NovelToon NovelToon
Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:959
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Di Awal Pekan

Hari Minggu berlalu dengan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter di Jalan Melati.

Sepanjang hari, Davin lebih banyak menghabiskan waktunya duduk di tepi tempat tidur dengan ponsel di tangan, menatap layar yang menyala redup, sesekali mengetik pesan kilat dengan ekspresi tegang yang disembunyikan di balik tarikan nafas panjang setiap kali Keira mendekat. Tidak ada pelukan hangat seperti biasanya; yang tersisa hanya bayang-bayang gelisah yang menguar dari tubuh lelaki itu, seolah menanti detik-detik akhir sebelum vonis jatuh.

Keira memilih untuk tidak banyak bertanya. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya duduk di lantai, bersandar pada meja plastik kecil, memegang buku sketsa pemberian Amara. Jemarinya dengan teliti menggoreskan pensil di atas kertas, membentuk sketsa wajah stasiun kereta tempat mereka bertemu kemarin, lengkap dengan garis rel besi dan bayangan orang-orang yang berlalu-lalang. Di tengah ketegangan yang merayap di sekelilingnya, goresan pensil itu adalah benteng pertahanan terakhir yang menjaga kewarasannya tetap utuh.

Malam Minggu itu berlalu tanpa percakapan berarti. Dan ketika matahari Senin pagi akhirnya membelah langit Kota Bimantara dengan sinarnya yang terik, badai yang sejak lama dikhawatirkan itu benar-benar menerjang.

Pukul delapan lewat sepuluh menit, suasana di lantai dua puluh gedung perkantoran Jalan Sudirman terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Pendingin ruangan di kubikel divisi keuangan seolah gagal menetralkan atmosfer yang begitu kaku. Para pegawai sibuk dengan layar komputer masing-masing, namun mata mereka kerap melirik ke arah ruang rapat utama.

Hari ini adalah jadwal peninjauan lanjutan dan sidang verifikasi akhir pos pengeluaran lapangan proyek cabang Bandung.

Davin melangkah masuk ke dalam gedung dengan setelan jas rapi dan dasi terikat sempurna. Namun, di balik kerapian profesional itu, wajahnya tampak pucat dan rahangnya mengeras bagaikan batu.

Sepanjang akhir pekan, usahanya untuk menarik data personalia Nadia melalui jalur darurat arsip pusat menemui jalan buntu; pihak administrasi menolak memberikan akses tanpa surat perintah resmi dari direktur SDM. Itu artinya, dokumen pembanding yang dipegang Nadia tetap sah, valid, dan tidak terbantahkan.

Setelah sempat singgah sebentar di ruang kerjanya di lantai dua puluh untuk merapikan beberapa berkas, Davin segera melangkah turun ke lantai sepuluh tempat ruang rapat utama berada.

Beberapa menit kemudian, Nadia tiba di koridor lantai sepuluh. Perempuan berambut sebahu itu mengenakan blazer formal abu-abu tua, menenteng map biru tebal berisi seluruh salinan catatan historis dan data pembanding yang telah ia susun dengan cermat. Saat langkah mereka berpapasan di depan pintu ruang rapat, pandangan mata Nadia dan Davin beradu sejenak.

Tidak ada sapaan. Tidak ada senyuman basa-basi. Sorot mata Nadia memancarkan ketegasan seorang profesional yang menolak tunduk pada tekanan, sementara mata Davin menyiratkan keputusasaan yang berubah menjadi kemarahan dingin.

"Silakan masuk, semuanya sudah lengkap," suara petugas administrasi kepatuhan terdengar dari dalam ruangan.

Pintu kaca besar itu terbuka lebar. Satu per satu anggota tim verifikasi internal, perwakilan auditor independen pusat, serta pimpinan divisi keuangan melangkah masuk dan menempati kursi masing-masing di sekeliling meja panjang. Davin duduk di sisi kiri meja, tepat di seberang kursi yang akan digunakan oleh Nadia.

Suasana di dalam ruangan begitu sunyi hingga suara gesekan kursi dan ketukan tutup pulpen terdengar begitu nyaring di telinga.

"Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian," ucap ketua tim auditor independen yang memimpin sidang, seorang lelaki paruh baya berkacamata tebal bernama Pak Hendra.

"Hari ini kita akan mendengarkan paparan akhir sekaligus meninjau dokumen pembanding terkait selisih anggaran proyek Bandung yang diajukan oleh saudari Nadia Paramita, selaku staf verifikasi divisi keuangan, dan tanggapan dari Saudara Davin selaku kepala subbagian terkait."

Pak Hendra menoleh ke arah Nadia. "Silakan, Nadia. Anda bisa memulai pemaparannya sekarang."

Nadia berdiri tegak di samping layar proyektor. Ia membuka map birunya, mengeluarkan beberapa lembar dokumen transparansi, dan menatap lurus ke arah jajaran pimpinan yang duduk mengelilingi meja. Suaranya terdengar tenang, jernih, dan tanpa keraguan sedikit pun.

"Terima kasih, Pak Hendra," mulainya. "Berdasarkan penelusuran data historis dan bukti transaksi fisik yang kami kumpulkan hingga pekan lalu, terdapat selisih anggaran sebesar tiga ratus juta rupiah pada pos pengeluaran logistik lapangan proyek Bandung tahap kedua..."

Setiap kata yang meluncur dari bibir Nadia bagaikan hantaman telak bagi pertahanan Davin. Di seberang meja, Davin mengepalkan kedua tangannya erat-erat di bawah permukaan meja kaca. Kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri, namun ia tidak merasakan sakit fisik sama sekali; yang ia rasakan hanya sensasi terbakar di dadanya rasa panik luar biasa melihat seluruh kerja keras, ambisi, dan karier yang ia bangun selama bertahun-tahun kini berada di ujung tanduk di hadapan para petinggi perusahaan.

Ketika Nadia mulai menampilkan tabel perbandingan selisih anggaran yang mencantumkan paraf pengesahan bernomor kode operasional milik Davin pada lembar otorisasi pencairan dana darurat, suasana di dalam ruangan mendadak bergeming.

Pak Hendra mengerutkan keningnya, melepas kacamata bacanya, lalu menatap tajam ke arah Davin. "Saudara Davin, lembar otorisasi ini mencantumkan paraf pengesahan Anda. Bagaimana Anda menjelaskan selisih angka dan ketidaksesuaian prosedur ini dalam laporan operasional lapangan?"

Pertanyaan itu meluncur tajam, menusuk tepat di hadapan tim auditor.

Seluruh kepala di ruangan itu kini menoleh serentak ke arah Davin. Udara di dalam ruang rapat mendadak terasa begitu tipis, membuat dada Davin sesak seolah kehabisan oksigen. Ia membuka mulutnya, mencoba merangkai kata-kata pembelaan formal—mencoba mengaitkannya dengan fluktuasi harga material di lapangan atau prosedur darurat yang bersifat sementara.

Namun, penjelasan yang ia berikan terdengar kaku, terbata-bata, dan tidak sepenuhnya meyakinkan di hadapan para auditor. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Pak Hendra mencatat beberapa poin di atas bloknotnya, lalu mendongak menatap Davin dengan serius. "Penjelasan Anda belum cukup untuk menutup selisih angka ini, Saudara Davin. Kami meminta Anda menyerahkan seluruh bukti transaksi pendukung secara lengkap paling lambat besok, dan untuk sementara waktu, proses peninjauan lanjutan ini akan terus dilanjutkan secara intensif."

Meskipun Davin belum langsung dinyatakan bersalah atau kehilangan jabatannya pada detik itu juga, ancaman di hadapannya sudah begitu nyata. Ia menunduk menatap meja, menyembunyikan keputusasaannya di balik rahang yang mengeras rapat.

Sementara itu, di tempat yang jaraknya beberapa kilometer dari gedung perkantoran Jalan Sudirman, Keira duduk seorang diri di kamar kos Jalan Melati.

Pagi ini, sejak kepergian Davin subuh tadi dengan wajah yang jauh lebih tegang dari biasanya, dada Keira diselimuti oleh perasaan gelisah yang tidak kunjung reda. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan merapikan tumpukan diktat kuliah dan menyapu lantai kamar kos yang sempit.

Namun, bayangan tentang peringatan Nadia beberapa hari lalu terus berkelebat di benaknya.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Keira berjalan ke arah sudut meja, mengangkat tumpukan buku, dan meraih map plastik putih transparan tempat ia menyimpan salinan dokumen pembanding audit yang diberikan oleh Nadia.

Ia membuka map tersebut, menarik keluar lembaran-lembaran kertas putih yang dipenuhi deretan angka, tabel keuangan, dan paraf persetujuan. Di salah satu sudut halaman lampiran, matanya menangkap sebuah catatan tangan kecil yang ditulis oleh Nadia sebuah nomor kontak langsung darurat dan sebuah pesan singkat: "Mbak Keira, jika suatu saat terjadi situasi yang mendesak di kantor dan Davin membutuhkan koordinasi, simpan catatan ini agar kita bisa saling mengabari."

Kalimat itu bergetar di dalam kepala Keira. Air mata hangat menetes perlahan membasahi pipi Keira. Ia menyadari sepenuhnya bahwa apa yang sedang terjadi di lantai sepuluh gedung perkantoran sana bukanlah sekadar masalah administrasi kantor biasa. Itu adalah titik balik yang akan mengubah hidup mereka selamanya sebuah ledakan kebenaran yang tidak bisa lagi ditutup-tutupi oleh senyuman hangat di pagi hari atau pelukan lelah di senja hari.

Ponsel retak di atas meja tiba-tiba berdering nyaring, memecah kesunyian kamar kos.

Keira terperanjat kaget. Jantungnya berdegup kencang seirama dering panggilan yang terus berulang. Dengan jemari yang dingin dan gemetar, ia meraih ponsel itu dari atas meja.

Nama yang tertera di layar bukan nama Davin.

Itu adalah panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Keira ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya menggeser ikon hijau dan mendekatkan benda legam itu ke telinganya.

"Halo...?" suara Keira terdengar bergetar lirih.

"Halo, selamat pagi. Apakah benar ini dengan Mbak Keira?" suara seorang perempuan terdengar dari seberang sambungan, bernada sopan namun tergesa-gesa. "Saya Rini, staf bagian administrasi internal gedung perkantoran Jalan Sudirman. Kami menghubungi nomor ini karena nomor Mbak tercatat sebagai kontak darurat atas nama Bapak Davin Pratama."

Jantung Keira seolah berhenti berdetak. Napasnya tercekat di tenggorokan.

"Iya... benar, saya Keira," jawabnya dengan suara nyaris tak terdengar. "Ada apa ya, Mbak?"

"Begini, Mbak Keira," sambung petugas administrasi itu dengan nada hati-hati.

"Saat ini Bapak Davin masih menjalani pemeriksaan lanjutan. Beliau belum bisa meninggalkan ruang pemeriksaan, sementara kami perlu menyampaikan informasi penting kepadanya. Apakah Mbak bisa membantu menghubungi beliau, atau bersedia menyampaikan pesan jika sewaktu-waktu diperlukan?"

Dunia di sekeliling Keira mendadak berputar. Ponsel di dalam genggamannya terasa begitu berat, sementara map dokumen audit di atas meja seolah memanggilnya untuk segera mengambil sikap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!