosong nomor 7 di Jalan Taman Sari, Lembang, sekarang sudah nggak kosong lagi.

Nenek Kamila menyewanya.

Pemilik rumah awalnya nggak tega mengambil harga mahal setelah mendengar cerita tentang Clara.

Rumahnya kecil.

Persis seperti gambar yang ditemukan Seokjin di diary.

Dua kamar.

Dapur kecil.

Ruang tengah sederhana.

Dan pohon mangga besar di depan rumah.

Kamar pertama diisi kasur tipis dan meja belajar.

Di atas meja ada beberapa buku Clara.

Ada juga piala emasnya.

Pialanya nggak pecah.

Tapi bagian pinggirnya sempat retak karena kejadian hari kelulusan.

Nenek memperbaikinya pelan-pelan.

Retaknya masih terlihat.

Nenek sengaja nggak menutupnya dengan sempurna.

Karena menurut Nenek, nggak semua yang retak harus disembunyikan.

Kamar kedua awalnya kosong.

Kemudian Seokjin membeli dua kandang kecil.

Masih kosong.

Belum ada kucing.

Nenek bilang nanti Seokjin sendiri yang harus mengisinya.

Di dapur ada kompor satu tungku.

Di dinding dekat kompor, gantungan kunci berbentuk rumah kecil tergantung.

Gantungan kunci yang dulu masih menyisakan noda dari kejadian di rumah sakit.

Sekarang sudah dibersihkan.

Seokjin sering datang ke rumah itu.

Kalau kangen Clara.

Kalau kuliah terasa berat.

Kalau malam terlalu sepi.

Awalnya dia masih mencari tempat kos di Bandung.

Tapi akhirnya dia memilih tinggal di rumah No. 7.

Bukan karena rumah itu besar.

Justru karena kecil.

Sesuai gambar Clara.

Kadang Mutiara datang membawa makanan.

Kadang Diana datang membawa cerita sekolah.

Kadang Suga dan yang lain datang ramai-ramai.

Dan Nenek hampir selalu datang untuk menyapu, membuka jendela, atau sekadar memastikan rumah itu nggak terlalu sepi.

Pelan-pelan—

Rumah itu menjadi rumah sungguhan.

Rumah yang dulu cuma ada di kertas.

Rumah yang pernah Clara impikan.

---

Di rumah keluarga Nagendra, suasananya berubah.

Rumah besar itu terasa jauh lebih sepi sejak Clara nggak ada.

Papa Faizan sudah nggak pernah membentak seperti dulu.

Setiap pulang kerja, dia sering masuk ke kamar Clara.

Duduk di kursi.

Diam.

Di depannya masih ada meja belajar Clara.

Buku-buku olimpiade masih tersusun.

Beberapa catatan kecil masih menempel di dinding.

Papa nggak menyentuhnya.

Dia cuma duduk.

Kadang sampai malam.

Thea juga berubah.

Dia sekarang lebih sering masuk ke kamar Clara.

Nenek memberikan salinan diary Clara kepada keluarga.

Thea membaca pelan-pelan.

Satu halaman.

Dua halaman.

Sampai akhirnya dia menangis.

Bukan karena Clara menyalahkannya.

Justru karena Clara nggak pernah benar-benar menyalahkannya.

Itu yang paling membuat Thea merasa bersalah.

Suatu malam, Thea duduk di lantai kamar Clara sambil memeluk salah satu bantal kakaknya.

"Maaf, Kak."

Suaranya hampir nggak terdengar.

"Thea baru kenal Kakak sekarang."

---

Tapi perubahan terbesar ada pada Mama Vania.

Selama tiga bulan terakhir, Mama menjalani konseling atas kemauannya sendiri.

Bukan karena Papa menyuruh.

Bukan karena Nenek memaksa.

Mama sendiri yang merasa harus belajar memahami semua yang selama ini nggak pernah dia dengarkan.

Dia membaca salinan diary Clara.

Pelan-pelan.

Halaman demi halaman.

Sampai akhirnya menemukan kalimat yang paling menghancurkannya.

Gue pengen dipeluk Mama sekali aja.

Mama menutup mata.

Air matanya jatuh.

Halaman berikutnya.

Kenapa jadi anak baik nggak pernah cukup?

Mama menggigit bibir.

Lalu halaman lain.

Gue capek jadi sempurna.

Setiap membaca tulisan Clara, Mama semakin sadar bahwa selama ini dia terlalu sibuk mencari anak yang sempurna sampai lupa mengenal anaknya sendiri.

---

Suatu malam, Mama datang ke rumah nomor 7.

Sendirian.

Tangannya membawa rantang.

Seokjin yang membuka pintu langsung terdiam.

"Tante?"

Mama tersenyum kecil.

"Boleh Tante masuk?"

Seokjin mengangguk.

"Boleh."

Mama masuk.

Matanya langsung tertuju pada piala Clara.

Pada gambar rumah yang ditempel di dinding.

Pada gantungan kunci rumah kecil.

Dan pada foto Clara yang tersenyum.

Bukan foto kelulusan.

Foto Clara saat tertawa.

Mama meletakkan rantang di dapur.

"Tante masak sop."

Seokjin menatapnya.

"Clara dulu suka sop."

Mama tersenyum tipis.

"Tante baru belajar lagi."

Seokjin nggak menjawab.

Matanya mulai merah.

Mama duduk di kursi dekat meja.

Tangannya menyentuh foto Clara.

"Jin..."

"Iya, Tante?"

"Tante nyesel."

Seokjin diam.

"Tante baru sadar selama ini Tante terlalu sibuk mencari Clara yang sempurna."

Mama menatap foto itu.

"Clara yang juara."

"Clara yang nggak pernah mengeluh."

"Clara yang nggak bikin masalah."

Napas Mama bergetar.

"Padahal Clara yang asli..."

Dia menyentuh foto itu.

"...adalah anak yang capek."

Air mata jatuh.

"Anak yang cuma pengen dipeluk."

Seokjin menunduk.

Mama mengusap wajahnya.

"Kalau Tante boleh..."

Dia melihat sekeliling rumah.

"Tante mau datang ke sini lagi."

Seokjin menatapnya.

"Buat bersihin rumah ini?"

Mama mengangguk.

"Dan..."

Suaranya pecah.

"...buat belajar jadi mama yang seharusnya."

Seokjin terdiam beberapa detik.

Kemudian mengangguk.

"Boleh, Tante."

Mama tersenyum.

Senyum yang sederhana.

Senyum yang datang terlambat.

Tapi kali ini bukan untuk mengejar nilai.

Bukan untuk merayakan piala.

Cuma untuk seorang anak yang sudah nggak bisa mendengarnya lagi.

Malam itu Mama pulang dengan hati yang berat.

Penyesalannya nggak bisa mengembalikan Clara.

Nggak ada yang bisa.

Tapi setidaknya, untuk pertama kalinya, Mama benar-benar mendengarkan.

Bukan suara Clara.

Melainkan semua hal yang selama ini Clara tulis karena nggak sanggup mengatakannya.

---

Sore mulai turun.

Kembali ke taman sekolah.

Seokjin menutup diary.

"Udah sore."

Dia berdiri.

"Pulang yuk."

Semua mengangguk.

Mutiara, Diana, dan Safira berjalan lebih dulu.

Suga dan yang lain menyusul di belakang.

Seokjin menjadi yang terakhir.

Dia menunduk.

Tangannya menyentuh tulisan tip-ex di bawah bangku.

CLARA & SEOKJIN — RUMAH KECIL

Dia tersenyum.

Kemudian memasukkan diary biru ke dalam tas.

Di dalam tas itu ada kunci rumah nomor 7.

Ada juga sebuah foto.

Foto Clara saat tertawa lepas di acara sekolah.

Bukan foto kelulusan.

Bukan foto ketika menerima piala.

Bukan foto dengan senyum yang dipaksakan.

Foto Clara yang benar-benar bahagia.

Clara tertawa sampai giginya terlihat.

Seokjin mengambil foto itu sesekali.

Bukan untuk membuat dirinya sedih.

Tapi untuk mengingat bahwa Clara pernah bahagia.

Dan dia pernah menjadi salah satu alasan Clara bisa tertawa seperti itu.

---

Di gerbang sekolah, seorang anak kelas 10 baru keluar dari gedung.

Dia membawa terlalu banyak buku.

Jalannya tergesa-gesa.

Sampai akhirnya—

Bruk!

Buku-bukunya jatuh.

Seokjin yang kebetulan lewat langsung berhenti.

Dia jongkok.

Mengambil beberapa buku yang berserakan.

"Nih."

Anak itu kaget.

"Makasih, Kak."

Seokjin menyerahkan buku terakhir.

"Sama-sama."

Dia tersenyum.

"Hati-hati."

Anak itu mengangguk lalu pergi.

Seokjin berdiri.

Untuk sesaat dia diam.

Mungkin memang seperti ini caranya Clara tetap ada.

Bukan dengan kembali.

Bukan dengan tiba-tiba muncul.

Tapi lewat hal-hal kecil.

Lewat seseorang yang mau menolong orang lain.

Lewat taman yang masih dirawat.

Lewat rumah kecil yang tetap menyala.

Lewat orang-orang yang akhirnya belajar mendengarkan.

Seokjin nggak berjanji akan melupakan Clara.

Dia juga nggak memaksa dirinya untuk cepat-cepat berhenti merindukan.

Dia cuma berjanji satu hal.

Dia akan tetap hidup.

Dan dia akan membawa Clara dalam hidupnya.

Bukan sebagai luka yang harus terus dibuka.

Tapi sebagai seseorang yang pernah membuat hidupnya berubah.

---

Matahari mulai turun ketika Seokjin pulang ke Lembang.

Motor melaju pelan.

Di jok belakang ada dua kotak kecil.

Isinya makanan kucing.

Kopi.

Susu.

Akhirnya.

Setelah tiga bulan, dia benar-benar membeli dua anak kucing seperti yang pernah Clara tulis.

Dua anak kucing oren kecil.

Sesampainya di rumah nomor 7, keduanya langsung mengeong dari dalam kotak.

Seokjin tertawa kecil.

"Iya, iya."

Dia membuka pintu.

Lampu teras langsung menyala.

Sensor yang dipasang Nenek beberapa minggu lalu bekerja otomatis.

"Supaya nggak gelap kalau kamu pulang malam," kata Nenek waktu itu.

Seokjin masuk.

Dua kucing kecil itu langsung berlari ke ruang tengah.

Satu berhenti di dekat sofa.

Yang satu lagi malah masuk ke dapur.

Seokjin tertawa.

"Kalian belum tinggal lima menit udah berantakin rumah."

Dia menaruh tas.

Kemudian melihat dinding dekat dapur.

Ada sesuatu yang baru.

Sebuah tulisan besar.

Tulisan tangan Clara yang difotokopi.

Nenek menempelkannya dalam bingkai sederhana.

Seokjin mendekat.

Dia membacanya pelan.

Dulu gue pikir rumah itu tempat kita dilahirkan.

Ternyata rumah adalah tempat kita bisa menangis tanpa takut disalahkan.

Tempat kita bisa pulang tanpa harus menjadi sempurna.

Gue cuma ingin pulang.

Tapi kenapa, bahkan setelah seumur hidup mencari, gue tetap merasa seperti orang asing di rumah sendiri?

Seokjin berhenti membaca.

Di bagian paling bawah ada kalimat terakhir.

Jawabannya baru gue tahu sekarang, Jin.

Karena rumah gue bukan tempat.

Rumah gue adalah kamu.

— Clara

Seokjin tersenyum.

Matanya berkaca-kaca.

Tapi kali ini dia nggak menangis.

Dia cuma mengusap tulisan itu pelan.

Kemudian salah satu kucing kecil mengeong dari bawah kakinya.

"Miaw."

Seokjin menunduk.

"Kopi?"

Kucing oren itu menatapnya.

Yang satunya lagi mengeong dari dapur.

"Susu?"

Seokjin tertawa.

"Iya. Gue tahu."

Dia menggendong Kopi.

Kemudian duduk di lantai.

Rumah itu kecil.

Dapurnya sempit.

Kamarnya cuma dua.

Atapnya bahkan kadang bocor kalau hujan terlalu deras.

Tapi untuk pertama kalinya, Seokjin nggak peduli.

Karena rumah nggak pernah benar-benar tentang ukuran.

Rumah adalah tempat seseorang bisa menjadi dirinya sendiri.

Tempat seseorang boleh capek.

Boleh menangis.

Boleh diam.

Boleh pulang.

Dan Clara sudah menemukan rumahnya.

Walaupun dia nggak sempat tinggal di dalamnya.

---

Malam semakin larut.

Di luar rumah nomor 7, angin Lembang berembus pelan.

Pohon mangga besar bergerak mengikuti angin.

Di dalam rumah, dua anak kucing tidur di kandang kecil.

Diary biru Clara terletak di atas meja.

Foto Clara yang tertawa ada di sampingnya.

Lampu teras tetap menyala.

Bukan lagi karena menunggu Clara pulang.

Tapi karena rumah itu sudah menjadi tempat pulang bagi orang-orang yang masih hidup.

Seokjin mematikan lampu ruang tengah.

Sebelum masuk kamar, dia menoleh sekali lagi ke foto Clara.

"Selamat malam, Ra."

Dia tersenyum.

"Rumah kita gue jaga."

Pintu kamar tertutup pelan.

Dan malam itu, rumah kecil nomor 7 nggak lagi terasa kosong.

Karena meskipun Clara sudah pergi—

rumah yang dia tinggalkan masih penuh dengan dirinya.

Dan untuk pertama kalinya, seseorang yang pernah merasa seperti orang asing di rumah sendiri berhasil meninggalkan sebuah rumah untuk orang lain.

Rumah kecil.

Rumah yang tertinggal.

Rumah yang akhirnya benar-benar menjadi tempat untuk pulang.

1
yonggi🐱
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!